Prediksi Kabinet

*Tim Kuat Obama*


Amerika Serikat kini menatap ke depan. Berbagai persoalan besar siap
menghadang. Beban pelik dihadapi presiden terpilih *Barack Obama* setelah
menjadi pemenang dalam pemilu 4 November. Rival Obama, Senator John McCain
dari Partai Republik, mengakui kemenangan Obama dan mengajak semua pihak
untuk bersama-sama menghadapi masalah besar yang membentang.

Krisis finansial yang terburuk sejak depresi besar tahun 1929 membutuhkan
sebuah penanganan serius dari Obama. Demikian pula dengan keberadaan 150.000
tentara AS di Irak dan Afganistan. Sebuah upaya superberat, tetapi harus
dijalankan sesuai pesan dalam kampanye.

Beban pelik, tetapi dengan kearifan serta tim kerja yang cerdas dan kompak,
bisa dihadapi dengan lebih ringan. Jauh hari sebelum dipastikan terpilih
sebagai presiden ke-44 AS, Obama dilaporkan punya sejumlah nama yang
diprediksi bakal menjadi tim yang akan bolak-balik bersamanya dalam rapat di
Ruang Oval, Gedung Putih, membahas langkah-langkah terobosan atas berbagai
rintangan.

Sejumlah nama dibeber dalam sejumlah kesempatan, seperti diskusi di
televisi, analisis media cetak, dan obrolan di internet. Menarik untuk
mencermati orang-orang yang kemungkinan besar menjadi pilihan utama Obama.
Ada sejumlah nama, meski tenar, di antaranya tetap saja wajah-wajah lama.
Bahkan, sejumlah analis memprediksi Obama tidak segan akan menggunakan jasa
beberapa simpatisan Republik. Kondisi ini menimbulkan sebuah sindiran
bernada ironi bagi Obama, mengaku agen perubahan, tetapi masih saja
menggunakan "mesin" lama atau orang "luar".

Pada 1996 saat dia bertarung menjadi senator Illinois, Obama memiliki
pandangan sangat liberal, salah satunya mendukung keras aborsi. Namun,
sebagaimana dikatakan Matt Bennet, Wakil Asisten Bill Clinton saat masih
menjadi Presiden AS, Obama kini sudah jauh lebih dewasa.

"Dia pada waktu dulu adalah aktivis komunitas di Chicago yang masih butuh
aktualisasi diri sehingga pantas diidentifikasi sebagai seorang Demokrat
yang liberal. Namun, seiring bertambahnya umur, idealisme-idealismenya telah
digantikan sejumlah hal yang pragmatis. Dia tertarik untuk mengubah hidup
masyarakat. Saya sepakat menyebutnya sebagai Demokrat yang moderat saat
ini," kata Bennett, seperti dikutip harian Daily Telegraph.

Salah satu staf senior di Gedung Putih yang juga pengarang buku terkenal
perihal transisi presidensial AS, What Do We Know, Stephen Hess, menyatakan,
Obama mempunyai banyak pilihan tokoh untuk mendampinginya. Namun, justru
karena banyaknya pilihan itu, ia harus benar-benar dapat memilih orang-orang
yang percaya diri dan telah menampakkan kesetiaan terhadap dirinya.

"Dalam level sekelas kepresidenan, mungkin saja yang terpilih adalah
mereka-mereka yang paling berjasa mengantarkan Anda ke kursi kepresidenan.
Satu-satunya presiden AS yang paling bebas menentukan pilihan dan memperoleh
nama-nama yang betul-betul sesuai dengan keinginannya adalah Dwight
Eisenhower," kata Hess.

Menteri Luar Negeri

Di posisi menteri luar negeri, Obama butuh sosok yang dapat memulihkan citra
AS di luar negeri serta mendapatkan dukungan lebih, terutama dari
negara-negara di Eropa, untuk menekan kawasan seperti Afganistan dan mungkin
Irak.

Calon presiden AS dari Demokrat pada pemilu 2004, John Kerry, dilaporkan
menginginkan jabatan itu. Pemahaman dan pengalamannya yang kaya tentang luar
negeri, termasuk kemampuan berbahasa Perancis yang prima, adalah keunggulan
Kerry.

Namun, Obama juga sangat mungkin memilih Gubernur New Mexico Bill
Richardson, Duta Besar AS di PBB pada masa pemerintahan Presiden Clinton.
Atau pengganti Richardson di PBB, Richard Holbrooke. Kemungkinan Richardson
terpilih relatif besar mengingat dirinya termasuk salah satu tokoh yang
bekerja sangat keras bagi Obama selama masa kampanye.

Sejumlah analis menyinggung kemungkinan dipilih untuk menambah tingkat
kepercayaan diri Obama yang miskin pengalaman di Gedung Putih, nama Hillary
Clinton tiba-tiba muncul di permukaan. Dia benar-benar orang baru sehingga
cocok sebagai pengejawantahan janji Obama sebagai agen perubahan. Jika
Hillary benar-benar terpilih, Hillary berpeluang besar mewujudkan idenya
tentang kesehatan dunia di Senat AS.

Di posisi menteri pertahanan, Obama membutuhkan orang yang mampu mengatur
penarikan mundur pasukan AS dari Irak secara prima, tetapi juga siap
menambah kekuatan perang AS di Afghanistan. Nama mantan Menhan AS Colin
Powell adalah nama paling disebut-sebut untuk mengisi posisi itu.
Dukungannya yang secara tiba-tiba kepada Obama pada pekan-pekan akhir
menjelang pemilu 2008, dengan menyebut Obama sebagai presiden
transformasional AS, seakan-akan merupakan sinyal bahwa ia menginginkan
kembali posisi itu.

Serangan ke Irak

Namun, pemilihan Powell tetap saja menimbulkan nada ironis, terutama
mengingat Powell adalah salah satu penggagas serangan ke Irak meskipun saat
itu kabarnya Powell secara pribadi menentang hal tersebut. Nama lain yang
disebut adalah tokoh yang tidak kalah kontroversial, yakni seorang senator
dari Partai Republik, Chuck Hagel. Hagel dikedepankan untuk mewakili
pendapat Obama suatu kali bahwa pilihannya mungkin saja menembus batas-batas
pilihan politik seseorang.

Pilihan yang tak kalah penting bagi Obama adalah dalam posisi menteri
keuangan yang bertugas menangani uang talangan (bail-out) di Wall Street
senilai 700 miliar dollar AS dan harus melakukan privatisasi bank-bank di
AS. Sekali lagi, pejabat pada era Clinton menjadi salah satu favorit untuk
mengisi jabatan itu. Dia adalah Lawrence Summers.

Namun, Obama juga sangat mungkin memilih Paul Volcker, Gubernur Bank Sentral
AS pada era Presiden Charter dan Reagan. Meski telah berusia lanjut, 81
tahun, pengalamannya sangat dibutuhkan untuk saat-saat ini. Apalagi, ia
selama ini terkenal menjadi rujukan Obama dalam urusan keuangan negara.

"Jika Obama memilih orang- orang seperti Summers dan Volcker, orang yang
tidak memilih dia sebagai Presiden AS pun tetap teryakinkan. Kedua orang itu
adalah jaminan mutu," kata Michael Barone, seorang analis konservatif di AS.

Para analis di AS menyatakan, pemilu presiden AS bukan semata-mata memilih
figur pemimpin AS untuk masa mendatang. Namun, menjadi sangat krusial juga
menantikan figur-figur lain yang akan mendampingi sang presiden karena pada
diri merekalah ide-ide sekaligus kerja keras bagi kemaslahatan warga AS
diciptakan dan diejawantahkan. Jadi, sungguh menarik ditunggu apa yang akan
dibuat Obama.(Benny Dwi Koestanto)




Sumber : Kompas Cetak


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke