mustinye..JIL yg py salah satu slogan 'Memihak pada yang minoritas dan
tertindas' (ga peduli bener atau salah) WAJIB membela hak2 mpok wine. Tp knape
ye JIL cs diem aje, koq ga cocok ma slogannye hehe tanye deh knapeeee?!
Selasa, 11 November 2008 pukul 12:14:00
Mendobrak Fobia Jilbab Bersama Wine
Wine
Dwi Mandella. Nama gadis ini mengingatkan pada mantan istri tokoh
pejuang diskriminasi rasial di Afrika Selatan. Gadis inipun gigih
melawan diskriminasi yang dialaminya di Rumah Sakit Mitra Keluarga
Bekasi Barat, Jawa Barat. Bukan diskriminasi rasial, memang, tapi
diskriminasi mengenakan pakaian sesuai hati nurani: jilbab.
Apa yang dialami Wine bukan terjadi pada era 1980-an, ketika cengkeraman
Islamophobia masih kuat. Wine justru mengalami perlakuan itu pada 2008, ketika
Islamophobia telah lama mundur dari pentas; ketika karyawati berjilbab sudah
menjadi pemandangan biasa.
Kisah
malang yang menimpa Wine terjadi tujuh bulan lalu. Ketika itu, perawat
di Bagian Fisioterapi, Departemen Rehab Medik, RS Mitra, ini, masuk
kantor mengenakan pakaian dinas yang dilengkapi jilbab dan manset.
''Saya absen pukul 08.00 WIB. Pukul 09.00, saya dipaksa membuat surat
pengunduran diri,'' tutur gadis 26 tahun ini, getir.
RS Mitra
menganggap gadis berusia 26 tahun ini melanggar peraturan perusahaan
pasal 17 ayat 4.2 yang isinya: ''Memakai pakaian seragam kerja yang
telah ditetapkan berikut perlengkapannya yang sesuai dengan
perlengkapan di unit kerja masing-masing.''
Wine sempat
bersitegang dengan Manager HRD RS Mitra, E Setyodewi. ''Saya
menggunakan pakaian seragam kerja. Hanya saya tambahkan manset warna
kulit, serta jilbab warna rambut (hitam), agar tidak terlalu
mencolok,'' katanya.
Tapi, Wine mengaku terus ditekan. ''Dewi
bicara dengan mata melotot, berkacak pinggang, dan sambil menggebrak
meja dia mengancam akan mem-black list nama saya dari seluruh rumah sakit di
Jakarta.''
Wine
kemudian dipaksa membuat surat pengunduran diri. ''Saat itu saya
membuat surat pengunduran diri dengan alasan dikeluarkan karena tidak
boleh menggunakan jilbab saat bekerja,'' katanya kepada Republika di rumahnya,
di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Tapi,
Setyorini menilai pernyataan Wine terlalu ekstrem. Wine kemudian
diminta membuat surat pengunduran diri tanpa disertai alasan. Wine
menolak. Dia meninggalkan tempat itu usai meninggalkan kartu pegawai,
kartu HMO (kartu berobat), dan kunci loker yang dirampas.
Selanjutnya,
RS Mitra mengirimkan surat beberapa kali ke rumah Wine, diakhiri dengan
surat keputusan bahwa Wine dianggap telah mengundurkan diri karena
mangkir selama lima hari kerja tanpa keterangan. ''Sudah jelas ini
permainan pihak rumah sakit, karena mereka tidak mau melakukan
pemecatan pada karyawannya,'' kata anak kedua dari empat bersaudara ini.
Buka-pasang
Wine
menjadi karyawan RS Mitra sejak 2004. Dia mulai mengenakan jilbab pada
2005. Karena RS Mitra melarang perawatnya berjilbab, selama tiga tahun
dia hanya mengenakan jilbab saat berangkat dan pulang kerja. ''Batin
saya terus bergolak, namun tak berani melawan,'' kata Wine.
April
2008, Wine menunaikan ibadah umrah bersama keluarga. Saat itulah, Wine
mendapatkan ketetapan hati untuk berjilbab dalam segala keadaan. Tapi,
baru satu hari mengenakan jilbab, vonis pun jatuh.
Diperlakukan
tidak adil, Wine mengontak Tim Pengacara Muslim (TPM). Anggota TPM,
Budi Santoso, menilai RS Mitra tidak adil. ''Mereka tidak mau memecat
karyawan karena tidak ingin namanya jelek di mata masyarakat yang
mayoritas Muslim. Atau, bahkan enggan memberi pesangon,'' kata Budi.
Kepala
Disnaker Kota Bekasi, Agus Darma Suwandi, mengatakan RS Mitra telah
menerapkan aturan yang bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan. Dia
menilai, Wine telah memenuhi ketentuan berseragam di RS itu, meski
ditambah jilbab dan manset. ''Lagi pula, tidak ada aturan spesifik
pekerja dilarang mengenakan jilbab,'' kata Agus.
Kendati
merasa mulai enggan kembali bekerja di RS Mitra, dia kini ingin
memperjuangkan sesuatu yang melebihi kepentingannya. ''Teman-teman
ingin berjilbab, namun mereka takut. Saya kasihan melihat kebebasan
kita diinjak-injak. Maka, saya memutuskan untuk berjuang bagi mereka,''
kata Wine.
Ayah Wine, Ridwan Santoso, mengaku akan terus
memerkarakan masalah yang menimpa Wine hingga RS Mitra mengizinkan
karyawannya berjilbab. ''Kami dizalimi. Pihak RS sangat arogan. Kami
akan terus berjuang demi tegaknya kebenaran,'' kata Ridwan.
Sampai
pekan lalu, Setyodewi tetap berkeras bahwa Wine-lah yang mengundurkan
diri karena tak dapat mematuhi aturan perusahaan. Setyodewi menyatakan
Wine akan kembali diterima bekerja di Grup RS Mitra dengan berjilbab.
''Maka, permasalahan kami anggap telah selesai,'' ungkap Dewi dalam press
release, Ahad (30/11).
Ke pengadilan
Kemarin,
Senin (10/11), kembali dilakukan pertemuan antara Komisi D DPRD,
Disnaker, Wine, TPM, dan RS Mitra. Sedianya, pertemuan itu menjadi
pertemuan pamungkas. Tapi, kasus ini malah berlanjut ke Pengadilan
Hubungan Industrial.
Pengacara RS Mitra, Sonny Martakusuma,
mengatakan kasus Wine hanya masalah persepsi. ''Pihak Wine merasa
di-PHK, sedangkan RS Mitra menganggap Wine resign,'' katanya. Dia menilai
masalah tersebut murni masalah ketenagakerjaan, bukan diskriminasi.
Mengenai
penerimaan Wine untuk kembali bekerja, Sonny menjelaskan bahwa jabatan
lama Wine di RS Mitra sudah diisi orang lain. Wine, kata dia, akan
dipekerjakan kembali --dengan mengenakan jilbab dan manset-- di
perusahaan lain yang juga satu grup dengan RS Mitra. Perusahaan
tersebut bergerak di bidang penyedia kebutuhan rumah sakit mitra grup,
yaitu PT Estetika Interpresindo.
Menurut Sony, Wine akan tetap
menerima gaji dan seluruh fasilitas, termasuk promosi, seperti
sediakala. ''Mutasi ini tidak ada hubungannya dengan jilbab,'' katanya.
Sonny juga mengatakan RS Mitra hanya membicarakan Wine, dan bukan
pekerja lainnya.
TPM dan Wine menolak tawaran itu. Budi Santoso
meminta Wine dipekerjakan kembali sebagai karyawan Bagian Fisioterapi
RS Mitra, sesuai keahliannya. Selain itu, TPM juga mengatakan bahwa
perilaku diskriminatif masih terjadi jika pemakaian jilbab hanya untuk
Wine.
Thorik A Thalib dari TPM menilai persoalan Wine, mau
tidak mau, sudah berkembang menjadi persoalan keyakinan bersama yang
diganggu. Dia mempertanyakan motif RS Mitra yang terkesan memperpanjang
persoalan. ''Sepertinya RS Mitra beriktikad abu-abu.''
Tarik-ulur
yang dilakukan RS Mitra tersebut membuat persoalan Wine memang bukan
persoalan pribadi lagi. Kini, mulai bermunculan solidaritas membela
hak-hak berjilbab. Kemarin, puluhan orang yang mengatasnamakan diri
Forum Peduli Jilbab (FPJ), melakukan aksi. Mereka menuntut RS Mitra
memperbolehkan tenaga kerja memakai jilbab.
Kadisnaker Bekasi,
Agus Darma Suwandi, menyatakan mutasi tidak boleh dilakukan agar
karyawan tidak kerasan dan keluar dari perusahaan. ''Seragam itu wajib,
jilbab itu hak, jadi seharusnya RS Mitra memerhatikan hak seluruh
pekerjanya,'' tandas Agus.
[Non-text portions of this message have been removed]