Globalisasi menjadi ajang konsolidasi kapitalisme sedunia yang dengan mudahnya menembus atau menghancurkan batas-batas nasional, kedaulatan, teritorial entitas nasional yang bertujuan untuk kemudahan masuknya modal ke dalam tiap-tiap negara.
Dengan peristiwa ini seolah-olah muncul yang namanya kerajaan sedunia dimana tiap-tiap negara dapat berniaga dengan sebebas mungkin tanpa ada pengawasan yang ketat dari negara, dan Indonesia sudah terlihat menuju ke arah ini. Namun kondisi ini juga patut diamati karena jika kita tidak mawas diri maka persaingan-persaingan ekonomi dunia ini akan melindas Indonesia yakni golongan masyrakat Indonesia yang hanya bermodal kecil.. Logika kapitalisme adalah siapa yang memiliki modal besar maka akan menang.. Maka pasar modal akan melakukan apa saja untuk menghilangkan segala hambatan dalam mendistribusikan modalnya ke Indonesia sekalipun harus melemahkan kekuatan sebuah negara, disinilah Indonesia harus cermat dalam menganalisa kemungkinan apa yang akan terjadi. Nasionalisme kembali berperan disini dalam memompa semangat kebangsaan untuk menghadapi globalisasi namun bukan berarti pasrah dan menerima globalisasi sebagai sebuah hal yang tak dapat dihindari. Negara akan dibuat selemah mungkin dan ini membutuhkan kekuatan bersama dalam menghempang laju globalisasi yang kian berada di pelupuk mata kita, globalisasi harus ditolak karena ini adalah sebuah strategi kapitalisme internasional dalam memuluskan praktek eksploitasi dengan tujuan akumulasu, konsentrasi, dan sentralisasi modal. Kini senada dengan hal tersebut Indonesia mengalami efek yang luar biasa, manusia-manusia Indonesia yang memuja pasar besar sudah sewajarnya akan mendukung globalisasi ini karena mereka percaya bahwasanya dengan cara inilah maka kesejahteraan umat manusia dapat diwujudkan. Namun hal ini juga masih perlu dipertanyakan...?? apakah memang globalisasi adalah jalan keselamatan atau justru sumber dari penderitaan? Silahkan direnungkan.

