jika ada muslim yg mrasa tetep tentram, nyaman ktika Nabinya dihina, sdh seharusnya menengok ulang syahadatnya atau segera bersyahadat kembali.
Public Display of Affection http://akmal.multiply.com/journal/item/706 assalaamualaikum wr. wb. Di dunia Barat, istilah public display of affection (biasa disingkat PDA) biasanya berkaitan dengan demonstrasi kasih sayang secara fisik yang dipertunjukkan di depan umum, mulai dari berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dan sebagainya. Ada bentuk PDA yang dianggap wajar (misalnya berpegangan tangan, tentunya untuk suami-istri), ada pula yang melanggar batasan norma-norma budaya daerah tertentu dan agama. Di Paris, misalnya, berciuman di pinggir jalan bisa dibilang biasa-biasa saja. Tapi tentu tidak demikian halnya di Indonesia. Tapi bukan yang seperti ini yang ingin saya bicarakan. * * * * * * * Hari ini (19/11/08), mulai terdengar isu tentang sebuah blog yang menghina Rasulullah saw. Big deal! Hal semacam itu sudah biasa terjadi di dunia maya belakangan ini. Orang-orang yang benci dengan Islam biasanya selalu resah melihat kiprah umat Muslim, apalagi di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim seperti di Indonesia ini. Semakin umat Islam maju, semakin gelisah hatinya. Mereka sudah menjadi bulan-bulanan dari oknum yang sering mampir dan meninggalkan perasaan was-was dalam hatinya (lihat surah An-Naas). Dengan kondisi seperti itu, nampaknya hidup susah, tidur pun tak nyenyak. I feel sorry for them. Lalu apa bedanya dengan umat Islam seperti saya? Tentu beda, karena saya yakin Islam adalah agama satu-satunya yang benar, sementara yang lain tidak. Tapi keyakinan tersebut tidak dibungkus dengan kedengkian. Saya tidak menderita menyaksikan umat lain berprestasi. Toh, saya yakin mereka mencetak prestasi bukan karena agamanya. Bangsa-bangsa Barat yang kini sedang di atas angin pun tidak mencapai puncak kemajuan karena agamanya. Sebaliknya, era pencerahan (renaissance) terjadi di Eropa ketika semua orang sepakat untuk mengakhiri hegemoni Gereja. Berbeda dengan umat Islam yang mengalami era kegelapan tepat ketika agamanya ditinggalkan. Saya, dan umat Islam lainnya, merasa bangga menjadi Muslim, tanpa harus mengobok-obok urusan umat beragama lainnya. Tapi kejadian hari ini cukup menarik, karena blog yang dikabarkan kepada saya pagi ini berisikan komik yang menghina Rasulullah saw. Awalnya saya mengira komik yang dimaksud adalah karikatur yang pernah dimuat di beberapa harian di Eropa beberapa waktu silam. Tapi setelah saya cek sendiri, ternyata yang ini benar-benar komik (bukan karikatur) dan diberi teks berbahasa Indonesia (entah komik ini asli buatan orang Indonesia atau hanya diterjemahkan). Isinya seputar kisah dalam kehidupan Rasulullah saw. yang diputarbalikkan, sehingga nampak kesan bahwa beliau adalah seorang maniak seks dan pedofili. Barangkali momennya memang dianggap pas, karena bertepatan dengan gencarnya isu tentang pernikahan Pujiono-Ulfah dan dikait-kaitkan dengan pernikahan Rasulullah saw.-Aisyah ra. yang sering dikait-kaitkan dengan kasus pedofilia oleh kaum orientalis. Kalaulah bukan karena khawatir akan diprotes oleh sahabat-sahabat saya, tentu sudah saya berikan link menuju blog tersebut di sini. Tidak sedikitpun khawatir umat Islam akan berpaling dari Rasulullah saw. hanya karena komik mesum berselera rendah semacam itu. Umat Islam cukup mengenal Rasul kecintaannya, dan kedekatan hati antara umat dan pemimpinnya tidak akan hancur karena sebuah provokasi murahan. Kalau sekiranya Rasulullah saw. benar seorang maniak seks, tentu mayoritas istri pilihannya bukanlah janda-janda berusia lanjut. Banyak riwayat yang menceritakan betapa tampan dan rupawannya wajah Rasulullah saw., dan telah jelas pula bahwa beliau adalah orang yang berasal dari keluarga terpandang, dikenal karena akhlaq mulianya, dan jelas tidak bodoh dalam berbisnis. Hanya orang dengan kecerdasan minim sajalah yang akan sampai pada kesimpulan bahwa orang seperti Rasulullah saw. tak mampu mendapatkan gadis-gadis cantik, sekiranya memang ukuran-ukuran fisik yang menjadi kriteria utama dalam benak beliau. Dalam peristiwa Hijrah, seluruh dunia menyaksikan bagaimana sikap kaum Anshar menerima saudara-saudaranya yang menyeberangi samudera pasir demi aqidah. Kaum Muhajirin meninggalkan semua harta kekayaannya di Mekkah demi mendirikan sebuah peradaban baru di Madinatur-Rasul (yang kita kenal sebagai Madinah) bersama pemimpinnya yang paling dicintai. Kaum Anshar dengan sigap menyambut mereka. Rumah, kebun, ternak, siap untuk dibagi dua. Bahkan istri pun akan diceraikan demi saudara-saudaranya yang belum beristri. Meskipun pada akhirnya tawaran yang cukup ekstrem ini ditolak oleh kaum Muhajirin, tapi ini menunjukkan betapa solidnya ukhuwah di antara mereka. Nah, jika kepada saudara seiman yang baru berkenalan pun mereka siap untuk berbagi segalanya, apalagi dengan Rasulullah saw.? Jika Rasulullah saw. meminta istri-istri mereka, kemungkinan besar takkan ada yang menolak. Tapi kenyataannya, kesempatan ini tak diambil oleh beliau, karena beliau memang bukan maniak. Beda dengan Ghulam Ahmad al-kadzdzab yang mengamuk dan menebar laknat karena lamarannya tak diterima. Dan, karena Ghulam Ahmad hanya seorang pendusta, maka tentu saja sumpah serapahnya tidak jadi kenyataan. Umat Islam sangat mengenal Rasulullah saw., karena berita tentang beliau berlimpah ruah. Segudang informasi yang komprehensif tentu takkan bisa dihapus dengan mudah oleh secuil provokasi dari pihak-pihak yang bahkan tak punya nyali untuk mengungkapkan identitasnya. Terlalu banyak kebaikan Rasulullah saw. yang diabadikan dalam sejarah, sehingga tak mungkin umat Islam tersesat hanya karena setitik berita miring tentang dirinya. Tidaklah masuk akal jika ada seorang lelaki yang menolak tawaran malaikat untuk menimpakan gunung ke atas kepala kaum yang mencelakainya, namun ia punya kepribadian ganda sebagai seorang maniak seks dan pedofili. Teori yang ditawarkan oleh musuh-musuh Islam sangat tidak sinkron dengan karakter Nabi Muhammad saw. yang dikenal oleh seluruh dunia. Pada akhirnya, provokasi murahan hanya akan membuahkan predikat murahan bagi para pembuat dan penikmatnya. * * * * * * * Kembali pada topik public display of affection, sebenarnya ada hal lain yang menarik setelah blog provokasi itu dibaca oleh orang banyak. Yang terjadi justru munculnya gelombang pembelaan terhadap Rasulullah saw. dari umat Muslim, termasuk mereka yang sebelumnya dianggap abangan, atau tidak saleh-saleh amat.. Blunder semacam ini memang sudah dapat diprediksi sebelumnya, karena semua caci-maki terhadap Rasulullah saw. hanya akan memperkuat kecintaan umat Islam terhadap beliau. Masalahnya, umat Islam paling bodoh pun tahu bahwa cercaan mereka itu dusta belaka. Barangkali inilah momen yang tepat untuk melakukan public display of affection kita terhadap Rasulullah saw. Mempertunjukkan rasa cinta kepada Rasulullah saw. bisa dengan berbagai cara. Bisa dengan mengucap shalawat, melakukan pembelaan, dan yang lebih penting lagi, yaitu dengan melaksanakan semua ajaran beliau. Kalau orang Eropa tidak malu-malu mendemonstrasikan kasih sayangnya pada seseorang di tempat-tempat umum, maka tidak ada halangan bagi umat Islam untuk mempertunjukkan cintanya kepada Rasulullah saw. Tapi hal inilah yang sangat ditakutkan oleh negeri-negeri sekuler. Meskipun mereka bilang bahwa sekularisme menjamin kebebasan semua agama, tapi agama itu sendiri tak bisa bebas diekspresikan. Dengan alasan tidak ilmiah semacam itulah negeri-negeri Barat mendiskriminasikan Muslimah yang mengenakan jilbab. Kita bisa lihat sendiri betapa takutnya dunia ketika umat Islam melakukan public display of affection terhadap agamanya. Ketika mendengar nama Nabi disebut, kita sambut dengan membaca alaihissalaam atau shallallaahu alaihi wa sallam. Orang yang bersin langsung mengucap hamdalah dan disambut oleh saudara-saudaranya. Mereka yang takjub dengan kebesaran Allah akan berdecak kagum dengan mengucap subhaanallaah! atau maa syaa Allaah!. Mereka yang tersadar akan kekeliruannya sontak berkata astaghfirullaah!. Dan ketika terdengar adzan berkumandang, kita jawab setiap kalimat yang terlantun dari lidah muadzin. Musuh-musuh begitu takut melihat umat Islam yang begitu gamblang memperlihatkan kekokohan aqidah-nya. Oleh karena itu, perlihatkanlah! Saya teringat komentar seorang peserta debat di acara debat yang diliput di TVOne. Perdebatannya adalah seputar Ahmadiyah. Saya duduk di tribun kontra-Ahmadiyah, sedangkan ia duduk di tribun seberang. Di akhir acara, ia mendemonstrasikan kebodohannya dengan berkata, Rasulullah saw. takkan berkurang kemuliaannya meskipun ada orang yang menghina-hina beliau! Ini adalah argumen penutupnya untuk membela Ahmadiyah yang dianggap telah menodai kemuliaan Islam, Allah dan Rasul-Nya. Argumen ini sebenarnya mendemonstrasikan minimnya kecintaan kepada Rasulullah saw. Tentu saja Rasulullah saw. takkan menjadi hina hanya karena dihina, sebagaimana istri kita juga tidak menjadi pelacur hanya karena ada yang menyebutnya sebagai pelacur tanpa bukti nyata. Tapi kecintaanlah yang menyebabkan umat Islam begitu sigap membela Rasulullah saw. Dan ketidakcintaan sajalah yang menahannya untuk tidak memberikan perlawanan pada siapa pun yang menghina beliau. Sekaranglah saatnya kita mempertunjukkan cinta kita kepada Rasulullah saw. Karena itu, tunjukkanlah! wassalaamualaikum wr. wb [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

