http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/03/00580118/fukuda.dorong.ukm.di.indonesia
Wawancara *Fukuda Dorong UKM di Indonesia* Nur Hidayati dan Luki Aulia Presiden Asosiasi Indonesia-Jepang Yasuo Fukuda mengunjungi Indonesia akhir pekan lalu. Ia berkunjung untuk menghadiri pembukaan Indonesia-Japan Expo yang diselenggarakan harian Kompas dan harian ekonomi Jepang, Nikkei, 1-9 November 2008, dalam rangkaian peringatan 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Yasuo Fukuda (72) sempat mengundurkan diri dari jabatan Presiden Asosiasi Indonesia-Jepang untuk menghindari konflik kepentingan ketika ia menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang. Bulan September 2008, setelah lengser dari jabatan perdana menteri, ia kembali meneguhkan niatnya untuk bekerja keras meningkatkan hubungan baik Indonesia-Jepang. Yasuo Fukuda meneruskan nama besar sang ayah, Perdana Menteri Takeo Fukuda, yang dikenal dengan pemikiran politik Doktrin Fukuda. Doktrin yang diumumkan tahun 1977 itu memberi arah pada politik luar negeri Jepang dalam membangun kerja sama dengan negara-negara Asia, termasuk dalam bidang perekonomian. Mengawali wawancara khusus dengan Kompas, Sabtu (1/11) petang, Fukuda mengomentari suhu ruangan hotel tempatnya menginap di Jakarta. Suhu ruangan itu dibuat terlalu rendah dibandingkan dengan suhu luar ruangan. Ia mengatakan, di Jepang, kini pemerintah bahu-membahu dengan masyarakat untuk memperkecil perbedaan suhu di dalam dan luar ruangan. Keterbatasan sumber daya energi mendasari upaya itu. "Indonesia kaya akan sumber energi, tetapi suatu saat nanti, entah kapan, sumber-sumber yang tidak terbarukan juga akan habis. Selain itu, dampak lingkungan dari penggunaan energi juga tidak bisa diabaikan. Saya berharap upaya hemat energi di Jepang, termasuk teknologi yang dikembangkan untuk itu, juga bisa diterapkan di sini," ungkapnya.>w 9736m< Kerja sama ekonomi Indonesia-Jepang, menurut Fukuda, bersifat saling melengkapi. Indonesia kaya dengan sumber daya alam dan energi. Struktur industri Jepang Populasi penduduk Indonesia juga tumbuh cukup tinggi. Sebaliknya, Jepang menguasai teknologi, tetapi miskin sumber daya alam. Populasi penduduknya pun menua. Akan tetapi, hubungan komplementer itu tidak berarti Indonesia harus selalu menjadi pemasok komoditas mentah dan energi, tanpa menyerap teknologi Jepang. Menanggapi persepsi sebagian kalangan tentang keengganan Jepang mentransfer teknologi dalam kerja sama industrial dengan pihak lain, Fukuda bertutur tentang struktur industri Jepang yang ditopang oleh usaha kecil dan menengah. "Di Indonesia banyak perusahaan Jepang berskala besar, tetapi sebenarnya di Jepang lebih banyak perusahaan berskala kecil dan menengah, dengan jumlah tenaga kerja 10 orang atau bahkan hanya satu keluarga yang memasok ke perusahaan besar," ujarnya. Sekitar 97 persen perusahaan di Jepang berskala kecil dan menengah. Meski skala usahanya kecil, mereka memiliki keahlian dan menguasai teknologi tinggi hingga bisa memasok suku cadang berkualitas ke perusahaan-perusahaan besar. Jepang dikenal dengan penerapan standar industri yang sangat ketat. "Perusahaan kecil dan menengah ini mengembangkan teknologinya masing-masing selama puluhan tahun. Bahkan, ada yang lebih dari 100 tahun. Perusahaan kecil dan menengah itulah yang sebenarnya menopang perekonomian Jepang," tuturnya. Fukuda tidak melengkapi jawabannya dengan gambaran tentang usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia. Perusahaan berskala kecil menengah juga mendominasi unit usaha di Indonesia. Namun, penerapan standar nasional masih amat lemah, terlebih lagi bagi kalangan UKM. "Saya juga mendengar tahun lalu peraturan investasi di Indonesia diperketat. Saya kira transfer teknologi juga terkendala aturan ini. UKM Jepang yang ingin berinvestasi atau membuka pabriknya di Indonesia terhambat. Namun, saya bisa memahami kekhawatiran masuknya investasi UKM ini akan mempersulit kompetisi. Persoalan ini perlu lebih dikomunikasikan," ujarnya. Meski demikian, Fukuda menegaskan, Pemerintah Jepang berkomitmen kuat mendorong peningkatan teknologi dalam kegiatan produksi di Indonesia. Pada Persetujuan Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang yang mulai berlaku 1 Juli 2008, kedua negara menyepakati adanya pusat pengembangan industri manufaktur (manufacturing industry development center) yang meliputi rangkaian program berkelanjutan di 13 sektor industri. Kajian pendalaman struktur industri saat ini tengah disusun untuk mendasari implementasi MIDEC. Tujuannya, memperkuat struktur industri di Indonesia dengan membangun lagi integrasi sektor hulu dan hilir yang selama ini lebih banyak terputus-putus. Agar tidak sekadar menjadi perakit dalam proses produksi otomotif, misalnya, dibutuhkan penguasaan konsep dan desain produk. Dibutuhkan pula penguasaan teknologi, bukan untuk mengoperasikan mesin, tetapi membuat cetakan mesin atau komponen itu sendiri. Fukuda menegaskan, kekayaan demografi Indonesia serta potensi ekonominya membuat Indonesia selayaknya mengambil kepemimpinan di ASEAN, juga dalam bidang perekonomian. Arti penting Indonesia itu, kata Fukuda, membuat Jepang meyakini kerja sama kedua negara juga akan memberi kontribusi yang berarti bagi kawasan Asia. "Indonesia bukan saja layak mengambil kepemimpinan di ASEAN, tetapi juga bisa. Saya ingin menyampaikan pesan agar Indonesia lebih bersemangat untuk maju karena potensi Indonesia untuk berkembang sangat besar," ujarnya. Ia mencontohkan, di masa datang ketersediaan air minum diperhitungkan menjadi isu global. Sementara Indonesia, diyakini Fukuda, sangat kaya dengan sumber daya air. Menjadi pertanyaan, apa yang sudah dilakukan untuk mengembangkan potensi di negeri ini menjadi kekuatan nyata. [Non-text portions of this message have been removed]

