Sebagai salah satu imbalannya, Indonesia bisa meminta alih teknologi
satelit, sambil terus mengembangkan teknologi satelit yang sudah ada didalam
negeri.

-----------------------------------
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/07/15244324/ukraina.incar.indonesia.untuk.peluncuran.satelit
.


*Ukraina Incar Indonesia untuk Peluncuran Satelit*


JAKARTA, JUMAT - Pascapecahnya Uni Soviet, negara-negara Asia Timur yang
kini paling maju di bidang antariksa adalah *Rusia* dan *Ukraina*. Kedua
negara itu kini mengincar *Indonesia *yang letak geografisnya paling ideal
bagi peluncuran satelit dan karena negara di khatulistiwa ini tengah gencar
mengembangkan teknologi ruang angkasa.

Pada 2007 tercapai kesepakatan antara dua kepala negara Indonesia dan Rusia
untuk mengembangkan teknologi tersebut. Langkah itu diikuti Ukraina, yang
pernah meluncurkan satelit komunikasi Garuda-1 seberat 4 ton dengan roket
protonnya, pada awal dasawarsa 2000-an.

Penandatanganan naskah kerja sama Indonesia-Ukraina dilaksanakan di Jakarta,
Kamis (6/11), diwakili Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
(Lapan) Adi Sadewo Salatun dan General Director National Space Agency of
Ukraine (NSAU) Yuriy S Alexeyev.

Dijelaskan Adi, kerja sama kedua pihak dapat dilakukan antara lain dalam
bidang ilmu antariksa dasar, meteorologi dan geofisika antariksa, astronomi,
astrofisika, pengembangan dan fabrikasi satelit, pengembangan sistem
penginderaan jauh dan telekomunikasi antariksa.

Menurut Yuriy, pada persetujuan tersebut hal-hal yang dapat dilakukan,
antara lain, pelaksanaan proyek antariksa bersama, pelatihan personel,
pertukaran ilmuwan dan teknisi, pertukaran informasi; hasil percobaan; dan
peralatan, serta pengembangan bersama peluncur dan sistem antariksa lainnya.
Namun, untuk saat ini, ujarnya, Ukraina belum mengarah pada pemanfaatan
wilayah udara Indonesia sebagai tempat peluncuran roketnya.

Ditambahkan Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan, Soewarto Hardhienata,
kerja sama dengan NSAU ini harus mengacu pada beberapa pembatasan, karena
Ukraina berpegang pada kesepakatan dunia dalam pengawasan transfer teknologi
antariksa seperti yang tertuang dalam Missile Technology Controle Regime.

"Karena itu, berlaku larangan transfer barang dan komponen yang dapat
digunakan untuk pengembangan roket yang dapat menjangkau jarak 300 kilometer
ke atas dan membawa muatan minimal 500 kg," tutur Soewarto. (YUN)



Sumber : Kompas Cetak


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke