Rabu, 19 Januari 2008. Jam 19.30 saya selesai mengajar di kelas 8A. Karena memang jam istirahat, saya langsung menuju ruang guru. Meja kerja saya terletak paling depan di sudut kiri. Berdampingan dengan pintu masuk ke perpustakaan. Setelah meletakan ransel di atas meja. Saya menemui Pak Tantan (Guru Fisika) untuk menjelaskan apa yang harus dikerjakan untuk Ujian Semester 15 Desember nanti. Pak Tantan meminta kertas HVS untuk pembuatan program.
09.35 Saya segera ke luar dari ruang guru untuk mengambil kertas di ruang tata usaha. Di pintu masuk saya berpapasan dengan Pak Iman. Saya terus berjalan tanpa menghiraukannya. Mengingat apa yang dia lakukan selama ini. Selalu memancing agar saya marah. Saya berjalan ke ruang TU dan tak lama kembali ke ruang guru. Kertas langsung diserhakan ke Pak Tantan. 09.36 Saya kembali duduk di kursi saya dan duduk membelakangi meja saya. Mengobrol dengan Bu Nonah, Bu Tuti dan Bu Yani yang mejanya terletak di belakang saya. Sekilas saya melihat Pak Iman maju ke depan, saya pikir menuju perpustakaan. 09.40 Terjadilah pemukulan yang sama sekali tidak saya duga. Pukulan dengan tenaga penuh, ke leher sebelah kiri. Kaca mata minus saya terlontar, dikarenak pukulan yang sangat keras tersebut. Sejenak saya tersentak kaget. Rasa nyeri di leher belum terasa. Saya terbungkuk, limbung. Diam sesaat. Mengambil kaca mata. Saya memandang ke arah Pak Iman sambil bertanya:"Apa maksudnya?" Dia nyerocos, menggumam tapi saya tidak menangkap apa yang dia ucapkan. Ruangan sejenak hening. Karena peristiwa yang sangat tidak diduga. Padaha; guru-guru dan kepala sekolah ada di ruangan itu. Pak Iman serentak ditahan oleh para guru. Kepala Sekolah, bengong di depan meja saya. Mungkin karena tidak menyangka sama sekali kejadian itu. Dengan kepala yang masih pusing, terhuyung-huyung saya berdiri sambit pamit kepada Kepala Sekolah. Dengan sepeda kerjaku saya langsung menuju Puskesmas untuk divisum. Karena dalam keadaan setengah sadar, di gerbang sepeda berjalan tidak beraturan dan menabrak salah seorang murid . Untung tidak terluka. 09.45 Dokter puskesmas menyatakan harus rujuk ke RS Garut karena benturan keras di leher kemungkinan merusak saraf dan retaknya tulang leher. Harus di rontgen. Sesaat setelah diperiksa dokter. Saya sempat mual-mual, kepala dan leher sakit, mata berkunang-kunang. Akhirnya muntah di kloset bercampur tetesan darah. 11.30 Tiba di Instalasi Gawat Darurat Garut, langsung divisum dan harus dirongent. Observasi sampai jam 16, harus puasa. Ditakutkan muntah kembali. 12.15 Pelaporan di Polres Garut. Proses pemeriksaan dan pelaporan sampai jam 16.15. 16.20 Kembali ke IGD dokter merekomendasikan harus rawat inap untuk observasi 3-4 hari. Namun, karena ruangan penuh. Maka saya minta dirawat di rumah. 17.10 Tiba di rumah dengan luka lebam di leher yang makin bengkak dan mulai terasa sakit sekali. Mual-mual dan sakit kepala di bagian atas sebelah kanan makin menjadi. Cibatu, 19 Nopember 2009 Deny Suwarja SMPN 1 CIBATU KABUPATEN GARUT

