Barat yang mana Tung? Sumatera Barat, Jawa Barat 
atawa Nusa Tenggara Barat?
Wuakkakak..he..he....
Orang Jepang, Taiwan, Korea, Cina, kagak pusing sama pelajaran agama
tapi kok pada pintar-pintar, maju, and kaya. Lebih pinter, lebih maju
dari orang-orang yang tinggalnya di tanah kelahirannya Cut Nyak DHien,
Tung...
wukakakakak....

--- In [email protected], si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> mustinye aktivis feminis meniru jejak para pahlawannye, bukannye
malah memBEO ke BARAT. seolah2 BARAT slalu MAJU, yg laen terbelakang,
cuiih gaye sok barat, mukanye? wkaka..pdhl cuma mampir bntr di negri
BARAT tp udh kaya orang BARAT, ga fantas nian ah
> mengenai ilmu agame, pade mlongo, gmane die mo didik anak2nye?
modale ape? 
> dikiranye, ilmu agama cuma buat akherat doank, dunia bebas dr ilmu
agame, bener2 aktivis feminis islam ya legendaris wkakakka
>  
>  
> JAKARTA--Pahlawan nasional asal Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
(NAD) bukan hanya jago dalam mengatur strategi perang melawan penjajah
pada masanya, tapi juga cerdas di bidang agama Islam dan bahkan mampu
menghafal Al-Quran. Kecerdasan perempuan yang diasingkan penjajah
Belanda itu diakui Bupati Sumedang, Jawa Barat, Don Murdono, dalam
pertemuan dengan peserta napak tilas seratus tahun meninggalnya Cut
Nyak Dhien belum lama ini.
> 
> Bupati mengatakan, Cut Nyak Dhien di masa hidupnya ikut memberi
bimbingan ajaran agama Islam kepada masyarakat Sumedang. Menurut dia,
perempuan asal Aceh itu juga cepat beradaptasi dengan lingkungan
karena memiliki kecerdasan menghafal kitab suci Al-Quran. 
> 
> Kegiatannya sehari-sehari Ibu Perbu (ibu Ratu), demikian sebutan
masyarakat Sumedang kepada Cut Nyak Dhien, dipergunakan untuk
mengulang kaji ilmu agama dan membaca Al-Quran, meskipun
penglihatannya tidak seperti saat terlibat langsung dalam peperangan.
> 
> Dalam usia yang hampir 60 tahun itu tetap mengaji serta mengajarkan
> ilmu agama Islam kepada masyarakat yang datang bersilaturrahmi ke
rumah tempat tinggalnya sekitar Masjid Agung Sumedang dan mengajarkan
Al-Quran kepada anak-anak sekitarnya.
> 
> "Jadi, kecerdasan Cut Nyak Dhien bukan hanya mengatur prajurit
berperang melawan penjajah Belanda yang terjadi sekitar 1873, tetapi
juga mahir di bidang agama," kata Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Aceh Raihan Putry Ali Muhammad.
> 
> Ini patut menjadi teladan bagi perempuan Aceh sekarang. Kaum
perempuan harus menguasai berbagai pengetahuan sejalan kemajuan, namun
tetap cerdas di bidang agama Islam dan adat istiadat karena itu
merupakan identitas masyarakat Aceh yang terkenal fanatik.
> 
> Kegiatan napak tilas dan ziarah ke makam Cut Nyak Dhien di
Sumedang,Jabar, itu sebagai upaya menggali apa yang patut dan perlu
diteladani kaum perempuan masa kini. Ternyata banyak hikmah yang dapat
dipetik dari kegiatan ini, antara lain terkait kecerdasan Cut Nyak
Dhien di bidang agama Islam.
> 
> "Ini sejalan dengan tujuan dilakukan napak tilas dan ziarah itu
sendiri, ya untuk membangkitkan kembali semangat kaum perempuan Aceh
di bidang pendidikan, ekonomi, politik dan sosial kemasyarakatan,"
kata Raihan Putry Ali Muhammad yang juga dosen IAINB Ar-Raniry Aceh itu.
> 
> Selain itu, kegiatan yang melibatkan sejumlah perempuan ini
dimaksudkan untuk mempererat tali silaturrahmi antara masyarakat Aceh
dengan masyarakat Sumedang yang sudah dilakukan pahlawan nasional
seabad lalu, tepatnya sekitar Juli 1907 saat diasingkan ke Sumedang.
> 
> Dalam waktu relatif singkat, Cut Nyak Dhien bisa menjalin dan
mempererat tali silaturrahim. Cut Nyak Dhien menjadi perekat dua
kelompok masyarakat yang berbeda daerah tersebut.
> 
> Kaum perempuan daerah Aceh perlu mengambil iktibar positif sesuai
kondisi seperti diperlihatkan Cut Nyak Dhien di masa hidupnya.
Perempuan Aceh yang berjiwa Islami perlu mempersiapkan diri dan
menyahuti perkembangan kemajuan teknologi informasi, katanya.
> 
> Semua yang mengikuti jejak Cut Nyak Dhien harus cerdas. Tidak ada
suatu keturunan sukses tanpa pengetahuan dan kecerdasan, kata istri
mantan Gubernur Aceh, Hj Marlinda Abdullah Puteh, yang ikut serta
napak tilas dan ziarah yang dipimpin Darwati A Gani, istri Irwandi
Yusuf itu.
> 
> Marlinda mengatakan, sosok Cut Nyak Dhien yang cerdas itu hendaknya
menjadi teladan bagi perempuan Aceh. Kaum perempuan daerah Serambi
Makkah perlu meniru pahlawan nasional yang dapat menjalin silaturrahmi
melalui kemahiran bernuansa Islami, tambahnya.
> 
> "Saya kira, semua apa yang diperlihatkan Cut Nyak Dhien dapat
dijadikan teladan dan diaplikasikan dalam kehidupan, baik di bidang
agama Islam maupun sosial kemasyarakatan. Kecerdasan dalam pengetahuan
agama justru dikagumi dan disegani masyarakat," kata Marlinda.
> 
> Mustahil pengakuan datang tanpa kecerdasan di bidang tertentu. Oleh
karena itu, agaknya program napak tilas yang pertama sekali dilakukan
Pemerintah Aceh ini lahir dari akal pikiran cerdas, kata istri mantan
Wakil Gubernur Aceh Meutia Azwar Abubakar.
> 
> Hubungan silaturrahim yang dirintis Cut Nyak Dhien antara dua
kelompok masyarakat berbeda daerah itu kiranya dapat diaplikasikan
dalam kehidupan masa kini. Perempuan daerah Aceh harus bersatu dan
saling mendukung untuk mencapai suatu tujuan bersama, katanya.
> 
> Sudah waktunya pemikiran negatif yang mengarah pada pembunuhan
karakter sesama diabaikan dalam kehidupan yang menuntut kecerdasan.
Perempuan yang cerdas akan sirna kecerdasannya manakala
mengaplikasikan sikap tak simpati terhadap sesama.
> 
> Kekompakan merupakan modal utama untuk mewujudkan kemitraan (gender)
berkeadilan dalam kehidupan. Mustahil keinginan kemitraan dapat
dicapai jika kaum perempuan tak saling mendukung dan memberi motivasi
seperti dilakukan Cut Nyak Dhien seratus tahun silam.
> 
> Upaya menjaga kekompakan tidak sulit diwujudkan meski era
globalisasi menghampiri berbagai suku bangsa di jagad raya ini.
Berpikir kreatif dan cerdas dalam kehidupan tanpa pemikiran negatif
melihat kesuksesan seseorang tentu salah satu syarat perwujudan
kekompakan.
> 
> Kecerdasan bernuansa Islami seperti diperlihatkan Cut Nyak Dhien
perlu diaplikasikan dalam kehidupan perempuan Aceh masa ini.
Kecerdasan akan kurang bermakna manakala pemilknya tidak hati-hati
mencermati perkembangan dan bisa keliru tanpa menyadari cerdas sirna.
> 
> Sudah waktunya kebiasaan kurang baik ditinggalkan dan diganti dengan
kebiasaan bernilai multi dalam kehidupan ini. Orang cerdas tidak akan
memelihara kebiasaan tanpa multi makna dalam mencapai suatu tujuan.
Sebaliknya pemikiran cerdas dimanfaatkan untuk melangkah bersama.
> 
> Kini, di era globalisasi yang sarat informasi kiranya dapat dikaji
nilai bernuansa Islam untuk mewujudkan keberhasilan bersama dalam
kehidupan. Agaknya sosok Cut Nyak Dhien yang mampu menjalin tali
silaturrahmi dengan masyarakat Sumedang menjadi inspirasi perempuan
Aceh kini.
> 
> Pahlawan nasional Cut Nyak Dhien kini telah tiada. Tidak sedikit
teladan ditinggalkan dan perlu ditiru dan dikedepankan. Tidak keliru
manakala kaum perempuan Aceh membiasakan kebenaran berdasarkan
pemikiran cerdas dan jangan membenarkan kebiasaan dalam
kehidupan.Ant/Saidulkarnain Ishak/ya
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke