http://www.antara.co.id/arc/2008/11/15/presiden--arsitektur-keuangan-internasional-harus-diubah/

*Presiden : Arsitektur Keuangan Internasional Harus Diubah*


Washington, (ANTARA News) - *Presiden Susilo Bambang Yudhoyono* menegaskan
perlunya perubahan arsitektur keuangan internasional sebagai jalan untuk
mengatasi krisis keuangan global serta mempercepat pemulihan kepercayaan dan
melindungi sektor riil.

"Dalam pertemuan G-20 besok, saya akan menekankan pentingnya aksi yang
terkonsentrasi dan terkoordinasi baik nasional, regional, maupun global
untuk membangun kembali kepercayaan diri dan melindungi sektor riil," kata
Presiden saat menyampaikan pidato di depan sekitar 200 anggota US-Indonesia
Society (USINDO) di Washington, Jumat siang atau Sabtu dini hari Waktu
Indonesia Barat.

Presiden juga menegaskan bahwa dalam krisis keuangan ini, penting untuk
melindungi kaum miskin di negara-negara berkembang dengan mendorong anggaran
pembangunan yang berpihak kepada mereka.

Lebih lanjut, Presiden Yudhoyono menjelaskan, dalam pertemuan G-20 Sabtu
besok (15/11) pagi, dia juga akan mengusulkan perlunya penguatan dana
dukungan (support fund) global untuk membantu negara-negara berkembang
menjaga pertumbuhan perekonomian mereka dan pembangunan yang berkelanjutan.

"Dengan dana dukungan ini, negara-negara yang sedang berkembang khususnya
yang berada di Asia bisa menempatkan dirinya dengan lebih baik dalam
bertindak sebagai sebuah mesin bagi pertumbuhan ekonomi dunia," kata
Presiden.

Menurut Presiden, pendanaan ini memungkinkan terutama untuk menghidupkan
negara-negara dengan pendapatan menengah dan bisa melanjutkan kehidupannya
untuk paling tidak selama tiga tahun.

"Bila usulan ini disetujui, kami akan meminta Menteri Keuangan untuk
merumuskannya lebih detail dalam 100 hari ke depan," katanya.

Presiden Yudhoyono juga berharap, pertemuan G-20 yang akan dipimpin Presiden
George W Bush itu, bisa menjadi awal dari sebuah proses yang akan memulai
reformasi arsitektur finansial internasional, yang merefleksikan kenyataan
abad ke-21.

Pada bagian lain Presiden Yudhoyono menegaskan bahwa krisis finansial saat
ini dapat saja berdampak dengan rusaknya sumber daya alam sebagai bagian
dari proses terjadinya perubahan iklim.

Hal itu tidak boleh terjadi, karena rusaknya alam dapat berdampak jangka
panjang terutama bagi produksi pangan dunia. "Ini pun tidak boleh terjadi,"
katanya menegaskan.

Pada acara itu hadir juga sejumlah pejabat dari Indonesia seperti Menteri
Sekretaris Negara Hatta Radjasa, Menteri Keuangan/Pelaksana Tugas Menteri
Koordinator Perekonomian Sri Mulyani, Menteri Perdagangan Mari Elka
Pangestu, Ketua DPD Ginadjar Kartasasmita, dan Ketua Komisi I DPR Theo L
Sambuaga.

Hadir pula Presiden USINDO, David Merrill, Ketua Dewan Bisnis Amerika
Serikat-Indonesia dan Dewan Bisnis Amerika Serikat-ASEAN, William Beddow,
serta sekitar dua ratus undangan dari AS.(*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke