mimpi di siang hari bolong tuh, bangun2 malah kejedot tiang monorel yg dibiarin 
kaga terurus hehe




________________________________
From: Sandy Dwiyono <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Sent: Thursday, November 6, 2008 8:29:52 PM
Subject: [ppiindia] Indonesia Akan Punya Shinkansen


http://mediaindones ia.com/index. php?ar_id= NDE4MTA=

*Bermimpi Punya Shinkansen*

Jika benar, Jakarta-Surabaya bisa ditempuh hanya dalam 2,5 jam.

PUNYA kereta supercepat seperti shinkansen di Jepang memang sekadar impian.

Tetapi kalau jadi kenyataan, wah barangkali penumpang tak perlu
berpayah-payah menempuh sepuluh jam perjalanan dari Jakarta ke Surabaya.

Sebab, kereta peluru seperti itu sanggup melesat 300 km per jam. Alhasil,
pelanggan kereta bisa mempersingkat waktu tempuh 620 kilometer menjadi 2,5
jam saja.

Presiden Direktur PT Inka Roos Diatmoko, dua pekan lalu, mengatakan memang
tak ada alasan sistem semacam itu luput dari pertimbangan moda transportasi
di Indonesia. Sebab, itulah tren transportasi yang mendunia, paling anyar,
dan bisa memaksa budaya bepergian yang serbabaru.. Yaitu hemat waktu dan
bebas kecelakaan.

Ia menyebutkan studi untuk menerapkan kereta supercepat sesungguhnya sudah
dimulai sebelum krisis ekonomi 1997. Ketika itu, Systra Sofretu Sofrerail
dari Prancis menyimulasikan teknologi TGV. Sayang, proyek itu terhenti
karena pada 1995 Indonesia tengah menggarap banyak kereta untuk argo.

"Namun impian mempunyai kereta supercepat tidak hilang," imbuh Roos. Sebuah
studi awal kembali digelar Japan Transportation Consulting pada 2007. Tim
itu melihat bahwa wilayah utara Jawa memiliki potensi pasar yang paling
besar.

"Kepadatan penduduknya, pola pergerakan, dan jenis moda yang ada menunjukkan
demografi ini bisa membiayai pengoperasian sebuah kereta supercepat."

Roos menyinggung, sebagian besar biaya itu akan terserap dalam pembangunan
prasarana. Sisanya, seperti teknologi, otomatisasi, dan substasiun akan
cepat dikuasai sejumlah tenaga ahli asal Indonesia dengan biaya yang juga
lebih murah.

Sementara itu, sistem kereta, sinyal, dan teknologi sentral yang tergolong
teknologi mutakhir akan dipercayakan sepenuhnya kepada negara pemberi
pinjaman.

Saat ini, ada dua dana investasi yang sudah ditawarkan, baik dari Prancis
maupun Japan Bank Internasional Corporation. Namun, Roos masih mencermati
persentase 70% kandungan lokal dari total proyek.

Ia menyebutkan seandainya komponen biaya bisa dilokalisasi, antara lain
untuk pembebasan lahan, persiapan lahan, pembangunan jalan, jembatan,
terowongan, dan bangunan sipil lainnya, nilai tambahnya tinggi dan dapat
menggerakkan roda perekonomian dengan baik.
Roos mencontohkan kapasitas yang dimiliki PT LEN sebagai industri
elektronika nasional. Menurutnya, perusahaan cukup siap untuk mengembangkan
sistem persinyalan, otomatisasi, dan substasiun. Sama halnya dengan PT
Pindad yang punya cukup kualifikasi untuk dilibatkan dalam pembuatan motor
traksi, sistem rem, sistem pengikat rel pada bantalannya, dan sistem wesel.
PT Inka pun dinilai sudah cukup siap memproduksi kereta dan menjalin kerja
sama dengan Jepang.

Untuk menggarap proyek shinkansen Indonesia, Presiden Direktur PT Rekaindo
Global Jasa Muchlis Budiman mengatakan pihaknya kini sudah membentuk
perusahaan patungan antara PT Inka (49%), Nippon Sharyo (39%), Sumitomo
(10%), dan Koperasi Karyawan PT Inka (2%). "Perusahaan tersebut dibentuk
untuk melaksanakan proyek shinkansen Indonesia," kata Muchlis.

Tipe kereta api supercepat yang akan dipakai rencananya N (New)-700 yang
merupakan produksi terbaru dari Nippon Sharyo, perusahaan pembuat kereta api
Jepang. Nippon Sharyo merupakan perusahaan swasta pertama di Jepang yang
mengembangkan shinkansen pada 1964.

Sejak 1981, PT Inka bekerja sama dengan Nippon Sharyo memproduksi kereta
api, seperti gerbong barang, batu bara, dan tangki. Hal yang sama akan
dilakukan untuk pembuatan kereta supercepat.

Kereta api supercepat tipe N-700 dapat melaju dengan kecepatan 300 km sampai
500 km per jam dan menarik 12 rangkaian dengan kapasitas penumpang 900
orang.

Roos mengatakan saat ini PT Inka belum menghitung dana pembuatan kereta dan
jaringan rel. Tetapi kalau melihat Taiwan yang membangun kereta supercepat
dengan rel sepanjang 330 km menghabiskan dana Rp200 triliun, di Indonesia
dana yang dibutuhkan mungkin dua kali lipat dari dana yang dikeluarkan
Taiwan.

Beberapa pilihan yang mulai dijajaki untuk jalur Jakarta-Surabaya antara
lain membangun trek baru di Jawa bagian utara. Selain jaraknya lebih pendek,
permukaan tanahnya pun rata.
Pilihan kedua yaitu membuat jalur di Jawa bagian selatan melewati
Purwokerto-Yogyakar ta-Solo-Madiun. Sayangnya itu tidak terlalu ekonomis
sebab jarak tempuh jadi lebih panjang dan medannya berbukit.

Tiga kendala

Kereta peluru terkenal cepat, ramah lingkungan, dan hemat energi. Eropa,
Jepang, dan Taiwan sudah beralih ke transportasi semacam itu. Toh mewujudkan
mimpi memiliki shinkansen bukan tanpa kendala.

"Dalam perkeretaapian kita, ada tiga kendala utama, sikap pengguna dan
pelaksana, sistem dan interaksi moda, serta masalah sarana dan prasarana,"
kata Roos Diatmoko seraya merujuk pada perilaku penumpang kereta komuter di
Jabodetabek, kecelakaan di perlintasan, tabrakan antarkereta, dan pasar
tumpah.

Menurut Manajer Pengembangan Bisnis PT Inka, Agung Sedayu, ketiga kendala
semacam itu dibenahi Jepang dalam sekali ayun. Mereka mendisiplinkan layanan
dengan mengembangkan kereta supercepat.

Menurut Agung, kondisi seperti itu menciptakan rekor tersendiri. Sejak
shinkansen mulai beroperasi 44 tahun silam, tidak pernah ada kendala yang
terjadi. (N-4)

Agustanto Budiprajogo, [EMAIL PROTECTED] nesia.com

[Non-text portions of this message have been removed]

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke