Jurnal Toddopuli:
 
 
LUNA VIDYA  
ANAK SENTANI  TANAH PAPUA 
AKAN BERMONOLOG DI PARIS 
  
    
  
Pada tanggal 15 Desember 2008, Koperasi Restoran Indonesia Paris yang sekaligus 
sebagai pusat kebudayaan Indnesia di Paris, akan merayakan ultanya yang ke-26.  
Dalam rangka kegiatan ini maka akan diselenggarakan bedahbuku dan pameran foto 
tentang Indonesia, bekerja sama dengan Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia 
"Pasar Malam". Sementara itu pada 7 Desember 2008 "Pasar Malam" akan 
melangsungkan acara "Sepuluh Jam Untuk Sastra Indoneisa" dengan menghadiirkan 
Sitor Sitomorang, Richard Oh, Laksmi Pamuntjak, Djenar Maesa Ayu, Lily Yulianti 
dan Luna Vidya di samping para pakar sastra dan indonesianis Peris dan Belanda 
serta para penerbit terkemuka Perancis seperti Gallimard dan Flammarion yang 
telah menerbitkan antara lain karya-karya Pramoedya A Toer,  Ayu Utami serta 
kemudian Laksmi Pamuntjak. Acara sastra kali ini agak lain dari acara-acara 
sastra terdahulu jika dilihat dari kompisisi mereka yang diundang yang berasal 
dari berbagai asal etnik di
 Indonesia. Tema pembicaraan pun berkisar tentang bagaimana perkembangan 
pemikiran dan perasaan para penulis bermula dari etnik berkembang melalui 
nasionalisme lalu menjurus ke universalisme. 
 
Hal paling baru adalah bakal hadirnya Lily Yulianti, penulis dari Makassar dan 
Luna Vidya, aktris kelahiran danau Sentani, Papua. Memang sebelum ini ,  "Pasar 
Malam"  pernah mengadakan acara untuk penyair  Bali ,Tan Lioe Ie sehingga 
tampilnya sastrawan-seniman dari luar Jawabukan diawali oleh Lily dan Luna. 
Bali sebenarnya bukanlah nama baru dalam dunia kesenian. Seniman-seniman Bali 
sering datang ke Paris. Bahkan Arthaud, dramarturg Perancis terkemuka, 
terilhami ketika menyaksikan pertunjukkan pentas Bali. Di Perancis, terkadang, 
tidak sedikit orang lebih mengenal Bali dari Indonesia. Hadirnya Lily Yulianti 
dan Luna Vidya dari Makassar dan Papua, kali ini menjadi mempunyai arti 
khusus,  karena baru merekalah sastrawan-seniman dari Indonesia Timur yang 
diundang oleh"Pasar Malam" dalam kegiatan internasionalnya.Sedangkan Luna 
merpakan seniman kelahiran Papua yang dilesatkan oleh "Pasar Malam"melalui 
undangan ke Paris .Pengangkatan sastrawan-seniman
 daerah, meninggalkan satu kebanggan tersendiri padaku. Memperlihatkan betapa 
besar potensi terpendam di negeri kita. Saya tetap melihat Indonesia dengan 
potensi demikian besar adalah sebuah "negeri raksasa", "negeri naga yang sedang 
tidur" atau sakit. Tapi tetap bepotensi luar biasa tak tertakar oleh dugaan.  
Kehadiran dua seniman dari Indonesia Timur ini berkat jasa "Pasar Malam", 
memperlihatkan perhatian "Pasar Malam" pada perkembangan sastra-seni di luar 
Jawa dan di luar pusat-pusat kegiatan sastra-seni tradisional yang dikenal 
dunia, sekaligus memperlihatkan bahwa. kegiatan sastra-seni di luar pusat-pusat 
tradisional mendapat perhatian dan pengakuan. Guna menopang pengakuan dan 
perhatian ini maka Lily dan Luna pada kesempatan in, sebagai tanda bukti 
kegiatan sastra di luar Jawa, ingin memamerkan karya-karya sastra dari Makassar 
dan Aceh.
 
Sedangkan   dalam rangka peringatan ulta ke-26 Koperasi Restoran Indonesia Scop 
Fraternité Pairs, sudah merencanakan untuk memberi acara khusus kepada Luna 
Vidya guna menggelarkan monolog berjudul "Balada Sumarah" karya 
Tentrem  Lestari. 
 
Balada Sumarah adalah kisah hidup yang dituturkan dalam sebuah sidang 
pengadilan. Sidang pengadilan  seorang TKW yang  tertuduh telah melakukan 
pembunuhan terhadap majikannya. 
  
Di depan siding pengadilan itu, Sumarah bercerita tentang hari-hari dimana ia 
belajar menerima diskriminasi dalam seluruh dimensi kehidupan sosialnya sejak 
kecil karena satu penyebab: ayahnya dituduh sebagai anggota PKI. Ayah yang 
tidak pernah sempat dikenalnya. 
  
  
Karena alasan itu Sumarah meski lulus SMA dengan nilai terbaik ijazahnya tak 
berbunyi apa-apa. Untuknya tak ada kesempatan menjadi pegawai negeri, bahkan 
petugas administrasi. Ia hanya boleh menjadi buruh pabrik. Nama bapaknya, 
adalah bayangan hitam yang terus menguntitnya di semua kesempatan. Bayangan itu 
menggelapkan  bahkan impian Sumarah untuk menikah. 
    
Dikucilkan, dirampas hak-haknya di negeri sendiri, menjadi TKW di Arab Saudi 
adalah kesempatan satu-satunya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. 
Kesempatan yang diperolehnya dengan memberi amplop. Sumarah menyangka, setelah 
bertahun-tahun menjadi rakyat setengah gelap di negeri sendiri, terselip dan 
tidak boleh mendongakkan kepala, ia akan bermetamorfosa dari ulat bulu menjadi 
kupu-kupu indah di negeri orang. 
  
Balada Sumarah  yang ditulis  oleh Tentrem Lestari ini mulai ditampilkan oleh 
Luna Vidya sejak tahun 2005 pada Festival Monolog Dewan Kesenian Jakarta 2005 
di Teater Kecil-TIM Jakarta. 
    
Luna Vidya lahir di Sentani, Papua, Luna Vidya, bermain teater sejak tahun 1984 
di Makassar bersama berbagai kelompok teater di kota itu, sejak datang ke 
Makassar setelah menamatkan SMAnya di Jayapura. Bergabung dengan Teater Kampus 
Universitas Hassanuddin, Makassar. Dengan kepindahannya ke ibukota Sulawesi 
Selatan ini, ia makin mengokohkan dirinya sebagai salah satu pemain teater 
terbaik Sulawesi Selatan.   
  
Ia memfokuskan diri pada ruang-ruang teater monolog, memainkan naskah-naskah 
orang lain, Luna Vidya  juga menulis naskahnya sendiri (Meja Makan, Pagar, 
Garis) dan membuat adaptasi dari cerita-cerita pendek untuk keperluan itu. 
“Makkunrai”, “Dapur” adalah naskah monolog yang iia sadur  dari cerita-cerita 
pendek yang ditulis oleh  Lily Julianti dalam kumpulan cerpen “Makkunrai”  
[bahasaBugis :Perempuan]. Bersama Lily, Makkunrai menjadi titik awal 
bergulirnya Makkunrai Project (2007), sebuah proyek pembelajaran berdimensi 
gender lewat penulisan sastra dan pementasan panggung.   
  
Untuk hidupnya, Luna Vidya bekerja sebagai Communication  Coordinator 
Sustainable Mariculture Project di Makassar, Sulawesi Selatan.   
  
Kehadiran Lily Yulianti dan Luna Vidya di Paris sekali lagi  saya lihat sebagai 
pengakuan dan perhatian Paris sebagai kota budaya internasional kepada sastra 
kepulauan.  Jadi tidaknya acara Luna Vidya di acara ulta ke-26 Koperasi 
Restoran Indonesia Scop Fraternité Paris  [mungkin juga di acara "Pasar 
Malam"]  hanya tergantung pada perolehan visa untuk datang ke ibukoa Perancis 
yang dibelah oleh sungai Seine yang dingin. Tapi Johanna  Lederer, selaku Ketua 
"Pasar Malam" dan biasa menangani soal visa orang-orang yang diundang, 
mengatakan bahwa Kedutaan Besar Perancis di Jakarta berjanji akan membantu 
penyelesaian soal visa ini semaksimal mungkin. Dengan demikian hampir bisa 
dipastikan bahwa Luna Vidya, anak Sentani Tanah Papua, akan bermonolog di 
Paris, menampilan karya yang mempunyai pesan jelas dan gugatan terhadap 
ketidakadilan serta Tragedi Kemanusiaan 1965 yang berdampak sampai sekarang 
atas kehidupan jutan anak negeri bernama Indonesia. 
  
Barangkali pengalaman sebagai anak Papua membuat Luna Vidya menjadi seniman 
engagé, jika menggunakan ungkapan orang Perancis. Karena seperti ujar Rendra 
baru-baru ini senimantidak cukup hanya berpihak tapi juga niscaya terlibat.   
  
Sambil menyampaikan selamat datang di Seine kepada Lily dan  Luna Vidya, puteri 
Sentani Tanah Papua, kenanganku seketika terbang melayang ke barisan 
gunung-gunung  dan  hutan-hutan hijau Papua yang pernah kudaki dan kujelajahi 
beberapa tahun silam. Pendakian sangat berat dan susah payah,  yang semuanya 
terekam di ratusan ribu foto. Tapi adakah jalan lurus dan aman dalam mendaki  
menaklukkan puncak? Hanya saja, begitu sampai di puncak maka pemandangan  indah 
akan menghampar di bawah mata, ujar Hô Chi Minh,  presiden- penyair Viêt Nam 
dalam antologi puisinya "Catatan Harian Di Penjara". Saya  membayangkan Luna 
Vidya sedang mendaki menggapai puncak demi puncak, demikian juga sastra 
kepulauan. Barangkali aku sedang bermimpi bahwa sastra kepulauan memang punya 
esok, lusa, tulah dan tubin. 
  
Dan ketika memimpin Long March ribuan li membela harapan dan mimpi, melintasi 
ajal, duka, kelaparan dan segala kepahitan, setelah terpukul di Kiang Xi, Mao 
Zedong menulis baris-baris ini: 
  
"Jangan katakan kami pahlawan sejati 
jika tak sampai ke puncak" 
  
Saya percaya, seperti ditunjukkan oleh sejarah bahwa  negeri kita pun tak 
kurang "pahlawan sejati"  walau kadang mereka dibunuh dua tiga kali. Di manakah 
"pahlawan sejati" dengan kemampuan memungkas gunung, menimba laut seperti 
dituturkan kisah-kisah Tanah Dayak itu sekarang?  **** 
 
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008
--------------------------------------------------------
JJ. Kusni


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke