Terlebih dahulu kepada sahabatku Bambang Sulistomo, putra Bung Tomo, saya
menyampaikan Selamat Atas Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Kepada Bung
Tomo. Walaupun penganugerahan ini terlambat puluhan tahun, karena Bung Tomo
tidak selalu sejalan dengan penguasa di masa lalu. Nama Bung Tomo tidak dapat
dipisahkan dengan perjuangan rakyat Indonesia di Surabaya pada bulan Oktober
dan November 1945.
Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan, untuk
mengenang perjuangan rakyat Surabaya melawan tentara Inggris, untuk
mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Namun berapa banyak orang Indonesia yang mengetahui, mengapa Inggris pada waktu
itu mengerahkan kekuatan militer terbesarnya angkatan darat, laut dan udara-
setelah Perang Dunia usai, untuk menghancurkan kota Surabaya? Mengapa Inggris
mengirim Divisi V, yang memenangkan pertempuran melawan tentara Jerman di bawah
komando Marsekal Erwin Romel, perwira Jerman yang legendaris, dalam pertempuran
di El Alamein, Afrika?
Apa dan di mana akar permasalahannya sehingga pemenang Perang Dunia II itu
secara membabibuta melakukan pengeboman terhadap satu kota yang mengakibatkan
tewasnya sekitar 20.000 penduduk, yang sebagian besar adalah penduduk sipil
non combatant- termasuk wanita dan anak-anak?
Berapa banyak orang Indonesia yang mengetahui mengenai pertempuran heroik di
Surabaya pada 28/29 Oktober 1945, di mana tentara Inggris, yang baru saja
memenangkan Pernag Dunia II di Eropa melawan Jerman dan Asia Tenggara melawan
Jepang, oleh rakyat Indonesia dipaksa mengibarkan BENDERA PUTIH?
Dalam pertempuran dahsyat tersebut, boleh dikatakan seluruh sukubangsa
Indonesia diwakili oleh para pemudanya di Surabaya mempertahankan kemerdekaan
yang baru diproklamaasikan dua bulan sebelumnya.
Apabila pada 28 Oktober 1928 para pemuda di jajahan Belanda mencetuskan
kehendak untuk memiliki Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa, maka TEPAT 17
TAHUN KEMUDIAN, yaitu pada 28 Oktober 1945, keinginan tesebut memperoleh wujud
nyata. Para pemuda bersatu padu dengan satu tekad, mengorbankan jiwa untuk
mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Pada 9 November 1945 pukul 14.00, disebarkan pamphlet di atas kota Surabaya
yang berisi ultimatum Panglima Divisi V tentara Inggris, Mayor Jenderal RC
Mansergh, di mana diberikan dua alasan, yaitu:
Pertama, orang Indonesia di Surabaya pada 28 Oktober 1945 secara licik dan
tanpa sebab telah menyerang tentara Inggris, yang datang untuk melucuti tentara
Jepang, membantu tawanan perang dan interniran sekutu dan memulihkan hukum dan
ketertiban.
Kedua, dalam penyerangan tersebut yang mengakibatkan prajurit Inggris terbunuh,
luka-luka atau hilang, wanita dan anak-anak dibantai dan akhirnya dengan keji
membunuh Bigadir Jenderal Mallaby, yang berusaha melaksanakan gencatan senjata
yang telah dilanggar oleh orang Indonesia.
Oleh karena itu Mansergh mengancam, apabila rakyat Surabaya tidak mematuhi
perintahnya secara penuh sampai paling lambat pada 10 November pukul 06.00,
maka dia akan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya dan orang-orang
Indonesia yang tidak mematuhi perintahnya, akan bertanggungjawab atas
pertumpahan darah yang akan timbul.
Perintahnya antara lain:
Seluruh pemimpin bangsa Indonesia termasuk pemimpin-pemimpin Gerakan Pemuda,
Kepala Polisi dan Kepala Radio Surabaya harus melapor ke Bataviaweg pada 9
November jam 18.00. Mereka harus datang berbaris satupersatu membawa senjata
yang mereka miliki. Senjata-senjata tersebut harus diletakkan di tempat
berjarak 100 yard dari tempat pertemuan, setelah itu orang-orang Indonesia itu
harus mendekat dengan kedua tangan mereka di atas kepala mereka dan akan
ditahan, dan harus siap untuk menandatangani dokumen menyerah tanpa syarat.
Mansergh telah menyusun perintahnya yang sangat merendahkan dan menghina
pimpinan Indonesia, sehingga tidak akan mungkin dipenuhi oleh pihak Indonesia,
terutama kalimat: harus mendekat dengan kedua tangan mereka di atas kepala
mereka dan akan ditahan, dan harus siap untuk menandatangani dokumen menyerah
tanpa syarat.
Dengan formulasi yang sangat keras dan kasar ini, Mansergh pasti
memperhitungkan, bahwa pimpinan sipil dan militer di Surabaya tidak akan
menerima hal ini, sebab apabila pimpinan bangsa Indonesia menandatangani
pernyataan MENYERAH TANPA SYARAT, berarti melepaskan kemerdekaan dan kedaulatan
yang baru saja diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
Ternyata kedua alasan yang dikemukakan oleh Meyjen Mansergh tidak benar, dan
bahkan sebaliknya, yaitu pihak tentara Inggris yang telah melanggar gencatan
senjata sehingga terjadi tembak-menembak yang mengakibatkan tewasnya komandan
Brigade 49, Brigadir Jenderal AWS Mallaby.
Apabila kedua alas an tersebut tidak benar, maka apa alas an Inggris yang
sebenarnya?
Berikut ini saya sampaikan cuplikan dari buku Batara R. Hutagalung 10 November
45. Mengapa Inggris Membom Surabaya? Millenium Publisher, Jakarta Oktober
2001, xvi + 472 halaman.
Semoga tulisan ini dapat memberikan informasi mengenai peristiwa yang setiap
tahun, pada 10 November, diperingati oleh bangsa Indonesia.
Jakarta, 8 November 2008.
Batara R Hutagalung
============================================================
10 NOVEMBER 1945. MENGAPA INGGRIS MEMBOM SURABAYA?
Bagian satu
Pertempuran 28 30 Oktober 1945
Brigade 49 di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Mallaby mendarat di surabaya
tanggal 25 Oktober 1945. Pada tanggal 27 Oktober 1945 sekitar pukul 11.00, satu
pesawat terbang Dakota yang datang dari Jakarta, menyebarkan pamflet di atas
kota Surabaya. Isi pamflet -atas instruksi langsung dari Mayor Jenderal
Hawthorn, panglima Divisi 23- yang disebarkan di seluruh Jawa, memerintahkan
kepada seluruh penduduk untuk dalam waktu 2 x 24 jam menyerahkan semua senjata
yang mereka miliki kepada Perwakilan sekutu di Surabaya, yang praktis ketika
itu hanya diwakili tentara Inggris. Dalam seruan tersebut tercantum a.l.:
Supaya semua penduduk kota Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan kembali semua
senjata dan peralatan Jepang kepada tentara Inggris
.Barangsiapa yang memiliki
senjata dan menolak untuk menyerahkannya kepada tentara Sekutu, akan ditembak
di tempat (persons beeing arms and refusing to deliver them to the Allied
Forces are liable to be shot).
Dikabarkan, bahwa Mallaby sendiri terkejut dengan isi pamflet, karena jelas
bertentangan dengan kesepakatan antara pihak Inggris dan Indonesia tanggal 26
Oktober, sehari sebelum pamflet tersebut disebarkan. Namun pimpinan brigade
Inggris mengatakan, mereka terpaksa melakukan perintah atasan. Mereka mulai
menahan semua kendaraan dan menyita senjata dari pihak Indonesia. Maka
berkobarlah api kemarahan di pihak Indonesia, karena mereka menganggap pihak
Inggris telah melanggar kesepakatan yang ditandatangani tanggal 26 Oktober. Di
samping itu langkah-langkah Inggris yang akan mendudukkan Belanda kembali
sebagai penguasa di Indonesia kian nyata. Gubernur Suryo segera mengirim kawat
yang disusul dengan laporan panjang lebar ke Pemerintah Pusat di Jakarta.
Jawaban baru diterima sekitar pukul 15.00 dan berbunyi:
Diminta kebijaksanaan Pemerintah Jawa Timur setempat agar pihak ketentaraan
dan para pemuda-pemudanya tidak melakukan perlawanan terhadap tentara Sekutu
Gubernur Suryo tidak berhasil menemui Mayor Jenderal drg. Mustopo, lalu
menyerahkan kawat tersebut kepada Residen Sudirman. Tepat pukul 17.00, Residen
Sudirman tiba di markas Divisi TKR Surabaya di Jalan Embong Sawo dan
menyerahkan kawat tersebut kepada komandan Divisi, Mayor Jenderal Yonosewoyo.
Tak lama kemudian, datang Kolonel Pugh, yang menyampaikan pendirian Brigadier
Mallaby mengenai seruan pamflet terrsebut, bahwa Mallaby akan melaksanakan
tugas, sesuai perintah dari Jakarta. Pugh kembali ke markasnya, tanpa mendapat
jawaban dari pimpinan Divisi TKR.
Setelah kepergian Kolonel Pugh, dilakukan perundinngan sekitar setengah jam
antara Residen Sudirman dan Panglima Divisi Yonosewoyo, dengan keputusan:
Komando Divisi Surabaya akan segera memberikan jawaban terhadap ultimatum
tersebut secara militer.
Dalam pertemuan kilat pimpinan Divisi TKR Surabaya, dibahas berbagai
pertimbangan dan diperhitungkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Apabila
mereka menyerahkan senjata kepada Sekutu, berarti pihak Indonesia akan lumpuh,
karena tidak mempunyai kekuatan lagi. Apabila tidak menyerahkan senjata,
ancamannya akan ditembak di tempat oleh pasukan Inggris/ Sekutu.
Kubu Indonesia memperhitungkan, pihak Inggris tidak mengetahui kekuatan pasukan
serta persenjataan lawannya. Sedangkan telah diketahui dengan jelas, bahwa
kekuatan Inggris hanyalah satu brigade, atau sekitar 5.000 orang. Artinya,
kekuatan musuh jauh di bawah kekuatan Indonesia di Surabaya dan sekitarnya,
yang memiliki pasukan bersenjata kurang lebih 30.000 orang. Jenis senjata yang
dimiliki mulai dari senjata ringan hingga berat, termasuk meriam dan tank
peninggalan Jepang yang, sebagian terbesar masih utuh. Selain kekuatan pasukan
terbatas, pasukan Inggris yang baru dua hari mendarat, dipastikan tak mengerti
liku-liku kota Surabaya.
Sesuai dengan strategi Carl von Clausewitz, pakar teori militer Prusia, bahwa:
Angriff ist die beste Verteidigung (Menyerang adalah pertahanan yang
terbaik), maka dengan suara bulat diputuskan: Menyerang Inggris!.
Perintah diberikan langsung oleh Komandan Divisi Surabaya, Mayor Jenderal
Yonosewoyo. Subuh baru merekah. Serangan besar-besaran pun mulai dilancarkan
pada hari Minggu, 28 Oktober pukul 4.30 dengan satu tekad, tentara Inggris yang
membantu Belanda, harus dihalau dari Surabaya, dan penjajah harus dipaksa
angkat kaki dari bumi Indonesia. Praktis seluruh kekuatan bersenjata Indonesia
yang berada di Surabaya bersatu. Juga pasukan-pasukan dan sukarelawan Palang
Merah/kesehatan dari kota-kota lain di Jawa Timur a.l. dari Sidoarjo, Gresik,
Jombang dan Malang berdatangan ke Surabaya untuk membantu.
Hal ini benar-benar di luar perhitungan Inggris, terutama mereka tidak
mengetahui kekuatan dan persenjataan pihak Indonesia. Selama ini, informasi
yang mereka peroleh mengenai Indonesia, hanya dari pihak Belanda, sedangkan
Belanda sendiri diperkirakan tidak mengetahui perkembangan yang terjadi di
Surabaya di Indonesia pada umumnya- sejak Belanda menyerah kepada Jepang
tanggal 8 Maret 1942. Sebagian terbesar dari mereka diinternir oleh Jepang, dan
baru dibebaskan pada akhir Agustus 1945. Nampaknya, informasi yang diberikan
oleh Belanda kepada Inggris sangat minim, atau salah.
Di samping BKR/TKR yang menjadi cikalbakal TNI, juga tercatat sekitar 60
pasukan dan laskar yang didirikan oleh para pemuda atau karyawan berbagai
profesi, Pasukan Pelajar (TRIP), Pasukan BKR Tanjung Perak, Pasukan Kimia TKR,
Pasukan Genie Tempur (Genie Don Bosco), Pasukan BKR Kereta Api, Pasukan BKR
Pekerjaan Umum, Pasukan Sriwijaya, Pasukan Buruh Laut, Pasukan Sawunggaling,
TKR Laut, Barisan Hizbullah, Lasykar Minyak, TKR Mojokerto, TKR Gresik, Pasukan
Jarot Subiantoro, Pasukan Magenda Bondowoso, Pasukan Sadeli Bandung. Selain
itu ada pula pasukan-pasukan pembantu seperti Corps Palang Merah, Corps
Kesehatan, Corps PTT, Corps Pegadaian, bahkan ada juga Pasukan Narapidana
Kalisosok, dll. Puluhan kelompok pemuda yang berasal dari suku tertentu
membentuk pasukan sendiri, seperti misalnya Pasukan Pemuda Sulawesi
(KRIS-Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi), Pasukan Pemuda Kalimantan, Pemuda
Ponorogo, dan juga ada Pasukan Sriwijaya, yang sebagian terbesar
terdiri dari pemuda mantan Gyugun (sebutan Heiho di Sumatera) dari Batak dan
ada juga yang dari Aceh. Pasukan Sriwijaya ini telah mempunyai pengalaman
bertempur melawan tentara Sekutu di Morotai, Halmahera Utara.
Bukan saja BKR/TKR yang menjadi cikalbakal Angkatan Darat, melainkan dibentuk
juga pasukan Laut dan Udara. Tercatat a.l. Pasukan BKR Laut/TKR Laut Tanjung
Perak, Pasukan Angkatan Muda Penataran Angkatan Laut, Pasukan BKR/TKR Udara di
Morokrembangan.
Selain pasukan-pasukan yang bersenjata, diperkirakan lebih dari 100.000 pemuda
dari Surabaya dan sekitarnya, hanya dengan bersenjatakan bambu runcing dan
clurit ikut dalam pertempuran selama tiga hari. Kebanyakan dari mereka yang
belum memiliki senjata, bertekad untuk merebut senjata dari tangan tentara
Inggris.
Selain para wanita yang rela berkorban sebagai anggota Palang Merah, juga tak
dapat diabaikan peran serta ibu-ibu juru masak dan yang membantu di dapur umum
yang didirikan untuk kepentingan para pejuang Republik Indonesia. Para pejuang
dan sukarelawan itu bukan hanya penduduk Surabaya, melainkan berdatangan dari
kota-kota lain di sekitar Surabaya, seperti Gresik, Jombang, Sidoarjo,
Pasuruan, Bondowoso, Ponorogo bahkan dari Mojokerto, Malang, pulau Madura, dan
Bandung.
Inggris Mengibarkan Bendera Putih
Serbuan ke pos-pos pertahanan Inggris di tengah kota dilengkapi dengan blokade
total: Aliran listrik dan air di wilayah pos pertahanan Inggris dimatikan.
Truk-truk yang mengangkut logistik untuk pasukan Inggris, terutama yang akan
mengantarkan makanan dan minuman bisa dicegah. Kekacauan demi kekacauan
menyebabkan suplai yang dijatuhkan pesawat Inggris dari udara, ikut pula
terganggu. Tidak sedikit yang meleset dari sasaran, bahkan boleh dikatakan
hampir semua jatuh ke tangan pasukan Indonesia.
Dalam penyerbuan itu, korban di pihak Indonesia tidak sedikit, sebab berbagai
pasukan khususnya laskar pemuda- tanpa pendidikan militer dan pengalaman
tempur, hanya bermodalkan semangat dan banyak yang hanya bersenjatakan clurit
atau bambu runcing, begitu bersemangat maju menggempur musuh yang notabene
tentara profesional.
Dengan bermodalkan keberanian serta semangat ingin mempertahankan kemerdekaan
dan tak mau dijajah lagi, para pejuang Indonesia akhirnya mampu
memporak-porandakan kubu Inggris. Setelah dua hari tidak menerima kiriman
makanan dan minuman, serta korban yang jatuh di pihak mereka sangat besar,
pasukan Inggris akhirnya mengibarkan bendera putih, meminta berunding.
Mallaby menyadari, bila pertempuran dilanjutkan, tentara Inggris akan disapu
bersih, seperti tertulis dalam kesaksian Capt. R.C. Smith:
.. on further consideration, he (Mallaby, red.) decided that the company
had been in so bad a position before, that any further fighting would lead to
their being wiped out.
Walaupun ia sadari tidak ada pilihan lain, tetapi ketika persyaratan yang
diajukan Indonesia antara lain Inggris harus angkat kaki dari Surabaya dan
meninggalkan persenjataan yang ada di pos-pos pertahanan yang telah dikepung,
Mallaby menilai tampaknya terlalu berat baginya sebagai pimpinan tentara yang
baru memenangkan Perang Dunia II untuk melakukan hal itu.
Presiden Sukarno Diminta Melerai Insiden Surabaya
Ternyata pada hari pertama penyerbuan rakyat Indonesia terhadap pos-pos
pertahanan tentara Inggris di Surabaya, pimpinan tentara Inggris menyadari,
bahwa mereka tidak akan kuat menghadapi gempuran rakyat Indonesia di Surabaya.
Mallaby (lihat kesaksian Kapten R.C. Smith) memperhitungkan, bahwa Brigade 49
ini akan wiped out (disapu bersih), sehingga pada malam hari tanggal 28
Oktober 1945, mereka segera menghubungi pimpinan tertinggi tentara Inggris di
Jakarta untuk meminta bantuan. Menurut penilaian pimpinan tertinggi tentara
Inggris, hanya Presiden Sukarno yang sanggup mengatasi situasi seperti ini di
Surabaya. Kolonel. A.J.F. Doulton menulis:
The heroic resistance of the british troops could only end in the
extermination of the 49th Brigade, unless somebody could quell the passion of
the mob. There was no such person in Surabaya and all hope rested on the
influence of Sukarno. (Perlawanan heroik tentara Inggris hanya akan berakhir
dengan musnahnya Brigade 49, kecuali ada yang dapat mengendalikan nafsu rakyat
banyak itu. Tidak ada tokoh seperti itu di Surabaya dan semua harapan tertumpu
pada pengaruh Sukarno).
Panglima Tertinggi Tentara Sekutu untuk Asia Timur, Letnan Jenderal Sir Philip
Christison meminta Presiden Sukarno untuk melerai incident di Surabaya.
Pimpinan tentara Inggris menilai, situasi di Surabaya sangat mengkhawatirkan
bagi mereka, sehingga Presiden Sukarno yang sedang tidur, didesak agar segera
dibangunkan. Dalam Autobiografi yang ditulis oleh Cindy Adams, Sukarno
menuturkan:
Tukimin yang setia berbisik-bisik. Itu ada seorang yang menamakan dirinya
Pembantu Khusus (ADC - aide-de-camp = perwira pembantu pen.) dari komandan
Tentara Inggris. Ia menyatakan, bahwa ada persoalan yang amat penting.
Kepadanya telah saya jawab, bahwa Bapak sedang tidur, tetapi ia mendesak agar
supaya saya membangunkan Bapak.
Akhirnya setelah saya bangun, selama 30 menit terpaksa berbicara melalui
telepon. Tetapi tidak sepatah kata pun apa yang sedang menggelisahkan perasaan
saya dari pembicaraan telepon itu saya ungkapkan kepada intern keluarga saya,
baik Fatmawati maupun kepada Tukimin. Saya hanya menyatakan bahwa besok pagi
saya akan ke Surabaya dengan kapal terbang militer kepunyaan Inggris. Dan
kemudian saya kembali ke kamar tidur, dan pelan-pelan menutup pintu.
Saya dengan Hatta, yang baru saja dipilih menjadi Wakil Presiden, selama lebih
kurang 2 jam berbicara dengan pihak Sekutu Inggris, tetapi pihak Inggris
mengharapkan saya, sebab saya dibutuhkan. Dan saya tahu, bahwa tidak akan ada
sesuatu pun yang akan dapat menghentikan persoalan ini.
Di Surabaya, ternyata Inggris telah menempatkan markasnya di gedung-gedung di
tengah kota Surabaya sebagai pusatnya
.
Pada 29 Oktober 1949 di Kompleks Darmo, Kapten Flower yang telah mengibarkan
bendera putih, masih ditembaki oleh pihak Indonesia; untung dia selamat, tidak
terkena tembakan. Kapten Flower, yang ternyata berkebangsaan Australia,
kemudian diterima oleh Kolonel dr. Wiliater Hutagalung. Hutagalung mem-fait
accompli, dengan menyatakan:
We accept your unconditional surrender!,
dan mengatakan, bahwa pihak Indonesia akan membawa tentara Inggris -setelah
dilucuti- kembali ke kapal mereka di pelabuhan.
Pimpinan Republik Indonesia di Jakarta pada waktu itu tidak menghendaki adanya
konfrontasi bersenjata melawan Inggris, apalagi melawan Sekutu. Pada 29 Oktober
sore hari, Presiden Sukarno beserta Wakil Presiden M. Hatta dan Menteri
Penerangan Amir Syarifuddin Harahap, tiba di Surabaya dengan menumpang pesawat
militer yang disediakan oleh Inggris. Segera hari itu juga Presiden Sukarno
bertemu dengan Mallaby di gubernuran. Malam itu dicapai kesepakatan yang
dituangkan dalam Armistic Agreement regarding the Surabaya-incident; a
provisional agreement between President Soekarno of the Republic Indonesia and
Brigadier Mallaby, concluded on the 29th October 1945. Isinya a.l.:
· Perjanjian diadakan antara Panglima Tentara Pendudukan Surabaya
dengan PYM Ir. Sukarno, Presiden Republik Indonesia untuk mempertahankan
ketenteraman kota Surabaya.
· Untuk menenteramkan, diadakan perdamaian: ialah tembakan-tembakan
dari kedua pihak harus diberhentikan.
· Syarat-syarat termasuk dalam surat selebaran yang disebarkan oleh
sebuah pesawat terbang tempo hari (yang dimaksud adalah pada tanggal 27 Oktober
1945) akan diperundingkan antara PYM Ir Sukarno dengan Panglima Tertinggi
Tentara pendudukan seluruh Jawa pada tanggal 30 Oktober besok.
Mayjen Hawthorn tiba tanggal 30 Oktober pagi hari. Perundingan yang juga
dilakukan di gubernuran segera dimulai, antara Presiden Sukarno dengan
Hawthorn, yang juga adalah Panglima Divisi 23 Inggris. Dari pihak Indonesia,
tuntutan utama adalah pencabutan butir dalam ultimatum/pamflet tanggal 27
Oktober, yaitu penyerahan senjata kepada tentara Sekutu; sedangkan tentara
Sekutu menolak memberikan senjata mereka kepada pihak Indonesia. Perundingan
alot, yang dimulai sejak pagi hari dan baru berakhir sekitar pukul13.00,
menghasilkan kesepakatan, yang kemudian dikenal sebagai kesepakatan Sukarno
Hawthorn. Isi kesepakatan antara lain:
· The Proclamation previously scatttered by aircraft shall be annulled;
that is to say, the disarmament of the TKR and the Pemudas shall not be
carried out.
· The Allied forces shall not guard the city.
The TKR shall be recognized; its continued use of arms shall be allowed.
Yang terpenting bagi pihak Indonesia dalam kesepakatan ini adalah pencabutan
perintah melalui pamflet tertanggal 27 Oktober dan pengakuan terhadap TKR yang
bersenjata.
Brigadir Jenderal Mallaby Tewas
Setelah disepakati truce (gencatan senjata) tanggal 30 Oktober, pimpinan sipil
dan militer pihak Indonesia, serta pimpinan militer Inggris bersama-sama
keliling kota dengan iring-iringan mobil, untuk menyebarluaskan kesepakatan
tersebut. Dari 8 pos pertahanan Inggris, 6 di antaranya tidak ada masalah,
hanya di dua tempat, yakni di Gedung Lindeteves dan Gedung Internatio yang
masih ada permasalahan/tembak-menembak.
Setelah berhasil mengatasi kesulitan di Gedung Lindeteves, rombongan
Indonesia-Inggris segera menuju Gedung Internatio, pos pertahanan Inggris
terakhir yang bermasalah. Ketika rombongan tiba di lokasi tersebut, nampak
bahwa gedung tersebut dikepung oleh ratusan pemuda. Setelah meliwati Jembatan
Merah, tujuh kendaraan memasuki area dan berhenti di depan gedung. Para
pemimpin Indonesia segera ke luar kendaraan dan meneriakkan kepada massa,
supaya menghentikan tembak-menembak.
Kapten Shaw, Mohammad Mangundiprojo dan T.D. Kundan ditugaskan masuk ke gedung
untuk menyampaikan kepada tentara Inggris yang bertahan di dalam gedung, hasil
perundingan antara Inggris dengan Indonesia. Mallaby ada di dalam mobil yang
diparkir di depan Gedung Internatio. Beberapa saat setelah rombongan masuk,
terlihat T.D. Kundan bergegas keluar dari gedung, dan tak lama kemudian,
terdengar bunyi tembakan dari arah gedung. Tembakan ini langsung dibalas oleh
pihak Indonesia. Tembak-menembak berlangsung sekitar dua jam. Setelah
tembak-menembak dapat dihentikan, terlihat mobil Mallaby hancur dan Mallaby
sendiri ditemukan telah tewas.
Ada dua kejadian pada tanggal 30 Oktober 1945, yang pada waktu itu
dilemparkan oleh Inggris ke pihak Indonesia, sebagai yang bertanggung jawab,
dan kemudian dijadikan alasan Mansergh untuk menghukum para ekstremis dengan
mengeluarkan ultimatum tanggal 9 November 1945:
1. Orang-orang Indonesia memulai penembakan, dan dengan demikian telah
melanggar gencatan senjata (truce),
2. Orang-orang Indonesia membunuh Brigadier Mallaby.
Tewasnya Mallaby memang sangat kontroversial, tetapi mengenai siapa yang
memulai menembak, di kemudian hari cukup jelas. Kesaksian tersebut justru
datangnya dari pihak Inggris. Ini berdasarkan keterangan beberapa perwira
Inggris yang diberikan kepada beberapa pihak. Yang paling menarik adalah yang
disampaikan kepada Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai
Buruh (Labour). Pada 20 Februari 1946, dalam perdebatan di Parlemen (House of
Commons) Tom Driberg, menyampaikan:
.. some of the press reports from Indonesia have been entirely responsible.
In particular, I have learned from officers who have recently returned that
some of the stories which have been told, not only in the newspaper, but, I am
sorry to say, from the Government Front Bench in his House, have been very far
from accurate and have innecessarily imparted prejudice and concerns the
lamented death of Brigadier Mallaby. That was announced to us as a foul murder,
and we accepted it as such. I have learned from officers who were present when
it happened the exact details and it is perfectly clear that Brigadier Mallaby
was not murdered but was honourably killed in action
. The incident was
somewhat confused as such incidents are- but it took place in and near Union
Square in Surabaya. There had been discussions about a truce earlier in the
day. A large crowd of Indonesians a mob if you like- had gathered in the
square and were in a rather
excited state.
About 20 Indians, in a building on the other side of the square, had been cut
off from telephonic communication and did not know about the truce. They were
firing sporadically on the mob. Brigadier Mallaby came out from the
discussions, walked straight into the crowd, with great courage, and shouted to
the Indians to cease fire. They obeyed him. Possibly half an hour later, the
mob in the square became turbulent again. Brigadier Mallaby, at a certain point
in the proceedings, ordered the Indians to open fire again. They opened fire
with two Bren Guns and the mob dispersed and went to cover; then fighting broke
out again in good earnest. It is apparent that when Brigadier Mallaby gave the
order to open fire again, the truce was in fact broken, at any rate locally.
Twenty minutes to half an hour after that, he was unfortunately killed in his
car although it is not absolutely certain whether he was killed by Indonesians
who were approaching his car;
which exploded simultaneously with the attack on him.
I do not think this amounts to charge of foul murder
..because my information
came absolutely at first hand from a British officer who was actually on the
spot at the moment, whose bona fides I have no reason to question
..
Di sini Tom Driberg meragukan, bahwa Mallaby terbunuh oleh orang Indonesia. Dia
menyatakan:
.it is not absolutely certain whether he was killed by Indonesians who were
approaching his car; which exploded simultaneously with the attack on him.
Selanjutnya dia juga membantah, bahwa tewasnya Mallaby akibat dibunuh secara
licik (foully murdered). Kelihatannya pihak pimpinan tentara Inggris -untuk
membangkitkan/memperkuat rasa antipati terhadap Indonesia- rela mendegradasi
kematian seorang perwira tinggi menjadi dibunuh secara licik daripada
menyatakan killed in action tewas dalam pertempuran- yang menjadi kehormatan
bagi setiap prajurit.
Juga penuturan Venu K. Gopal, waktu itu berpangkat Mayor, yang adalah Komandan
Kompi D, Batalion 6, Mahratta. Kompi D ini mengambil tempat pertahanan di
Gedung Internatio. Tanggal 8 Agustus 1974, dia menulis kepada J.G.A. Parrot
antara lain :
Let me first give you some background. D Coy had been under fire off and on
and had already casualties. The firing came from other buildings on the square
and by and large we were able to contain it. We could, however, see that armed
men barred all the exits from the square.
Meanwhile armed Indonesians swarmed over to the veranda of the building and I
had to bluntly tell them that I would fire if they started pressing into the
building. By this time I could not see Brigade Mallaby or the LOs (Liaison
Officers) because of the crowds on the veranda.
Just then Capt. Shaw and Kundan ( I did not know their names at that time)
tried to get into the building but were prevented. Kundan then shouted to the
crowd that he would get us surrender and he and Capt.Shaw were then allowed to
go into the building if they took an Indonesian officer with them. I allowed
them in hoping to play for time. After a little time Kundan went out of the
building, leaving Capt. Shaw and the Indonesian Officer behind.
Soon thereafter the armed men started pushing in and I was left with no option
but to open fire. The Decision was mine and mine alone. Capt. Smith is correct
when he says that BM (Mallaby-pen.) did not give any orders to Capt. Shaw..
Dengan pengakuan Mayor Gopal, Komandan Kompi D yang bertahan di Gedung
Internatio, sekarang terbukti, bahwa yang memulai menembak adalah pihak
Inggris; tetapi kelihatannya dia masih ingin melindungi bekas atasannya dengan
menggarisbawahi, bahwa perintah menembak tersebut adalah keputusannya sendiri.
Ini jelas bertentangan dengan kesaksian T.D. Kundan, yang diperkuat dengan
kesaksian seorang perwira Inggris melalui Tom Driberg. Dengan pengakuan ini
terlihat jelas, bahwa Inggris pada waktu itu memutar balikkan fakta dan menuduh
bahwa gencatan senjata telah dilanggar pihak Indonesia (the truce which had
been broken). Di dalam situasi tegang bunyi ledakan ataupun tembakan akan
menimbulkan kepanikan pada kelompok-kelompok yang masih diliputi suasana
tempur, sehingga tembakan tersebut segera dibalas; maka pertempuran di seputar
Gedung Internatio pun pecah lagi.
Dari pengakuan kedua perwira Inggris tersebut telah jelas, bahwa pemicu
terjadinya tembak-menembak adalah pihak Inggris sendiri. Dugaan ini sebenarnya
tepat, bila disimak jalan pikiran Mallaby, seperti dituliskan oleh Capt. Smith:
He (Mallaby, red.) did not believe in the safe-conducts in so far as it
applied to us, but thought that some at least of the Company might get away.
Accordingly Capt. Shaw was sent into the building to give the necessary
orders
..
Sebelum itu, menurut Smith, telah terjadi perbedaan pendapat antara Kapten
Shaw dan Mallaby mengenai permintaan para pemuda Indonesia, agar tentara
Inggris meninggalkan persenjataan mereka di dalam gedung. Awalnya, Kapten Shaw
menyetujui permintaan ini, tetapi Mallaby kemudian membatalkannya. Smith :
Eventually, the mob demanded that the troops in the building laid (sic) down
their arms and marched (sic) out: they and us (sic) guaranteed a safeconduct
back to the air field. The Brigadier flatly refused to consider this proposal.
After further pressure, however, Capt.Shaw, who was well known to some of the
indonesians through his job as FSO, and who had been a considerable strain
since our arrival in Surabaya, agreed to the terms on his own responsibility.
The Brigadier at once countemanded this
Uraian Tom Driberg di Parlemen Inggris (House of Commons) kelihatannya
keterangannya diperoleh dari KaptenShaw
Kemudian tuduhan kedua, bahwa orang Indonesia secara licik membunuh Mallaby,
perlu diteliti lebih lanjut. Di pihak Indonesia banyak orang mengaku bahwa
dialah yang menembak Mallaby. Hj. Lukitaningsih I. Rajamin-Supandhan mencatat,
ada sekitar 12 orang yang mengaku sebagai yang menembak Mallaby. Namun menurut
penilaian beberapa pelaku sejarah, dari sejumlah keterangan yang diberikan,
cerita yang benar kemungkinan besar yang disampaikan oleh Abdul Azis. (Lihat:
Barlan Setiadijaya, 10 November 1945
., hlm. 429-435.) Dul Arnowo mencatat
laporan seorang saksi mata, Ali Harun, yang kemudian diteruskan ke Presiden
Sukarno. Surat tersebut dibawa oleh Kolonel dr. W. Hutagalung ke Jakarta, dan
diserahkan langsung kepada Presiden Sukarno pada tanggal 8 November 1945.
Dari berbagai penuturan, memang benar adanya penembakan dengan menggunakan
pistol oleh seorang pemuda Indonesia ke arah Mallaby, tetapi tidak ada seorang
pun yang dapat memastikan, bahwa Mallaby memang tewas akibat tembakan tersebut.
Yang menarik untuk dicermati adalah pengakuan Kapten R.C. Smith dari Batalyon
6, Resimen Mahratta, yang pada waktu itu menjabat sebagai Liaison Officer
Brigade 49. Tanggal 31 Oktober, dia memberikan laporannya yang pertama,
kemudian pada bulan Februari, sehubungan dengan keterangan Tom Driberg di House
of Commons. Laporan Smith dimuat oleh J.G.A. Parrot, dalam analisisnya, Who
Killed Brigadier Mallaby? Kapten R.C. Smith menulis:
The Report by Capt. R.C. Smith.
At approximately 1230 hrs. on 30th October, Capt T.L. Laughland and I were
ordered by Col. L.H.O.Pugh, DSO, 2i/c (Second in Command) of the Bde., to
proceed to the Government offices, where we were each to collect an Indonesian
representative. From there one of us was to go north, and the other south,
through the town, and try to persuade the mobs to go back to their barracks.
Brigadier Mallaby was at this time in conference with the Governor in the
Government Offices.
On arrival there, we were told by the Brigadier that the
Indonesians had refused to treat with anyone except him. Accordingly we set off
with the Brigadier and the FSO (Field Security Officer), Capt. Shaw, plus the
leaders of the various parties, in several cars, the foremost of which was
flying the white flag.
The first place to which we went was a large building about 150
yards west of the Kali Mas River, which runs north and south through the town.
One Coy of the 6 Mahrattas had been having a very stiff fight in this building
against about five hundred Indonesians, and had been in considerable
difficulties.
On our arrival there, the mob was collected round the cars, and the
various party leaders made speeches to them, in an attempt to persuade them to
return to their barracks. The speeches were at first quite well received, and
the necessary promises given.
We then got into our cars and set off for the next position. We had
only gone about 100 yards when we were stopped by the mob aproximately 20 yards
from the Kali Mas. From then on the situation rapidly deteriorated. The mob
leaders began to incite the mob, and the party leaders gradually lost control.
The mob, which up to that time had seemed fairly friendly towards us, became
distinctly menacing: swords were waved, and pistols pointed at us and we were
left with very little doubt as to their intentions.
Eventually, the mob demanded that the troops in the building laid
(sic) down their arms and marched (sic) out: they and us (sic) guaranteed a
safe-conduct back to the air field. The Brigadier flatly refused to consider
this proposal. After further pressure, however, Capt.Shaw, who was well known
to some of the indonesians through his job as FSO, and who had been under a
considerable strain since our arrival in Surabaya, agreed to the terms on his
own responsibility. The Brigadier at once countemanded this: on further
consideration, he decided that the company had been in so bad a position
before, that any further fighting would lead to their being wiped out.
He did not believe in the safe-conduct in so far as it applied to
us, but thought that some at least of the company might get away. Accordingly
Capt. Shaw was sent into the building to give the necessary orders.
The rest of us were disarmed except for a grenade which Capt.
Laughland managed to keep concealed and made to sit in one of the cars.
The Brigadier was on the side nearest to the Kali Mas, Capt. Laughland in the
middle, and myself on the outside nearest to the building in which our troops
were.
When Capt. Shaw got into the building, the Indonesians brought up a machine gun
to cover the entrance. He and the company commander decided that any attempt to
walk out unarmed would lead to a massacre and so the order to open fire was
given.
As soon as the firing started, the three of us who were in the car crouched
down on the floor as far as possible. An Indonesian came up to the Brigadiers
window with a rifle. He fired four shots at three of us, all of which missed.
He went away while we shammed dead. The battle went on for about two and a half
hours, to about 2030 hrs, by which time it was dark. At the end of that time,
the firing died down to some extent, and we could hear shouting as though the
Indonesians were being collected. Two of them came up to the car and attempted
to drive it away. That failed and one of them opened the back door on the
Brigadiers side. The Brigadier moved, and as they saw from that, that he was
still alive, he spoke to them and asked to be taken to one of the party
leaders. The two Indonesians went away to discuss this, and one of them came
back to the front door on the Brigadiers side. The Brigadier spoke to him
again, the Indonesian answered, and
then suddenly reached his hand in through the front window, and shot the
Brigadier. It took from fifteen seconds to half-a-minute for the Brigadier to
die, but from the noise he made at the end, there was absolutely no doubt that
he was dead. (Notes from Parrot: This was the first time that these details of
the final moments of Brigadier Mallaby had been made public. In this second
report Smith offered the following explanation:In the report made by
Capt.Laughland and myself the following morning we stated that the Brigadier
was killed instantly. This was done in order to spare the feelings of the
family.)
As soon as he had fired, the Indonesian ducked down beside the car, and
remained there until after the Brigadier was dead. I took the pin out of the
grenade which Capt.Laughland had previously passed to me, and waited. The
Indonesian appeared again, and fired another shot which grazed Capt.
Laughlands shoulder. I let go the lever of the grenade, held it for two
seconds to make sure it was not returned and threw it out of the open door by
Brigadiers body. As soon as it had exploded, Capt. Laughland and I went out of
the door on my side of the car, waited for a short time, then ran around the
car and dived into the Kali Mas. As the two Indonesians by the side of the car
did not attemp to interfere with us it is presumed that they were killed by the
grenadewhich also set the back seat of the car on fire. After five hours in
the Kali Mas, we managed to reach our troops in the Dock area.
Keterangan Smith ini a.l. menguatkan penjelasan Gopal, bahwa memang benar pihak
Inggris yang memulai penembakan. Kesaksian Smith ini mirip dengan keterangan
Abdul Azis; dan ternyata dia tidak mati seperti dugaan Smith.
Sehubungan dengan penembakan dengan senapan yang terjadi sebelum penembakan
terhadap Mallaby, dalam surat kepada Parrot tertanggal 23 November 1973, Smith
menulis antara lain:
I have no idea what hapenned to the four shots from the rifleman. He
approached the car from the left (the Brigadiers side) with the rifle at the
ready, and looking at the three of us. I am not ashamed to say at this point I
shut my eyes and started counting the shots!
I think all three of us were equally surprised at finding both ourselves and
the others alive afterwards!
Tentu sangat luar biasa, bahwa menembak tiga orang yang sedang duduk di dalam
mobil yang sempit dengan empat tembakan, namun tak satupun yang mengena. Hal
ini menunjukkan, bahwa dapat dipastikan, pemilik senapan itu baru pertama kali
menembak, sehingga menembak tiga orang dengan jarak mungkin paling tinggi 2
meter, empat tembakan meleset semua.
Mengenai ciri-ciri penembak Mallaby, dalam surat kepada Parrot tanggal 20
Februari 1974, Smith menulis:
the indonesian who killed the Brigadier was a young lad around 16 or 17
approximately, but it was too dark to see whether he was wearing any sort of
uniform. The weapon was an automatic pistol
Kemudian pada 20 Februari 1974, Smith menulis kepada Parrot yang isinya antara
lain:
I have no recollection of the conversation that the Indian interpreter
reported and while I certainly could not state that I heard everything that
happenned, I think I should have remembered this, if not now after 30 years,
certainly at the time when I wrote my report. However, in all fairness, I must
say that there were moments when my attention was distracted from the Brigadier
myself. For instance, I can remember spending some time trying to convince a
very angry young Indonesian that I had not personally be responsible for his
brothers death.
Going back to my report, the position of all of us was very closely gouped
around one car so that there was only a matter of a very few feet between us.
Therefore, Brigadier Mallaby was certainly able to hear when Captain Shaw
agreed to the demands of the mob, which was why he was able to countermand it
immediately. As I said, he then changed his mind in the hope that some of the
men at least might reach safety, but the orders that he gave Captain Shaw were
that the troops in the building should lay down their arms and come out
unarmed, in the hope of safe-conduct.
I definitely did not hear any suggestion that they should be ordered to open
fire after a certain length of time had elapsed. The one thing that has always
been quite firmly established in my memory is that the orders to fire were
given by Captain Shaw once he had got into the building.
Yang perlu diragukan di sini adalah dugaan Smith, bahwa Mallaby tewas sebagai
akibat tembakan pistol pemuda Indonesia. Seperti dalam tulisannya, dia
mengatakan bahwa pada saat itu sekitar pukul 20.30 dan keadaan gelap. Memang
aliran listrik di daerah tersebut telah diputus oleh pihak Indonesia. Dia hanya
mengatakan:
berdasarkan suara yang didengar dari arah Mallaby, dia yakin bahwa Mallaby
telah tewas 15 30 detik setelah ditembak dengan pistol
Selain itu dia juga mengakui, bahwa granat yang dilemparkannya melewati tubuh
Mallaby telah mengakibatkan terbakarnya jok belakang mobil mereka, artinya
tempat Mallaby duduk.
Menurut pemeriksaan di rumah sakit, jenazah Mallaby sangat sulit dikenali,
karena hangus dan hancur. Dia dikenali melalui tanda bekas jam tangan di kedua
lengannya, karena Mallaby dikenal dengan kebiasaannya untuk memakai dua jam
tangan; jadi bukan identifikasi wajah atau ciri-ciri tubuh lain. Hal ini
disampaikan oleh dr. Sugiri, kepada Kolonel dr. W. Hutagalung.
Seandainya keterangan Smith benar, bahwa Mallaby tidak memberikan perintah
untuk memulai menembak, bahkan sebaliknya, yaitu menginstruksikan Kapten Shaw
untuk memerintahkan tentara Inggris yang di dalam gedung agar mereka meletakkan
senjata dan ke luar gedung tanpa senjata, maka telah terjadi pembangkangan yang
berakibat fatal, yaitu perintah dari komandan kompi, Mayor Gopal, untuk memulai
menembak. Dilihat dari sudut mana pun, timbulnya tembak-menembak yang berakibat
tewasnya Mallaby, adalah kesalahan tentara Inggris.
Mengenai tuduhan bahwa Mallaby tewas akibat tembakan pistol, sangat diragukan.
Jelas untuk membela diri, Smith dan Laughland harus menyatakan dahulu bahwa
Mallaby telah tewas ketika Smith melemparkan granat, yang kemudian justru
membakar bagian belakang mobil yang mereka dan Mallaby tumpangi. Beberapa saksi
mata di pihak Indonesia mengatakan bahwa mobil Mallaby meledak akibat granat
tersebut sehingga dengan demikian, boleh dikatakan Mallaby tewas karena
kesalahan pihak Inggris sendiri. Dari kronologi kejadian dapat disimpulkan,
bahwa Mallaby tewas karena tembak-menembak berkobar lagi.
Yang sangat menarik untuk dicermati sehubungan dengan pelemparan granat oleh
Kapten Smith, adalah kesaksian Imam Sutrisno Trisnaningprojo, seorang pemuda
berpangkat kapten, mantan anggota PETA. Trisnaningprojo ikut dalam
iring-iringan mobil dalam rangka penyebarluasan hasil kesepakatan
Sukarno-Hawthorn. Bahwa Smith adalah orang yang melemparkan granat yang
mengakibatkan mobil yang ditumpangi Mallaby terbakar, diakui oleh Smith
sendiri, tetapi Trisnaningprodjo menuturkan, bahwa Smith tidak berada di dalam
mobil bersama Mallaby, melainkan bersama Laughland di luar mobil ketika terjadi
penembakan terhadap Mallaby. Trisnaningprojo melihat, Smith berada di dekat
gedung dan melemparkan granat ke arah pemuda yang menembak Mallaby, tetapi
granat meledak di sebelah mobil Mallaby yang pintu belakangnya terbuka. Jadi,
Captain Smith melempar granat tidak dari dalam mobil, melainkan dari luar
mobil. Ini berarti bahwa tidak ada yang mengetahui kondisi Mallaby setelah
penembakan dari pemuda Indonesia tersebut, apakah terluka atau memang telah
tewas seperti penuturan Smith.
Baik dari kesaksian Smith, maupun keterangan Trisnaningprojo yang dilengkapi
sketsa lokasi pada saat kejadian, pemuda Indonesia menembak dengan pistol ke
arah Mallaby melalui jendela depan di sisi kiri mobil, sedangkan Mallaby masih
menurut Smith- duduk di jok belakang, di sisi paling kiri. Dari posisi pemuda
Indonesia tersebut, walaupun dia menggunakan tangan kiri, kemungkinan besar
bagian tubuh Mallaby sebelah kanan yang akan terkena tembakan, dan ini biasanya
tidak mematikan. Berbeda, apabila yang terkena adalah tubuh bagian kiri, di
bagian jantung.
Di samping itu, juga tidak ada yang bisa memastikan, bahwa tembakan pemuda
tersebut benar mengenai sasaran karena sebelumnya -juga menurut Smith- ketika
bertiga masih duduk di bagian belakang mobil, ada yang menembak ke arah mereka
dengan senapan sebanyak empat kali, namun tak satu peluru pun yang mengenai
mereka. Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pemuda yang menembak dengan pistol,
juga baru pertama kali memegang pistol, sehingga belum mahir menggunakannya.
Ketika diwawancarai oleh Ben Anderson pada tanggal 13 Agustus 1962, Dul Arnowo
menyatakan, bahwa dia yakin Mallaby secara tidak sengaja, telah terbunuh oleh
anak buahnya sendiri.
Dalam laporan rahasia kepada atasannya, Kolonel Laurens van der Post mantan
Gubernur Militer Inggris di Batavia/Jakarta tahun 1945, menuliskan ((Sir
Laurens van der Post, The Admirals Baby, John Murray, London, 1996):
The detail of what happenned at Sourabaya is not really relevant to this
review but it is interresting that the very latest evidence suggests that the
Mallaby Murder, far from being premiditatet or a deliberate breach of faith,
was caused more by the indescribable confusion and nervous excitement of
everyone in the town. Had General Hawthorn, the General Officer Commanding Java
at the same time, had proper Civil Affairs and political officers on his staff
to draft his unfortunate proclamations for him and to keep [in] continuous and
informed contact with population, the story of Sourabaya may well have been
different.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/