TNI dan Realita
Monday, 13 October 2008
Jenderal Dwight Eisenhower menulis dalam bukunya Crusade in Europe tentang 
proses Amerika Serikat (AS) membangun dan memiliki angkatan perang yang 
kuat,yang kemudian terkenal dengan konsep strategisnya bertajuk: global 
reach,global power.

Pada awalnya AS merasa sangat nyaman dengan posisinya yang jauh dari 
hiruk-pikuknya dunia dan tidak merasa perlu untuk memiliki kekuatan angkatan 
perang yang kuat.Posisi AS yang berada di remote area dipercaya akan 
menghindarkan AS dari konflik yang terjadi di Eropa dan Asia.

Pada 1939,AS cukup merasa nyaman dengan hanya memiliki 130.000 orang anggota 
angkatan perang (darat, laut,dan udara).Saat itu hanya ada beberapa perwira 
profesional dan sedikit negarawan yang mempunyai visi mendesak pemerintah untuk 
membangun dan mengembangkan angkatan perang yang kuat.

Usulan ini benarbenar dianggap angin lalu oleh Kongres AS.Dengan berkembangnya 
eskalasi peperangan di awal 1940-an, ternyata dan sangat di luar perhitungan 
serta tanpa memaklumkan perang, pangkalan Pearl Harbour dibombardir oleh 
pasukan Jepang.

Di sinilah AS kemudian merasakan posisinya tiba- tiba telah berada di tepi 
jurang antara hidup dan mati.Serangan Jepang ke Pearl Harbour telah menjadi 
wake up call bagi pemerintah dan Kongres AS untuk kemudian sadar bahwa bahaya 
besar telah menghadang di serambi negaranya.

Dalam posisi yang seperti ini,hanya satu pilihan yang harus segera 
dilaksanakan, yaitu membangun dan memiliki angkatan perang yang kuat. Ini telah 
menjadi masalah ”hidup atau mati”. Cerita yang dialami India lain lagi.

Pada 1950-an India banyak menghadapi sengketa perbatasan dan tentang masalah 
Kashmir yang membuat negaranya berada di ujung tanduk menghadapi masalah hidup 
atau mati sehingga tidak mempunyai pilihan lain selain membangun angkatan 
perang yang kuat.

Juga ada beberapa pemimpin lagi yang memiliki visi yang jernih mengenai 
angkatan perang yang kuat. Presiden Soekarno,Ahmadinejad di Iran, Kim Il-Sung 
di Korea Utara, dan Lee Kuan Yew di Singapura adalah beberapa contoh dari 
pemimpin visioner kelas dunia yang ”gila” (gila dalam pengertian yang positif) 
yang dengan tanpa keraguan sedikit pun membangun angkatan perang yang kuat.

Itu karena kesadaran yang kuat bahwa negaranya merupakan bangsa yang besar dan 
tidak harus melihat dulu adanya ancaman di depan hidung. Singapura,negara yang 
paling kecil di kawasan ASEAN, bahkan telah menjadi negara yang paling unggul 
kekuatan militernya.Mereka itu adalah para pemimpin visioner yang telah 
memiliki talenta yang sudah ada sejak lahir : keberanian dan kehormatan.

*** Dari uraian di atas, menjadi jelas bahwa suatu negara akan memiliki 
kekuatan angkatan perang yang kuat hanya dengan dua alasan,yaitu bila mereka 
menghadapi masalah hidup mati atau bila mereka memiliki pemimpin yang visioner.

Membangun dan atau kemudian memiliki satu angkatan perang yang kuat ternyata 
tidak ada hubungannya dengan kondisi finansial suatu negara. Bung Karno,Korea 
Utara,dan India memiliki angkatan perang kuat dalam keadaan negaranya yang 
tidak bagus kondisi finansialnya.

Bung Karno memiliki angkatan perang yang kuat, sementara rakyatnya antre beras 
dan minyak tanah.Namun, sekarang ini, kita pun masih antre beras dan minyak 
tanah,tetapi kita tidak memiliki angkatan perang yang kuat.

Bagi para militer profesional dan para negarawan sejati, peristiwa Bawean 
(berkeliarannya pesawat terbang Angkatan Laut AS ) dan peristiwa Ambalat 
(diserempetnya kapal Angkatan Laut RI oleh kapal Malaysia) sebenarnya sudah 
menempatkan negara kita pada posisi dalam urusan hidup dan mati.

Karena di situ telah terjadi pelecehan terhadap kehormatan dan kedaulatan ibu 
pertiwi. Berikut ini, mari kita lihat lebih lanjut tentang keberadaan Angkatan 
Perang Republik Indonesia atau Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Sejak reformasi bergulir,posisi TNI menjadi sangat runyam.Upaya untuk 
melengkapi unsur tempur agar dapat mencapai combat readinessminimal selalu saja 
mendapatkan tentangan yang luar biasa.

Pengadaan pesawat Sukhoi yang hanya empat buah dan pengadaan panser yang hanya 
dalam unit kecil diributkan habis-habisan oleh mereka yang memandang 
negatif.Belakangan diketahui bahwa sebagian dari mereka yang menentang itu 
ternyata berasal dari spesies yang sama dengan kelompok yang memiliki ”bisnis 
amplop” dan fit and proper test ala Agus Condro.

Agak sulit dipahami bahwa telah berkembang dendam dan kebencian yang mendalam 
terhadap TNI, yang dianggap telah berfoya-foya selama lebih dari 30 tahun di 
era Orde Baru. Ada nuansa ”sekarang gantian dong, TNI harus menderita”.

Nuansa itu tampak dari mulai dihapusnya dwifungsi hingga pencopotan dan 
pembersihan seluruh jabatan yang diduduki personel militer atau eks militer.TNI 
tidak boleh berpolitik, harus hengkang dari DPR,semua personelnya harus 
disingkirkan dari semua bidang dan harus masuk ke barak.

Namun,anehnya sekaligus ajaib, jabatan Panglima TNI harus melalui proses fit 
and proper test di DPR, sebuah lembaga politik. Satu jabatan jenjang karier 
yang harus melalui pengalaman puluhan tahun diharuskan melalui tes yang 
diselenggarakan oleh mereka yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang 
karier militer,yang bahkan warna politisnya justru sangat kental.

Benar-benar aneh bin ajaib.Upaya itu pun dilanjutkan dengan upaya menghilangkan 
fungsi teritorial TNI Angkatan Darat. Pada saat isu GAM hangat,TNI diposisikan 
sebagai unsur berdiri sendiri yang menyerang GAM.

Padahal dalam konteks ini,norma yang dianut bagi militer profesional dan 
negarawan sejati adalah, apabila ada sekelompok orang mengangkat senjata yang 
kemudian memproklamasikan kemerdekaan, posisinya menjadi sangat jelas,yaitu 
sebagai kaum separatis yang harus segera ditindak tegas.

Sama sekali bukan ajang teater untuk mencari hadiah Nobel Perdamaian. Dalam 
masalah Timtim,TNI telah diposisikan sebagai unit yang juga berdiri sendiri. 
Setelah keputusan yang aneh,untuk menghindarkan istilah keputusan yang tolol, 
yaitu memerdekakan Timor Leste,serta-merta TNI (ABRI waktu itu) lalu menjadi 
pihak yang salah karena tidak mampu menguasai keadaan.

*** Proses berikutnya adalah pemusnahan bisnis TNI.Walaupun ada benarnya, 
tidakkah ada jalan atau solusi yang lebih bersahabat? Sebab, banyak manfaat 
yang telah diperoleh dari badan usaha tersebut untuk membantu meningkatkan 
kesejahteraan prajurit dan membantu para janda prajurit serta anak yatim yang 
ditinggal suami dan ayah tercintanya dalam menjalankan tugas negara.

Bahkan koperasi TNI pun dituntut untuk dihapus. Tidak ada satu pun pihak yang 
memedulikan ini. Saya pernah berkunjung ke Seoul di Korea Selatan dan bertemu 
dengan beberapa pejabat di hotel berbintang yang ternyata merupakan milik dari 
Angkatan Darat AS, demikian pula pada beberapa negara, banyak angkatan 
perangnya yang memiliki unit usaha.

Tidak ada yang salah dengan itu selama tidak ada aturan yang dilanggar. Semua 
berpola pada eliminasi dan pembasmian total,tanpa ada yang memikirkan sisi lain 
dari hal tersebut.Tidak ada satu pun uluran tangan yang simpatik.TNI telah 
ditempatkan sebagai musuh.

Demikian pula dengan tulisan atau ulasan-ulasan tentang TNI selalu terasa jelas 
warna kebencian yang mendalam terhadap TNI. Hal ini dapat dimaklumi karena 
mereka sebenarnya tidak mengetahui dengan benar apa sebenarnya yang ada dan 
terjadi di TNI.

Mereka tidak mengetahui betapa banyak anggota TNI yang berdedikasi tinggi 
menjalankan tugas tanpa memikirkan kepentingan dirinya.Mereka tidak mengetahui 
betapa penderitaan para janda dan anak yatim yang ditinggalkan ayahnya dalam 
menjalankan tugas negara.

Masih lagi dipersoalkan tentang reformasi TNI yang katanya jalan di tempat. 
Berikut ini untuk menyegarkan kembali bagi mereka yang masih melihat TNI dari 
sudut pandang yang negatif. TNI telah dengan kemauan sendiri mengundurkan diri 
dari DPR/MPR jauh lebih awal dari waktu yang dijadwalkan.

Keseluruhan tuntutan tentang apa saja seperti bisnis TNI dan lain-lain semuanya 
tengah berjalan. Bersabarlah, semua itu memerlukan waktu dan yang paling 
penting jajaran pimpinan TNI telah memperlihatkan iktikad baiknya.

Seyogianya diingat bahwa semua anggota TNI itu adalah manusia biasa yang juga 
memiliki hati dan akal budi. Selama pendekatan dilakukan dengan manusiawi dan 
proporsional,saya yakin tidak akan ada penolakan yang membabi buta dari TNI.

*** Seorang sahabat pernah menyampaikan hal yang sama sekali tidak terpikirkan 
oleh saya: setelah dipisahkannya TNI dan Polri, kedudukan kepala staf angkatan 
yang tadinya setara dengan Kapolri tiba-tiba saja kedudukan mereka, para kepala 
staf angkatan darat, laut, dan udara menjadi setingkat di bawah Kapolri.

Setidaknya dalam perlakuan protokol kenegaraan, sebagai konsekuensi kepala staf 
angkatan berada di bawah Panglima TNI,sementara Kapolri berada di bawah 
langsung Presiden. Hal ini berlaku pula dalam hal penerimaan penghargaan dari 
negara.

Apabila Panglima TNI dan Kapolri menerimanya, otomatis para kepala staf 
angkatan hanya akan memperoleh penghargaan yang satu tingkat di bawahnya. 
Disadari atau tidak,pada saatnya kedudukan kepala staf angkatan akan setara 
dengan jabatan kapolda.

Khusus tentang hal ini, saya sampaikan bahwa dapat dipastikan TNI tidaklah akan 
pernah mempersoalkan masalah kedudukan dan penghargaan walaupun soliditas 
anggota kesatuan memerlukan kebanggaan dan jiwa korsa yang tinggi.

Ada pula usulan dari salah seorang anggota DPR yang mengharapkan Mabes TNI dan 
Dephan untuk memelopori upaya mengembangkan industri strategis dalam rangka 
membuka peluang kerja dan sekaligus dapat membangun peralatan militer yang kuat.

Untuk hal ini saya ingin mengatakan bahwa anda keliru karena justru lembaga 
DPR-lah yang lebih mempunyai kekuasaan mengambil inisiatif untuk 
memulainya.Sebabnya adalah karena TNI sebagai bagian dari satu sistem, maka 
tidak ada satu unsur pun yang dapat berubah tanpa mengubah unsur-unsur lain.

Haruslah selalu disadari bahwa TNI bukanlah institusi yang berdiri sendiri, dia 
adalah bagian yang utuh dan tunduk pada sistem negara. Di luar itu, saya 
percaya bahwa TNI senantiasa terbuka dengan koreksi-koreksi yang selalu 
berdatangan selama hal tersebut bersifat membangun dan merupakan bagian dari 
kepedulian untuk kemajuan TNI dan NKRI.

Akan tetapi apabila kita hendak segera memiliki angkatan perang yang kuat, 
hanya dua hal yang harus ditunggu,yaitu bila negara berada dalam posisi hidup 
atau mati atau menunggu datangnya pemimpin visioner kelas dunia dan ”gila”.

Pada kesempatan ini,saya ingin menyampaikan kepada seluruh jajaran TNI yang 
saya cintai di mana pun berada, janganlah mudah terpengaruh dengan apa pun yang 
melanda TNI, biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.

Sesuai Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, jalankanlah tugas Anda tanpa 
memperhitungkan apa pun selain loyalitas kepada bangsa dan NKRI. Karena 
peringatan 5 Oktober (hari jadi TNI) kali ini akan berlangsung di Surabaya, 
saya teringat pada kata-kata yang saya peroleh di pangkalan Angkatan Laut 
Surabaya, lebih dari 30 tahun yang lalu: ”Tenang dalam derita, tabah sampai 
akhir.” Maju terus,dirgahayu dan jayalah TNI.(*)

Chappy Hakim
Marsekal TNI, KASAU tahun 2002–2005    
 
 
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini/tni-dan-realita.html
~----~------~----~------~--~---


      

Kirim email ke