Senin, 13 Oktober 2008 00:01 WIB

Agenda Reformasi TNI
Revitalisasi Doktrin Jenderal A Yani
 
Telah 10 kali peringatan Hari TNI yang jatuh setiap 5 Oktober dirayakan dalam 
suasana reformasi. Namun, arah reformasi TNI kini semakin tersesat sehingga 
membuat kekuatan TNI seperti 'macan ompong'. Mengapa demikian?
Agenda reformasi TNI selama satu dasawarsa terakhir berfokus pada upaya 
menetralisasi doktrin dwi fungsi, payung terselenggaranya peran TNI di panggung 
politik nasional di era Orde Baru 1967-1998. Ditinggalkannya politik praktis, 
pemisahan TNI-Polri, dan kepatuhan pada supremasi sipil adalah alasan yang 
cukup untuk menyatakan reformasi TNI telah berjalan baik. TNI juga terbuka pada 
upaya masyarakat sipil mengawal proses reformasi dirinya. Banyak masukan tokoh 
masyarakat sipil yang familier di lingkungan pendonor asing telah ikut 
memengaruhi konsep membangun TNI ke depan.

Kekurangannya, konsep mereformasi TNI karya masyarakat sipil yang utopia dan 
berilusi bahwa Indonesia tak punya musuh mengabaikan TNI sebagai subjek yang 
nilai kebanggaan (pride) institusionalnya ada pada citra 'superior' atau 
powerfull. Arus utama ide-ide mereformasi TNI telah terjebak pada semangat 
menghukum dan berorientasi melucuti semua kekuatan TNI agar ia menjadi lemah. 
Terus dikuranginya anggaran pertahanan adalah salah satu implikasinya. Hal yang 
tak sesuai dengan nature sebuah instrumen hard power, sebuah negara besar 
berpopulasi nomor empat dunia dengan wilayah yang harus dilindungi seluas 
hampir 8 juta km² di posisi kunci geografis. Konsep reformasi TNI juga belum 
menyentuh aspek historis yang berkonsekuensi politis, TNI ikut mendirikan 
negara sehingga punya hak untuk ikut aktif mewarnai arah perkembangan negara 
secara politis.

Apakah tersedia kerangka konseptual guna menjawab dua kekurangan di atas?
Sepanjang sejarahnya, TNI telah mengembangkan banyak pemikiran strategis di 
tingkat doktrin. Doktrin yang dipaparkan Jenderal Ahmad Yani sebagai kesimpulan 
forum seminar di Seskoad, Bandung, 1-5 April 1965 (Victor M Fic: 2007) dapat 
menjadi jawaban yang tepat. Pada intinya, doktrin Yani berisi gagasan mengenai 
konsep pertahanan Indonesia yang mencakup seluruh wilayah Asia Tenggara.

Doktrin Yani mengandung beberapa aspek. Pertama, orientasi yang outward 
looking. Ruang keamanan nasional bukan hanya wilayah kedaulatan RI. Keamanan 
nasional hanya terjamin bila TNI dapat mengontrol kawasan Asia Tenggara. 
Implementasinya, kalkulasi kebutuhan objektif sistem persenjataan TNI tidak 
hanya untuk menjaga kedaulatan teritorial nasional, tetapi juga untuk 
memastikan kestabilan di wilayah pengaruh. Kedua, dimensi historis dan 
orientasi maritim. Di sini, Yani menandaskan kerajaan-kerajaan Indonesia dahulu 
kala telah mempertahankan hegemoni atas wilayah Asia Tenggara selama 
berabad-abad lamanya melalui penguasaan lautan. Bangsa Indonesia tidak akan 
mengabaikan tuntutan sejarah dan pada suatu waktu nanti Angkatan Laut Republik 
Indonesia mengambil alih tugas Armada ke VII AS dan Armada Timur Jauh Inggris 
di Asia Tenggara. Ketiga, TNI mengisi kekosongan strategis di kawasan-kawasan 
yang mengelilingi Indonesia akibat menurunnya kehadiran (ketiga
 matra) militer Inggris-AS dan sekaligus mencegah meningkatnya pengaruh China 
di Asia Tenggara.

Revitalisasi warisan pemikiran Jenderal Yani tersebut akan menjawab kebutuhan 
pride dan ruang politik bagi TNI di masa depan. Sebagai kekuatan strategis 
pemegang hegemoni kawasan, TNI dapat mempraktikkan high politics memengaruhi 
kebijakan politik luar negeri seluruh negara di kawasan.
Setidaknya dua kondisi aktual memberi peluang bagi terwujudnya pemikiran Yani. 
Pertama, krisis ekonomi AS memiliki dampak pada lanskap politik dunia. Peran 
militer adidaya itu di lingkup global diramalkan menurun. Akibat beban ongkos 
keamanan yang makin mahal, AS akan realistis berbagi tangung jawab keamanan 
dengan aktor lain di setiap titik penting dunia, termasuk Asia Tenggara, baik 
untuk kepentingan dirinya maupun sekutu-sekutunya.

Kedua, kedudukan Selat Malaka dan Laut China Selatan semakin penting dalam 
ekonomi dunia. Sekitar 40% lalu lintas perdagangan dunia melalui jalur itu. 
Perekonomian Jepang, Korsel, China, dan Taiwan amat tergantung kepadanya. Ada 
kebutuhan objektif bagi hadirnya sebuah kekuatan riil yang dapat efektif 
mengontrol wilayah itu. Tantangan keamanan di kawasan Asia Tenggara baik karena 
meningkatnya konflik internal dan eksternal maupun meningkatnya transnational 
crime semakin kompleks dan hanya bisa diatasi kehadiran sebuah kekuatan 
strategis.

Dengan dua kondisi aktual tersebut, tekad RI untuk meningkatkan kapasitas 
militernya ke tingkat kekuatan strategis kawasan pasti lebih banyak mendapatkan 
dukungan ketimbang tentangan.
Membangun TNI dengan orientasi menjamin keamanan kawasan sama sekali tak 
bertentangan dengan prinsip-prinsip bertetangga baik, bahkan selaras dengan 
amanat konstitusi UUD 45 yaitu ikut membangun kedamaian dan ketertiban dunia.

Secara taktis politis, militer yang berpengaruh di kawasan dapat dipakai dalam 
negosiasi tingkat tinggi terhadap kekuatan-kekuatan dunia. India adalah contoh 
yang baik dalam mengakumulasikan power dengan menjadi kekuatan hegemoni di 
kawasannya dengan keuntungan ekonomi, politik, dan militer sebagai mitra 
sejajar great powers.

India, yang pendapatan per kapitanya masih di bawah Indonesia dan jumlah orang 
miskin yang berpendapatan di bawah US$1 per hari sekitar 433 juta jiwa, telah 
lama konsisten membangun militer yang mengagumkan berbasis kekuatan deterensi 
(penggetar) konvensional dan nuklir. India konsisten dengan anggaran militer 
yang besar. Tahun ini berjumlah US$22,4 miliar. Jatah satu roti orang India 
hari ini dibelikan senjata agar besok orang India bisa makan tiga roti. Sejak 
1970-an, India memiliki kapal induk dan pada 2015 akan mengoperasikan dua kapal 
induk. 

Tak semua perlengkapan militernya diperoleh melalui 'mekanisme pasar'. Praktik 
pasokan senjata tak melulu berjalan sebagai transaksi bisnis, tetapi kental 
bernuansa politis. Baru-baru ini kesepakatan strategis AS-India memberi India 
pasokan aneka persenjataan canggih dengan kredit ringan dan teknologi nuklir 
terbaru dari AS, melengkapi otot India yang didominasi produk Soviet-Rusia. 
Konsesi besar diberikan AS karena India adalah kekuatan riil strategis yang 
siap mendukung agenda AS membendung China. AS tak akan mengajak India bermitra 
bila militer India berada dalam visi, level, dan kualitas yang sama dengan TNI 
kita sekarang. Memancing ikan besar memang harus dengan umpan besar.

Untuk mewujudkan doktrin Yani yang dicerminkan dalam transformasi postur TNI, 
tiga langkah terobosan harus dilakukan. Pertama, pimpinan nasional dan elite 
politik negara ini harus cerdik bermain dalam dinamika politik internasional 
untuk meningkatkan kekuatan TNI secara signifikan. Kedua, anggaran TNI harus 
meningkat. Tak lazim bila anggaran TNI tahun ini hanya berjumlah US$3,6 miliar, 
sedangkan negeri mini Singapura US$6,3 miliar.
Perlu diingat bangsa yang sekaligus lemah secara militer dan miskin secara 
ekonomi akan dilecehkan dalam pergaulan dunia. Korea Utara, negeri Stalinis 
yang amat miskin, menunjukkan dengan memiliki bom nuklir, kekuatan-kekuatan 
besar dunia tidak menyepelekannya, bahkan terpaksa mengajak berunding. Sambil 
menunggu membaiknya kondisi keuangan negara, langkah ketiga perlu dilakukan. 
Yaitu, membangun postur kekuatan deteren konvensional dengan anggaran yang 
terbatas pada ketiga matra.

Akuisisi alutsista yang bersifat strategis perlu diprioritaskan.
Dalam postur TNI-AD perlu didirikan unit komando rudal balistik/strategis. Dari 
sisi kemampuan teknologi, Lapan pelopor yang cukup terpandang dalam riset roket 
mampu membangun rudal berjangkauan 1.000 km. TNI-AU perlu dilengkapi pesawat 
pengebom strategis, yang memiliki kemampuan memukul sasaran yang berjarak 
ribuan kilometer. Jumlahnya tak perlu terlalu banyak, cukup tiga hingga lima 
unit. Beberapa tahun lalu, Rusia telah menawarkan pesawat jenis itu kepada 
Indonesia.

TNI-AL, seperti disebutkan Sultan HB X, perlu dilengkapi dengan kapal induk. 
Kapal induk adalah alat efektif untuk memproyeksikan power, melakukan kontrol 
dan bergaining politik. Bukan alat pertahanan biasa.
Mabes TNI juga perlu mengoperasikan satelit mata-mata, seperti satelit 
mata-mata SiamStar yang telah lama dimiliki militer Thailand.

Sasaran antara yang rasional itu akan memberi isyarat akan arah pengembangan ke 
depan dan pijakan yang mantap untuk mencapai postur ideal. Ke depan, guna 
mengisi kekosongan strategis di Asia Tenggara, Indonesia juga mengembangkan 
deterensi konvensional ke deterensi nuklir.

TNI sebagai kekuatan strategis di kawasan adalah syarat bagi munculnya 
Indonesia sebagai kekuatan penentu di kawasan Asia Tenggara.
Seperti dilakoni Thailand, yang mendorong minat militernya bertualang di Indo 
China, TNI yang powerfull dan outward looking dengan peran baru yang menantang 
dan dibekali anggaran memadai adalah bagian penting dari upaya konsolidasi 
demokrasi. TNI akan punya perhatian, kesibukan, dan peran baru yang 
menjauhkannya dari godaan untuk kembali berpolitik praktis di dalam negeri.


Oleh Guspiabri Sumowigeno, Direktur Kajian Politik Center for Indonesian 
National Policy Studies (Cinaps)
 
http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MzYwNzQ=


      

Kirim email ke