http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/06/09561858/selamat.barry


Memori

*Selamat, Barry!
*
Budiarto Shambazy

Ketika memasuki dekade 1970, Jakarta memasuki era kultural baru "the post
baby boomers". Generasi baru era ini terdiri dari murid-murid 3 sampai 6 SD
serta kelas 1 sampai 3 SMP. Kami masih remaja karena baru berusia 10-17
tahun. Kami secara samar-samar mendengar ingar-bingar Perang Vietnam, mulai
tak menyukai The Beatles atau Bob Dylan, berani mencoba ganja, dan apolitis.

Dalam berbagai literatur, budaya pop tahun 1970-an disebut dengan the me
decade karena semuanya "serba saya". Jika generasi the baby boomers memuja
gaya hidup komunalisme ala hippy, kami the post baby boomers lebih nekat dan
lebih egois.

*Barrack Hussein Obama* atau Barry bersekolah di SD Negeri 04 Percobaan di
Jalan Besuki, Jakarta Pusat. Saya "mengenal" dia dua tahun lalu lewat
perjumpaan kebetulan. Akhir 2006 Ufuk Press menghubungi saya menulis Kata
Pengantar buku kedua Barry, The Audacity of Hope (2006).

Di buku ini dan juga buku Dreams from My Father (1996) Barry banyak
menyinggung periode dia tinggal di Jakarta tahun 1968-1971. "Ia termasuk
anak hiperaktif. Kami tak berhenti bermain kelereng, tak gebok, tak lari,
dan gambaran," kata Rully Dasaad, sohib Barry di SD Besuki. "Waktu tiga
bulan pertama Barry anak alim. Tetapi, setelah itu nakal. Tingkat kebandelan
kami masih wajar," ujar Rully, yang kini fotografer profesional.

"Saya ingat kalau bermain detektif ala film serial I Spy Barry memilih
peranan aktor kulit hitam di film itu, Bill Cosby. Padahal, Barry itu tak
terlalu hitam karena ibunya bulé," kenang Rully. Berbicara tentang ibunya,
suatu kali Ann Dunham datang ke SD Besuki untuk memprotes guru siapa yang
usil melempar kepala anaknya dengan batu sampai bocor.

Apa bakat Barry yang menonjol? "Ia senang menggambar. Saya suka bawa
komik-komik impor ke kelas, Barry suka meniru gambar Superman, Batman, atau
Spiderman. Kami sering bertukar koleksi komik, ia suka membaca komik yang
waktu itu terkenal, Wiro Si Anak Rimba. Tetapi, jangan suruh Barry
bernyanyi. Pernah dia disuruh guru nyanyi lagu untuk mengenang pahlawan,
Syukur. Wah, lucu banget," kenang Rully lagi.

Ketika terbit, Hope bertengger selama sembilan pekan di Daftar Buku
Terlaris. Bangsa Amerika Serikat tak pernah bosan didongengi kisah "Obambi"
ini. Film Bambi bercerita tentang seekor anak rusa lugu yang berkenalan
dengan kejamnya rimba belantara. Barry calon presiden terfavorit Demokrat
meskipun dianggap "mentah" alias kurang berpengalaman.

Ibu Barry asal Kansas, ayahnya orang Kenya. Bapak tirinya Lulu Soetoro.
Waktu kecil Barry hidup sederhana di Jakarta, saat dewasa pengacara top
lulusan Harvard. Setiap orang terkesiap mendengar ia menyebut namanya "Barry
Hussein Obama" (mirip Saddam Hussein dan Osama bin Laden) sambil mengulurkan
tangan saat kampanye jadi anggota Senat di Springfield, Illinois.

Hope ibarat skripsi berpredikat summa cum laude yang meluluskan Barry
sebagai pemimpin masa depan. Ia terpilih sebagai Senator Negara Bagian
Illinois setelah meniti karier dari bawah. Ia bukan dari keluarga politik
yang mapan seperti trah Bush atau Kennedy, tetapi dielu-elukan sebagai
penjelmaan John Fitzgerald Kennedy. Nama Barry meroket ketika dipilih
sebagai pengucap pidato kunci Konvensi Partai Demokrat 2004.

"Tak ada orang hitam Amerika dan orang putih Amerika dan orang Latin Amerika
dan orang Asia Amerika—yang ada hanyalah Amerika Serikat. Saya tak punya
pilihan lain kecuali memercayai visi Amerika. Sebagai anak lelaki hitam dan
perempuan putih, sebagai orang yang lahir di Hawaii yang multirasial bersama
saudara tiri yang separuh Indonesia, punya ipar dan keponakan keturunan
China, punya saudara-saudara mirip Margaret Thatcher..., saya tak bisa setia
pada sebuah ras saja."

Di Hope, Barry menulis esai mengenai tanah airnya yang ketiga, Indonesia.
Sepanjang sepuluh halaman ia mengulas evolusi Indonesia dari sebuah kampung
besar, lalu jadi antek politik dan ekonomi AS, kemudian mengalami krisis
moneter dan reformasi, sampai jadi negara yang tak toleran lagi.

Rumahnya di Jakarta tak berkakus duduk, di halaman belakang ada beberapa
ekor ayam peliharaan, dan di dekat jendela banyak jemuran bergelantungan.
"Jenderal-jenderal membungkam hak asasi, birokrasinya penuh korupsi. Tak ada
uang untuk masuk ke sekolah internasional, saya masuk sekolah biasa dan
bermain dengan anak-anak jongos, tukang jahit, atau pegawai rendahan,"
tulisnya. Bagi Barry, Indonesia kini tak sama lagi. "Indonesia terasa jauh
dibandingkan dengan 30-an tahun yang lalu. Saya takut ia menjadi tanah yang
asing," tulisnya.

Di buku Dreams of My Father, ia banyak bercerita tentang ayah kandungnya,
jebolan University of Hawaii (UH) yang jadi anggota Phi Beta Kappa—komunitas
akademisi elitis yang susah diterobos masuk orang luar AS. Ia diterima di
Harvard dan pulang meninggalkan Barry kecil untuk mengabdi negaranya.
Ayahnya dari suku Luo yang lahir di Alego yang menikahi ibu Barry tahun 1959
di Honolulu saat miscegenation (pernikahan antarras) dilarang di banyak
negara bagian Amerika Serikat.

Ia penerima beasiswa pertama asal Afrika di UH dan belajar ekonometri dengan
menggaet terbaik di angkatannya. Barry Junior juga lulus dari Harvard Law
School dan jadi presiden kulit hitam pertama di Harvard Law Review—jurnal
hukum berwibawa. Ia senator kulit hitam yang ketiga dalam sejarah Amerika
Serikat.

Dreams bercerita tentang perjalanan hidup dia yang biasa saja. Ia dari kecil
hidup dengan ayah tiri, waktu remaja ditinggal ibu, dan sampai dewasa diasuh
kakek-nenek. Ia pernah tinggal di Honolulu, Jakarta, New York City, Boston,
Chicago, Springfield, kini Washington DC. Tanpa malu ia mengaku pernah
dijerat ganja dan alkohol serta menjadi perokok berat selama bertahun-tahun.

Ia memiliki keyakinan pada organisasi politik yang dikelola atas basis
komunitas tempat tinggal. Dreams menyajikan perjuangan Obama mengorganisasi
"mikropolitik" yang mudah diberdayakan ke skala lebih besar, mulai dari
tingkat kota, regional, sampai nasional. Ia memulai awal karier politik di
Chicago tahun 1983. Ia tinggalkan gaji besar di pasar saham Wall Street, New
York, untuk menjadi community organizer alias politisi. "Perubahan bukan
slogan kosong yang datang dari atas, tetapi dari pengalaman berpolitik di
akar rumput," kata Barry.

Ia organisator komunitas di Calumet, Chicago selatan, yang dihuni kalangan
bawah dari warna kulit yang berwarna-warni. Dana bagi politisi "bau kencur"
macam Obama datang dari kalangan kaya, kota praja, pebisnis, atau para donor
di luar negeri. Gajinya pas-pasan, jadwal hariannya bagai "diuber setan",
dan akhir pekan dia habiskan untuk belajar lagi.

Ia datangi rumah warga satu per satu mendata masalah mereka, mulai dari
selokan mampat, leding air tak menetes, sampai bagaimana caranya mengusir
para muncikari. Tak jarang ia ditolak, diusir, bahkan dimaki. Di Altgeld
Gardens, Chicago selatan, Barry mencari lowongan bagi penganggur menyusul
penutupan sejumlah small and medium enterprises (SME) atau pabrik-pabrik
yang produk-produknya kalah bersaing dengan kualitas barang-barang serupa
dari luar negeri.

Barry memaksa kota praja membongkar asbestos di apartemen karena bahan
bangunan itu menjadi sumber penyakit kanker hati. Ia tak segan mengerahkan
pendemo atau memanfaatkan pers untuk membongkar konspirasi pebisnis dengan
politisi. Secara perlahan tetapi pasti, warga mendengar rekor Barry yang
akhirnya memimpin CCRC. Ia sukses menambah jumlah organisasi antikenakalan
remaja, membuat sistem manajemen sampah, memperbaiki jalan raya,
membersihkan selokan, dan membuat sistem keamanan mandiri.

Barry politisi yang merangkak dari bawah, yang telah membuktikan politik
pengabdian tak kenal lelah, yang jika diseriusi pasti membuahkan hasil. Ia
matang berkat "politik eceran" (retail politics) yang rajin ditekuninya
dengan menggeluti topik hubungan luar negeri, UU kode etik politisi,
kesejahteraan rakyat miskin, pendidikan anak, masalah veteran, kesehatan,
pendidikan, buruh, pensiunan, sampai pembasmian flu burung.

Hari-hari ini Barry bertemu ribuan orang tiap hari, sudah berdebat 20 kali
di stasiun-stasiun televisi nasional melawan capres-capres Partai Demokrat,
dan sedikitnya melakukan lima putaran reli per hari selama berbulan-bulan
sejak akhir 2006. Barry adalah presiden pertama dari generasi the post baby
boomers yang berslogan, "Change, We Can Believe In".



Sumber : Kompas Cetak


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke