Menemukan Kedamaian Islam di Balik Jilbab
http://www.republika.co.id/berita/11269.html
Sara Bokker, dulunya adalah seorang model, aktris, aktivis dan instruktur
fitness. Seperti umumnya gadis remaja Amerika yang tinggal di kota besar,
Bokker menikmati kehidupan yang serba gemerlap. Ia pernah tinggal di Florida
dan South Beach, Miami, yang dikenal sebagai tempat yang glamour di Amerika.
Kehidupan Bokker ketika itu hanya terfokus pada bagaimana ia menjaga
penampilannya agar menarik di mata orang banyak.
Setelah bertahun-tahun, Bokker mulai merasakan bahwa ia selama ini sudah
menjadi budak mode. Dirinya menjadi "tawanan" penampilannya sendiri. Rasa ingin
memuaskan ambisi dan kebahagian diri sendiri sudah mengungkungnya dalam
kehidupan yang serba glamour. Bokker pun mulai mengalihkan kegiatannya dari
pesta ke pesta dan alkohol ke meditasi, mengikuti aktivitas sosial dan
mempelajari berbagai agama.
Sampai terjadilah serangan 11 September 2001, dimana seluruh Amerika bahkan
diseluruh dunia mulai menyebut-nyebut Islam, nilai-nilai Islam dan budaya
Islam, bahkan dikait-kaitkan dengan deklarasi "Perang Salib" yang dilontarkan
pimpinan negara AS. Bokker pun mulai menaruh perhatian pada kata Islam.
"Pada titik itu, saya masih mengasosiasikan Islam dengan perempuan-perempuan
yang hidup di tenda-tenda, pemukulan terhadap istri, harem dan dunia teroris.
Sebagai seorang feminis dan aktivis, saya menginginkan dunia yang lebih baik
bagi seluruh umat manusia," kata Bokker seperti dikutip dari Saudi Gazette.
Menemukan Al-Quran
Suatu hari, secara tak sengaja Bokker menemukan kita suci al-Quran, kitab suci
yang selama ini pandang negatif oleh Barat. "Awalnya, saya tertarik dengan
tampilan luar al-Quran dan saya mulai tergelitik membacanya untuk mengetahui
tentang eksistensi, kehidupan, penciptaan dan hubungan antara Pencipta dan yang
diciptakan. Saya menemukan al-Quran sangat menyentuh hati dan jiwa saya yang
paling dalam, tanpa saya perlu menginterpretasikan atau menanyakannya pada
pastor," sambung Bokker.
Akhirnya, Bokker benar-benar menemukan sebuah kebenaran, ia memeluk Islam
dimana ia merasa hidup damai sebagai seorang Muslim yang taat. Setahun
kemudian, ia menikah dengan seorang lelaki Muslim. Sejak mengucap dua kalimat
syahdat Bokker mulai mengenakan busana Muslim lengkap dengan jilbabnya.
"Saya membeli gaun panjang yang bagus dan kerudung seperti layaknya busana
Muslim dan saya berjalan di jalan dan lingkungan yang sama, dimana beberapa
hari sebelumnya saya berjalan hanya dengan celana pendek, bikini atau pakaian
kerja yang 'elegan'," tutur Bokker..
"Orang-orang yang saya jumpai tetap sama, tapi untuk pertama kalinya, saya
benar-benar menjadi seorang perempuan. Saya merasa terlepas dari rantai yang
membelenggu dan akhirnya menjadi orang yang bebas," Bokker menceritakan
pengalaman pertamanya mengenakan busana seperti yang diajarkan dalam Islam.
Setelah mengenakan jilbab, Bokker mulai ingin tahu tentang Niqab. Ia pun
bertanya pada suaminya apakah ia juga selayaknya mengenakan niqab (pakaian
muslimah lengkap dengan cadarnya) atau cukup berjilbab saja. Suaminya menjawab,
bahwa jilbab adalah kewajiban dalam Islam sedangkan niqab (cadar) bukan
kewajiban.
Mengenakan Niqab
Tapi satu setengah tahun kemudian, Bokker mengatakan pada suaminya bahwa ia
ingin mengenakan niqab. "Alasan saya, saya merasa Allah akan lebih senang dan
saya merasa lebih damai daripada cuma mengenakan jilbab saja," kata Bokker.
Sang suami mendukung keinginan istrinya mengenakan niqab dan membelikannya gaun
panjang longgar berwarna hitam beserta cadarnya. Tak lama setelah ia mengenakan
niqab, media massa banyak memberitakan pernyataan dari para politisi, pejabat
Vatikan, kelompok aktivis kebebasan dan hak asasi manusia yang mengatakan bahwa
niqab adalah penindasan terhadap perempuan, hambatan bagi integrasi sosial dan
belakangan seorang pejabat Mesir menyebut jilbab sebagai "pertanda
keterbelakangan."
"Saya melihatnya sebagai pernyataan yang sangat munafik. pemerintah dan
kelompok-kelompok yang katanya memperjuangkan hak asasi manusia berlomba-lomba
membela hak perempuan ketika ada pemerintah yang menerapkan kebijakan cara
berbusana, tapi para 'pejuang kebebasan' itu bersikap sebaliknya ketika kaum
perempuan kehilangan haknya di kantor atau sektor pendidikan hanya karena
mereka ingin melakukan haknya mengenakan jilbab atau cadar," kritik Bokker.
"Sampai hari ini, saya tetap seorang feminis, tapi seorang feminis yang Muslim
yang menyerukan pada para Muslimah untuk tetap menunaikan tanggung jawabnya dan
memberikan dukungan penuh pada suami-suami mereka agar juga menjadi seorang
Muslim yang baik. Membesarkan dan mendidik anak-anak mereka agar menjadi Muslim
yang berkualitas sehingga mereka bisa menjadi penerang dan berguna bagi seluruh
umat manusia."
"Menyerukan kaum perempuan untuk berbuat kebaikan dan menjauhkan kemunkaran,
untuk menyebarkan kebaikan dan menentang kebatilan, untuk memperjuangkan hak
berjilbab maupun bercadar serta berbagi pengalaman tentang jilbab dan cadar
bagi Muslimah lainnya yang belum pernah mengenakannya," papar Bokker.
Ia mengungkapkan, banyak mengenal muslimah yang mengenakan cadar adalah kaum
perempuan Barat yang menjadi mualaf. Beberapa diantaranya, kata Bokker, bahkan
belum menikah. Sebagian ditentang oleh keluarga atau lingkungannya karena
mengenakan cadar. "Tapi mengenakan cadar adalah pilihan pribadi dan tak seorang
pun boleh menyerah atas pilihan pribadinya sendiri," tukas Bokker..
-eramuslim/ah
[Non-text portions of this message have been removed]