Kisah TKI yang mendapat perlakuan tak menyenangkan di Arab Saudi.

salam,

radityo


  ----- Original Message ----- 
  From: Lingkarpena Promo 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; asma nadia ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[EMAIL PROTECTED] ; Forum Lingkar pena ; [EMAIL PROTECTED] ; apresiasi sastra ; 
asmanadia ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; media jatim ; [EMAIL PROTECTED] ; bumi manusia ; musyawarah burung 
; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Monday, November 03, 2008 7:57 AM
  Subject: [media-jakarta] Potret Buruh Migran di Champs Elysees


        Jauh-Jauh ke Paris, Kari pun Kembali Pulang...



        Ini kisah orang Lampung nun di negeri Napoleon. Kari, tokoh utama, tak 
dibiarkan berlama-lama terlunta-lunta. Rosita Sihombing, si penulis, "memberi" 
Kari jalan keluar kembali ke Lampung.

        ---------

        Nama lengkapku Karimah. Teman-teman sekampungku memanggilku Kari. Aku 
salah satu dari seratus lebih mantan TKW yang akhirnya menjadi warga ilegal dan 
terpaksa mengadu nasib di negeri Napoleon, negeri sejuta mimpi... (hlm. 23)




        Kisah sederhana ini--walaupun seharusnya lebih rumit--akhirnya sampai 
juga ke tempatku, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Jauh juga perjalanan Kari. 
Dari Lampung terus ke Riyadh, Arab Saudi, lalu ke Paris, Prancis, untuk kembali 
lagi ke Lampung dengan sehat selamat sejahtera. Oleh penulisnya, Rosita 
Sihombing, penulis asal Bandar Lampung yang tinggal di Paris sejak 2003, 
jadilah novel bertajuk Luka di Champs Elysees ®MDUL¯(Lingkar Pena Publishing 
House, Jakarta, 2008).




        Tak kurang dari penulis Asma Nadia dan Fira Basuki--sebagaimana 
dikutipkan di halaman pembuka dan sampul belakang buku--pun memuji novel ini 
sebagai kisah yang memikat, indah, dan luar biasa, meskipun dengan segala 
kesederhanaan.




        Menyederhanakan cerita, Karimah yang orang Lampung atau dari Lampung 
menjadi buruh migran sebagai pramuwisma di Riyadh. Meninggalkan anak dan suami 
karena himpitan ekonomi keluarga. Namun, di Riyadh ia menerima perlakuan yang 
tidak manusiawi. Kekerasan hingga pelecehan seksual terlalu sering dia alami. 
Dia tidak tahan. Maka, sebuah kesempatan ketika majikannya mengajak ke Paris, 
ia kabur di jalan Champs Elysees.




        Dalam pelarian ini, dia pingsan. Sampai kemudian ditemukan Hamed yang 
kemudian menolongnya. Dalam kebingungan, ia pun menjadikan pria asal Aljazair 
ini sebagai sandaran hidupnya sebagai warga ilegal di kota ini. Termasuk 
tinggal bersama dalam satu apartemen hingga melahirkan anak tanpa ikatan 
perkawinan. Sampai kemudian, karena perselisihan masalah nama, si bayi 
meninggal karena kesulitan bernapas.




        Tidak ada harapan lagi. Sejak itu ia hanya ingin pulang ke Lampung. 
Beruntung ia bertemu Imelda, seorang Indonesia yang bersuamikan orang Prancis 
menunjukkan jalan kembali ke Tanah Air. Dan...seperti lazimnya cerita pop, 
akhirnya berbahagia. Sampai di Tanah Air dengan selamat disambut anak dan sang 
suami yang selalu setia menanti.




        Ah, memang benar. Tidak perlu berkerut-kerut membaca novel ini. Semua 
dituturkan bahasa yang sederhana. Boleh jadi karena penulis novel ini Rosita 
Sihombing yang alumnus Bahasa Inggris Universitas Lampung cukup lama 
berkecimpung dalam dunia jurnalistik sebagai wartawan Daya Ekpres dan Sumatera 
Post, keduanya di Lampung.

        Bahasa jurnalistik sebagai bahasa komunikasi massa memang kelewat cair 
untuk menulis sastra. Kalau bahasa jurnalistik cenderung menuntut kejernihan 
(singkat jelas), bahasa sastra akan lebih memilih bahasa yang lebih rumit 
dengan segala perangkat nilai estetika bahasa, misalnya kalimat-kalimat yang 
cenderung ambigu, konotatif, majas, dan sebagainya.




        ***

        Nama lengkapku Karimah. Teman-teman sekampungku memanggilku Kari... 
Maka, bertuturlah Rosita dengan bahasa yang lancar dan nyaris tanpa tantangan 
yang berarti bagi pembaca untuk mengunyah makna dalam novel ini.




        Fokus utama Luka di Champs Elysees memang pada Kari. Penulis pun tidak 
perlu mengalih-alihkan perhatian pada tokoh-tokoh lain yang sebenarnya cukup 
menarik untuk juga ditampilkan, walau tidak harus sedetail tokoh utama, si Kari.




        Pembaca akan bertemu Hamed, yang begitu tiba-tiba saja bertemu, lebih 
tepatnya menemukan Kari yang tengah pingsan di sebuah tempat. Menyadarkannya, 
kemudian merawatnya, menjadi teman tidur, dan akhirnya memberi Kari seorang 
bayi. Ada juga Maharani yang tidak diberi kesempatan mengambil peran terlalu 
lama untuk kemudian menghadap kehadirat Ilahi dalam sebuah insiden "kecil" 
ketika terjadi perselisihan antara Kari dan Hamed.




        Lalu, ada Enah dan Icha, sesama orang Indonesia yang "terdampar" di 
Paris, yang tiba-tiba sudah menjadi sahabat yang sangat membatu Kari dalam 
beberapa kali pertemuan. Bagaimana bisa kenal dan bagaimana bisa bertemu di 
Paris, semua begitu tiba-tiba. Termasuk ketika Kari memutuskan untuk sementara 
tinggal di apartemen di Enah. Lalu, hanya dalam beberapa hari kunjungan di 
Champs Elysees, tiba-tiba saya, Kari telah bertemu dengan Imelda, dewi penolong 
yang membuat jalan begitu lempang untuk kembali ke tanah air, pulang ke Sang 
Bumi Ruwa Jurai.




        Ah, betapa baiknya Hamed karena setelah mengabarkan soal pemakaman anak 
mereka, menyatakan bersedia membayar tiket untuk sebuah kepulangan. Sayang, 
sebagai pembaca rasanya masih penasaran dengan bagaimana sebenarnya Hamed, 
lelaki asal Aljazair bisa di tinggal dan bekerja di Paris untuk kemudian 
dipertemukan kepada Kari.

        Secara pribadi saya pun merasa kasihan dan gemas kepada lelaki lemah 
yang dengan polosnya menerima dan menyambut kepulangan Kari. Tidak ada 
prasangka. Tak ada perasaan dikhianati. Kari pulang sebagai pahlawan keluarga. 
Dan, Tari, anak mereka... Ah, kisah yang menawan sebenarnya.




        Kalau saja Rosita bisa lebih membuat novelnya ini lebih kental, novel 
ini mungkin bisa mengharu-biru pembaca. Hanya saja agaknya Rosita terlampau 
tergesa untuk segera mencarikan jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi 
si tokoh utama.

        Pembaca misalnya, belum lagi diberi kesempatan untuk menghayati 
kepedihan hati setelah bayi Kari meninggal. Penulis sudah menyodorkan sebuah 
kegembiraan akan harapan pulang ke tanah air. Atau, pembaca tidak diberi waktu 
sedikit panjang untuk ikut merasakan betapa bahagia dengan keberadaan bayi 
Maharani, penulis terburu-buru mematikan tokoh ini.




        Padahal, ada banyak kesempatan bagi penulis untuk membuat novel ini 
lebih canggih dalam arti membuat novel ini penuh drama kemanusiaan. Modal ini 
itu ada. Misalnya, walau setting novel banyak di Paris atau lebih spesifiknya 
Champs Elysees, tokoh utama Tari sebenarnya mempunyai peluang untuk berkonflik 
secara kultural. Tari yang berasal dari Lampung dengan budaya kampungnya 
(pekon, tiur), budaya Lampung atau lebih luasnya budaya Indonesianya, pada 
mulanya berhadapan dengan kultur Timur Tengah (Riyadh, Arab Saudi) dan lalu 
kultur Prancis (Champs Elysees, Paris).




        Dalam bayangan (lebih mirip harapan) saya, meskipun ber-background 
Paris, Rosita yang Sihombing yang lahir dan besar di Lampung akan mampu 
menyelipkan kebudayaan Lampung dalam karyanya. Saya tidak tahu, apakah orang 
Lampung masih memiliki sesuatu yang khas yang tidak ditemukan pada orang lain, 
ke mana pun dia pergi.




        ***

        Nama lengkapku Karimah. Teman-teman sekampungku memanggilku Kari. 
Terlepas dari beberapa catatan saya itu, Luka di Champs Elysees, saya sepakat 
dengan Fira Basuki, Asma Nadia, dan Nyoto Prihanto yang memberikan komentar 
dalam buku ini bahwa novel ini memang menawan dan layak dibaca.




        Novel ini terdiri dari tiga bagian: Awal, masa lalu, dan kini. Meski 
ada flash back pada bagian masa lalu, alur novel ini sangat linear. Sehingga 
memudahkan pembaca untuk mengikuti jalannya cerita. Ketimbang deskripsi, Rosita 
cenderung lebih memilih narasi dalam mengisahkan cerita ini.




        ***

        Nama lengkapku Karimah. Teman-teman sekampungku memanggilku Kari. Dan, 
Rosita menuliskan kisah orang Lampung ini dari nun di negeri Napoleon. Tapi, 
Rosita tidak terlalu tega membiarkan Kari terlunta-lunta di negeri orang. Maka, 
oleh Rosita, tidak perlu terlalu lama, Kari pun kembali pulang (ingat lagu dari 
Kangen Band yang juga Lampung. Kari juga mungkin suka. Tapi, di kampung ia 
menyimpan kaset Joe Dassin, Champs Elysees).

        Paris. Dan, saya pun teringat dengan sastrawan produktif yang sempat 
tinggal lama di Prancis, N.H. Dini. Semoga Rosita pun produktif melahirkan 
karya-karyanya.




        Mengingat Rosita, karya, dan Lampung menghubungkan saya dengan 
perempuan penulis lain, Anjar (Bandung) dan Dyah Merta (Yogyakarta), 
orang-orang pernah (dan masih) 'bersentuhan' dengan Lampung. Rosita, Anjar, 
Dyah, tanpa hendak membuat komparasi, ah, novel-novel mereka begitu 
menggairahkan dari tangan mereka, (semoga) terus lahir karya, yang membangun 
dan mengembangkan dunia literacy.




        Udo Z. Karzi, Pembaca Sastra, tinggal di Pangkalan Bun, Borneo.
       



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke