Jurus-jurus Maut Pengkibulan Lapindo 

Kamis, 30 Oktober 2008 03:10 korbanlapindo   
 
Bahwa Lapindo dimiliki oleh Kelompok Usaha Bakrie, semua orang sudah mahfum 
adanya. Juga bahwa Bakrie memiliki sumberdaya politik dan ek onomi, serta tentu 
saja pengaruh, yang luar biasa besar di negeri ini, mungkin banyak orang juga 
sudah menduga. Tetapi, tahukah anda bahwa kebisaan Bakrie itu juga hendak 
diarahkan untuk ‘membeli’ media dan membentuk opini publik tentang masalah 
terkini Lapindo? 

Mungkin tidak banyak yang menyadari, meskipun korban sudah merasakan dan itu 
sudah berkali-kali dilakukan. Tapi mudah-mudahan tulisan ini membantu anda 
untuk siap dan awas akan propaganda apapun yang dilakukan Lapindo agar mereka 
lepas dari tanggungjawab dalam Bencana semburan Lumpur panas di Sidoarjo.

 ***

Beberapa hari ini, saya menduga bahwa kantor humas Lapindo, dimanapun itu 
berada, selalu dalam sitauasi siaga satu. Ya, ada beberapa peristiwa yang akan 
menentukan bagaimana opini publik akan berpihak dalam hal Bencana Lumpur 
Lapindo (juga karena banyak dari mereka yang akan dipecat kalau kampaney media 
tingkat global ini gagal). 

Hal ini karena adanya dua event ilmiah di bidang ilmu kebumian (geosciences) 
berskala internasional yang diselenggarakan di London, Inggris dan Cape Town, 
Af rika Selatan, dalam waktu yang beriringan. Kedua konferensi ini akan membe 
rikan alasan pembenar, apakah Lapindo yang menyebabkan semburan Lumpur Panas di 
Sidoarjo pada tanggal 29 Mei 2006, ataukah gempa bumi Yogya, yang terjadi dua 
hari sebelumnya.

Maka, jauh-jauh hari mereka sudah menyiapkan beberapa jurus yang kiranya akan 
menyumpal suara korban, aktivis dan para pakar yang masih keukuh dengan harga 
diri intelektualnya untuk tidak terbeli oleh Lapindo, bahwa semburan Lumpur 
bukan kesalahan mereka, untuk selamanya.

Dimulai dengan munculnya posting komentar di beberapa blog (misalnyadisini) 
yang mencoba menanamkan keraguan akan motif dari para ahli yang berpendapat 
bahwa semburan Lumpur dipicu oleh kesalahan Lapindo. Juga keyakinan si penulis 
komentar, yang tidak jelas identitasnya, bahwa dia sudah menyelesaikan studi 
selama 18 bulan, yang menyimpulkan bahwa Lapindo tidak bersalah dalam semburan 
Lumpur.

Beberapa hari kemudian, muncul sebuah website, yang berisi informasi tentang 
masalah Lumpur Lapindo (tentu saja dengan nama Lusi), yang memiliki banyak 
kesamaan dengan komentar yang disebut diatas. Anehnya, meskipun website ini 
digarap cukup bagus, tetapi pengunjung tentu saja akan tergiring bahwa semua 
pendapat yang dikutip adalah yang menguntungkan Lapindo. Lebih aneh lagi, tidak 
ada identitas lembaga yang jelas, mengherankan untuk sebuah website yang 
dikerjakan dengan cukup professional.

Lalu kemudian datanglah saat pelaksanaan konferensi di London (22/10). Bak 
strategi AS pasca 9/11, Lapindo melakukan pre-emptive strike dengan 
mengeluarkan sebuah kampanye media berskala global. Tidak tanggung-tanggung, 
sebuah perusahaan Public Relation (PR) berskala dunia yang disewa untuk 
mengabarkankonferensi ini, dengan penekanan pada Lapindo memiliki bukti baru 
bahwa mereka tidak bersalah. Aksi PR ini, kontan langsung disambut oleh 
berbagai media, dalam dan luar negeri, terutama oleh media resmi negeri ini. 

Pada saat tengah konferensi, Lapindo lagi-lagi merilis kabar bahwa konferensi 
menyimpulkan bahwa mereka tidak bersalah, yang lagi-lagi hanya dimuat oleh 
media resmi negeri ini. Padahal, tidak ada kesimpulan semacam itu. Satu-satunya 
yang bisa disimpulkan dari konferensi di London adalah bahwa data yang tersedia 
masih belum untuk diambil kesimpulan, sehingga perlu pertemuan selanjutnya.

Kabar tersebut langsung dibantah oleh salah seorang ahli yang menjadi peserta, 
sekaligus pelopor utama pendapat Lapindo sebagai penyebab semburan, Dr. Richard 
Davies. Sejumlah LSM yang Peduli dengan masalah Lapindo, juga langsung mengecam 
upaya mengelabui publik ini. 

Tidak berhenti disini, Lapindo terus berupaya mengelabui publik melalui 
konferensi lanjutan di Cape Town, seminggu kemudian (28/10). Lapindo kembali 
mengabarkan melalui rilis bahwa para ahli berpendapat bahwa mereka tidak 
bersalah. Lebih tegas daripada konferensi London, Lapindo menyebut bahwa para 
ahli menyimpulkan bahwa penyebab semburan adalah Gempa!

Tentu saja sebuah kesimpulan yang sangat menggelikan (atau menyedihkan). Sebab, 
tidak saja konferensi tersebut tidak menyimpulkan bahwa pemicu semburan adalah 
gempa, tetapi bahkan sebagian besar ahli yang datang menganggap bahwa 
pengeboran Lapindo-lah pemicunya. Hanya dua orang pegawai Lapindo yang dikirim 
untuk datang ke konferensi dan satu ahli, yang tetap bersikukuh bahwa mereka 
tidak bersalah.

Entahlah, apa mau dibilang terhadap Lapindo dan Kelompok Usaha Bakrie pada 
umumnya. Mungkin mereka sudah merasa sedemikian nyaman dengan kemampuan mereka 
memanipulasi kebenaran seperti yang selama ini mereka praktekkan. Perlindungan 
yang terus menerus dari pemerintah, dan keacuhan publik, bisa jadi membuat 
mereka merasa semakin diatas angin, sehingga bahkan konferensi ilmiah kelas 
dunia pun mereka coba untuk manipulasi.

Saya cuman bisa berharap bahwa media massa kita tidak begitu bodoh dan naifnya 
untuk termakan kampanye penyesatan publik yang terus dilakukan oleh Lapindo. 
Juga moga2 masih banyak warga bangsa ini yang berhati jujur dan bersih nurani, 
sehingga tetap bisa mengenali upaya-upaya busuk yang terus dilakukan oleh 
Lapindo, dalam menghindarkan diri dari tanggungjawabnya terhadap para korban 
Lapindo, dan bangsa ini.


Sumber:
http://www.korbanlumpur.info/kata-mereka/opini/380-jurus-jurus-maut-pengkibulan-lapindo.html



      

Kirim email ke