Kolektif Nasional (sementara) Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi
Politik Rakyat Miskin
email:[EMAIL PROTECTED]
Contact person: 085224772996 (Eman), 081574304391 (Surya)
Dengan Persatuan Gerakan Rakyat Non Kooptasi Kooperasi:
Gagalkan Solusi Jahat Ala Rezim SBY JK (Buyback, Bailout, SBI 9,5%, Pajak 0%
CPO, SKB 4 Menteri) !!
Gulingkan Pemerintahan Agen Penjajah, Ganti dengan Pemerintahan Persatuan
Rakyat Miskin !!
Salam PembebasaN !!
Tidak ada Demokrasi dan Kesejahteraan di Indonesia, di bawah Pemerintahan Agen
Penjajah (SBY JK, DPR/MPR, Elit dan Partai Politik Pro Imperialis, Tentara)
dan Sistem Ekonomi Kapitalis !! Yang ada adalah: Perusahaan Bangkrut, PHK
Massal, BBM dan Bahan Pokok Mahal.
Neoliberalisme (Ekonomi Pasar Bebas) yang dianggap sebagai Resep Manjur dari
krisis ekonomi global dan kesenjangan sosial paska krisis 1997, ternyata justru
tidak semanjur janji-janji manis yang kerap di kampanyekan oleh para ekonomi
pro neoliberal. Sejak di tanda tangani pada melalui Letter Of Intent masa akhir
pemerintahan Soeharto melalui, dan terus disempurnakan oleh Pemerintahan,
Habibie, Gusdur Megawati, dan SBY-Kalla dengan berbagai regulasi, sama sekali
tak nampak mimpi Indah itu: Tricle Down Effect (Efek Tetes Kesejahteraan).
Jurang Kemiskinan semakin lama-semakin dalam. Kesejahteraan, pengetahuan,
kesehatan yang layak, makanan yang sehat dan bergizi, perumahan yang bersih dan
modern, upah yang layak hanyalah impian bagi kaum miskin di negeri ini, sebab
kekayaan alam telah di keruk dengan rakusnya oleh korporasi internasional
(Exxon Mobil Oil, Freeport Mcmoran, Haliburton, Total, Caltex, dll), dan
dikantongi oleh kapitalis-kapitalis
internasional tersebut, dengan mensisakan remah-remah keuntungan (production
sharing) bagi kaum miskin negeri ini !! Sungguh malang penduduk negeri ini.
Padahal, TAK ADA, SAMA SEKALI TAK ADA, syarat-syarat penduduk negeri ini
menjadi miskin. Karena, negeri ini memiliki sumber daya alam yang melimpahyang
tak dimiliki oleh negeri-negeri lain, negeri ini memiliki emas; batubara; gas;
minyak, karet, sawit; intan, timah, perca (bahan serat optik), besi, baja,
tembaga,plutonium, uranium dll dan dengan jumlah penduduk yang besar. Tapi
sayang, negeri ini memiliki Tenaga Produktif (force of production) yang rendah.
Kualitas Tenaga Kerja masih rendah, begitupun juga dengan teknologi dan
manajemen yang maih rendah. Tapi, di negeri-negeri lain seperti: Cuba,
Venezuela, Iran, Bolivia yang menghadapi persoalan yang sama, kelemahan ini
dapat diatasi, melalui: Partisipasi dan Kekuasaan Rakyat! Hasilnya: Pendidikan
dan Kesehatan Gratis, BBM Murah, Perumahan Murah (Kesejahteraan Sosial
meningkat) di negeri-negeri tersebut.
Akan Tetapi, bukan Partisipasi, Kedaulatan, Kemandirian dan Kekuasaan Rakyat
yang dibangun, melainkan Utang dan Investasi Asing. Sejak Pemerintahan OrdeBaru
berkuasa hingga pemerintahan SBY-JK, investasi modal asing merupakan ujung
tombak pembangunan negeri. Indonesia, bahkan disebut sebagai Macan Asia
karena pesatnya pembangunan ekonomi. Tapi, Benarkah? Kenyataan berkata
sebaliknya, ketika krisis keuangan 1997 terjadi, yang dipicu oleh krisis
moneter di Meksikoyang rutin membayar utang hingga kas dalam negerinya
kosong(Tequila Efect), krisis di Chili, dan devaluasi Bath di Thailandyang
terjadi akibat sistem kurs bebas dan outflows capital, dengan cepat menggeret
krisis-krisis di berbagai negeri di Asia (termasuk Indonesia). Bahkan krisis
ini juga melanda negara-negara maju, seperti Amerika, Inggris, Perancis.
Penarikan modal besar-besaran dari negara maju; dan sebaliknya, dari negara
berkembang ke negara maju, telah mengakibatkan
ketidakstabilan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang.
Efek dari ketidakstabilan pasar keuangan tersebut, bahkan, menyeret krisis di
negara-negara yang memiliki cadangan devisa yang cukup. Ketiadaan sistem
pertahanan dalam sistem keuangan, mengakibatkan kehancuran industri riil,
karena industri di negara-negara berkembang membutuhkan bahan mentah, energi
dan teknologi dari luar. Yang kesemua itu harus dibeli dengan kurs dollar..
Pelipatgandaan satu mata uang, disatu sisi, dan kehancuran mata uang negara
berkembang disisi lain, telah mengakibatkan harga suatu produk melambung tinggi
jauh melebihi nilai komoditi tersebut dan diluar batas kesanggupan daya beli
masyarakat.
Di Indonesia, tahun 1997, akibat krisis ekonomi tersebut dapat kila lihat
sendiri, seluruh sektor ekonomi mengalami keruntuhanbaik sektor pertanian,
manufaktur, konstruksi, transportasi, perdagangan, dan jasa. Akibatnyanya,
pertumbuhan sektor ekonomi yang rata-rata 7% menjadi nol, bahkan sempat dibawah
nol/minus. Posisi mata uang rupiah mengalami kemerosotan yang cukup tajam, dari
Rp. 2.300,- per satu Dolar Amerika pada bulan Juli 1997 sesaat sebelum krisis
menjadi Rp. 15.000,- per satu Dolar Amerika pada tanggal 15 Juni 1998. Beberapa
hari kemudian malah menjadi Rp.17.000,- per satu Dolar Amerika. Secara riil,
Pendapatan perkapita penduduk Indonesia merosot tajam sampai sekitar US $400
tahun 1998, dimana pada waktu sebelum krisis sekitar US $1000. Dari catatan
pemerintah, pada tanggal 6 Juni 1998, jumlah pengangguran di Indonesia sekitar
15,4 juta orang, yaitu sekitar 17,1% dari 90 juta angkatan kerja yang ada.
Kini, 11 tahun paska krisis moneter (I), atau 9 tahun masa pelaksanaan
program-program penyesuaian structural (Structural Adjustment Programme),
krisis keuangan, krisis pangan, dan krisis energi melanda negeri ini dan
menghempaskan kaum miskin dunia dan negeri ini bak silent tsunami. Tak
seorang pun kaum miskin yang selamat dari penghisapan, Imperialisme yang maha
dasyat itu.
Neoliberalisme yang konon dianggap sebagai resep yang manjur dalam mengatasi
krisis nyatanya menghasilkan krisis ekonomi yang justru semakin parah.
Liberalisasi Perdagangan Barang, Jasa dan Keuangan yang di arsiteki oleh IMF,
WB, ADB melalui World Trade Organization (WTO), pasar-pasar saham internasional
baik dalam bentuk transaksi valas, surat saham (cth: Sub Prime Mortage),
ataupun surat komoditi berjangka (Commodity Futures Market) membuat transaksi
suatu komoditi menjadi bebas dengan harga yang sangat spekulatif.
Pasar saham, yang mulanya digunakan untuk menarik modal bagi ekspansi
perusahaan dan untuk mempermudah perdagangan komoditi, selanjutnya menjadi
sangat OTONOM dan tidak memiliki relasi dengan sektor riil. Di Indonesia,
melalui liberalisasi perdagangan dan keuangan, Bursa Efek Indonesia- yang 80%
pialang sahamnya merupakan investor asing memiliki otonomi yang besar dan
longgar. Modal terbesar yang masuk adalah modal jangka pendek (Short Term
Investment) atau biasa dikenal sebagai Hot Money dan ini jauh lebih besar
dari Investasi Asing Jangka Panjang (Long term Foreign Direct Investment). Maka
dari itu sering disebut sebagai Economic Bubble (Gelembung Modal). Investasi
jangka pendek ini dapat diperjualbelikan dalam waktu yang singkat, dan para
pemain saham mengambil keuntungan (Profit Taking) dari selisih margin harga
saham tersebu, tanpa adanya proses produksi.
Maka dari itu, Hot Money tidak memiliki relasi terhadap sektor riil. Padahal
sektor riil faktor yang paling menentukan harga sebuah surat saham. Di Amerika,
Krisis Kredit Perumahan (Subprime Mortage) yang menjadi pemicu krisis saat ini,
diakibatkan penjualan berkali-kali lipat surat saham perumahan sehingga
harganya berlipat ganda dari nilai produksi sebenarnya perumahan tersebut,
akibatnya para konsumen yang mengkredit perumahan atau apartemen tersebut tidak
sanggup lagi melunasi karena saking mahal atau bahkan apartemen atau perumahan
tersebut tidak ada yang membeli. Situasi ini yang membuat para pialang saham
tersebut untuk menjual (Selling) surat-surat berharga mereka. Akibatnya, dunia
perdagangan saham ambruk. Amerika dengan nilai transaksi saham paling besar
mengalami kerugian dan pemerintahnya terpaksa melakukan bailout.
Mengantisipasi hal ini, Rezim SBY JK justru melakukan kebijakan yang
kontradiktif, antaralain:
1. Menaikkan Suku Bunga Indonesia menjadi 9,5%.
2. Menghapus Pajak Eksport CPO (Crude Palm Oil).
3. Menghapuskan Upah Minimum Provinsi dan Membatasi Kenaikan Upah sebesar 6%
(SKB 4 Menteri).
4. Buy Back perusahaan Negara dengan tujuan untuk mengamankan harga saham
perusahaan yang diprivatisasi.
5. Bailout terhadap perusahaan swasta yang utang dan harga sahamnya anjlok.
6. Ekspor Jasa Kena Pajak (JKP) atau Barang Kena Pajak (BKP) yang tak berwujud
akan dikenakan PPN 0%.
Akibat dari krisis ekonomi (II) dan solusi (Jahat) Rezim SBY JK tersebut,
antaralain:
1. Cadangan Devisa terkuras baik untuk membayar bunga utang sebesar 9,5%, Buy
Back maupun Bail Out. Itulah mengapa dalam 4 hari (24 27 Oktober 2008)
cadangan devisa terkuras sebesar $ 4,2 Miliar US . Dengan menipisnya cadangan
devisa Negara, maka neraca keuangan menjadi lemah dan ini berakibat hancurnya
nilai rupiah. Berharap mendapatkan suntikan invetasi dengan menaikkan suku
bunga dan melakukan buy back akan tetapi justru Negara kehilangan devisa.
Investor asing akan terus menjual saham-sahamnya karena dengan rendahnya daya
beli masyarakat pasar saham menjadi tidak memiliki perspektif. Untuk
mengamankan keuntungan itulah mereka menjual saham-saham mereka sesegera
mungkin.
2. SBI 9,5% akan memicu kredit macet dalam skala besar. Dan mengakibatkan
kehancuran bank dan bangkrutnya perusahaan.
3. Kas Negara semakin sedikit terlebih lagi karena pajak CPO (yang merupakan
salah satu pemasukan Negara) telah dihapus, dan rencananya Ekspor Jasa Kena
Pajak (JKP) atau Barang Kena Pajak (BKP) yang tak berwujud akan dikenakan PPN
0%.
4. Hancurnya rupiah terhadap Dollar US, Yen maupun Euro akan menghancurkan
nilai impor (Nilai impor Indonesia per September 2008 mengalami penurunan 5,53
persen, senilai USD11,21M). Saat ini, Indonesia masih tergantung pada Import,
dan melemahnya rupiah terhadap mata uang asing membuat harga bahan-bahan
mentah, energy, maupun teknologi yang di Import akan semakin mahal. Biaya
produksi yang mahal akan membuat harga suatu komoditi melambung tinggi diatas
daya beli yang rendah dan ini memicu kebangkrutan perusahaan yang bergantung
pada pinjaman terhadap bank dan import bahan mentah.
5. Penghapusan Upah Minimum Provinsi yang dianggap bisa menyelamatkan
perusahaan dan membuat para investor asing tersebut tidak gulung tikar atau
lari tunggang langgang justru membuat tingkat daya beli kaum pekerja semakin
rendah. Pada triwulan ketiga 2008 daya beli pekerja minus sampai 19,15 persen
dari upah. Jadi sesungguhnya, obat pemerintah ini justru mempercepat
kebangkrutan perusahaan itu sendiri.
6. Sehingga, PHK Massal, dan Melonjaknya harga BBM dan kebutuhan pokok
merupakan hasil dari krisis dan solusi jahat ala rezim SBY-JK.
Dalam hal ini, Kami Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi Politik Rakyat
Miskin (LMND PRM) menuntut:
Gulingkan Pemerintahan Agen Penjajah dan Bangun Pemerintahan Persatuan Rakyat
MiskinTurunkan harga BBM dan bahan kebutuhan pokokTolak SKB 4
MenteriNasionalisasi Perbankan, Industri Pertambangan, Migas dan
perusahaan-perusahaan bangkrut.Pajak 5% untuk transaksi jual-beli
saham.Turunkan Suku Bunga IndonesiaTarik Surat Utang Negara (SUN)Hapuskan Utang
luar negeriTarik Obligasi Rekapitalisasi PerbankkanTangkap, adili dan sita
harta koruptor, pelaku kredit macet dan sita aset-asetnya.Jangan gunakan dollar
dalam transaksi dalam negeri.Lawan Sisa OrBa, Militer dan Reformis
Gadungan.Tolak aktifis penipu rakyat.
Kami juga mengajak kepada seluruh Rakyat dan Gerakan Rakyat untuk: Membangun
Konsolidasi-Konsolidasi Demokratik sebagi basis PersatuanMembangun Persatuan
Gerakan (Non Kooptasi-Kooperasi) sebagai basis kekuatan melawan Dominasi
Penjajah dan Pemerintahan Agen Penjajah.Membangun Posko-Posko Perlawanan di
Kampung, Pabrik dan Kampus.Membangun Panggung-Panggung Politik bersama sebagai
ajang penyadaran dan pelipatgandaan kekuatan.Melakukan Aksi Bersama ke
DPR/MPR/DPRD, Istana, Gubernus, Walikota, Bursa Efek Indonesia, World Bank.
Yogyakarta, 06 November 2008
Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi-Politik Rakyat Miskin (LMND-PRM)
Paulus Suryanta
Juru Bicara
--
Posting oleh ARAH GERAK ke ARAH GERAK pada 11/07/2008 02:40:00 AM
PEMILU 2009 BUKAN JALAN KELUAR RAKYAT MISKIN!
PEMILU 2009 HANYA PEMILU BAGI PARTAI POLITIK KAUM MODAL/PARTAI PRO
NEOLIBERALISME!
PEMILU 2009 AKAN MENGHASILKAN PEMERINTAHAN BARU PRO NEOLIBALISME!
AYO BERSATU, BANGUN KEKUATAN, LAWAN KAUM MODAL DAN ANTEK-ANTEKNYA!
BERSATU, GULINGKAN PEMERINTAHAN KAUM MODAL, GAGALKAN PEMILU, BENTUK
PEMERINTAHAN RAKYAT MISKIN!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/