http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDE4MTA=
*Bermimpi Punya Shinkansen* Jika benar, Jakarta-Surabaya bisa ditempuh hanya dalam 2,5 jam. PUNYA kereta supercepat seperti shinkansen di Jepang memang sekadar impian. Tetapi kalau jadi kenyataan, wah barangkali penumpang tak perlu berpayah-payah menempuh sepuluh jam perjalanan dari Jakarta ke Surabaya. Sebab, kereta peluru seperti itu sanggup melesat 300 km per jam. Alhasil, pelanggan kereta bisa mempersingkat waktu tempuh 620 kilometer menjadi 2,5 jam saja. Presiden Direktur PT Inka Roos Diatmoko, dua pekan lalu, mengatakan memang tak ada alasan sistem semacam itu luput dari pertimbangan moda transportasi di Indonesia. Sebab, itulah tren transportasi yang mendunia, paling anyar, dan bisa memaksa budaya bepergian yang serbabaru. Yaitu hemat waktu dan bebas kecelakaan. Ia menyebutkan studi untuk menerapkan kereta supercepat sesungguhnya sudah dimulai sebelum krisis ekonomi 1997. Ketika itu, Systra Sofretu Sofrerail dari Prancis menyimulasikan teknologi TGV. Sayang, proyek itu terhenti karena pada 1995 Indonesia tengah menggarap banyak kereta untuk argo. "Namun impian mempunyai kereta supercepat tidak hilang," imbuh Roos. Sebuah studi awal kembali digelar Japan Transportation Consulting pada 2007. Tim itu melihat bahwa wilayah utara Jawa memiliki potensi pasar yang paling besar. "Kepadatan penduduknya, pola pergerakan, dan jenis moda yang ada menunjukkan demografi ini bisa membiayai pengoperasian sebuah kereta supercepat." Roos menyinggung, sebagian besar biaya itu akan terserap dalam pembangunan prasarana. Sisanya, seperti teknologi, otomatisasi, dan substasiun akan cepat dikuasai sejumlah tenaga ahli asal Indonesia dengan biaya yang juga lebih murah. Sementara itu, sistem kereta, sinyal, dan teknologi sentral yang tergolong teknologi mutakhir akan dipercayakan sepenuhnya kepada negara pemberi pinjaman. Saat ini, ada dua dana investasi yang sudah ditawarkan, baik dari Prancis maupun Japan Bank Internasional Corporation. Namun, Roos masih mencermati persentase 70% kandungan lokal dari total proyek. Ia menyebutkan seandainya komponen biaya bisa dilokalisasi, antara lain untuk pembebasan lahan, persiapan lahan, pembangunan jalan, jembatan, terowongan, dan bangunan sipil lainnya, nilai tambahnya tinggi dan dapat menggerakkan roda perekonomian dengan baik. Roos mencontohkan kapasitas yang dimiliki PT LEN sebagai industri elektronika nasional. Menurutnya, perusahaan cukup siap untuk mengembangkan sistem persinyalan, otomatisasi, dan substasiun. Sama halnya dengan PT Pindad yang punya cukup kualifikasi untuk dilibatkan dalam pembuatan motor traksi, sistem rem, sistem pengikat rel pada bantalannya, dan sistem wesel. PT Inka pun dinilai sudah cukup siap memproduksi kereta dan menjalin kerja sama dengan Jepang. Untuk menggarap proyek shinkansen Indonesia, Presiden Direktur PT Rekaindo Global Jasa Muchlis Budiman mengatakan pihaknya kini sudah membentuk perusahaan patungan antara PT Inka (49%), Nippon Sharyo (39%), Sumitomo (10%), dan Koperasi Karyawan PT Inka (2%). "Perusahaan tersebut dibentuk untuk melaksanakan proyek shinkansen Indonesia," kata Muchlis. Tipe kereta api supercepat yang akan dipakai rencananya N (New)-700 yang merupakan produksi terbaru dari Nippon Sharyo, perusahaan pembuat kereta api Jepang. Nippon Sharyo merupakan perusahaan swasta pertama di Jepang yang mengembangkan shinkansen pada 1964. Sejak 1981, PT Inka bekerja sama dengan Nippon Sharyo memproduksi kereta api, seperti gerbong barang, batu bara, dan tangki. Hal yang sama akan dilakukan untuk pembuatan kereta supercepat. Kereta api supercepat tipe N-700 dapat melaju dengan kecepatan 300 km sampai 500 km per jam dan menarik 12 rangkaian dengan kapasitas penumpang 900 orang. Roos mengatakan saat ini PT Inka belum menghitung dana pembuatan kereta dan jaringan rel. Tetapi kalau melihat Taiwan yang membangun kereta supercepat dengan rel sepanjang 330 km menghabiskan dana Rp200 triliun, di Indonesia dana yang dibutuhkan mungkin dua kali lipat dari dana yang dikeluarkan Taiwan. Beberapa pilihan yang mulai dijajaki untuk jalur Jakarta-Surabaya antara lain membangun trek baru di Jawa bagian utara. Selain jaraknya lebih pendek, permukaan tanahnya pun rata. Pilihan kedua yaitu membuat jalur di Jawa bagian selatan melewati Purwokerto-Yogyakarta-Solo-Madiun. Sayangnya itu tidak terlalu ekonomis sebab jarak tempuh jadi lebih panjang dan medannya berbukit. Tiga kendala Kereta peluru terkenal cepat, ramah lingkungan, dan hemat energi. Eropa, Jepang, dan Taiwan sudah beralih ke transportasi semacam itu. Toh mewujudkan mimpi memiliki shinkansen bukan tanpa kendala. "Dalam perkeretaapian kita, ada tiga kendala utama, sikap pengguna dan pelaksana, sistem dan interaksi moda, serta masalah sarana dan prasarana," kata Roos Diatmoko seraya merujuk pada perilaku penumpang kereta komuter di Jabodetabek, kecelakaan di perlintasan, tabrakan antarkereta, dan pasar tumpah. Menurut Manajer Pengembangan Bisnis PT Inka, Agung Sedayu, ketiga kendala semacam itu dibenahi Jepang dalam sekali ayun. Mereka mendisiplinkan layanan dengan mengembangkan kereta supercepat. Menurut Agung, kondisi seperti itu menciptakan rekor tersendiri. Sejak shinkansen mulai beroperasi 44 tahun silam, tidak pernah ada kendala yang terjadi. (N-4) Agustanto Budiprajogo, [EMAIL PROTECTED] [Non-text portions of this message have been removed]

