Bung Pitung,katanya sesame muslim itu kan sodare,kok saling leceh-melecehin siy ? Bukannye saling mengingatkan tuh harus dengan kesabaran dan kasih sayang, gimane neh Bang ? Ntar,ada penonton yang tepuk tangan,lho!
Salam Rusw > mulai deh, jurus 'ular berkpale due'nya dikluarin > > klo jilbab dilarang aje, komentarnye, "Gak penting babar blas!! urusan > jilbab aja pakai heboh > kayak urusan bangsa dan negara . Kalau gak boleh pakai jilbab ya pindah > kerja aja. Gitu aja kok repot... > wuakakkakakak!" > > tp klo urusan orang berbikini seliar2nye, pornografi, pendirian gereja > seeunaknye aje, melecehkan akidah islam kaya' ahmadiyh, ente dukung .. > > wkaka dimas dimas..cucian dech wartawan ga kelas :p > > > > > > > ________________________________ > From: masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Wednesday, November 12, 2008 8:04:09 PM > Subject: [ppiindia] Re: Mendobrak Fobia Jilbab Bersama Wine > > > Gak penting babar blas!! > urusan jilbab aja pakai heboh > kayak urusan bangsa dan negara > Kalau gak boleh pakai jilbab ya pindah kerja aja > Gitu aja kok repot... > wuakakkakakak. ... > > --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, si pitung <sipitung68@ ...> wrote: >> >> mustinye..JIL yg py salah satu slogan 'Memihak pada yang minoritas > dan tertindas' (ga peduli bener atau salah) WAJIB membela hak2 mpok > wine. Tp knape ye JIL cs diem aje, koq ga cocok ma slogannye hehe > tanye deh knapeeee?! >> >> >> >> Selasa, 11 November 2008 pukul 12:14:00 >> Mendobrak Fobia Jilbab Bersama Wine >> Wine >> Dwi Mandella. Nama gadis ini mengingatkan pada mantan istri tokoh >> pejuang diskriminasi rasial di Afrika Selatan. Gadis inipun gigih >> melawan diskriminasi yang dialaminya di Rumah Sakit Mitra Keluarga >> Bekasi Barat, Jawa Barat. Bukan diskriminasi rasial, memang, tapi >> diskriminasi mengenakan pakaian sesuai hati nurani: jilbab. >> >> Apa yang dialami Wine bukan terjadi pada era 1980-an, ketika > cengkeraman Islamophobia masih kuat. Wine justru mengalami perlakuan > itu pada 2008, ketika Islamophobia telah lama mundur dari pentas; > ketika karyawati berjilbab sudah menjadi pemandangan biasa. >> >> Kisah >> malang yang menimpa Wine terjadi tujuh bulan lalu. Ketika itu, perawat >> di Bagian Fisioterapi, Departemen Rehab Medik, RS Mitra, ini, masuk >> kantor mengenakan pakaian dinas yang dilengkapi jilbab dan manset. >> ''Saya absen pukul 08.00 WIB. Pukul 09.00, saya dipaksa membuat surat >> pengunduran diri,'' tutur gadis 26 tahun ini, getir. >> >> RS Mitra >> menganggap gadis berusia 26 tahun ini melanggar peraturan perusahaan >> pasal 17 ayat 4.2 yang isinya: ''Memakai pakaian seragam kerja yang >> telah ditetapkan berikut perlengkapannya yang sesuai dengan >> perlengkapan di unit kerja masing-masing. '' >> >> Wine sempat >> bersitegang dengan Manager HRD RS Mitra, E Setyodewi. ''Saya >> menggunakan pakaian seragam kerja. Hanya saya tambahkan manset warna >> kulit, serta jilbab warna rambut (hitam), agar tidak terlalu >> mencolok,'' katanya. >> >> Tapi, Wine mengaku terus ditekan. ''Dewi >> bicara dengan mata melotot, berkacak pinggang, dan sambil menggebrak >> meja dia mengancam akan mem-black list nama saya dari seluruh rumah > sakit di Jakarta.'' >> Wine >> kemudian dipaksa membuat surat pengunduran diri. ''Saat itu saya >> membuat surat pengunduran diri dengan alasan dikeluarkan karena tidak >> boleh menggunakan jilbab saat bekerja,'' katanya kepada Republika di > rumahnya, di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. >> >> Tapi, >> Setyorini menilai pernyataan Wine terlalu ekstrem. Wine kemudian >> diminta membuat surat pengunduran diri tanpa disertai alasan. Wine >> menolak. Dia meninggalkan tempat itu usai meninggalkan kartu pegawai, >> kartu HMO (kartu berobat), dan kunci loker yang dirampas. >> >> Selanjutnya, >> RS Mitra mengirimkan surat beberapa kali ke rumah Wine, diakhiri dengan >> surat keputusan bahwa Wine dianggap telah mengundurkan diri karena >> mangkir selama lima hari kerja tanpa keterangan. ''Sudah jelas ini >> permainan pihak rumah sakit, karena mereka tidak mau melakukan >> pemecatan pada karyawannya, '' kata anak kedua dari empat bersaudara >> ini. >> >> Buka-pasang >> Wine >> menjadi karyawan RS Mitra sejak 2004. Dia mulai mengenakan jilbab pada >> 2005. Karena RS Mitra melarang perawatnya berjilbab, selama tiga tahun >> dia hanya mengenakan jilbab saat berangkat dan pulang kerja. ''Batin >> saya terus bergolak, namun tak berani melawan,'' kata Wine. >> >> April >> 2008, Wine menunaikan ibadah umrah bersama keluarga. Saat itulah, Wine >> mendapatkan ketetapan hati untuk berjilbab dalam segala keadaan. Tapi, >> baru satu hari mengenakan jilbab, vonis pun jatuh. >> >> Diperlakukan >> tidak adil, Wine mengontak Tim Pengacara Muslim (TPM). Anggota TPM, >> Budi Santoso, menilai RS Mitra tidak adil. ''Mereka tidak mau memecat >> karyawan karena tidak ingin namanya jelek di mata masyarakat yang >> mayoritas Muslim. Atau, bahkan enggan memberi pesangon,'' kata Budi. >> >> Kepala >> Disnaker Kota Bekasi, Agus Darma Suwandi, mengatakan RS Mitra telah >> menerapkan aturan yang bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan. Dia >> menilai, Wine telah memenuhi ketentuan berseragam di RS itu, meski >> ditambah jilbab dan manset. ''Lagi pula, tidak ada aturan spesifik >> pekerja dilarang mengenakan jilbab,'' kata Agus. >> >> Kendati >> merasa mulai enggan kembali bekerja di RS Mitra, dia kini ingin >> memperjuangkan sesuatu yang melebihi kepentingannya. ''Teman-teman >> ingin berjilbab, namun mereka takut. Saya kasihan melihat kebebasan >> kita diinjak-injak. Maka, saya memutuskan untuk berjuang bagi mereka,'' >> kata Wine. >> >> Ayah Wine, Ridwan Santoso, mengaku akan terus >> memerkarakan masalah yang menimpa Wine hingga RS Mitra mengizinkan >> karyawannya berjilbab. ''Kami dizalimi. Pihak RS sangat arogan. Kami >> akan terus berjuang demi tegaknya kebenaran,'' kata Ridwan. >> >> Sampai >> pekan lalu, Setyodewi tetap berkeras bahwa Wine-lah yang mengundurkan >> diri karena tak dapat mematuhi aturan perusahaan. Setyodewi menyatakan >> Wine akan kembali diterima bekerja di Grup RS Mitra dengan berjilbab. >> ''Maka, permasalahan kami anggap telah selesai,'' ungkap Dewi dalam > press release, Ahad (30/11). >> >> Ke pengadilan >> Kemarin, >> Senin (10/11), kembali dilakukan pertemuan antara Komisi D DPRD, >> Disnaker, Wine, TPM, dan RS Mitra. Sedianya, pertemuan itu menjadi >> pertemuan pamungkas. Tapi, kasus ini malah berlanjut ke Pengadilan >> Hubungan Industrial. >> >> Pengacara RS Mitra, Sonny Martakusuma, >> mengatakan kasus Wine hanya masalah persepsi. ''Pihak Wine merasa >> di-PHK, sedangkan RS Mitra menganggap Wine resign,'' katanya. Dia > menilai masalah tersebut murni masalah ketenagakerjaan, bukan > diskriminasi. >> >> Mengenai >> penerimaan Wine untuk kembali bekerja, Sonny menjelaskan bahwa jabatan >> lama Wine di RS Mitra sudah diisi orang lain. Wine, kata dia, akan >> dipekerjakan kembali --dengan mengenakan jilbab dan manset-- di >> perusahaan lain yang juga satu grup dengan RS Mitra. Perusahaan >> tersebut bergerak di bidang penyedia kebutuhan rumah sakit mitra grup, >> yaitu PT Estetika Interpresindo. >> >> Menurut Sony, Wine akan tetap >> menerima gaji dan seluruh fasilitas, termasuk promosi, seperti >> sediakala. ''Mutasi ini tidak ada hubungannya dengan jilbab,'' katanya. >> Sonny juga mengatakan RS Mitra hanya membicarakan Wine, dan bukan >> pekerja lainnya. >> >> TPM dan Wine menolak tawaran itu. Budi Santoso >> meminta Wine dipekerjakan kembali sebagai karyawan Bagian Fisioterapi >> RS Mitra, sesuai keahliannya. Selain itu, TPM juga mengatakan bahwa >> perilaku diskriminatif masih terjadi jika pemakaian jilbab hanya untuk >> Wine. >> >> Thorik A Thalib dari TPM menilai persoalan Wine, mau >> tidak mau, sudah berkembang menjadi persoalan keyakinan bersama yang >> diganggu. Dia mempertanyakan motif RS Mitra yang terkesan memperpanjang >> persoalan. ''Sepertinya RS Mitra beriktikad abu-abu.'' >> >> Tarik-ulur >> yang dilakukan RS Mitra tersebut membuat persoalan Wine memang bukan >> persoalan pribadi lagi. Kini, mulai bermunculan solidaritas membela >> hak-hak berjilbab. Kemarin, puluhan orang yang mengatasnamakan diri >> Forum Peduli Jilbab (FPJ), melakukan aksi. Mereka menuntut RS Mitra >> memperbolehkan tenaga kerja memakai jilbab. >> >> Kadisnaker Bekasi, >> Agus Darma Suwandi, menyatakan mutasi tidak boleh dilakukan agar >> karyawan tidak kerasan dan keluar dari perusahaan. ''Seragam itu wajib, >> jilbab itu hak, jadi seharusnya RS Mitra memerhatikan hak seluruh >> pekerjanya,' ' tandas Agus. >> >> >> >> >> >> [Non-text portions of this message have been removed] >> > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > >

