mudah2an ga ada yg ngamuk2 lg neh :) lucu ya, udh salah, ngawur koq malah ngamuk, frustasi kaya'na hehe
The Art of Misleading, 1 http://akmal.multiply.com/journal/item/701 assalaamualaikum wr. wb. Saya menemukan sebuah jurnal terbitan tahun 2005 di salah satu rak buku perpustakaan pribadi milik Ust. Adian Husaini. Judul jurnal itu adalah Nilai-Nilai Pluralisme dalam Islam, dengan subjudul yang cukup puitis : Bingkai Gagasan yang Berserak. Jurnal tersebut diterbitkan atas kerjasama Penerbit Nuansa dengan Fatayat NU dan The Ford Foundation. Kata sambutan diberikan oleh Maria Ulfah (Ketua PP Fatayat NU), dan pengantarnya dari Alwi Shihab. Sebagian kontributor dalam jurnal tersebut adalah nama-nama yang cukup dikenal di barisan kaum liberalis, antara lain Abd Ala, Ahmad Baso, Azyumardi Azra, Budhy Munawar-Rachman, Rumadi, dan Siti Musdah Mulia. Jurnal yang rapi, tersusun baik, dan nampak sangat ilmiah. Bagaimana pun, kita memang tidak boleh menilai buku dari sampulnya. Menulis buku adalah urusan penulis, sedangkan layout sampul adalah urusan orang lain lagi. Karena itu, meski nampak ilmiah, sebaiknya kita melakukan pengecekan secara seksama agar dapat memberikan penilaian yang benar. Hal pertama yang menarik perhatian adalah, meskipun jurnal ini dibuat dengan menggunakan embel-embel Islam, dan disusun atas prakarsa sebuah ormas besar Islam, namun kelihatan sangat malu-malu dalam menggunakan dua referensi paling penting dalam agama Islam, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Maria Ulfah hanya menyitir satu ayat, itu pun tanpa menjelaskan ayat keberapa dan dari surah yang mana. Alwi Shihab mengutip cukup banyak ayat, sedangkan Budhy Munawar-Rachman sangat banyak mengutip ayat Al-Quran. Selebihnya hanya sesekali saja membahas Al-Quran, dan lebih sedikit lagi yang membahas As-Sunnah. Dari sekian banyak (atau sedikit?) ayat Al-Quran yang dibahas dalam jurnal tersebut, beberapa catatan serius perlu kita torehkan. Kasus Maria Ulfah Maria Ulfah hanya menulis kata sambutan sepanjang kurang dari dua halaman di jurnal tersebut, namun isinya cukup menarik untuk dibahas. Sambutan singkatnya diakhiri dengan mengutip sebuah ayat Al-Quran, tepatnya Q.S. Al-Ankabuut [29] : 46, yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut : Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: Kami Telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri. (Q.S. Al-Ankabuut [29] : 46) Perhatikan, terjemahan ayat ini dalam versi Maria Ulfah adalah sebagai berikut (cetak tebal adalah dari saya) : Janganlah saling berbantah-bantahan dengan para penganut kitab suci lain, melainkan dengan sesuatu atau cara yang lebih baik, terkecuali dari orang-orang yang zalim dari mereka; dan katakanlah beriman kepada kitab suci yang diturunkan kepada kami dan juga yang diturunkan kepada kamu, dan Tuhanku dan Tuhanmu adalah satu dan kita semua pasrah kepada-Nya. Ketika Ahli Kitab diterjemahkan secara serampangan menjadi para penganut kitab suci lain, maka itu artinya kita harus memberi predikat Ahli Kitab kepada orang Hindu dan Budha juga. Bahkan jika kitab suci hendak didefinisikan secara bebas, maka kitab Darmogandul dan primbon Jawa pun bisa jadi dianggap suci, setidaknya bagi mereka yang mempercayai kebenaran isinya. Siapa pun bisa mengarang sebuah kitab, kemudian jika kitab itu disucikan, maka ia menjadi kitab suci, dan mereka yang memujanya pun menjadi Ahli Kitab. Yang lebih gawat adalah ketika frase wa nahnu lahuu muslimuun di bagian akhir ayat di atas kemudian diterjemahkan dengan terjemahan versi Maria Ulfah menjadi kita semua pasrah kepada-Nya. Padahal, kata nahnu di sini selalu diterjemahkan sebagai kami, bukan kita semua. Kami menunjukkan kelompok si pembicara, sedangkan kita menunjukkan kelompok yang meliputi si pembicara sekaligus pendengarnya. Jika menggunakan terjemahan Maria Ulfah, maka Ahli Kitab pun Muslim, karena berserah diri pada-Nya. Padahal ayat ini mengajarkan umat Muslim untuk mendebat orang-orang Ahli Kitab dengan santun dan penuh hormat, dan mencarikan jalan tengah untuk mengawali dialog. Jalan tengah yang dimaksud bukanlah sinkretisme atau semacamnya, namun berupa pernyataan sikap sepakat bahwa umat Muslim telah beriman kepada kitab suci yang telah diturunkan kepada mereka (yaitu Taurat dan Injil yang asli), juga beriman kepada kitab suci yang diturunkan kepada umat akhir jaman, yaitu Al-Quran. Titik kesepakatan berikutnya adalah bahwa yang hendak dijadikan Ilah sebenarnya sama, yaitu Allah SWT. Meski demikian, hanya para pengikut Nabi Muhammad saw. (sebagai penerima ayat ini) yang bisa mengklaim sebagai kaum yang berserah diri kepada-Nya. sebenarnya sama, yaitu Allah SWT. Hanya saja, sesuai penerjemahan yang benar, di akhir ayat dinyatakan sebab perbedaan yang mendasar antara umat Muslim (kami) dengan Ahli Kitab, yaitu karena kami hanya berserah diri kepada-Nya saja. Inilah argumen yang sangat santun yang dapat kita lontarkan kepada Ahli Kitab. Kita sama-sama beriman pada Kitab-kitab Suci, dan sama-sama mengaku menjadikan Allah SWT sebagai sebagai Ilah. Meski demikian, hanya para pengikut Nabi Muhammad saw. (sebagai penerima ayat ini) yang bisa mengklaim sebagai kaum yang berserah diri kepada-Nya. Pada bagian pengantar berikutnya, Alwi Shihab juga menyitir ayat yang sama, namun dengan terjemahan yang benar. Ironisnya, Sururin, M.Ag. yang bertindak selaku editor tidak memperhatikan perbedaan mencolok diantara kedua terjemahan tersebut. Setidaknya, jika sang editor memperhatikan dua ayat yang sama dengan terjemahan yang sangat berbeda ini, maka ia bisa melakukan check and recheck untuk memastikan terjemahan mana yang benar. Kita telah melihat salah satu metode yang digunakan oleh kaum sekularis-pluralis-liberalis untuk memasarkan ideologi pluralisme, yaitu dengan memberikan penerjemahan yang menyimpang dari ayat-ayat Al-Quran. Mereka yang tidak mengecek ulang referensinya (dalam hal ini adalah Al-Quran) sangat mungkin terjerumus dalam pemahaman yang salah, berkat penyesatan semacam ini. Pada bagian berikutnya, kita akan membahas metode lain yang lebih canggih dan ampuh yang biasa digunakan untuk memanipulasi Al-Quran demi mencari pembenaran bagi ajaran pluralisme. wassalaamualaikum wr. wb. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

