mustinye aktivis feminis meniru jejak para pahlawannye, bukannye malah memBEO
ke BARAT. seolah2 BARAT slalu MAJU, yg laen terbelakang, cuiih gaye sok barat,
mukanye? wkaka..pdhl cuma mampir bntr di negri BARAT tp udh kaya orang BARAT,
ga fantas nian ah
mengenai ilmu agame, pade mlongo, gmane die mo didik anak2nye? modale ape?
dikiranye, ilmu agama cuma buat akherat doank, dunia bebas dr ilmu agame,
bener2 aktivis feminis islam ya legendaris wkakakka
JAKARTA--Pahlawan nasional asal Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) bukan
hanya jago dalam mengatur strategi perang melawan penjajah pada masanya, tapi
juga cerdas di bidang agama Islam dan bahkan mampu menghafal Al-Quran.
Kecerdasan perempuan yang diasingkan penjajah Belanda itu diakui Bupati
Sumedang, Jawa Barat, Don Murdono, dalam pertemuan dengan peserta napak tilas
seratus tahun meninggalnya Cut Nyak Dhien belum lama ini.
Bupati mengatakan, Cut Nyak Dhien di masa hidupnya ikut memberi bimbingan
ajaran agama Islam kepada masyarakat Sumedang. Menurut dia, perempuan asal Aceh
itu juga cepat beradaptasi dengan lingkungan karena memiliki kecerdasan
menghafal kitab suci Al-Quran.
Kegiatannya sehari-sehari Ibu Perbu (ibu Ratu), demikian sebutan masyarakat
Sumedang kepada Cut Nyak Dhien, dipergunakan untuk mengulang kaji ilmu agama
dan membaca Al-Quran, meskipun penglihatannya tidak seperti saat terlibat
langsung dalam peperangan.
Dalam usia yang hampir 60 tahun itu tetap mengaji serta mengajarkan
ilmu agama Islam kepada masyarakat yang datang bersilaturrahmi ke rumah tempat
tinggalnya sekitar Masjid Agung Sumedang dan mengajarkan Al-Quran kepada
anak-anak sekitarnya.
"Jadi, kecerdasan Cut Nyak Dhien bukan hanya mengatur prajurit berperang
melawan penjajah Belanda yang terjadi sekitar 1873, tetapi juga mahir di bidang
agama," kata Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A)
Provinsi Aceh Raihan Putry Ali Muhammad.
Ini patut menjadi teladan bagi perempuan Aceh sekarang. Kaum perempuan harus
menguasai berbagai pengetahuan sejalan kemajuan, namun tetap cerdas di bidang
agama Islam dan adat istiadat karena itu merupakan identitas masyarakat Aceh
yang terkenal fanatik.
Kegiatan napak tilas dan ziarah ke makam Cut Nyak Dhien di Sumedang,Jabar, itu
sebagai upaya menggali apa yang patut dan perlu diteladani kaum perempuan masa
kini. Ternyata banyak hikmah yang dapat dipetik dari kegiatan ini, antara lain
terkait kecerdasan Cut Nyak Dhien di bidang agama Islam.
"Ini sejalan dengan tujuan dilakukan napak tilas dan ziarah itu sendiri, ya
untuk membangkitkan kembali semangat kaum perempuan Aceh di bidang pendidikan,
ekonomi, politik dan sosial kemasyarakatan," kata Raihan Putry Ali Muhammad
yang juga dosen IAINB Ar-Raniry Aceh itu.
Selain itu, kegiatan yang melibatkan sejumlah perempuan ini dimaksudkan untuk
mempererat tali silaturrahmi antara masyarakat Aceh dengan masyarakat Sumedang
yang sudah dilakukan pahlawan nasional seabad lalu, tepatnya sekitar Juli 1907
saat diasingkan ke Sumedang.
Dalam waktu relatif singkat, Cut Nyak Dhien bisa menjalin dan mempererat tali
silaturrahim. Cut Nyak Dhien menjadi perekat dua kelompok masyarakat yang
berbeda daerah tersebut.
Kaum perempuan daerah Aceh perlu mengambil iktibar positif sesuai kondisi
seperti diperlihatkan Cut Nyak Dhien di masa hidupnya. Perempuan Aceh yang
berjiwa Islami perlu mempersiapkan diri dan menyahuti perkembangan kemajuan
teknologi informasi, katanya.
Semua yang mengikuti jejak Cut Nyak Dhien harus cerdas. Tidak ada suatu
keturunan sukses tanpa pengetahuan dan kecerdasan, kata istri mantan Gubernur
Aceh, Hj Marlinda Abdullah Puteh, yang ikut serta napak tilas dan ziarah yang
dipimpin Darwati A Gani, istri Irwandi Yusuf itu.
Marlinda mengatakan, sosok Cut Nyak Dhien yang cerdas itu hendaknya menjadi
teladan bagi perempuan Aceh. Kaum perempuan daerah Serambi Makkah perlu meniru
pahlawan nasional yang dapat menjalin silaturrahmi melalui kemahiran bernuansa
Islami, tambahnya.
"Saya kira, semua apa yang diperlihatkan Cut Nyak Dhien dapat dijadikan teladan
dan diaplikasikan dalam kehidupan, baik di bidang agama Islam maupun sosial
kemasyarakatan. Kecerdasan dalam pengetahuan agama justru dikagumi dan disegani
masyarakat," kata Marlinda.
Mustahil pengakuan datang tanpa kecerdasan di bidang tertentu. Oleh karena itu,
agaknya program napak tilas yang pertama sekali dilakukan Pemerintah Aceh ini
lahir dari akal pikiran cerdas, kata istri mantan Wakil Gubernur Aceh Meutia
Azwar Abubakar.
Hubungan silaturrahim yang dirintis Cut Nyak Dhien antara dua kelompok
masyarakat berbeda daerah itu kiranya dapat diaplikasikan dalam kehidupan masa
kini. Perempuan daerah Aceh harus bersatu dan saling mendukung untuk mencapai
suatu tujuan bersama, katanya.
Sudah waktunya pemikiran negatif yang mengarah pada pembunuhan karakter sesama
diabaikan dalam kehidupan yang menuntut kecerdasan. Perempuan yang cerdas akan
sirna kecerdasannya manakala mengaplikasikan sikap tak simpati terhadap sesama.
Kekompakan merupakan modal utama untuk mewujudkan kemitraan (gender)
berkeadilan dalam kehidupan. Mustahil keinginan kemitraan dapat dicapai jika
kaum perempuan tak saling mendukung dan memberi motivasi seperti dilakukan Cut
Nyak Dhien seratus tahun silam.
Upaya menjaga kekompakan tidak sulit diwujudkan meski era globalisasi
menghampiri berbagai suku bangsa di jagad raya ini. Berpikir kreatif dan cerdas
dalam kehidupan tanpa pemikiran negatif melihat kesuksesan seseorang tentu
salah satu syarat perwujudan kekompakan.
Kecerdasan bernuansa Islami seperti diperlihatkan Cut Nyak Dhien perlu
diaplikasikan dalam kehidupan perempuan Aceh masa ini. Kecerdasan akan kurang
bermakna manakala pemilknya tidak hati-hati mencermati perkembangan dan bisa
keliru tanpa menyadari cerdas sirna.
Sudah waktunya kebiasaan kurang baik ditinggalkan dan diganti dengan kebiasaan
bernilai multi dalam kehidupan ini. Orang cerdas tidak akan memelihara
kebiasaan tanpa multi makna dalam mencapai suatu tujuan. Sebaliknya pemikiran
cerdas dimanfaatkan untuk melangkah bersama.
Kini, di era globalisasi yang sarat informasi kiranya dapat dikaji nilai
bernuansa Islam untuk mewujudkan keberhasilan bersama dalam kehidupan. Agaknya
sosok Cut Nyak Dhien yang mampu menjalin tali silaturrahmi dengan masyarakat
Sumedang menjadi inspirasi perempuan Aceh kini.
Pahlawan nasional Cut Nyak Dhien kini telah tiada. Tidak sedikit teladan
ditinggalkan dan perlu ditiru dan dikedepankan. Tidak keliru manakala kaum
perempuan Aceh membiasakan kebenaran berdasarkan pemikiran cerdas dan jangan
membenarkan kebiasaan dalam kehidupan.Ant/Saidulkarnain Ishak/ya
[Non-text portions of this message have been removed]