Wehehehehe.. Masalahnya Bang Pitung..interpretasi soal Kalimat Tuhan kan udah terbukti macem2 tuh...nah, jadi keder dah milah milihnya... Kalau eykeh sih milih percaya ama orang2 yang secara komprehesif, dengan bukti2 empirik dan penjelasan yang obyektif serta bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan tidak exhibitionist ingin terlihat bahwa "dalam hatinya tertanam kalimat TAUHID laa ilaha Illallah lalu menyeru kpd segenap manusia agar mereka Alla tabudu illallah. Soalnya gini nih bang pitung, disini eykeh bgowl juga ama para hafidz Qur'an serta pakar interpretasi tafsir dan sejarah Islam dari berbagai bangsa, generasi dan latar belakang mahzab serta Aliran Islam (Sunni,Syiah,Ismaili,Ahmadyah juga ada..)hehehe.. tapi ya itu, mreka tak exhibitionist gitu..tru snggak sok2 mo jaid pnegacar Tuhan seperti ente dan gerombolan ente..heheheheh Kesimpulan Eykeh : makin exhibitionist makin nggak bisa dipercaya Peace ah ;)
Tylla Subijantoro Indonesian Worker In Kabul - Afghanistan --- On Thu, 11/6/08, si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: si pitung <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [ppiindia] The Art of Misleading, 2 To: [email protected] Date: Thursday, November 6, 2008, 2:31 PM Orang2 yg dihatinya tertanam kalimat TAUHID laa ilaha Illallah lalu menyeru kpd segenap manusia agar mereka Alla tabudu illallah, tdk pernah takut & gentar dg nama besar, title, dan gelar manusia. Jadi, tdk peduli professor sejarah keq, cendekiawan karbitan keq, aktifis perempuan muslim keq, klo bicaranya, pemikirannya, ide2nya bertentangan dg AlQuran & asSunnah, maka pasti akan ditolek & dikoreksi. Yg mau nanggapi boleh tp jgn pake esmosi deh, khan ga baek dilihat anak2 :p The Art of Misleading, 2 http://akmal.multiply.com/journal/item/702 assalaamualaikum wr. wb. Kasus Alwi Shihab Sebagaimana Maria Ulfah, Alwi Shihab, yang ikut memberikan pengantar dalam jurnal Nilai-Nilai Pluralisme dalam Islam, juga mengutip Q.S. Al-Ankabuut [29] : 46, namun dengan terjemahan yang lebih tepat. Namun di tempat lain, ternyata ia juga membuat kesalahan yang cukup fatal dalam menggunakan ayat Al-Quran sebagai pembenaran terhadap ajaran pluralisme. Salah satu yang dikutipnya adalah separuh dari Q.S. Al-Maaidah [5] : 48. Beginilah kutipannya : ...Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. Kutipan ini kemudian diperjelas lagi dengan sebuah paragraf yang diuntai dengan sangat menarik dan komunikatif : Kalau Tuhan mau niscaya Tuhan dapat menciptakan kalian ini suatu bangsa, atau satu umat, tetapi kenapa tidak? Alasannya sebagaimana dijelaskan dalam lanjutan ayat, liyabluwakum fii maa aataakum... untuk menguji dengan apa yang kalian terima dari tuntunan Tuhan. Apakah kalian konsisten atau menyimpang. Oleh karena Tuhan mau melihat siapa yang konsisten dan siapa yang menyimpang, maka fastabiqul-khairaat, berlomba-lombalah untuk menunaikan kebaikan. Jangan menyalahkan orang lain dan merasa yang paling benar. Karena apa? Ingatlah, bahwa kalian semua akan kembali kepada Saya, serahkanlah semuanya kepada Saya, kata Tuhan. Nanti Saya yang akan menyampaikan bahwa pada hakikatnya engkau salah atau engkau benar. Karena engkau salah maka ada hukumannya dan kalau engkau benar maka ada ganjarannya. Inilah kata Tuhan yang disampaikan di penghujung ayat di atas. Jika ayat ke-48 dalam surah Al-Maidah memang hanya sepotong itu saja, maka penjelasan Alwi Shihab barangkali sudah cukup memuaskan. Namun ada separuh ayat yang belum ditampilkan, dan sebaiknya kita menengok ayat itu kembali secara utuh : Dan kami Telah turunkan kepadamu Al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (Q.S. Al-Maaidah [5] : 48) Dengan melihat ungkapan untuk tiap-tiap umat..., kita langsung mengetahui bahwa manusia ini terdiri atas sekian banyak umat. Ditambah lagi dengan penjelasan Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat..., maka kesimpulan itu semakin meyakinkan. Tapi umat apakah yang dimaksud? Umat beragamakah, atau umat berbangsa dan bernegara? Apakah umat yang dimaksud di sini dibatasi oleh keyakinan, atau batas-batas geografis, atau yang lainnya? Jika kita amati ayat tersebut secara lengkap, kita temukan bahwa bagian awalnya meneguhkan otoritas Al-Quran. Al-Quran adalah kitab yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, sekaligus menjadi batu ujian bagi semua kitab. Artinya, jika dalam sebuah kitab yang disebut sebagai Taurat dan Injil ditemukan hal-hal yang menyimpang dari Al-Quran, maka kitab-kitab itu bisa dipastikan bukan kitab suci yang sebenarnya. Ini dipertegas lagi dengan pernyataan maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Kebenaran yang telah datang kepadamu adalah segala ajaran yang diwariskan kepada umat penerima Al-Quran, yaitu umatnya Nabi Muhammad saw.. Artinya, setelah Al-Quran diturunkan kepada para pengikut Rasulullah saw., maka segala urusan, termasuk yang menyangkut urusan Ahli Kitab, harus diputuskan berdasarkan syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw. Kesimpulan ini nampaknya sangat tidak klop dengan paragraf penjelasan Alwi Shihab di atas. Jika memang manusia dengan sengaja dijadikan dalam berbagai umat (agama, bangsa, dan suku), maka mengapa Al-Quran justru ditegaskan sebagai kitab yang paling otoritatif diantara kitab-kitab lainnya? Dari sini, kita bisa lihat sendiri bahwa bagian awal dari ayat tersebut sangat bertentangan dengan ideologi yang hendak ditampilkan oleh jurnal ini, yaitu pluralisme. Orang yang rajin mempelajari ajaran Islam pasti tahu bahwa agama ini memang tidak membeda-bedakan manusia dengan berdasarkan hal-hal yang disebutkan oleh Alwi Shihab. Artinya, Islam tidak pernah membeda-bedakan kewarganegaraan, bahasa, dan suku bangsa seseorang. Oleh karena itu, umat yang disebut dalam ayat ini nampaknya memang tidak mengikuti definisi yang digunakan oleh Alwi Shihab. Tidak tepat juga kiranya jika dianggap bahwa Allah SWT sengaja menciptakan manusia dalam berbagai umat beragama, sehingga masing-masing umat tersebut bisa berlomba-lomba dalam kebaikan. Jika memang demikian, maka mengapa Allah mengutus para Rasul yang mengajak manusia pada agama yang benar, dan mengazab kaum-kaum yang ingkar pada-Nya dahulu? Kembali pada konteks ayat yang sedang dibicarakan, muncul pertanyaan : mengapa harus ada satu syariat yang lebih otoritatif dari yang lainnya, sekiranya memang Allah berkehendak menciptakan manusia dalam beragam umat? Dalam Islam, pembagian umat justru dikenal dengan menisbatkannya kepada para Nabi yang memimpinnya. Ada umatnya Nabi Nuh as., ada umatnya Nabi Luth as., umatnya Nabi Musa as., dan seterusnya. Yang paling banyak jumlahnya tentu saja umat Nabi Muhammad saw., karena rentang usianya dimulai dari sekitar enam abad setelah jamannya Nabi Isa as. dan baru berakhir ketika Hari Kiamat tiba. Jika pembagian kelompok umat semacam ini yang kita pergunakan, maka kandungan makna ayat diatas justru akan menjadi sangat masuk akal. Orang yang mengikuti ajaran Taurat, jika hidup dan bertemu dengan dakwah Nabi Isa as., maka ia wajib menjadi umatnya Nabi Isa as (terlepas dari pilihannya untuk beriman atau kufur terhadap seruan Nabi). Demikian juga para Ahli Kitab, jika sempat bertemu dengan dakwah Nabi Muhammad saw., maka ia pun wajib merespon dakwah beliau. Ini sangat sejalan dengan ayat yang sedang dibahas, yang tegas-tegas menunjukkan bahwa ketika syariat yang baru (dan terakhir) telah diturunkan (yaitu Syariat Nabi Muhammad saw.), maka tidak ada alasan lagi untuk menggunakan syariat-syariat selainnya, meskipun yang berasal dari para Nabi sebelum beliau. Itulah sebabnya Al-Quran menjadi batu ujian, dan segala perkara wajib diputuskan menurut syariat yang diturunkan kepada umatnya Nabi Muhammad saw. Penjelasan ini tak bertentangan dengan segi manapun dari ayat di atas. Allah SWT menciptakan manusia dalam berbagai umat, yang masing-masing dipimpin oleh para Nabi dan Rasul dengan syariat yang dibawanya masing-masing. Untuk tiap umat, ada syariatnya sendiri-sendiri. Syariat untuk umatnya Nabi Musa as. tentu berbeda dengan syariat untuk umatnya Nabi Muhammad saw. Allah bisa saja menciptakan manusia sebagai satu umat dengan satu syariat yang berlaku sejak jamannya Nabi Adam as. hingga Nabi Muhammad saw. Namun Allah hendak menguji manusia dengan aturan-aturan yang ditetapkan untuk masing-masing umat. Sebagian besar umat Nabi Nuh as. gagal memenuhi panggilan dakwah, demikian pula sebagian besar umat Nabi Luth as. Umatnya Nabi Muhammad saw. juga memiliki tantangannya yang tersendiri. Masih ada hal-hal lain yang bisa dikritisi dari paparan Alwi Shihab. Prinsip jangan menyalahkan orang lain memang indah terdengar, namun tidak sejalan dengan ayat yang dibahas, karena bagian awalnya justru memerintahkan kita untuk bersikap tegas dalam memutuskan perkara menurut Syariat Nabi Muhammad saw. Demikian pula ungkapan kalian semua akan kembali kepada Saya, serahkanlah semuanya kepada Saya yang nampak bagaikan firman Tuhan juga tidak sejalan dengan kandungan keseluruhan ayatnya yang justru menyuruh kita untuk aktif menegakkan kebenaran serta menolak hawa nafsu mereka yang enggan mengikuti ajaran Rasulullah saw. Pada bagian berikutnya, kita akan simak bagaimana Budhy Munawar-Rachman melakukan penyimpangan terhadap ayat-ayat Al-Quran, justru dengan menggunakan begitu banyak ayat Al-Quran sebagai referensinya. wassalaamualaikum wr. wb. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

