Apa kritik mereka? Kalau barang jelek dibilang baik itu artinya menipu diri dan 
juga orang lain.  

  ----- Original Message ----- 
  From: si pitung 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, October 16, 2008 6:34 AM
  Subject: [ppiindia] MEMUJA FOUDA, MENFITNAH SAHABAT


  kelakuan 'cendekiawan' liberal emang slalu bgitu, hobinya memusuhi dan 
mencacimaki.
  buku ga mutu, mereka bilang karya paling obyektif, otentik dan komprehensif. 
Bahasanya keren2 tp penuh kepalsuan.
  prof liberal emang aneh2 apalagi yg kelasnya msh ecek2, makin aneeh aje hehe..

  skrng, Ustman ra dicacimaki, dijatuhkan harga dirinya. Kaya'na ada 
hubungannya dg Mushaf Ustmani tuch.
  Ane heran knp orang liberal yg ngakunye pinter malah ngutip dari sumber yg ga 
valid, cara2 spt ini seringkale dilakukan orientalis jaman doeloe kala. Yah 
kaya'na tujuannye, klo dulu hinaan & cacian thd islam kluar dr mulut orang 
kafir skrng hinaan & cacian orientalis dipinjem oleh mulut2 orang yg mengaku 
muslim, khan keren tuch :)

  Lagi pula, apa untungnya mengumbar fitnah dan caci maki kepada sahabat Nabi ?
  jawabnya: yah namanya kerjaan gt, klo ga mncaci maki & memfitnah islam, gmana 
mo dpt duit??? gmana mo dpt beasiswa??? gmana mo dpt penghargaan dr amerika???

  MEMUJA FOUDA, MENFITNAH SAHABAT

  Oleh: Asep Sobari, Lc.
  Peneliti bidang sejarah di Institute for the Study of
  Islamic Thought and Civilizations (INSISTS).

  Belum lama ini, Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama
  dengan penerbit Dian Rakyat menerbitkan edisi
  Indonesia sebuah buku berjudul "Kebenaran yang
  Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam
  Sejarah Kaum Muslimin" , karya Farag Fouda (Judul
  aslinya: al-Haqiqah al-Ghaybah). Selanjutnya judul
  buku ini disingkat KYH.
  Dari judulnya, bisa ditebak, buku ini mengangkat apa
  yang oleh penulisnya disebut sebagai sisi kelam dari
  sejarah Islam. Jika kaum Muslim menyebut zaman
  Khulafaurrasyidin sebagai masa yang ideal, maka Fouda
  meggambarkan sebaliknya. Menurut Fouda, zaman itu
  bukanlah masa ideal, tapi "zaman biasa". "Tidak
  banyak yang gemilang dari masa itu. Malah, ada banyak
  jejak memalukan." (hal.xv).
  Mungkin karena itulah, kaum liberal di Indonesia
  sangat bergairah dengan terbitnya buku ini. Pada
  sampul depan ditulis pujian Prof. Dr. Azyumardi Azra
  yang dikenalkan sebagai Guru Besar Sejarah dan
  Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah.
  Terhadap buku ini, Prof. Azra berkomentar:
  "Karya Farag Fouda ini secara kritis dan berani
  mengungkapkan realitas sejarah pahit pada masa Islam
  klasik. Sejarah pahit itu bukan hanya sering tak
  terkatakan di kalangan kaum Muslim, tapi bahkan
  dipersepsikan secara sangat idealistik dan romantik.
  Karya ini dapat menggugah umat Islam untuk melihat
  sejarah lebih objektif, guna mengambil pelajaran bagi
  hari ini dan masa depan".

  Pada sampul belakang, dimuat komentar Prof. Dr.
  Syafi`i Maarif yang dikenalkan sebagai Guru Besar
  Filsafat Sejarah, Universitas Nasional Yogyakarta
  (UNY). Lebih bergairah dari Profesor Azra, Profesor
  Syafi'i Maarif terkesan begitu terpesona oleh karya
  Faouda ini, sehingga dia berkomentar:
  "Terlalu banyak alasan mengapa saya menganjurkan
  Anda membaca buku ini. Satu hal yang pasti: Fouda
  menawarkan "kacamata" lain untuk melihat sejarah
  Islam. Mungkin Fouda akan mengguncang keyakinan Anda
  tentang sejarah Islam yang lazim dipahami. Namun kita
  tidak punya pilihan lain kecuali meminjam
  "kacamata" Fouda untuk memahami sejarah Islam
  secara lebih autentik, obyektif dan komprehensif" .

  Benarkah buku Fouda ini memang obyektif dan
  komprehensif, sebagaimana pujian para profesor sejarah
  di Indonesia itu? Untuk membuktikannya, silakan simak
  fakta-fakta berikut ini:
  Farag Fouda adalah seorang doktor Ekonomi Pertanian di
  Mesir. Dia dikenal sebagai juru bicara yang sangat
  vokal dari kaum liberal di Mesir. Hidupnya berakhir
  tragis. Dia ditembak mati pada 8 Juni 1992. Pada 3
  Juni 1992, sejumlah ulama al-Azhar membuat pernyataan,
  bahwa Fouda telah murtad dari agama Islam, karena
  pendapat-pendapatny a dinilai menghujat Islam. Dalam
  pengantar buku edisi Indonesia ini, Samsu Rizal
  Panggabean mencatat, bahwa Ma'mun al-Hudaibi,
  pemimpin Ikhwanul Muslimin, membenarkan pembunuhan
  tersebut. Saat menjadi saksi di pengadilan, Syekh
  Muhammad al-Ghazali mengatakan, seorang muslim yang
  telah murtad atau keluar dari agama Islam dapat
  dibunuh. (hal. xii).
  Umat Islam memang bisa tersengat imannya dengan opini
  yang diungkapkan Fouda. Meskipun bukan ahli sejarah
  Islam, Fouda mengaku "telah membaca sejarah secara
  tekun, menganalisisnya dengan cermat, mengeceknya
  dengan teliti" (KYH, hlm. 1). Karenanya, dia berani
  menuangkan buah pikirannya tentang sejarah yang
  menurutnya dibingkai dengan "akal sehat" dan
  menghindari khayalan subyektif yang dapat mendorong
  terjadinya penambahan atau pengurangan yang melampaui
  kebenaran sejarah (KYH, hlm. 2). Fouda menegaskan,
  Kebenaran yang Hilang ditulis "bukan untuk
  kepentingan propaganda, mengolok-olok ataupun
  mengejek, tetapi untuk kepentingan kecermatan dan
  ketelitian dalam mengungkap kebenaran sejarah" (KYH,
  hal. 2).
  Itulah klaim Fouda. Tapi, jika ditelaah pada
  sumber-sumber yang dirujuknya, kenyataannya jauh
  panggang dari api. Kajian Fouda bukan hanya sering
  tidak obyektif, tidak komprehensif, dan tidak jujur.
  Tapi juga lemah dari segi metodologi. Untuk menentukan
  kekuatan suatu fakta, Fouda merasa cukup dengan hanya
  mengutip riwayat minor dari salah satu sumber rujukan,
  tanpa harus meneliti atau membandingkan dengan
  riwayat-riwayat lain yang dimuat dalam sumber yang
  sama, apatahlagi sumber lain.
  Di sinilah letak kelemahan kajian Fouda yang paling
  mendasar. Fouda mengutip sumber-sumber sejarah klasik
  secara sembarangan, sesuai dengan kemauannya.
  Riwayat-riwayat yang tidak jelas sumbernya, dia kutip
  sebagai rujukan cerita, dengan menafikan riwayat lain
  yang jelas dan kuat sumbernya. Cara-cara seperti ini
  memang biasa digunakan oleh kaum orientalis dalam
  menulis sejarah Islam. Sayangnya, kaum
  sekular-liberal, seperti Fouda, juga mengikuti jejak
  kaum orientalis dalam memberikan citra buruk tentang
  sejarah Islam.
  Dengan metode yang serampangan seperti itu, Fouda
  membuat gambaran yang sangat tidak beradab (baca:
  biadab) terhadap Sayyidina Usman r.a. Simaklah
  gambaran buku ini tentang Usman bin Affan r.a.:
  "Namun Usman membawa umat Islam ke dalam polemik
  tentang sosok dirinya. Para pemimpin di dalam Ahl
  al-Hall wa al-'Aqdi membuat konsensus untuk
  melarikan diri dari kepemimpinannya, baik lewat cara
  pemecatan menurut kalangan ahli pikirnya, maupun
  kekerasan menurut kalangan garis kerasnya. Wibawanya
  terguncang di mata rakyat, sampai sebagian
  masyarakatnya menghunus pedang yang siap mencincangnya
  dan menohoknya ketika berada di atas mimbar. Bahkan
  sebagian menghinanya dengan sebutan Na'tsal, sebutan
  untuk orang Kristen Madinah bernama Na'tsal yang
  kebetulan berjenggot lebat seperti Usman. Para pemuka
  sahabat pun menentangnya, ini adalah sesuatu yang
  sangat terang benderang menunjukkan bahwa ia keluar
  dari ketentuan al-Quran dan Sunnah. Karena itu, muncul
  seruan secara terang-terangan untuk membunuhnya.
  Hadits Aisyah meriwayatkan: "Bunuhlah Na`tsal, dan
  terlaknatlah Na`tsal." (KYH, hal. 25).

  Selanjutnya, untuk lebih mempertajam citra buruk Usman
  r.a., Fouda menulis secara dramatis kisah kematian
  Usman dan pemakamannya:
  "Ia terbunuh oleh tangan umat Islam sendiri yang
  bersepakat memberontak dan mengepung rumahnya. Dan
  anda dapat saja membayangkan bahwa kematian Usman
  telah melegakan hati sebagian umat Islam. Bahkan,
  permusuhan sebagian umat Islam atas dirinya
  berlangsung setelah kematiannya. ..." (KYH, hal. 25)

  Lebih tragis lagi adalah gambaran Fouda tentang
  jenazah Sayyidina Usman r.a.:

  "Mayat Usman harus bertahan dua malam karena tidak
  dapat dikuburkan. Ia ditandu empat orang?dan Abu
  Jahm bin Huzaifah. Ketika ia disemayamkan untuk
  dishalatkan, datanglah sekelompok orang Anshar yang
  melarang mereka untuk menyalatkannya? Mereka juga
  melarangnya untuk dimakamkan di pekuburan Baqi`. Abu
  Jaham lalu berkata, 'Makamkanlah ia karena
  Rasulullah dan para malaikat telah bershalawat
  atasnya'. Akan tetapi, mereka menolak, 'Tidak, ia
  selamanya tidak akan dimakamkan di pekuburan orang
  Islam. Lalu mereka memakamkannya di Hisy Kaukab
  (sebuah areal pekuburan Yahudi). Baru tatkala Bani
  Umayyah berkuasa, mereka memasukkan areal pemakaman
  Yahudi itu ke dalam kompleks Baqi`" (KYH, hal. 26).

  Sayyidina Usman r.a. adalah salah satu sahabat Nabi
  terkemuka yang sangat dihormati oleh umat Islam. Dia
  juga menantu Nabi saw. Kaum Muslimin tak putus
  mengirim doa kepadanya bersama shalawat untuk
  Rasulullah saw. Diri dan hartanya telah diserahkan
  untuk perjuangan Islam. Tapi, gambaran hebat tentang
  Usman r.a. itu diporakporandakan oleh Farag Faouda.
  Bahkan, Fouda berfantasi lebih jauh lagi: "Usman
  diposisikan sebagai orang paling hina dan paling sial
  di antara umat Islam." (hal.27).
  Itulah gambaran sangat tidak beradab tentang Usman
  r.a. yang dilakukan oleh Fouda yang bukunya
  dipuji-puji oleh dua guru besar sejarah di Indonesia.
  Upaya membuat gambaran buruk terhadap Usman itu tidak
  akan berhasil, sebab data dan caranya memang sangat
  tidak ilmiah. Bagi sejarawan yang mau menelaah
  sumber-sumber primer sejarah Islam, tidak terlalu
  sulit untuk membuktikan kecurangan Fouda dan kenaifan
  dua Profesor sejarah tersebut.
  Fakta sejarah menunjukkan tidaklah benar bahwa para
  pemuka sahabat yang tergolong Ahl al-Hall wa al-`Aqd
  sepakat menjauhi Usman dengan cara-cara tak terhormat.
  Apalagi menyebutkan, bahwa Aisyah menyuruh membunuh
  Usman. Dalam edisi bahasa Arab ditulis: "Haytsu
  yurwa 'an Aisyah qauluha uqtulu Na'tsalan wa
  la'anallaahu Na'tsalan." Jadi, menurut Fouda,
  Aisyah sendiri yang mengutuk Utsman dan memerintahkan
  pembunuhan terhadap Usman. Dengan cara seperti itu,
  Fouda sedang menggiring pembaca pada sebuah kesimpulan
  bahwa pembunuhan Usman sudah selayaknya terjadi.
  Menurut Fouda, peristiwa tersebut "melibatkan"
  atau setidaknya mendapat dukungan dari para pemuka
  Sahabat, seperti Ali, Zubair, Thalhah, Sa`id bin Zaid,
  Ibn Umar, Ibn Abbas dan lain-lain, yang tergabung
  dalam Ahl al-Hall wa al-`Aqd. Padahal, faktanya, sama
  sekali tidak seperti itu. Para sahabat itu sama sekali
  tidak terlibat dalam pembunuhan Usman.
  Sayangnya, Fouda tidak menyebut data yang lebih
  spesifik dan rujukan yang dapat diukur kebenarannya.
  Tidak ada riwayat yang jelas dari hadits yang
  disebutkan Fouda tentang riwayat `Aisyah yang
  memerintahkan membunuh Usman r.a. Bahkan, `Aisyah ra.
  sendiri, seperti diriwayatkan Bukhari dalam al-Tarikh
  al-Kabir dengan sanad yang baik, mengutuk pembunuh
  Usman, "Usman dibunuh secara zalim. Terkutuklah
  pembunuhnya" (Muhammad al-Ghabban, Fitnat Maqtal
  `Utsman, hal. 426).
  Untuk membuktikan kesalahan Fouda dalam mengutip
  sumber-sumber sejarahnya, cukup melacak kitab sejarah
  yang ditulis al-Thabari dalam subjudul, Dzikr
  al-Khabar `an al-Mawdhi` al-Ladzi Dufina fihi
  `Utsman?(al- Tarikh, 2/687). Buku inilah yang dirujuk
  dengan tidak cermat oleh Fouda. Simaklah fakta-fakta
  yang tersaji dalam Kitab al-Thabari tersebut:
  Terkait masalah prosesi pemakaman Usman, al-Thabari
  sebenarnya menyebut 9 riwayat dari 4 sumber, dengan
  urutan seperti berikut; Ja`far bin Abdullah
  al-Muhammadi (2 riwayat), al-Waqidi (4 riwayat), Ibn
  Sa`ad (1 riwayat), dan Saif bin Umar (2 riwayat).
  Riwayat yang dikutip Fouda di atas adalah riwayat
  ketiga al-Waqidi. Padahal, sebenarnya, kitab ini
  menyebut sejumlah riwayat.
  Menurut riwayat pertama al-Muhammadi, Usman dimakamkan
  di Hasy Kaukab. Riwayat kedua al-Muhammadi: sebuah
  kebun di luar [Baqi`]. Riwayat pertama al-Waqidi: di
  Baqi`. Riwayat kedua al-Waqidi: di perkebunan dekat
  Baqi`. Riwayat keempat al-Waqidi: di Baqi`. Riwayat
  Ibn Sa`ad: di Hasy Kaukab. Dan riwayat pertama Saif:
  di areal Baqi` yang berdampingan dengan Hasy Kaukab.
  Kenapa Fouda hanya mencatut riwayat ketiga al-Waqidi
  untuk mendukung argumentasinya? Ini menunjukkan bahwa
  Fouda menulis sejarah dengan tidak cermat dan tidak
  komprehensif. Semua riwayat itu adalah lemah, dan
  anehnya Fouda sengaja mengambil satu saja riwayat
  diantara riwayat yang lemah. Itupun baru seputar
  riwayat-riwayat al-Thabari. Sejarawan yang baik
  tentunya akan berusaha menggali riwayat-riwayat
  sejenis dari kitab lainnya, misalnya al-Thabaqat
  al-Kubra, karya Ibn Sa'ad. Dalam kitab ini, Ibn
  Sa`ad menyebut beberapa riwayat dari `Amr bin Abdullah
  dan al-Waqidi yang jelas-jelas menyatakan Usman
  dimakamkan langsung pada malam harinya di Baqi`
  (al-Thabaqat, 3/77-78).
  Maka, bukankah hal yang ajaib, jika seorang Profesor
  sejarah seperti Syafi'i Maarif menyebut buku Fouda
  ini sebagai "obyektif dan komprehensif" !!!
  Cobalah simak kekeliruan Fouda berikutnya!
  Fouda menulis bahwa Usman dimakamkan di areal
  pekuburan Yahudi (KYH, hal. 26). Keterangan tersebut
  tidak tercantum dalam redaksi riwayat al-Waqidi yang
  dikutip Fouda. Bahkan juga tidak terdapat dalam
  riwayat-riwayat lain yang disebut al-Thabari.
  Penjelasan semacam itu tentu sangat fatal, sebab siapa
  pun akan membayangkan, Usman r.a. dimakamkan bukan di
  pemakaman Islam, tetapi di pemakaman Yahudi. Inilah
  salah satu fitnah dan kejahatan besar yang dilakukan
  Fouda dalam melecehkan menantu Rasulullah saw dan
  salah satu sahabat Nabi terkemuka. Maka, aneh sekali,
  jika manusia seperti Fouda ini justru didukung dan
  dibanggakan oleh dua sejarawan terkemuka di Indonesia
  seperti Azyumardi Azra dan Syafii Maarif.
  Kasus pembunuhan Usman sebenarnya telah ditelaah
  secara mendalam dalam tesis master Muhammad al-Ghabban
  di Universitas Islam Madinah dengan judul Fitnat
  Maqtal `Utsman. Dalam tesisnya, al-Ghabban meneliti
  dengan cermat semua riwayat tentang prosesi pemakaman
  dan penyalatan Usman. Kesimpulannya, tidak ada satu
  pun riwayat yang benar-benar shahih, tetapi semuanya
  lemah. Hanya saja, ada sebagian yang saling
  menguatkan. Di antaranya, jenazah Usman dishalatkan
  dan dimakamkan di Hasy Kaukab, sebuah kebun dekat
  Baqi` yang kemudian dimasukkan ke dalam areal Baqi`
  (Fitnat Maqtal `Utsman, hal. 260-261). Jadi,
  sebenarnya, riwayat yang menyatakan bahwa Usman
  dimakamkan di pemakaman Yahudi, sama sekali tidak ada,
  dan itu adalah fantasi Fouda sendiri.

  Penutup
  Farag Fouda telah menjadi sejarah. Karyanya sama
  sekali tidak layak masuk kategori buku sejarah yang
  komprehensif. Maka, seyogyanya, orang-orang seperti
  Prof. Azyumardi Azra dan Prof. Syafi'i Maarif lebih
  berhati-hati dalam menilai suatu karya sejarah.
  Tidaklah patut bersorak gembira menyambut satu karya,
  hanya karena karya itu luar biasa dalam menggambarkan
  keburukan generasi sahabat Nabi saw dan hitamnya
  sejarah Islam. Apalagi itu dilakukan oleh seorang
  guru besar sejarah.
  Sebaiknya, sebelum berkomentar, periksalah
  sumber-sumber aslinya. Juga, periksa juga terjemahan
  edisi Indonesianya. Sebab, banyak sekali kesalahan
  fatal dalam terjemahan. Misalnya, ditulis: "Umair
  bin Dzabi`i datang meludahinya, lalu ia mematahkan
  salah satu persendiannya" (KYH, hal. 26). Kalimat fa
  naza `alaih seharusnya diartikan "melompat atau
  menyergap kearahnya", bukan "datang
  meludahinya" . Sedangkan kasara dhil`an seharusnya
  diartikan "mematahkan salah satu tulang rusuk",
  bukan "persendian" .
  Kekayaan al-Zubair di Mesir, Aleksandria, Kufah dan
  Basrah yang dalam teks asli riwayat Ibn Sa`ad disebut
  Khithath dan Dur disalah-artikan menjadi armada laut
  dan angkutan darat! Padahal arti semestinya adalah
  "beberapa bidang tanah" dan "beberapa rumah."
  Akhirul kalam, sebagai peminat sejarah, yang bukan
  porfesor dan bukan doktor, saya hanya bisa
  menyarankan, agar orang-orang terhormat dalam bidang
  sejarah itu bisa menjaga kehormatannya, di dunia dan
  akhirat! Ingatlah, tanggung jawab keilmuan sangat
  berat, apalagi menyangkut harkat dan martabat seorang
  sahabat Nabi saw yang mulia, yang Nabi sendiri telah
  memuji dan memuliakannya. Lagi pula, apa untungnya
  mengumbar fitnah dan caci maki kepada sahabat Nabi?
  (Cijantung, 15 Oktober 2008).
  ------------ --------- --------- --------- --------- ---

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke