Orang2
yg dihatinya tertanam kalimat TAUHID “laa ilaha Illallah” lalu menyeru kpd
segenap manusia agar mereka “Alla ta’budu illallah”, tdk pernah takut &
gentar dg nama besar, title, dan gelar manusia. Jadi, tdk peduli professor 
sejarah
keq, cendekiawan karbitan keq, aktifis perempuan muslim keq, klo bicaranya,
pemikirannya, ide2nya bertentangan dg AlQuran & asSunnah, maka pasti akan 
ditolek
& dikoreksi.
 
Yg
mau nanggapi boleh tp jgn pake esmosi deh, khan ga baek dilihat anak2 :p

 
The
Art of Misleading, 2
http://akmal.multiply.com/journal/item/702
 
 
assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Kasus Alwi Shihab
 
Sebagaimana Maria Ulfah, Alwi Shihab, yang ikut
memberikan pengantar dalam jurnal Nilai-Nilai Pluralisme dalam Islam,
juga mengutip Q.S. Al-Ankabuut [29] : 46, namun dengan terjemahan yang lebih
tepat.  Namun di tempat lain, ternyata ia juga membuat kesalahan yang
cukup fatal dalam menggunakan ayat Al-Qur’an sebagai pembenaran terhadap ajaran
pluralisme.  Salah satu yang dikutipnya adalah separuh dari Q.S.
Al-Maaidah [5] : 48.  Beginilah kutipannya :
 
“...Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu
dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap
pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.  Hanya
kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa
yang telah kamu perselisihkan itu.”
 
Kutipan ini kemudian diperjelas lagi dengan
sebuah paragraf yang diuntai dengan sangat menarik dan komunikatif :
 
Kalau Tuhan mau niscaya Tuhan dapat menciptakan
kalian ini suatu bangsa, atau satu umat, tetapi kenapa tidak?  Alasannya
sebagaimana dijelaskan dalam lanjutan ayat, liyabluwakum fii maa aataakum... 
untuk
menguji dengan apa yang kalian terima dari tuntunan Tuhan.  Apakah kalian
konsisten atau menyimpang.  Oleh karena Tuhan mau melihat siapa yang
konsisten dan siapa yang menyimpang, maka fastabiqul-khairaat,
berlomba-lombalah untuk menunaikan kebaikan.  Jangan menyalahkan orang
lain dan merasa yang paling benar.  Karena apa?  Ingatlah, bahwa
“kalian semua akan kembali kepada Saya, serahkanlah semuanya kepada Saya,” kata
Tuhan.  “Nanti Saya yang akan menyampaikan bahwa pada hakikatnya engkau
salah atau engkau benar.  Karena engkau salah maka ada hukumannya dan
kalau engkau benar maka ada ganjarannya.”  Inilah kata Tuhan yang
disampaikan di penghujung ayat di atas.
 
Jika ayat ke-48 dalam surah Al-Maidah memang
hanya sepotong itu saja, maka penjelasan Alwi Shihab barangkali sudah cukup
memuaskan.  Namun ada separuh ayat yang belum ditampilkan, dan sebaiknya
kita menengok ayat itu kembali secara utuh :
 
Dan kami Telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan
membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang
diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka
putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang 
kepadamu. 
Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang
terang.  Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat
(saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. 
Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.  Hanya kepada Allah-lah kembali
kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu
perselisihkan itu.
(Q.S. Al-Maaidah [5] : 48)
 
Dengan melihat ungkapan “untuk tiap-tiap
umat...”, kita langsung mengetahui bahwa manusia ini terdiri atas sekian
banyak umat.  Ditambah lagi dengan penjelasan “Sekiranya Allah
menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat...”, maka kesimpulan itu
semakin meyakinkan.  Tapi umat apakah yang dimaksud?  Umat
beragamakah, atau umat berbangsa dan bernegara?  Apakah “umat” yang
dimaksud di sini dibatasi oleh keyakinan, atau batas-batas geografis, atau yang
lainnya?
 
Jika kita amati ayat tersebut secara lengkap,
kita temukan bahwa bagian awalnya meneguhkan otoritas Al-Qur’an. 
Al-Qur’an adalah kitab yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, sekaligus
menjadi batu ujian bagi semua kitab.  Artinya, jika dalam sebuah kitab
yang disebut sebagai “Taurat” dan “Injil” ditemukan hal-hal yang menyimpang
dari Al-Qur’an, maka kitab-kitab itu bisa dipastikan bukan kitab suci yang
sebenarnya.  Ini dipertegas lagi dengan pernyataan “maka putuskanlah
perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti
hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu”. 
“Kebenaran yang telah datang kepadamu” adalah segala ajaran yang
diwariskan kepada umat penerima Al-Qur’an, yaitu umatnya Nabi Muhammad
saw..  Artinya, setelah Al-Qur’an diturunkan kepada para pengikut
Rasulullah saw., maka segala urusan, termasuk yang menyangkut urusan Ahli
Kitab, harus diputuskan berdasarkan syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw.
 
Kesimpulan ini nampaknya sangat tidak klop dengan paragraf penjelasan Alwi 
Shihab di atas.  Jika memang manusia
dengan sengaja dijadikan dalam berbagai umat (agama, bangsa, dan suku), maka
mengapa Al-Qur’an justru ditegaskan sebagai kitab yang paling otoritatif
diantara kitab-kitab lainnya?  Dari sini, kita bisa lihat sendiri bahwa
bagian awal dari ayat tersebut sangat bertentangan dengan ideologi yang hendak
ditampilkan oleh jurnal ini, yaitu pluralisme.
 
Orang yang rajin mempelajari ajaran Islam pasti
tahu bahwa  agama ini memang tidak membeda-bedakan manusia dengan
berdasarkan hal-hal yang disebutkan oleh Alwi Shihab.  Artinya, Islam
tidak pernah membeda-bedakan kewarganegaraan, bahasa, dan suku bangsa
seseorang.  Oleh karena itu, “umat” yang disebut dalam ayat ini nampaknya
memang tidak mengikuti definisi yang digunakan oleh Alwi Shihab. 
 
Tidak tepat juga kiranya jika dianggap bahwa
Allah SWT sengaja menciptakan manusia dalam berbagai umat beragama, sehingga
masing-masing umat tersebut bisa berlomba-lomba dalam kebaikan.  Jika
memang demikian, maka mengapa Allah mengutus para Rasul yang mengajak manusia
pada agama yang benar, dan mengazab kaum-kaum yang ingkar pada-Nya dahulu? 
Kembali pada konteks ayat yang sedang dibicarakan, muncul pertanyaan : mengapa
harus ada satu syariat yang lebih otoritatif dari yang lainnya, sekiranya
memang Allah berkehendak menciptakan manusia dalam beragam umat?
 
Dalam Islam, pembagian umat justru dikenal dengan
menisbatkannya kepada para Nabi yang memimpinnya.  Ada umatnya Nabi Nuh as., 
ada umatnya Nabi
Luth as., umatnya Nabi Musa as., dan seterusnya.  Yang paling banyak
jumlahnya tentu saja umat Nabi Muhammad saw., karena rentang usianya dimulai
dari sekitar enam abad setelah jamannya Nabi ‘Isa as. dan baru berakhir ketika
Hari Kiamat tiba.  Jika pembagian kelompok umat semacam ini yang kita
pergunakan, maka kandungan makna ayat diatas justru akan menjadi sangat masuk
akal.
 
Orang yang mengikuti ajaran Taurat, jika hidup
dan bertemu dengan dakwah Nabi ‘Isa as., maka ia wajib menjadi umatnya Nabi
‘Isa as (terlepas dari pilihannya untuk beriman atau kufur terhadap
seruan Nabi).  Demikian juga para Ahli Kitab, jika sempat bertemu dengan
dakwah Nabi Muhammad saw., maka ia pun wajib merespon dakwah beliau.  Ini
sangat sejalan dengan ayat yang sedang dibahas, yang tegas-tegas menunjukkan
bahwa ketika syariat yang baru (dan terakhir) telah diturunkan (yaitu Syariat
Nabi Muhammad saw.), maka tidak ada alasan lagi untuk menggunakan
syariat-syariat selainnya, meskipun yang berasal dari para Nabi sebelum
beliau.  Itulah sebabnya Al-Qur’an menjadi ‘batu ujian’, dan segala
perkara wajib diputuskan menurut syariat yang diturunkan kepada umatnya Nabi 
Muhammad
saw.
 
Penjelasan ini tak bertentangan dengan segi
manapun dari ayat di atas.  Allah SWT menciptakan manusia dalam berbagai
umat, yang masing-masing dipimpin oleh para Nabi dan Rasul dengan syariat yang
dibawanya masing-masing.  Untuk tiap umat, ada syariatnya
sendiri-sendiri.  Syariat untuk umatnya Nabi Musa as. tentu berbeda dengan
syariat untuk umatnya Nabi Muhammad saw.  Allah bisa saja menciptakan
manusia sebagai satu umat dengan satu syariat yang berlaku sejak jamannya Nabi
Adam as. hingga Nabi Muhammad saw.  Namun Allah hendak menguji manusia
dengan aturan-aturan yang ditetapkan untuk masing-masing umat.  Sebagian
besar umat Nabi Nuh as. gagal memenuhi panggilan dakwah, demikian pula sebagian
besar umat Nabi Luth as.  Umatnya Nabi Muhammad saw. juga memiliki
tantangannya yang tersendiri.
 
Masih ada hal-hal lain yang bisa dikritisi dari
paparan Alwi Shihab.  Prinsip “jangan menyalahkan orang lain”
memang indah terdengar, namun tidak sejalan dengan ayat yang dibahas, karena
bagian awalnya justru memerintahkan kita untuk bersikap tegas dalam memutuskan
perkara menurut Syariat Nabi Muhammad saw.  Demikian pula ungkapan “kalian
semua akan kembali kepada Saya, serahkanlah semuanya kepada Saya” – yang
nampak bagaikan firman Tuhan – juga tidak sejalan dengan kandungan keseluruhan
ayatnya yang justru menyuruh kita untuk aktif menegakkan kebenaran serta
menolak hawa nafsu mereka yang enggan mengikuti ajaran Rasulullah saw.
 
Pada bagian berikutnya, kita akan simak bagaimana
Budhy Munawar-Rachman melakukan penyimpangan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an,
justru dengan menggunakan begitu banyak ayat Al-Qur’an sebagai referensinya.
 
wassalaamu’alaikum wr. wb.


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke