http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/24/10344574/Dana.Subsidi.Minyak.Sisa.Puluhan.Triliun..Harga.BBM.Tak.Juga.Turun
Pemerintah Diminta Turunkan Harga BBM Bersubsidi KOMPAS/RIZA FATHONI Kamis, 23 Oktober 2008 | 15:40 WIB JAKARTA, KAMIS - Pemerintah diminta untuk menurunkan harga BBM bersubsidi karena diprediksi harga BBM industri akan lebih rendah dari BBM bersubsidi bila pada bulan depan mengikuti harga minyak dunia yang mencapai 60 dolar AS. Pasalnya, insentif fiskal yang diberikan pada pengusaha seharusnya dialokasikan untuk langkah konkret dari sisi sektor riil. Hal itu dikatakan pengamat ekonomi dari Indef Ikhsan Modjo di sela seminar "Ketahanan Energi, Sektor Keuangan dan Alternatif Pendanaan" di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (23/10). Ikhsan menuturkan penurunan BBM perlu diambil bila harga minyak internasional sudah mencapai 60 dolar AS, karena akan berpengaruh pada harga BBM industri yang akan lebih rendah dari BBM bersubsidi. "Daripada memberi insentif fiskal untuk pengusaha, pemerintah seharusnya juga memperhatikan 3 prioritas sektor riil yakni infrsatruktur, energi dan pangan. Jadi kalau ada kelebihan dana atau surplus dari subsidi BBM dapat dialokasikan pemerintah untuk meningkatkan daya beli masyarakat," ujarnya. Ia mengatakan krisis global yang sedang terjadi sekarang akan memukul daya beli masyarakat. "Maka bukan hanya orang-orang yang punya kekuasaan atau memiliki akses terhadap wealth management yang punya kompensasi suku bunga. Artinya masyarakat umum juga harus diperhatikan dengan menurunkan harga BBM bersubsidi," ujar Ikhsan. Turunnya harga BBM bersubsidi diharapkan juga berpengaruh pada masalah pendapatan, kemiskinan dan terbukanya lapangan kerja. Yang perlu digarisbawahi, dikatakan Ikhsan, bukan hanya masalah naik turunnya BBM tapi strategi diversifikasi energi. Selain itu, pembangunan infrastruktur lebih efektif bila ada surplus dana daripada menerapkan kebijakan insentif fiskal yang hanya sekali saja. MYS ------------------------- Dana Subsidi Minyak Sisa Puluhan Triliun, Harga BBM Tak Juga Turun Jumat, 24 Oktober 2008 | 10:34 WIB JAKARTA, JUMAT - Siapapun pasti bisa mengikuti nalar ini. Jika harga minyak turun,anggaran negara untuk subsidi energi tahun ini tentu bakal tersisa puluhan triliun rupiah. Mari kita tengok hitungan para anggota DPR tentang penghematan subsidi itu. Anggota Komisi VII dari Fraksi PAN Tjatur Sapto Edy menghitung, dengan asumsi harga minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) 105 dollar AS per barrel, subsidi BBM dan listrik akan tersisa Rp 24,5 triliun. "Pemerintah mengatakan rata-rata ICP saat ini 108 dollar AS per barrel. Dengan ICP sebesar itu saja masih ada sisa subsidi energi sebesar Rp 14,8 triliun," kata Tjatur, kepada KONTAN, Kamis (23/10). Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2008, pemerintah punya anggaran subsidi energi sebesar Rp 187 triliun plus cadangan subsidi jika harga minyak terus naik sebesar Rp 18,3 triliun, atau totalnya sebesar Rp 205,3 triliun. "Saya perkirakan dana itu hanya terpakai maksimal Rp 190 triliun," tambah Tjatur. Anggota Panitia Anggaran dari Fraksi Golkar Harry Azhar Azis juga memperkirakan akan ada sisa subsidi, namun cuma sebesar Rp 9 triliun. "Itu dengan asumsi ICP lebih tinggi lagi US$ 116 per barel," kata Harry. Padahal, para anggota DPR itu masih belum memakai data ICP yang terbaru. Per September, ICP bahkan cuma 99,06 dollar AS per barrel. Artinya, pemerintah punya ruang yang leluasa untuk menurunkan harga BBM bersubsidi dari harga yang berlaku saat ini. "Dengan dana sisa Rp 9 triliun saja, pemerintah bisa menurunkan harga premium 18 persen menjadi sekitar Rp 5.000 per liter," tutur Harry. Sedangkan Tjatur menghitung, pemerintah bisa menurunkan harga BBM bersubsidi jenis premium sebesar Rp 1.000 per liter, solar dan minyak tanah sebesar Rp 500 per liter. Sisa subsidi akan lebih besar lagi jika melihat tren menurunnya harga minyak dunia yang terus berlanjut. Kamis (23/10) kemarin, harga minyak terbaik di bursa New York sudah melorot menjadi 66,8 dollar AS per barrel. "Kalau terus turun hingga di bawah 60 dollar AS per barrel jangan heran kalau bulan November harga BBM Industri lebih murah daripada BBM bersubsidi," kata Direktur Institute for Development of Economics & Finance (Indef) M Ikhsan Modjo. Harry Azhar Azis menambahkan, penurunan harga BBM bersubsidi tahun ini atau tahun depan sepenuhnya menjadi political will pemerintah. "Sebab pasal khusus tentang fleksibilitas anggaran hanya mengatur kenaikan harga, bukan penurunan. Jadi jika pemerintah mau, tentu bisa menurunkan harga," kata Harry. Di tengah krisis seperti sekarang penurunan harga BBM bersubsidi tentu membantu konsumen memperkuat daya belinya. Namun Direktur Jenderal Minyak dan Gas Evita Legowo tak sependapat anggaran subsidi energi akan tersisa. "Hitungan dari mana? Enggak begitu, subsidi energi berdasarkan asumsi ICP 95 dollar AS per barrel, jadi tidak ada sisa dana subsidi tahun ini," kata Evita. (Dian P. S., Hikmah Y., Umar L, Yuwono T., Diah M.)

