Jurnal Toddopuli:
POUBELLE
[Cerita Untuk Anak-anakku]
Kalau George Eugène Haussmann [1809-1891 selaku walikota Paris berjasa menata
Paris secara artistik, maka Eugène Réné Poubelle, bupati daerah Seine pada abad
ke-19, pinggiran kota Paris, mempunyai jasa lain yang unik, dihargai yang
membuat ia dikenang sampai sekarang oleh penduduk seluruh Perancis.
Apakah jasa Eugène Réné Poubelle? Jasa Poubelle, demikian ia kemudian
diucapkan sampai sekarang oleh hampir semua bibir dari segala lapisan
masyarakat, terletak pada prakarsanya menciptakn sistem pembuang sampah yang
berton-ton saban hari.
Masalah sampah yang keluar dari setiap rumah, perusahaan-perusahaan, toko-toko,
hotel-hotel dan pabrik memerlukan perhatian dan penanganan khusus terutama oleh
pemegang kekuasaan di berbagai tingkat. Untuk melukiskan keseriusan masalah
sampah ini , di sini aku ingin menceritakan beberapa contoh.
Pada suatu hari, dan tentu kejadian begini bukan terjadi sekali dua kali,
ketika aku datang ke Koperasi sepanjang jalan menuju Koperasi Restoran
Indonesia Paris, aku menyaksikan tong-tong sampah masih berada di beranda
gedung-gedung, termasuk di beranda Restoran kami. Keesokan dan lusanya,
tong-tong sampah yang jumlahnya terus-menerus bertambah, masih saja berada di
semua beranda dan pinggiran jalan. Sehari saja sampah-sampah itu tidak
diangkut maka ia akan membusuk oleh suatu proses peragian. Bau busuk yang tidak
menyenangkan ini pasti akan sangat mengganggu kenyamanan serta kesehatan.
Apalagi jika sampaai tiga hari sampah-sampah itu tidak diangkut oleh barisan
kebersihan kota, maka seluruh kota atau kartir menjadi kartir atau kota berbau
busuk. Selain itu pemandangan kota pun akan berobah menjadi kot tumpukan
sampah. Karena itu seluruh penduduk akan segera memprotes penyelenggara
administrasi kota jika masalah sampah ini tidak diselesaikan
sesegera mungkin dan berdampak pada posisi penyelenggara administrasi itu pada
periode pemilu berikutnya. Jika terus dibiarkan maka pasti jalan-jalan akan
gemuruh oleh teriakan dan duyunan perkasa para pengunjuk rasa dari segala
lapisan masyarakat yang menyerukan "A bas" [Turun dari panggung administrasi].
Kali lain aku juga pernah berkali--kali menyaksikan peomogokan tukang sapu
keteta-api bawah tanah yang disebut metro, kota Paris. Di kade-kade metro
sampah bertumpuk dan berhamburan. Sebagai taktik pemogokan dan alat menekan
penyelenggara administrasi kota, para tukang sapu pemogok, memungut sampah dari
luar dan menaburnya di kade-kade metro sehingga jumlah sampah kian
bertambah.Dalam situasi begini,tidak jarang kita melihat sambil
tersenyam-senyum para wisatawan dan penumpang metro, mencari sapu untuk
menyisihkan sampah-sampah tersebut ke pinggir. Tentu saja, cara ini hanyalah
cara penyelesaian tambal-sulam karena segera jumlah akan kembali meningkat dan
bertaburan di kade-kade.
Tukang sapu metro bukanlah kalangan masyarakat dari tingkat elite. Umumnya
berasal dari para imigran yang kulit mereka berwarna-warni, tapi tidak pernah
kulihat ada orang asal Asia di antara mereka, seperti juga sangat sangat langka
ada gelandangan asal Asia. Mereka menggunakan seragam kuning hijau daun karena
itu disebut "Pasukan atau Barisan Hijau". Mereka merupakan pegawai resmi dari
kotapraja. Pada hari-hari biasa, ketika mereka tidak melancarkan pemogokan,
umumnya dengan tuntutan kenaikan gaji dan perbaikan syarat kerja, orang-orang
tidak memandang mereka dengan sepicing mata. Mereka baru dipandang ketika
mereka melancarkan pemogokan. Pemerintah kotapraja pun akhirnya mereka paksa
untuk berunding dan biasanya perundingan selalu berakhir dengan kemenangan para
tukang sapau pemogok. Keadaan ini mengingatkan aku akan premis Mao Zedong dan
pemikir-pemikir Marxis lainnya bahwa "masaa dan hanya massalah sesungguhnya
yang pahlawan sejati. Massa adalah
motor perkembangan maju sejarah". Pemerintah kotapraja tunduk pada tuntutan
para tukang sapu yang bersatu dan terorganisasi, apakah ini bukannya
memperlihat kemampuan kebersamaan rakyat kecil yang membela kepentingan diri
mereka dan mencintai kehidupan? Permogokan adil mereka termasuk pemogokan yang
tidak pernah kalah, tapi dilancarkan dengan prinsip adil dan tahu batas. Untuk
menghadapi tekanan para pekerja dengan senjata pemogokannya maka pemerintah
NicolasSarkozy, presiden Perancis sekarang, membuat undang-undang yang mencoba
mengatasi pemogokan dan tentu saja mengundang badai pengunjuk rasa. Pemogokan
adalah senjata perjuangan kaum pekerja di masyarakat demokratis. Ternyata,
penyelenggara negara pun ada yang berkualitas sampah dan yang menyampahkan diri
dengan pilihan politiknya.
Selain sampah, pembuangan air besar dari kota-kota, juga sebenarnya bukanlah
merupakan soal kecil. Jacques Chirac ketika menjadi walikota Paris, sebelum
menjadi presiden untuk dua periode, pernah diprotes oleh Komune pinggiran Paris
karena menjadikan Komune mereka sebagai akhiran pembuangan kotoran besar dari
Paris.
Poubelle sebagai bupati pada zamannya juga menghadapi masalah sampah ini. Untuk
mengatasinya maka pada tahun 1884, menciptakan suatu sistem pembuangan sampah
di wilayah kuasanya. Ia menciptakan sebuah tong khusus berwarna hijau, tempat
menaruh sampah.Semua pihak, tanpa kecuali, harus menaruh sampah di dalam tong
dari plastik ini. Tong ini diberikan kepada semua pihak secara gratis oleh
kotapraja. Tong sampah ini kemudian, sampai sekarang disebut "poubelle".
Dalam perkembangan terakhir, untuk kepentingan pendauran ulang di masyarakat
industri, maka kertas-kertas, botol dan baterei disediakan "pubel" [poubelle]
tersendiri demi memudahkan pendauran ulang. Oleh adanya daun ulang ini, maka
dikatakan sebagai suatu "kekayaan" dan bukan sampah dalam artian barang tak
berguna.
Bagaimana kita memandang sampah di Indonesia?
Untuk menjawab pertanyaan ini, aku ingin mengambil apa yang kusaksikan di
beberapa tempat di Indonesia.
Di Klaten, misalnya, ada sebuah tempat khusus untuk membuang sampah. Sampah
ditumpuk begitu saja dan ketika membusuk menyebarkan bau tak nyaman di
sepanjang jalan dan beberapa kilometer dari tempat penumpukan sampah
itu. Sampah adalah sampah. Sungai kecil Karang Anom berair jernih mengalir
dari Merapi membelah beberapa kota kecamatan, juga penuh kotoran segala ragam.
Sungai dan sampah belum dilihat sebagai suatu kekayaan atau kekayaan potensial.
Sampah masih dipandang tak lebih dari sampah. Dipandang tanpa tanya. Otak
menjelma sebagai mata mandau ditumpulkan sampah, ungkapan dari kadar diri
sebagai manusia. "Ternyata/ Aku hanyalah seoang pengembara", ujar sobatku
penyair Ramadhan KH dari Tanah Sunda. Membuat variasi dari kalimat ini, aku
ingin mempertanyakan pada diri bahwa "Apakah diriku ternyata bukan hanyalah
segundukan sampah?". Saban bertemu sungai dan laut, sungai dan laut yang
adalah ibu pengasuh kanakku, selalu mengusik dengan
sekian tanya.
Di Kalimantan, Tengah, terutama di Palangka Raya, sampah-sampah kota ditumpuk
di suatu tempat di pinggiran kota, lalu dibakar setelah kering. Sedang
sampah-sampah dari lingkungan keluarga-keluarga, umumnya dibakar di halaman .
Aku tidak melihat sebagai suatu hal umum bahwa daun-daun itu bisa dijadikan
sebagai kompos yang berguna untuk bercocok tanam. Aku bisa mempertanyakan hal
ini karena ketika aku menjadi petani di Republik Rakyat Tiongkok, aku pernah
menggunakan sampah dari segala jenis sampah dan yang disampahkan, sebagai
sesuatu yang berguna untuk bertani. Berguna untuk menyuburkan segala jenis
tanaman yang kurawat di segala musim sehingga aku sampai pada konsep bahwa
sampah dan yang disampahkan sesungguhnya suatu kekayaan potensial. Sampah
adalah bagian dari kehidupan , karena itu jika demikian pertanyaannya bagaimana
bagian ini bisa bermanfaat bagi kehidupan. Pertanyaan ini tidak akan muncul dan
apalagi terjawab jika kita menyampahkan
diri.
Sedangkan di Pejompongan Jakarta Pusat, sebuah kali kecil yang membelah kota,
kalau kita berdiri di jembatan di atasnya , kita akan sulit membedakan apakah
sungai kecil ini sebuah comberan, peceran atau sebuah sungai yang berharga bagi
kehidupan manusia. Padahal sejak bocah di Katingan, aku sangat paham arti air
dan sungai bagi kehidupan. Pulang-pulang kulihat Katingan dan sungai tak obah
seorang ibu diperkosa oleh anak kandungnya sendiri. Kerusakan sungai
Pejompoongan yang dijadikan sejenis "poubelle" hanya menunjukkan seriusnya
kerusakan lingkungan dan gawatnya masalah air bersih serta rendahnya kesadaran
lingkungan kita. Sungai kecil Pejompongan atau Ciliwung yang membelah Jakarta
Pusat, hanyalah salah satu lambang kerusakan Indonesia. Saban melewatinya, aku
sering berdiri sejenak memandang air hitamnya bau peceren, mengamati semua
sampah dan kotoron yang tersangkut di pinggir atau di tengah sungai karena
arus pun tak sanggup menyeret mereka.
Terasa seakan ada analogi sungai Pejompongan dan Jakarta. Di sungai apak ini
kulihat satu sisi wajah negeri dan bangsaku bahkan diriku sendiri yang adalah
anak sungai, laut dan gunung. Anak alam.
Bandung, yang dahoeloe disebut "Parijs van Java", pun, ketika aku singgah di
kota ini tahun 2007 lalu, pernah ribut karena soal sampah juga. Bantuan dari
Jepang untuk menanganinya masuk kocek penyelenggara administrasi.
Pasti Poubelle dari kabupaten Seine pada 1884 sudah menyadari arti masalah
sampah dan mencoba memecahkannya. Pemecahannya yang diterapkan oleh Poubelle
masih dilakukan sampai sekarang. Sedangkan kita? Sedangkan Indonesia,
apa-bagaimana konsep sampahnya?
Sampah dan penyelesaiannya adalah sebuah masalah besar bagi masyarakat di mana
pun. Sampah adalah sebuah pertanyaan besar bagi Indonesia. Bahkan dijadikan
tempat pembuangan sampah oleh negeri lain. Dari sampah yang belum tertangani
ini, aku melihat sebagian wajah negeri dan bangsaku. Juga kulihat wajah diriku
yang disampah-sampahkan selama beberapa dasawarsa. Aku saja yang tegas menolak
diri menjadi sampah karena ingin menjadi manusia dengan kadar manusiawi, kadar
"naga" dan "enggang" jika menggunakan ungkapan manusia Dayak. Kalian,
anak-anakku, apakah kalian mau menjadi "enggang" , menjadi "naga" ataukah
sampah dan disampah-sampahkan atau menyampahkan diri sendiri sekalipun sederet
gelar akademi di depan nama kalian, sekian tanda pangkat jabatan di pundak
bajumu yang licin disterika barisan para pembantu, yang dibentak jika lupa
membawa tas kantor atau lalai menyemir sepatumu?
Sebagai ayah, tentu saja, aku tidak ingin kalian menjadi sampah atau
menyampahkan diri terbuka dan terselubung. Hakikat bisa ditutup lapisan emas
imitasi. Kemudian ketika imitasi itu luntur, hakekat memperlihatkan wajah diri
yang sejati. Maka , maknai nama kalian dengan hakekat, anak-anakku sayang
sebagaimana aku dan ibu kalian memaknai kata ayah dan ibu. Memaknai kata yang
diucap untuk tidak jadi sampah.
Sungai-sungai: Pejompongan, Ciliwung, Karang Anom dan Katingan terus mengalir,
hidup pun mengalir. Kita bagian dari sungai,entah sebagai sampah atau air
jernihnya, kalau bukan sungai itu sendiri sebelum malam kita tiba.Eugène Réné
Poubelle sudah menjawab untuk dirinya sebagai pribadi dan penyelenggara
administrasi sekalipun poubelle sekarang berkonotasi tong sampah, tong sampah
yang bisa mengacaukan kehidupan dan masyarakat jika ia tak ada . Sampah adalah
persoalan hakiki dan nilai yang sering tidak kita lirik ketika nyaman berada di
ruang ber-ac. Kita memang suka lupa. Lupa diri dan lupa menanyai diri. ***
Perjalanan Kembali Musim Dingin, 2008
------------------------------------------------------
JJ.Kusni
How do I save my mobile phone if it falls into water?
[Non-text portions of this message have been removed]