hehe ternyata emang ada, orang yg mengaku muslim, mengaku beriman kpd Muhammad 
saw, lalu krn mereka tdk menggunakan akal sehatnya, hanya bs membebek, 
celakanya yg diikuti adalah kaum orientalis yg dah dari sononya sangat membenci 
islam, akhirnya orang yg mengaku muslim tsb, beriman kpd Muhammad saw sbg 
utusan Allah swt sekaligus menyatakan Muhammad saw pembohong. mungkinkah? :)




Islamic Worldview : Saatnya Islamisasi !
http://akmal..multiply.com/journal/item/696/Islamic_Worldview_Saatnya_Islamisasi_


assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Di Indonesia, yang mempopulerkan istilah “Islamic Worldview” tidak lain adalah 
ust. Hamid Fahmi Zarkasyi.  Nama
beliau cukup dikenal sebagai salah seorang cendekiawan INSISTS yang
sangat aktif dalam perang pemikiran melawan ideologi-ideologi
anti-Islam.  Bersama Adian Husaini, Adnin Armas, dan Henri Shalahuddin, beliau 
kerap menjadi momok bagi propaganda kaum sekularis-liberalis.
 
Tanpa harus ambil pusing dengan definisi resminya (saya pribadi lebih menyukai 
deskripsi yang ‘lentur’ dan mudah dimengerti), Islamic Worldview adalah cara 
pandang Islam terhadap dunia.  Yang namanya dunia tentunya sebatas dimensi yang 
kita diami sekarang ini dan sejauh yang bisa kita eksplorasi.
 
Pornografi,
misalnya, adalah suatu benda yang dapat dipahami oleh siapa pun, meski
tidak diakui oleh semua orang (karena tidak sedikit manusia yang
memiliki tabiat pembohong).  Meski dibungkus
dengan ritual adat, pagelaran seni, atau diberi pembenaran sebagai
bentuk kebebasan berekspresi dan berkreatifitas, namun semua manusia
yang akalnya sehat dapat memahami yang dimaksud dengan pornografi
secara jelas, karena ia berkaitan dengan perasaan yang secara fitrah terdapat 
dalam diri manusia.  Sebagaimana
manusia tak perlu diajari terlalu mendetil mengenai penghinaan (karena
semua manusia bisa merasa terhina), pelecehan, penyiksaan, dan
pertengkaran, manusia pun bisa langsung mengenali pornografi dari
perasaan-perasaan yang muncul dalam dirinya.
 
Meski demikian, cara pandang manusia terhadap pornografi muncul dalam bentuk 
yang beragam.  Menurut
ajaran Islam, sesuatu yang buruk, tak bermanfaat dan dilarang agama
harus dijauhi, dicegah, bahkan ditutup pintu-pintu untuk memasukinya.  
Jangankan membuka pintu dan memasukinya, mendekatinya pun tak boleh.  Karena 
pornografi dapat dengan mudah kita pahami bersama makna dan akibat buruknya, 
maka ia harus dijauhkan dari masyarakat.
 
Di sisi lain, kaum sekuler-liberal memiliki metodologi berpikir yang sama 
sekali berbeda.  Jika pornografi menghasilkan hasrat seksual berlebih, maka 
tidak ada salahnya menyalurkan syahwat tersebut.  Jika disalurkan pada tempat 
yang sah secara hukum (misalnya dengan suami dan istri sendiri) maka tak ada 
masalah.  Namun disalurkan kepada selain itu pun sah asal suka sama suka.  Kalau
nanti hamil, yang salah bukan seks bebasnya, melainkan alat pengaman
yang tidak dipakai, atau kalender yang tidak diperhatikan.  Kalau terjadi 
pemerkosaan, maka yang salah adalah tindak pemerkosaannya, tanpa ada kaitannya 
dengan pornografi.  Meskipun
para pemerkosa dilaknat bagaikan orang yang telah memperkosa perempuan
sejagat, namun pengadilan ala negeri liberal hanya berkenan
menghadiahinya hukuman penjara sekian tahun saja.  Demi HAM, katanya.  Demi
HAM pula, pornografi harus dibolehkan, karena esensinya hanyalah
membuka aurat masing-masing dan tidak disertai dengan pemaksaan pada
orang lain untuk membuka auratnya.  Masalah
lainnya adalah pada pembatasan umur, di mana anak-anak SD dan SMP
seharusnya memang tidak boleh melihat materi tontonan atau bacaan yang
bermuatan pornografi.  Oleh karena itu, para
penjual majalah-majalah ‘panas’ harus siaga terus dan mengusir semua
anak kecil yang melewati lapaknya dalam radius minimal lima meter.  Maka
tinggallah generasi yang mendambakan segera berlalunya masa
kanak-kanak, agar segera bisa melakukan kebodohan-kebodohan seksual
seperti orang-orang dewasa yang diteladaninya.  Jangan
heran jika solusi ‘ala liberal’ nampak demikian ruwet, karena
sebagaimana penjelasan dari Ulil Abshar Abdalla tempo hari, sekularisme
dapat “menyerap energi kesalehan dan energi kemaksiatan sekaligus”.
 
Perbedaan cara pandang terhadap dunia (worldview) juga bisa menghasilkan 
perbedaan analisa yang sangat serius.  Kaum orientalis berkoar bahwa mereka 
bisa mengkaji Islam secara terhormat, meskipun mereka tidak beriman pada 
ajarannya.  Namun
pengkajian mereka bertolak pada keyakinan bahwa Muhammad saw. bukanlah
seorang Nabi, padahal beliau jelas-jelas menyebut dirinya Nabi.  Mereka juga 
yakin bahwa Rasulullah saw. adalah penulis Al-Qur’an, sementara beliau 
menyatakan sebaliknya.  Dengan
demikian, analisis kaum orientalis berpijak pada asumsi bahwa Muhammad
saw. adalah seorang pendusta, karena mengaku Nabi dan tidak mengaku
sebagai penulis Al-Qur’an.  Walaupun sebagian
diantara mereka mampu menulis dengan cara yang sangat memikat,
seolah-olah mereka sangat menghormati Islam, namun pada dasarnya mereka
tetap meyakini Rasulullah saw. sebagai seorang pembohong.  Dalam pandangan 
Islam, cara berpikir kaum orientalis ini sangat wajar dan tidak perlu 
dikhawatirkan.  Yang
perlu disesalkan adalah kaum Muslim yang membebek pendapat kaum
orientalis yang didasari oleh prinsip ‘Muhammad saw. adalah pembohong’,
bukannya ‘Muhammad saw. adalah utusan Allah SWT’.  Jelaslah bahwa mengikuti 
cara berpikir orientalis ekivalen dengan meralat syahadatain sendiri.  
Na’uudzubillaah...
 
Ulil Abshar Abdalla dan kawan-kawan sejawatnya tampil sebagai pembela para 
orientalis.  Katanya, justru kajian yang tidak didasari iman itulah yang paling 
objektif.  Lalu bagaimana menilai kajian yang dilakukan oleh Ulil sendiri?  
Apakah kajiannya dijamin tidak objektif, karena Ulil masih beriman?  Atau Ulil 
mau mendeklarasikan dirinya sebagai orang yang tak beriman, demi menjaga 
kredibilitas kajiannya?
 
Dalam agama Mesir kuno, ‘tuhan’ diwakili oleh berbagai jenis dewa.  Ada yang 
bentuknya sempurna seperti manusia, ada yang bertubuh manusia berkepala anjing, 
elang, dan sebagainya.  Masing-masing
punya ‘hobi’ yang khas ; ada yang hobinya mematikan manusia, ada yang
hobinya membuat tanah ladang jadi subur, ada yang hobinya mengadili roh
manusia, dan sebagainya.  Peradaban Yunani kuno punya gambaran lain lagi 
tentang ‘tuhan’.  Selain punya ‘hobi’ masing-masing, para dewa dan dewi juga 
memiliki kepentingan sendiri-sendiri, dan ujung-ujungnya konflik.  Bahkan
Zeus yang paling sakti dan berkuasa pun harus sembunyi-sembunyi dalam
perselingkuhannya dengan manusia, agar skandal itu tidak diketahui oleh
istri-istrinya yang pemarah.  Pada akhirnya Zeus pun harus berlapang dada 
menyaksikan putranya, Hercules, dikejar-kejar oleh dewa-dewi yang cemburu.  
Orang Kristen meyakini tuhan itu tiga tapi satu, satu tapi tiga (trinitas).  
Tuhan memiliki anak, dan anaknya adalah tuhan juga, tapi pada prinsipnya hanya 
ada satu tuhan.  Orang Hindu punya konsep lain lagi tentang tuhan, dan Hindu 
Bali sama sekali tidak sama dengan Hindu India atau Malaysia.  Adapun konsep 
Tuhan dalam Islam diterangkan dengan sangat singkat dan definitif dalam surah 
Al-Ikhlash.  Islam
selalu memiliki caranya sendiri untuk menyikapi segala hal dalam hidup
manusia ; sebuah cara khas yang tidak serupa dengan worldview lainnya.  Itulah 
Islamic Worldview!
 
The Clash of Worldviews
The clash of civilizations (benturan peradaban) versi Samuel P. Huntington 
tidak akan terjadi kalau bukan karena clash of worldviews.  Peradaban Indian 
tidak akan berbenturan dengan kulit putih keturunan Eropa kalau bukan karena 
kesenjangan worldview diantara mereka.  Masalah
memang pasti terjadi kalau ada sekelompok orang yang seenaknya
melanggar batas di tanah orang lain, apalagi jika yang melanggar batas
itu sama sekali tidak merasa salah melakukannya, lantaran merasa
dirinya sudah berada di puncak pohon evolusi.  Yang satu merasa haknya 
dilanggar, yang satu merasa berhak melanggar.  Sudah
jelas perbedaan cara berpikir antara orang-orang Indian dan para koboi,
demikian pula antara prajurit Yankee dengan masyarakat Irak, atau Gus
Dur dengan rakyat Palestina.
 
Dalam
sebuah acara debat di sebuah stasiun televisi swasta, nampak
seolah-olah semua isu mesti diperdebatkan oleh kubu Islam dan
‘non-Islam’.  ‘Non-Islam’ di sini bukan berarti pendukungnya bukan beragama 
Islam, melainkan cara berpikirnya yang tidak Islami.  Soal
Ahmadiyah, yang berdebat bukan pemerintah (yang menerbitkan SKB)
melawan pihak kontra-SKB, melainkan antara para ulama dan cendekiawan
Islam di satu sisi dan para pendukung Ahmadiyah di sisi yang lain.  Soal Perda 
Syariat, yang dibawa adalah parpol Islam, yaitu PKS, melawan PDS.  Padahal yang 
mendukung Perda Syariat di daerah-daerah yang sudah menerapkannya tidak hanya 
terbatas pada parpol Islam saja.  Perdebatan
soal RUU PP pun mau tidak mau harus menyinggung tentang pandangan Islam
terhadap pornografi, baik melalui lisan para juru debat maupun para
pendukungnya di tribun penonton.
 
Sebagian orang memandang fenomena ini miris, karena nampaknya umat Islam hendak 
dibentur-benturkan terus dengan pihak lain.  Namun
di sisi lain, hal ini juga menunjukkan bahwa apa yang dipromosikan oleh
ust. Hamid Fahmi Zarkasyi itu memang benar-benar nyata.  Islam memang memiliki 
worldview-nya sendiri yang khas dan berbeda dengan yang selainnya.  Islam
memberikan panduan yang kokoh dalam menyikapi segala sesuatunya, dan
tidak gamang dalam menghadapi isu-isu yang berkembang di sekitarnya.
 
Ini adalah sebuah hantaman telak terhadap kaum sekularis-liberalis yang 
akhir-akhir ini semakin gencar menunjukkan jati dirinya.  Mereka terus-menerus 
melancarkan perang opini dan meng-counter semua pemikiran yang bersumber dari 
para ulama, bahkan seringkali juga menggugat Al-Qur’an dan As-Sunnah.  Mereka 
kobarkan program dekonstruksi besar-besaran dalam rangka menjebol pintu 
ijtihad.  Apa
dinyana, perbuatan mereka itu justru menimbulkan respon yang merupakan
antitesis dari propaganda mereka sendiri ; Islam bukan ajaran yang
parsial, bukan arabisasi, bukan hasil propaganda Al-Qur’an versi
Khalifah Utsman ra., bukan pula rumusan ideolog besar Quraisy yang
bernama Imam Syafi’i.  Islam adalah ajaran yang lengkap, kokoh, tegas, tidak 
ambigu, tidak mencla-mencle, dan ajarannya tidak kenal revisi.  Islam memiliki 
worldview-nya sendiri yang tak mungkin ‘berselingkuh’ dengan worldview manapun 
selainnya.
 wassalaamu’alaikum wr. wb


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke