Ini dari milis tetangga juga:
From: Imam Mudofir Mudofir <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [jurnalisme] Re: Otokritik Seorang Kristen
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Friday, October 24, 2008, 2:21 AM
Ada sebuah Pengalaman menarik:
Saya berasal dari sebuah daerah diujung Timur Pulau Jawa. di Desa Sy
terdapat 4 Buah Masjid, 1 Gereja Katolik, 2 Gereja Protestan (yg
berbeda), 2 Pura, dan 1 Vihara. Desa yang tidak terlalu besar untuk
dihuni beragam agama yang mewakili keberagaman keagamaan di Indonesia.
Menurut asal usul Gereja katolik dan Protestan didirikan sewaktu
tentara Belanda mendirikan benteng pertahanan di pesisir selatan pulau
jawa untuk mengamati kedatangan tentara jepang. Atau malah versi lain
didirikan sewaktu Jaman Kolonial dulu untuk beribadah bagi orang Eropa
yang sedang membangun Dam-dam pengairan.
Sejak kecil sampai dewasa Sy tidak pernah mendengar ada sebuah konflik
terbuka antara masing-masing agama. Sampai pada suatu ketika muncul
konflik di Ambon. Perlu diketahui bahwa sejak tahun '80-an banyak warga
desa yang ikut transmigrasi ke kepulauan maluku.
Setelah konflik meletus di Ambon terjadi Eksodus besar-besaran warga
pendatang di maluku, termasuk warga Desa Sy. Entah siapa yang memulai,
warga transmigran yang pulang kampung karena konflik, juga terlibat
cek-cok di Desa kami.
Saudara yg Muslim mengatakan, si Fulan terlibat pembakaran masjid dan musholla
di desa transmigran yang kita dirikan.
Saudara kita yang lain juga menuduh si Anu telah merobohkan dan membakar gereja
di tanah transmigran.
Puncaknya hampir saja cek-cok tersebut berujung pada perkelahian
terbuka. sampai kemuduian warga desa berembuk untuk menyelesaikannya.
Penyelesaiannya adalah sepele. barang siapa atau warga desa mantan
transmigran yang pulang kampung hendak menyulut perselisihan dan
membawa konflik di Ambon di desa kami, maka hukumannya adalah di usir
dari desa.
Hal tersebut di sepakati baik kalangan Ulama, maupun Romo setempat.
kami warga desa kemudian mempunyai kesepakatan untuk saling mengundang
pada acara kenduri jika saling mempunyai hajatan. Seperti Mantenan,
sunatan, 7 hari, 40 hari atau acara syukuran jika panen tiba.
Sewaktu Sy pulang kampung waktu lebaran, sekarang ini masing-masing
warga sudah bisa melupakan konflik sewaktu mereka di Ambon. Padahal
masing-masing banyak yang terluka dan kehilangan saudara. Bahkan ada
anak gadis yang kehilangan beberapa jari karena merakit Bom rakitan
untuk membela saudaranya yang diserang.
Saya akui Sy dulu aktif di masjid warisan kakek. dan sebelah masjid Sy
hanya berjarak beberapa meter berdiri gereja besar. Jika Sy pulang
kampung, Romo pemangku Gereja dan beberapa pemuda gereja mengajak
dialog. Pernah romo mengatakan untuk saling mengunjungi jika ada hari
raya ataupun jamuan makan. Dengan halus Sy tolak, bahwa jika kita
memaksakan untuk saling mengunjungi maka, akan terjadi perpecahan warga
desa. Karena kami yang Muslim menganggap tidak boleh mendoakan yang non
muslim. Akhirnya sy usulkan, kita salaing menghormati, dan akan saling
bekerjasama untuk gotong royong membangun jalan, jembatan di dekat
Sawah. Bahkan ada yang unik, sewaktu keluarga kami merenovasi Masjid
Kampung, beberapa pemuda dari gereja dan tokoh gereja menyumbangkan
semen dan ikut bergotong royong membangun Masjid. Di situlah terjadi
guarauan yang sedikit idiologis tapi menjadi ketawaan bersama. Misalkan
(Remaja Masjid) mengatakan, jika nanti kamu meninggal, diakhiarat Sy
usulkan pada malaikat kamu (remaja gereja) tidak masuk neraka dan tidak
di Surga. Tapi cukup di "Emperan Surga" saja. Karena Kamu ikut membantu
mendirikan masjid kami. Sambil bergotong royong kami menjadikan hal-hal
seperti itu candaan. Dan tidak ada yang emosi.
Hal menarik lainnya adalah jika ada hajatan dari pihak Non-Muslim, Jika
ingin mengkonsumsi daging Babi maka harus dilaporkan dahulu keapada
pada Sinoman, Sehingga Sinoman yang Muslim tidak makan di tempat si
pemilik hajatan. dan barang siapa melanggar maka tidak akan dibantu
hajatannya. Itu sangsi sosialnya. Dan hal ini berlaku efektif.
Dan masih banyak kesepakatan- kesepakatan tidak tertulis terkait dengan
perbedaan agama. Kawin campur juga sering terjadi. Biasanya jika dalam
perkawinan campur mempunyai anak, si anak setelah dewasa dipersialhkan
memilih. tapi jika masih anak-anak juga dipersilahkan main di Gereja
maupun musholla. sy ingat waktu kecil tiap minggu ke gereja dan Gua
Maria bermain dengan biarawati dan pastur. Begitu juga menjelang
mangrib banyak anak-anak kecil dari keluarga non muslim bermain beduk
di masjid Kami. Semuanya mengalir begitu Saja.
Yang ingin sy katakan kenapa kita tidak bisa saling memahami, malah
saling bertengkar yang tidak ada habisnya. Tidak ada yang mau mengalah.
sy bangga kepada Kampung Kami karena kami menggunakan perasaan bukan
menggunakan pikiran yang ujung-ujungnya adalah akal-akalan.
Jika ada yang berminat besuk kampung Saya, silahkan. Tapi jangan jadi
provokator.
Salam,
Mudofir
Eka Zulkarnain
[Non-text portions of this message have been removed]