kelakuan 'cendekiawan' liberal emang slalu bgitu, hobinya memusuhi dan
mencacimaki.
buku ga mutu, mereka bilang karya paling obyektif, otentik dan komprehensif.
Bahasanya keren2 tp penuh kepalsuan.
prof liberal emang aneh2 apalagi yg kelasnya msh ecek2, makin aneeh aje hehe..
skrng, Ustman ra dicacimaki, dijatuhkan harga dirinya. Kaya'na ada hubungannya
dg Mushaf Ustmani tuch.
Ane heran knp orang liberal yg ngakunye pinter malah ngutip dari sumber yg ga
valid, cara2 spt ini seringkale dilakukan orientalis jaman doeloe kala. Yah
kaya'na tujuannye, klo dulu hinaan & cacian thd islam kluar dr mulut orang
kafir skrng hinaan & cacian orientalis dipinjem oleh mulut2 orang yg mengaku
muslim, khan keren tuch :)
Lagi pula, apa untungnya mengumbar fitnah dan caci maki kepada sahabat Nabi ?
jawabnya: yah namanya kerjaan gt, klo ga mncaci maki & memfitnah islam, gmana
mo dpt duit??? gmana mo dpt beasiswa??? gmana mo dpt penghargaan dr amerika???
MEMUJA FOUDA, MENFITNAH SAHABAT
Oleh: Asep Sobari, Lc.
Peneliti bidang sejarah di Institute for the Study of
Islamic Thought and Civilizations (INSISTS).
Belum lama ini, Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama
dengan penerbit Dian Rakyat menerbitkan edisi
Indonesia sebuah buku berjudul "Kebenaran yang
Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam
Sejarah Kaum Muslimin" , karya Farag Fouda (Judul
aslinya: al-Haqiqah al-Ghaybah). Selanjutnya judul
buku ini disingkat KYH.
Dari judulnya, bisa ditebak, buku ini mengangkat apa
yang oleh penulisnya disebut sebagai sisi kelam dari
sejarah Islam. Jika kaum Muslim menyebut zaman
Khulafaurrasyidin sebagai masa yang ideal, maka Fouda
meggambarkan sebaliknya. Menurut Fouda, zaman itu
bukanlah masa ideal, tapi "zaman biasa". "Tidak
banyak yang gemilang dari masa itu. Malah, ada banyak
jejak memalukan." (hal.xv).
Mungkin karena itulah, kaum liberal di Indonesia
sangat bergairah dengan terbitnya buku ini. Pada
sampul depan ditulis pujian Prof. Dr. Azyumardi Azra
yang dikenalkan sebagai Guru Besar Sejarah dan
Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah.
Terhadap buku ini, Prof. Azra berkomentar:
"Karya Farag Fouda ini secara kritis dan berani
mengungkapkan realitas sejarah pahit pada masa Islam
klasik. Sejarah pahit itu bukan hanya sering tak
terkatakan di kalangan kaum Muslim, tapi bahkan
dipersepsikan secara sangat idealistik dan romantik.
Karya ini dapat menggugah umat Islam untuk melihat
sejarah lebih objektif, guna mengambil pelajaran bagi
hari ini dan masa depan".
Pada sampul belakang, dimuat komentar Prof. Dr.
Syafi`i Maarif yang dikenalkan sebagai Guru Besar
Filsafat Sejarah, Universitas Nasional Yogyakarta
(UNY). Lebih bergairah dari Profesor Azra, Profesor
Syafi'i Maarif terkesan begitu terpesona oleh karya
Faouda ini, sehingga dia berkomentar:
"Terlalu banyak alasan mengapa saya menganjurkan
Anda membaca buku ini. Satu hal yang pasti: Fouda
menawarkan "kacamata" lain untuk melihat sejarah
Islam. Mungkin Fouda akan mengguncang keyakinan Anda
tentang sejarah Islam yang lazim dipahami. Namun kita
tidak punya pilihan lain kecuali meminjam
"kacamata" Fouda untuk memahami sejarah Islam
secara lebih autentik, obyektif dan komprehensif" .
Benarkah buku Fouda ini memang obyektif dan
komprehensif, sebagaimana pujian para profesor sejarah
di Indonesia itu? Untuk membuktikannya, silakan simak
fakta-fakta berikut ini:
Farag Fouda adalah seorang doktor Ekonomi Pertanian di
Mesir. Dia dikenal sebagai juru bicara yang sangat
vokal dari kaum liberal di Mesir. Hidupnya berakhir
tragis. Dia ditembak mati pada 8 Juni 1992. Pada 3
Juni 1992, sejumlah ulama al-Azhar membuat pernyataan,
bahwa Fouda telah murtad dari agama Islam, karena
pendapat-pendapatny a dinilai menghujat Islam. Dalam
pengantar buku edisi Indonesia ini, Samsu Rizal
Panggabean mencatat, bahwa Ma'mun al-Hudaibi,
pemimpin Ikhwanul Muslimin, membenarkan pembunuhan
tersebut. Saat menjadi saksi di pengadilan, Syekh
Muhammad al-Ghazali mengatakan, seorang muslim yang
telah murtad atau keluar dari agama Islam dapat
dibunuh. (hal. xii).
Umat Islam memang bisa tersengat imannya dengan opini
yang diungkapkan Fouda. Meskipun bukan ahli sejarah
Islam, Fouda mengaku "telah membaca sejarah secara
tekun, menganalisisnya dengan cermat, mengeceknya
dengan teliti" (KYH, hlm. 1). Karenanya, dia berani
menuangkan buah pikirannya tentang sejarah yang
menurutnya dibingkai dengan "akal sehat" dan
menghindari khayalan subyektif yang dapat mendorong
terjadinya penambahan atau pengurangan yang melampaui
kebenaran sejarah (KYH, hlm. 2). Fouda menegaskan,
Kebenaran yang Hilang ditulis "bukan untuk
kepentingan propaganda, mengolok-olok ataupun
mengejek, tetapi untuk kepentingan kecermatan dan
ketelitian dalam mengungkap kebenaran sejarah" (KYH,
hal. 2).
Itulah klaim Fouda. Tapi, jika ditelaah pada
sumber-sumber yang dirujuknya, kenyataannya jauh
panggang dari api. Kajian Fouda bukan hanya sering
tidak obyektif, tidak komprehensif, dan tidak jujur.
Tapi juga lemah dari segi metodologi. Untuk menentukan
kekuatan suatu fakta, Fouda merasa cukup dengan hanya
mengutip riwayat minor dari salah satu sumber rujukan,
tanpa harus meneliti atau membandingkan dengan
riwayat-riwayat lain yang dimuat dalam sumber yang
sama, apatahlagi sumber lain.
Di sinilah letak kelemahan kajian Fouda yang paling
mendasar. Fouda mengutip sumber-sumber sejarah klasik
secara sembarangan, sesuai dengan kemauannya.
Riwayat-riwayat yang tidak jelas sumbernya, dia kutip
sebagai rujukan cerita, dengan menafikan riwayat lain
yang jelas dan kuat sumbernya. Cara-cara seperti ini
memang biasa digunakan oleh kaum orientalis dalam
menulis sejarah Islam. Sayangnya, kaum
sekular-liberal, seperti Fouda, juga mengikuti jejak
kaum orientalis dalam memberikan citra buruk tentang
sejarah Islam.
Dengan metode yang serampangan seperti itu, Fouda
membuat gambaran yang sangat tidak beradab (baca:
biadab) terhadap Sayyidina Usman r.a. Simaklah
gambaran buku ini tentang Usman bin Affan r.a.:
"Namun Usman membawa umat Islam ke dalam polemik
tentang sosok dirinya. Para pemimpin di dalam Ahl
al-Hall wa al-'Aqdi membuat konsensus untuk
melarikan diri dari kepemimpinannya, baik lewat cara
pemecatan menurut kalangan ahli pikirnya, maupun
kekerasan menurut kalangan garis kerasnya. Wibawanya
terguncang di mata rakyat, sampai sebagian
masyarakatnya menghunus pedang yang siap mencincangnya
dan menohoknya ketika berada di atas mimbar. Bahkan
sebagian menghinanya dengan sebutan Na'tsal, sebutan
untuk orang Kristen Madinah bernama Na'tsal yang
kebetulan berjenggot lebat seperti Usman. Para pemuka
sahabat pun menentangnya, ini adalah sesuatu yang
sangat terang benderang menunjukkan bahwa ia keluar
dari ketentuan al-Quran dan Sunnah. Karena itu, muncul
seruan secara terang-terangan untuk membunuhnya.
Hadits Aisyah meriwayatkan: "Bunuhlah Na`tsal, dan
terlaknatlah Na`tsal." (KYH, hal. 25).
Selanjutnya, untuk lebih mempertajam citra buruk Usman
r.a., Fouda menulis secara dramatis kisah kematian
Usman dan pemakamannya:
"Ia terbunuh oleh tangan umat Islam sendiri yang
bersepakat memberontak dan mengepung rumahnya. Dan
anda dapat saja membayangkan bahwa kematian Usman
telah melegakan hati sebagian umat Islam. Bahkan,
permusuhan sebagian umat Islam atas dirinya
berlangsung setelah kematiannya. ..." (KYH, hal. 25)
Lebih tragis lagi adalah gambaran Fouda tentang
jenazah Sayyidina Usman r.a.:
"Mayat Usman harus bertahan dua malam karena tidak
dapat dikuburkan. Ia ditandu empat orang?dan Abu
Jahm bin Huzaifah. Ketika ia disemayamkan untuk
dishalatkan, datanglah sekelompok orang Anshar yang
melarang mereka untuk menyalatkannya? Mereka juga
melarangnya untuk dimakamkan di pekuburan Baqi`. Abu
Jaham lalu berkata, 'Makamkanlah ia karena
Rasulullah dan para malaikat telah bershalawat
atasnya'. Akan tetapi, mereka menolak, 'Tidak, ia
selamanya tidak akan dimakamkan di pekuburan orang
Islam. Lalu mereka memakamkannya di Hisy Kaukab
(sebuah areal pekuburan Yahudi). Baru tatkala Bani
Umayyah berkuasa, mereka memasukkan areal pemakaman
Yahudi itu ke dalam kompleks Baqi`" (KYH, hal. 26).
Sayyidina Usman r.a. adalah salah satu sahabat Nabi
terkemuka yang sangat dihormati oleh umat Islam. Dia
juga menantu Nabi saw. Kaum Muslimin tak putus
mengirim doa kepadanya bersama shalawat untuk
Rasulullah saw. Diri dan hartanya telah diserahkan
untuk perjuangan Islam. Tapi, gambaran hebat tentang
Usman r.a. itu diporakporandakan oleh Farag Faouda.
Bahkan, Fouda berfantasi lebih jauh lagi: "Usman
diposisikan sebagai orang paling hina dan paling sial
di antara umat Islam." (hal.27).
Itulah gambaran sangat tidak beradab tentang Usman
r.a. yang dilakukan oleh Fouda yang bukunya
dipuji-puji oleh dua guru besar sejarah di Indonesia.
Upaya membuat gambaran buruk terhadap Usman itu tidak
akan berhasil, sebab data dan caranya memang sangat
tidak ilmiah. Bagi sejarawan yang mau menelaah
sumber-sumber primer sejarah Islam, tidak terlalu
sulit untuk membuktikan kecurangan Fouda dan kenaifan
dua Profesor sejarah tersebut.
Fakta sejarah menunjukkan tidaklah benar bahwa para
pemuka sahabat yang tergolong Ahl al-Hall wa al-`Aqd
sepakat menjauhi Usman dengan cara-cara tak terhormat.
Apalagi menyebutkan, bahwa Aisyah menyuruh membunuh
Usman. Dalam edisi bahasa Arab ditulis: "Haytsu
yurwa 'an Aisyah qauluha uqtulu Na'tsalan wa
la'anallaahu Na'tsalan." Jadi, menurut Fouda,
Aisyah sendiri yang mengutuk Utsman dan memerintahkan
pembunuhan terhadap Usman. Dengan cara seperti itu,
Fouda sedang menggiring pembaca pada sebuah kesimpulan
bahwa pembunuhan Usman sudah selayaknya terjadi.
Menurut Fouda, peristiwa tersebut "melibatkan"
atau setidaknya mendapat dukungan dari para pemuka
Sahabat, seperti Ali, Zubair, Thalhah, Sa`id bin Zaid,
Ibn Umar, Ibn Abbas dan lain-lain, yang tergabung
dalam Ahl al-Hall wa al-`Aqd. Padahal, faktanya, sama
sekali tidak seperti itu. Para sahabat itu sama sekali
tidak terlibat dalam pembunuhan Usman.
Sayangnya, Fouda tidak menyebut data yang lebih
spesifik dan rujukan yang dapat diukur kebenarannya.
Tidak ada riwayat yang jelas dari hadits yang
disebutkan Fouda tentang riwayat `Aisyah yang
memerintahkan membunuh Usman r.a. Bahkan, `Aisyah ra.
sendiri, seperti diriwayatkan Bukhari dalam al-Tarikh
al-Kabir dengan sanad yang baik, mengutuk pembunuh
Usman, "Usman dibunuh secara zalim. Terkutuklah
pembunuhnya" (Muhammad al-Ghabban, Fitnat Maqtal
`Utsman, hal. 426).
Untuk membuktikan kesalahan Fouda dalam mengutip
sumber-sumber sejarahnya, cukup melacak kitab sejarah
yang ditulis al-Thabari dalam subjudul, Dzikr
al-Khabar `an al-Mawdhi` al-Ladzi Dufina fihi
`Utsman?(al- Tarikh, 2/687). Buku inilah yang dirujuk
dengan tidak cermat oleh Fouda. Simaklah fakta-fakta
yang tersaji dalam Kitab al-Thabari tersebut:
Terkait masalah prosesi pemakaman Usman, al-Thabari
sebenarnya menyebut 9 riwayat dari 4 sumber, dengan
urutan seperti berikut; Ja`far bin Abdullah
al-Muhammadi (2 riwayat), al-Waqidi (4 riwayat), Ibn
Sa`ad (1 riwayat), dan Saif bin Umar (2 riwayat).
Riwayat yang dikutip Fouda di atas adalah riwayat
ketiga al-Waqidi. Padahal, sebenarnya, kitab ini
menyebut sejumlah riwayat.
Menurut riwayat pertama al-Muhammadi, Usman dimakamkan
di Hasy Kaukab. Riwayat kedua al-Muhammadi: sebuah
kebun di luar [Baqi`]. Riwayat pertama al-Waqidi: di
Baqi`. Riwayat kedua al-Waqidi: di perkebunan dekat
Baqi`. Riwayat keempat al-Waqidi: di Baqi`. Riwayat
Ibn Sa`ad: di Hasy Kaukab. Dan riwayat pertama Saif:
di areal Baqi` yang berdampingan dengan Hasy Kaukab.
Kenapa Fouda hanya mencatut riwayat ketiga al-Waqidi
untuk mendukung argumentasinya? Ini menunjukkan bahwa
Fouda menulis sejarah dengan tidak cermat dan tidak
komprehensif. Semua riwayat itu adalah lemah, dan
anehnya Fouda sengaja mengambil satu saja riwayat
diantara riwayat yang lemah. Itupun baru seputar
riwayat-riwayat al-Thabari. Sejarawan yang baik
tentunya akan berusaha menggali riwayat-riwayat
sejenis dari kitab lainnya, misalnya al-Thabaqat
al-Kubra, karya Ibn Sa'ad. Dalam kitab ini, Ibn
Sa`ad menyebut beberapa riwayat dari `Amr bin Abdullah
dan al-Waqidi yang jelas-jelas menyatakan Usman
dimakamkan langsung pada malam harinya di Baqi`
(al-Thabaqat, 3/77-78).
Maka, bukankah hal yang ajaib, jika seorang Profesor
sejarah seperti Syafi'i Maarif menyebut buku Fouda
ini sebagai "obyektif dan komprehensif" !!!
Cobalah simak kekeliruan Fouda berikutnya!
Fouda menulis bahwa Usman dimakamkan di areal
pekuburan Yahudi (KYH, hal. 26). Keterangan tersebut
tidak tercantum dalam redaksi riwayat al-Waqidi yang
dikutip Fouda. Bahkan juga tidak terdapat dalam
riwayat-riwayat lain yang disebut al-Thabari.
Penjelasan semacam itu tentu sangat fatal, sebab siapa
pun akan membayangkan, Usman r.a. dimakamkan bukan di
pemakaman Islam, tetapi di pemakaman Yahudi. Inilah
salah satu fitnah dan kejahatan besar yang dilakukan
Fouda dalam melecehkan menantu Rasulullah saw dan
salah satu sahabat Nabi terkemuka. Maka, aneh sekali,
jika manusia seperti Fouda ini justru didukung dan
dibanggakan oleh dua sejarawan terkemuka di Indonesia
seperti Azyumardi Azra dan Syafii Maarif.
Kasus pembunuhan Usman sebenarnya telah ditelaah
secara mendalam dalam tesis master Muhammad al-Ghabban
di Universitas Islam Madinah dengan judul Fitnat
Maqtal `Utsman. Dalam tesisnya, al-Ghabban meneliti
dengan cermat semua riwayat tentang prosesi pemakaman
dan penyalatan Usman. Kesimpulannya, tidak ada satu
pun riwayat yang benar-benar shahih, tetapi semuanya
lemah. Hanya saja, ada sebagian yang saling
menguatkan. Di antaranya, jenazah Usman dishalatkan
dan dimakamkan di Hasy Kaukab, sebuah kebun dekat
Baqi` yang kemudian dimasukkan ke dalam areal Baqi`
(Fitnat Maqtal `Utsman, hal. 260-261). Jadi,
sebenarnya, riwayat yang menyatakan bahwa Usman
dimakamkan di pemakaman Yahudi, sama sekali tidak ada,
dan itu adalah fantasi Fouda sendiri.
Penutup
Farag Fouda telah menjadi sejarah. Karyanya sama
sekali tidak layak masuk kategori buku sejarah yang
komprehensif. Maka, seyogyanya, orang-orang seperti
Prof. Azyumardi Azra dan Prof. Syafi'i Maarif lebih
berhati-hati dalam menilai suatu karya sejarah.
Tidaklah patut bersorak gembira menyambut satu karya,
hanya karena karya itu luar biasa dalam menggambarkan
keburukan generasi sahabat Nabi saw dan hitamnya
sejarah Islam. Apalagi itu dilakukan oleh seorang
guru besar sejarah.
Sebaiknya, sebelum berkomentar, periksalah
sumber-sumber aslinya. Juga, periksa juga terjemahan
edisi Indonesianya. Sebab, banyak sekali kesalahan
fatal dalam terjemahan. Misalnya, ditulis: "Umair
bin Dzabi`i datang meludahinya, lalu ia mematahkan
salah satu persendiannya" (KYH, hal. 26). Kalimat fa
naza `alaih seharusnya diartikan "melompat atau
menyergap kearahnya", bukan "datang
meludahinya" . Sedangkan kasara dhil`an seharusnya
diartikan "mematahkan salah satu tulang rusuk",
bukan "persendian" .
Kekayaan al-Zubair di Mesir, Aleksandria, Kufah dan
Basrah yang dalam teks asli riwayat Ibn Sa`ad disebut
Khithath dan Dur disalah-artikan menjadi armada laut
dan angkutan darat! Padahal arti semestinya adalah
"beberapa bidang tanah" dan "beberapa rumah."
Akhirul kalam, sebagai peminat sejarah, yang bukan
porfesor dan bukan doktor, saya hanya bisa
menyarankan, agar orang-orang terhormat dalam bidang
sejarah itu bisa menjaga kehormatannya, di dunia dan
akhirat! Ingatlah, tanggung jawab keilmuan sangat
berat, apalagi menyangkut harkat dan martabat seorang
sahabat Nabi saw yang mulia, yang Nabi sendiri telah
memuji dan memuliakannya. Lagi pula, apa untungnya
mengumbar fitnah dan caci maki kepada sahabat Nabi?
(Cijantung, 15 Oktober 2008).
------------ --------- --------- --------- --------- ---
[Non-text portions of this message have been removed]