Rekans,


Melakukan pemeliharaan ayam kampung secara intensif, dengan penggunaan
kandang batrei dan ransum pakan yang bermutu tinggi, ternyata dapat
memberikan pemasukan yang cukup menguntungkan. Setidaknya daripada uang
disimpan dalam bank, menginvestasikannya dalam bentuk usaha ini akan
terhitung lebih menguntungkan. Tentunya bagi mereka yang tidak suka
tantangan, apa yang saya tuliskan baru saja, tidak akan berarti apapun.


Ayam kampung bakalan, dibeli dari pasar dengan harga rata2 Rp. 30 ribu
per ekornya, kemudian pada bukan kedua pemeliharaan (usia ayam sudah 6
bulan) sudah mulai menghasilkan telur. Apalagi pemeliharaan ini
digabungkan dengan metode inseminasi buatan. Maka jadilah, 100 ayam
betina, cukup dibuahi oleh 2 sampai 3 ekor ayam jago saja. Ketahanan
ayam kampung terhadap penyakit dan nafsu makannya yang tidak neko2,
tidak perlu konsentrat yang harganya menembus 3 digit itu, kiranya
menjadi suatu keunggula berwirausaha ayam kampung. Bahkan dengan
sedikit keringat, kita bisa mengolah  ransum pakan ayam sendiri dengan
hasil yang tidak kalah jauh dibanding konsentrat, tapi dengan nilai
rupiah yang jauh lebih rendah. 

Lumayanlah, apalagi lokasi peternakan ayam kampungnya tidal terlalu
jauh dari ibukota, yang notabene merupakan pasar terbesar ayam kampung,
baik itu telur maupun dagingnya. Jangan khawatir, mbok bakul jamu akan
dengan setia membeli telur ayam kampung tersebut, dan pasar rakyat akan
selalu menerima daging ayam kampung (maaf, walaupun ada kemiripan, sumpah mati 
ini bukan skript iklan sebuah partai politik apapun).








Dian Purnama


Sedang iwut menjadi peternak ayam kampung juga

kalau ada yang berminat invest, boleh kontak japri    





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke