http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MzgxMjY=
Indonesia Masuk Perangkap KEEGAN, seorang ahli sejarah peperangan (History of War 1993), pasti kagum dengan langkah Bush dalam mengakhiri kepemerintahannya pada tahun ini meski terbukti telah gagal di Irak dan Afganistan. Military-industrial complex yang ditakutkan Eisenhower (1961) justru tetap dihidupkan Bush dengan diluncurkannya program bailout awal sebesar US$700 miliar untuk melindungi industri tempurnya dari krisis pasar kredit untuk menopang peperangan di Irak dan Afghanistan. Terbukti Paulson (15 Oktober) masih mengatakan bahwa krisis masih panjang. Bernanke (16 Oktober) juga mengatakan bahwa program stabilisasi tidak dengan serta merta membuat ekonomi Amerika Serikat segera pulih. Pernyataan seperti itu terkesan sengaja diucapkan ketika harga saham dunia sudah pulih pada Senin (13 Oktober) dan Selasa (14 Oktober). Setelah pernyataan keduanya itu maka bursa saham dunia kembali tumbang! Misi utamanya adalah menyampaikan pesan bahwa masyarakat dunia jangan berharap krisis perekonomian akan pulih dalam waktu cepat, sekalipun pemerintah dunia telah menyediakan dana stabilisasi termasuk program jaminan tabungan. Artinya, ketidakpastian merupakan program kampanye mereka, setelah dunia melakukan program bailout dan penjaminan simpanan. Keuntungan yang diperoleh pemerintah AS dari pernyataan itu adalah untuk mendapatkan dukungan, agar perusahaan yang akan dinasionalisasi ikhlas menandatangani program nasionalisasi sekalipun perusahaannya itu tidak terkena krisis. Jelas bahwa AS tengah merapatkan barisan agar terjadi monopoli dari kekuatan di pasar modal dan keuangan AS, ketika regulator, pengawas, perencana, dan pemain dalam pasar keuangan dan pasar modal adalah pemerintah AS (dalam merealisasikan Hukum Hotelling). Pengalaman militer telah diadopsi dunia keuangan Amerika Serikat untuk menghadapi peperangan yang lebih besar, yaitu ekspansi dana investasi dari luar Amerika untuk mengontrol pusat kapitalisme dunia yang berpusat di AS itu sendiri. Kerugian dari sovereign wealth fund yang sudah masuk ke perusahaan perbankan dan investasi Amerika yang berasal dari Asia, Eropa, dan belahan dunia lainnya akan mengalami dilusi besar-besaran. Bukan hanya itu, Amerika Serikat akan menjalankan sistem komando untuk menggerakkan kebijakan keuangannya agar mereka mampu mendikte pergerakan saham dunia, seperti yang dikemukakan Hardt dan Negri (2000) akibat lemahnya kedaulatan nasional dalam era globalisasi. Jika US$250 miliar telah ditanamkan kepada sembilan perusahaan bank besar di AS, hanya tersisa US$100 miliar untuk melakukan investasi harian yang mampu mengguncang dunia keuangan yang dapat kita lihat dalam beberapa hari terakhir ini. Sementara itu, US$350 miliar sisanya dapat dilakukan aset sekuritisasi. Terbukti pada Rabu (15 Oktober) dan Kamis (16 Oktober) harga saham dunia kembali bertumbangan mengikuti harga saham di bursa Amerika Serikat. Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Rabu lalu ditutup karena melemah sebanyak -35,56 poin atau -2,29% ke posisi 1.520.41. Pada Kamis lalu IHSG kembali melemah sebanyak 3,76% ke level 1.463.25. Pola yang tercipta sangatlah jelas ketika bursa saham di Amerika Serikat menjadi lokomotif dari pergerakan bursa dunia. Jika harga saham bursa AS jatuh, dunia mengikutinya dan begitu juga sebaliknya. Pasar saham dunia terbukti telah terdikte oleh kekuatan modal tertentu yang menguasai pasar modal AS. Terlihat adanya indikasi bahwa pemilik berbasis modal tertentu yang terus mendapatkan keuntungan dari rontoknya harga saham tersebut, ketika dolar pada Kamis menguat terhadap yen. Juga terjadi anomali ketika saat harga-harga saham bertumbangan dengan nilai prosentase yang besar, tapi justru harga emas juga terkoreksi. Emas sebagai safe heaven justru mengalami penurunan harga ketika bursa dunia, khususnya Asia, mengalami kerontokan nilai. Artinya, pemain besar dunia sedang menikmati rontoknya bursa-bursa dunia, khususnya Asia, setelah dua hari sebelumnya mengalami sedikit kenaikan harga. Naiknya dolar membuktikan bahwa pemain profit taking dunia berbasis dolar sebagai sumber utama dana investasi mereka. Kejadian anomali seperti ini membuktikan bawa dunia tengah disetir sebuah kekuatan yang bukan hanya memiliki kekuatan likuiditas pasar yang besar, tetapi juga jaringan keuangan yang mendunia. Sungguh tidak bijaksana apabila pemerintah Indonesia menggunakan dana APBN dan BUMN untuk melakukan investasi. Apalagi program buyback, jika pemerintah tidak melengkapinya dengan strategi suspensi perdagangan bursa yang memadai, termasuk menghentikan penggunaan rezim devisa bebas sewaktu-waktu. Tanpa itu maka naik dan turunnya harga dan volume perdagangan saham di BEI akan semakin dikontrol kekuatan kapitalis utama dunia yang kini tengah mengalami pertambahan defisit sebesar US$350 miliar. Jika memang short selling dianggap merugikan, pemerintah Amerika justru kembali membuka perdagangan tersebut saat ini. Itu menandakan bahwa kekuatan keuangan besar di AS membutuhkan instrumen short selling untuk menjalankan strategi investasi aktif mereka. Padahal James K Polk, Presiden ke-11 AS, pada 1846 telah menyetujui undang-undang yang membuat sistem Departemen Keuangan Amerika Serikat yang sangat independen!. Sementara itu, di Indonesia dirut BEI sedang melakukan penyelidikan terhadap aktivitas short selling tersebut. Lagi-lagi otoritas bursa di Indonesia, termasuk Bapepam, tidak mengerti landasan dilarangnya short selling di AS. Pemerintah AS memerlukan short selling sebagai instrumen 'perang' keuangan mereka untuk menurunkan dan menaikkan harga saham di dalam negeri, termasuk dunia, dalam rangka melindungi perusahaan penting mereka dari kepemilikan asing dan mendapatkan keuntungan investasi untuk menutup defisit. Banyak saham perusahaan dunia, khususnya Asia, memiliki ADR atau dual listing dengan bursa-bursa di AS sehingga dengan mengatur harga saham di bursa-bursa AS, maka arbitrase akan menyebabkan pergerakan saham yang seragam di seluruh dunia. Kelemahan arsitektur pasar modal dunia karena sistem Bretton Wood hanya menghasilkan kelembagaan-kelembagaan yang tidak berposisi sebagai polisi pasar modal dan keuangan dunia. Akibatnya, sebelum dibentuknya institusi yang bertindak sebagai polisi dalam pasar keuangan dan modal dunia, gejolak pasar uang dunia bukan murni irasionalistas investor, tetapi rekayasa dari kapitalisme dunia yang memiliki kekuatan monopolistis. Sungguh aneh jika pemerintah Indonesia justru terpancing oleh musik yang asing mainkan ketimbang membenahi sektor riil di dalam negeri dan memutus ketergantungan pasar keuangan dan modal domestik dari permainan siluman ini. Sebab, pada akhirnya Indonesia akan selalu ketinggalan. Buktinya Singapura, Malaysia, dan Hong Kong mampu memberikan penjaminan simpanan sebesar 100% (tanpa batas) dan Indonesia hanya mampu Rp2 miliar (terbatas). Bukan tidak mungkin ada oknum di pemerintah Indonesia itu sendiri yang berpeluang untuk membantu pemilik modal domestik dari kerugian akibat jatuhnya harga saham yang mereka miliki dengan dana APBN dan BUMN dalam rangka Pemilu 2009. Ingatlah nasihat Woodrow Wilson (1919), 'Is there any man, is there any woman, let me say any child here that does not know that the seed of war in the modern world is industrial and commercial rivalry?'. Oleh Achmad Deni Daruri President Director Center for Banking Crisis [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

