JURNAL TODDOPULI:
 
 
"MARI KITA DUKUNG GERAKAN LITERASI LOKAL"
 
 
 
Kalimat yang saya jadikan judul "Jurnal"  kali ini berasal dari Komunitas Rumah 
Dunia, Serang Banteng yang pada tanggal 5 -  7 Desember 2008 mendatang akan 
menyelenggarakan pertemuan Ode Kampung ke-03 dengan mata acara sebagai berikut 
[saya kutuip siaran Komunistas  Rumah Dunia, 25 November 2008 di milis [EMAIL 
PROTECTED]:
 
 
Pembukaan Jum’at, 5 Desember 2008, Pukul 13.30
  
Diskusi:
Membudayakan Minat Baca
 Kiprah Pemerintah Mendukung Gerakan Literasi
Peran Penerbit  dalam Komunits Literasi
Jejaring Komunitas Literasi
Penulis dalam Gerakan Sosial
Tanggung Jawab Pers Mendukung Gerakan Literasi
Peranan CSR di dunia Literasi
Deklarasi Komunitas Literasi
  
Pembicara Prof. Yoyo Mulyana, Dick Doank, Eko Koswara, Asma Nadia, Halim HD, Si 
Uzi Jodhi Yudono, Myra Junor, Hernowo, Bambnag Trim, Hikmat Kurnia, DR. 
Zulkieflimansyah, Tantowi Yahya
  
Menu spesial:
Pementasan ”Pria ½ Iblis” oleh Teater Rumah Dunia, Jum’at 5 Des 08, pukul 19.30
Pameran karikatur karya Si Uzi setiap hari
 
Cemilan:
Parade pembacaan puisi, teater sekolah, dan musikalisasi puisi .
 
Berbeda dengan Ode Kampung 02 ynng lalu, kali ini Komuniitas Rumah Dunia tidak 
atau belum mnngumumkan daftar komunitas-komunitas yang  menyatakan diri akan 
hadir. Sedangkan tahun lalu, daftar peserta diterakan. Walaupun jumlah yang 
hadir cuma  dua ratusan komunitas sastra-seni  dari jumlah yang mencapai angka 
4000 komunis , menurut keterangan Rumah Dunia sendiri,  tapi jumlah dua ratusan 
dari berbagai penjuru tanahair, kiranya bukanlah jumlah yang sedikit. 
Barangkali sampai sekarang hanya Rumah Dunia sajalah yang sudah mengumpulkkan 
dua ratusan komunitas sastra-seni di Serang di Banten, ujung barat Jawa. Saya 
tetap menganggap hal begini tetap sebagai suatu prestasi. Prestasi ini lebih 
layak dihargai jika kita melihat cara pengorganisasiannya dan pembeyaannya. 
Penghargaan ini saya garisbawahi lagi karena ia bermula dari bawah, oleh 
komunitas-komunitas itu sendiri, berangkat dari pendirian dan sikap yang jelas 
mendukung usaha literasi lokal. Hal yang
 sejajar dengan wacana sastra-seni kepulauan, sastra-seni bhinneka tunggal ika 
di luar yang disebut pusat-pusat pengakuan atau pusat-pusat legitimasi kegiatan 
bersastra dan berkesenian --- wacana yang bisa dikatakan absurd. Pertemuan Ode 
Kampung yang diselenggarakan secara periodik mempunyai arti tersendiri bagi 
pengembangan sastra-seni di negeri kita, yang  berbeda dengan Writers and 
Readers Ubud Festival yang mewah dan glamour ditopang oleh dana yang besar. 
Tapi secara kongkret, apa yang diberikan oleh Ubud Festival dalam  
mengembangkan sastra-seni di negeri kita, kecuali membuka suatu etalase barang 
dagangan yang bernama sastra-seni? Barangkali pertanyaan ini keliru, tapi tetap 
 saya pertanyakan. Pertemuan-pertemuan dari bawah untuk kepentingan 
pengembangan sastra-seni kepulauan, dalam pikiran saya, jutru lebih layak 
mendapat perhatian penanggungjawab kebudayaan resmi di negeri kita daripada 
pertemuan seperti Uubd Festival. Pikiran begini tidak
 berari membuat penyelenggara pertemuan tipe Ode Kampung atau Fstival Tahunan 
Lima Gunung di Jawa Tengah tergantung pada uluran tangan pihak resmi. 
Masalahnya adalah terletak pada pertanyaan apa bagaimana orientasi dan 
tanggungjawab  budaya pihak resmi. Ode Kampung dan atau Festival Lima Gunung 
sejauh ini walau pun pernah dihadiri oleh Megawati dan SBY,tapi  
penyelenggaraannya tidak pernahmendapat bantuan sepeser pun dari pihak resmi. 
Dan tetap berlangsung bahkan jika mengambil pengalaman Lima Gunung, sumbangan 
dari masyrakat masih bersisa di akhir festival. Melalui penyelenggaraan 
Festival Lima Gunung berhasil dirawat, diangkat  dan dikembangkan bentuk-bentuk 
sastra-seni di daerah mulai dari pojok-pojok jauh perdesaan disekitar Lima 
Gunung Jawa Tengah. Sedangkan Ode  Kampung, saya kira, merupakan peluang untuk 
komunitas-komunitas dari berbagai penjuru tanahair menyerampakkan langkah agar 
perkembangan sastra-seni di berbagai daerah kian   marak.
 Dari segi ini jugalah saya mengangap penting pertemuan periodik Jumpa 
Sastrawan Se-Borneo.  Saya mencium pada usaha pengembangan sastra 
kepulauan ini, pernah dicoba dirambah oleh H.B Jassin, anak Gorontalo itu,  
melalui majalah Kisah dengan menampilkan penulis-penulis dari berbagai pulau. 
Saya curiga, apakah dengan merambah usaha ini , HB Jassin tidak mengidam  juga 
ide sastra kepulauan jsebaga dasar bagi sastra Indonesia? 
 
 
Pengembangan sastra-seni lokal atau daerah atau pumau-pulau saya kira, bisa 
menumbuhkan sastra nasional. Bisa menjadi dasar warna bagi sastra nasional yang 
semarak. Ia akan semakin bernas  jika membuka diri pada daerah dan pulau-pulau 
lain serta dunia.  Sastra-seni lokal dan pulau adalah pengembangan sastra-seni 
yang mengakar dan dekat dengan masyarakat,  merupakan bahasa bedialog dengan 
dunia jika meminjam istilah filosof berpengaruh   Perancis, alm. Paul 
Ricoeur.  Apa yang dikerjakan oleh Mas Soetanto, organisator Festival Lima 
Gunung, Ode Kampung dan atau Temu Sastrawan Borneo, dan gebrakan Komunitas 
Panyingkul dari Makassar, Komunitas Sastra Tasikmalaya, Tegal, Malang, 
Banjarmasin, Palangka Raya, Balikpapan, Batam, Riau, Jambi, Lampung,  
Padang,Medan;  Kupang, Flores, untuk menyebut beberapa  kominitas dari 4000 
komunitas, tidak lain dari pengejawangtahan menjadikan budaya sebagai bahasa 
dialog dengan kompas di ruang nakhoda pelayaran
 saatra-seni: bhinneka tunggal ika,biar bunga mekar bersama, seribu aliran 
bersaing suara  mengejawantahkan nilai-nilai republiken dan berkeindonesiaan. 
Barangkali dengan pedoman inilah hubungan antar komunitas diatur dan bisa 
digalang dengan sehat, bisa saling bangtu,saling dorong dan saling belajar dari 
keunggulan masing-masing. Jika disepekati maka benar, kita bisa menciptakan 
suatu gerakan budaya, gerakan sastra-seni, dan bukan lagi kegiatan spontan. 
Saya membedakan  antara gerakan dengan kegiatan spontan. Kegiatan Ode Kampung 
dan sejenisnya adalah janin dari lahirnya suatu gerakan budaya, gerakan 
sastra-seni secara nasional dan mengakar. Lokalitas hanya salah satu warna dari 
karya lukis budaya nasional dan dunia. Seperti halnya dengan secarik kain yang 
dijahit jadi satu "bénang dinding" , kain tembelan atau patch work,  yang 
indah.. Dengan pandangan ini maka saya sangat menikmati warna lokal dan nilai 
universal dari pantunt-pantun Melayu,
 sajak-sajak Bugis, Makassar, Papua, sansana kayau orang Dayak dan 
lain-lain..... Barangkali anaknegeri ini saja,atas nama moderinsasi menjadi 
asing dari negeri dan daerah sendiri sampai-sampai kata Anda,Saudara, kau, 
kamu.... agar lebih nampak hebat diganti dengan kata bahasa Inggris "you". 
Padahal apa gerangan rendahnya kata kau, anda, saudara dibandingkan dengan kata 
"you"? Paralel dengan pandangan dan sikap ini maka standar sastra Barat lalu 
dijadikan standar untuk mengukur sastra Indonesia. Berharap saja bahwa saya 
salah terlalu subyektif.
 
 
 Jika kita sepakat mengembangkan sastra-seni  kepulauan atau sastra-seni 
lokal,  barangkanli slogan mademikian maka slogan  yang lebih menjurus adalah 
"Kembang marakkan sastra-seni lokal", "Kembang marakkan sastra-seni 
kepulauan".  Dengan mengembang-marakkan kita percaya dan bersandar pada 
kekuatan komunitas yang ada di berbagai tempat. Sedang saling dukung dengan 
wacana di atas adalah suatu keniscayaan sebagaimana diisyaratkan dalam acara 
Ode Kampung tentang arti penting jejaring komunitas literasi. 
 
 
Kalau kita berbicara tentang arti penting jejaring, tersirat pula makna bahwa  
kita tidak boleh mengurung diri dalam satu tempurung kecil  dengan predikat apa 
pun. Berkurung di dalam sebuah lingkaran sempit akan membuat kita bermata 
rabun. Kecupetan adalah sejenis penyakit trahum menjangkiti mata jiwa dan 
pikiran kita.
 
 
Titik mata acara lain yang menarik perhatian saya, dan saya anggap hakiki 
adalah soal pencantuman masalah "tanggung jawab penulis dalam gerakan sosial". 
Titik ini menyiratkan bahwa Rumah Dunia melalui acara Ode Kampung ingin 
menyarankan kepada para penulis guna memikirkan masalah tanggungjawab sosial 
mereka sebagai anggota masyarakat. Saya membaca isyarat ini sebagai konsekweni 
nalar dari keinginan menggalakkan suatu gerakan literasi lokal sebagai basis 
pengembangan literasi nasional. Bahwa literasi, apalagi gerakan literasi itu 
bukanlah kegiatan narsistik. Apakah arti suatu gerakan jika ia bersifat 
narsistik? Jika bacaanku tentang isyarat dari Rumah Dunia ini, maka agaknya 
Rumah Dunia menginginkan gerakan literasi lokal  yang ia impikan sebagai suatu 
gerakan literasi yang berpihak. Sebagai literasi engagé., dengan istilah 
mentereng ke-perancis-perancisnya agar gengsi meningkat di depan pembaca atau 
pendengar. You mengertikan?! Tapi saran yang
 tidak membatasi pilihan penulis lain.
 
 
Dari segi cara Rumah Dunia menyelenggarakan Ode Kampung, maka bukan mustahil 
jika Kongres Nasional komunitas seluruh Indonesiia, sebuah Kongres Kebudayaan 
dari bawah dan diselenggarakan oleh aktor-aktor budaya dari bawah secara 
bersama terselengggara.  Dengan  menuliskan baris-baris ini, saya sedang 
mengucapkan mimpi esok menyambut penyelenggaraan Ode Kampung ke-03 dengan 
segala harapan terbaik, menyambut mimpi Rumah Dunia dan janin mimpinya sebagai 
usaha mengejawantahkan republik dan Indonesia sebagai sebuah cita-cita dan 
program kebudayaan.***
 
 
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008
--------------------------------------------------------
JJ. Kusni. 


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke