Jurnal Toddopuli:
 
 
SANS DOMICILE FIXE
 
  
Dingin sudah merontokkan dedaunan dari dahan-dahan kotaku. Langit kelabu seakan 
hanya sepanggalah saja tingginya dari menara katedral terletak di depan taman 
Abbesses. Orang-orang jalan bergegas dibalut pakaian tebal. Syal tebal melilit 
leher mereka.Kalau pun sesekali matahari merebak di antara awan  menyinari kota 
dan atap-atap, bertaburan di jalan,  sinarnya pun terasa sangat tumpul, tak 
terasa menyegat seperti pada bulan Agustus silam. Sengat matahari diganti oleh 
irisan dingin pada  jari-jari kaki dan tangan serta pipi atau daun telinga yang 
tidak tertutup. Di tengah iklim yang terasa  sangat menekan ini, orang-orang 
berteriak girang dengan mata bercahaya saban melihat ada matahari menyala: 
"Ooooo, soleil,  soleil..."   [Oooo, matahari, matahari...]. Matahari jadi 
dambaan, isi kerinduan, disenandungkan dalam lagu dan puisi. Di samping 
menikmati keindahan varian tamasya negeri empat musim, saya makin merasakan 
betapa matahari tanahair tidak
 tergantikan, terdengar seperti suara rindu seorang ibu  atau orang kesayangan 
menyeru-nyeru segera pulang.
 
Matahari seperti juga bulan,  bagiku adalah lambang harapan dan kerinduan -- 
cinta yang tak pudar, dimatangkan dalam perjalanan musim dengan segala 
ketiba-tibaan tak tertakar duga. Alangkah gelapnya kehidupan tanpa harapan. 
Alangkah gelapnya siang tanpa matahari dan betapa temaramnya malam tanpa 
bulan. Tanpa harapan membuatku akan seperti orang tenggelam ketika pinisinya 
pecah dibanting topan,   yang tergapai-gapai sebelum hilang di lubuk dalam 
kesia-siaan tanpa makna. Keadaan jiwa tergapai-gapai inilah yang dilukiskan 
oleh temanku Arifin C. Noer dalam dramanya berjudul "Gapai-gapai". Ataukah di 
samudera kehidupan ini kita memang sering tergapai-gapai?
 
Musim dingin di kota tempatku  sejenak bertenda  dari perjalanan panjang 
berdasawarsa meniti busur bumi, menjadi sempurna ketika  salju turun  beberapa 
kali pada hari-hari  lalu. Terselip memang bayangan betapa saya dan keluarga di 
saat salju tebal turun bagaikan sisik-sisik naga putih rontok berhamburan  dari 
langit, bermain lempar-lemparan salju sambil kejar-kejaran di antara derai 
gelak tak berkeputusan mengembarai ujung-ujung alam yang putih seluas 
cakrawala, lalu membangun sebuah patung manusia.  Mengenang dan membayang ulang 
tamasya begini, saya menyadari bahwa sebenarnya kehidupan tidaklah berwarna 
tunggal, tapi penuh warna-warni, duka yang hitam hanyalah salah satu saja yang 
tertera di kanvas  kehidupan.
 
Tapi musim dingin  di negeri pertendaan sementaraku, apalagi jika suhu sudah 
berada di bawah nol, adalah juga musim  yang memusingkan kepala penyelenggara 
negara berbagai tingkat, mulai dari tingkat walikota melalui Perdana Menteri 
hingga ke Presiden, tanpa perduli apakah mereka itu kiri atau 
kanan. Lembaga-lembaga kemanusiaan seperti Emaus [lembaga yang didirikan oleh 
pastur Abbé Pierre alm. khusus untuk menangani masalah kemiskinan di 
Perancis] , Samu Social [lembaga pemerintah untuk pertolongan darurat], dan  
Restaurant du Coeur [restoran  yang didirikan oleh bintang filem dan pelawak, 
Coluche, dengan dana dari para bankir dan orang-orang kaya] yang menyediakan 
dan membagi-bagikan makan gratis pada orang-orang miskin di seluruh Perancis, 
makin sibuk. Coluche, seniman yang berpihak dan terlibat demi pemanusiawian 
masyarakat. Kerbepihakan dan keterlibatan sosial manusiawinya yang membuat ia 
selalu hidup di hati masyarakat Perancis.
 
Musim dingin menjadi isu politik nasional. Karena saban musim dingin tiba, 
senantiasa saja membawa berita kematian demi kematian para gelandangan 
[clochard] dan orang-orang yang tidak mempunyai tempat tingga,l yang di sini 
dinamakan "sans domicile fixe" dikenal dengan singkatan SDF. SDF disamping 
orang-orang yang tergolong dalam "Dunia Keempat" [Le Quatre Monde], orang-orang 
hanya punya kaki, tangan dan kepala, bahkan cacat, sejak lama  merupakan  
masalah sosial besar dalam masyarakat Perancis. Adanya clochard, SDF dan Le 
Qurtre Monde,  masalah yang tak terpecahkan sampai sekarang, baik oleh 
pemerintah kiri atau pun kanan, merupakan sisi lain dari Perancis, di samping 
segi glamour, mode, parfum,  sastra, filsafat dan lain-lain faset  
kemilaunya. Karena keadaan ini, maka saya selalu melihat Perancis memang utuh 
secara teritorial, tapi pecah dari segi sosial, beragam dari segi budaya. Waktu 
saya belajar antropoloogi-sosiologi di l'EHESS [L'Ecole des
 Hautes Etudes en Sciences Sociales], pecahan dari Universitas Sorbonne,  dulu, 
saya diperkenalkan dengan adanya "tiga Amerika Serikat" yang kalau tidak salah 
bermula dari pandangan kelompok sosiolog dari Chicago School. , Sebagai varian 
dari pandangan ini, saya melihat Perancis pun , paling tidak ada dua Perancis. 
Perancis kaya dan Perancis yang pas-pasan bahkan yang "clochard". Clochard 
sebagai sebuah metafora realistik.  
 
Musim Dingin memang baru saja tiba. Ia belum sampai Februari di mana ia 
berpuncak. Sampai sekarang menurut keterangan Dinas Meteorologi,  suhu 
terrendah baru sampai minus 6°, maksimal 8° atau minus 12°  jika dinihari 
dan subuh.Walau pun belum sampai pada suhu minus 40° seperti yang pernah 
kurasakan di Tiongkok Utara, ketika pagi tiba, koran-koran , radio dan televisi 
sudah menyiarkan tentang mennggalnya sejumlah clochards atau SDF di hutan 
Vincennes dan Bois de Boulogne  di mana mereka  membangun tenda. Pemerintah dan 
LSM-LSM kemanusiaan menjadi gempar. Digegerkan oleh kematian sejumlah clochard 
yang sampai hari ini sudah mencapai angka 265 orang meninggal karena 
kedinginan. 
 
Untuk menangani masalah ini maka Christine Boutin, Menteri Urusan Perumahan 
pemerintah François Fillon, memerintahkan pembukan beberapa tempat-empat 
gimnastik dan penyediaan  tempat-tempat penampungan darurat. Tapi sekalipun 
demikian, tempat-tempat penampungan darurat hanya mampu menampung 99.600 dari 
jumlah 100.00 clochard dan SDF. Sisa yang tak tertampung berlindung di berbagai 
tempat seperti kuburan atau emper-emper rumah dan gedung-gedung dengan 
beralaskan karton. Oleh kurangnya tempat penampung darurat ini, maka pada masa 
golongan kiri memerintah, pemerintah menginstruksikan pembukaan stasiun-stasiun 
metro, kereta-api bawah tanah sebagai tempat berlindung para clochard dan SDF 
berlindung dari terpaan dingin yang membunuh tanpa ampun. Sedangkan Restaurant 
du Coeur dengan kendaraan mereka, berkeliling mencari para clochard dan SDF 
untuk membagi-bagikan makanan hangat. Kemudian LSM-LSM kemanusiaan mendesak 
pemerintah untuk menambah bujet untuk
 menyelamatkan jiwa para clochard dan SDF ini karena LSM-LSM ini memandang dana 
untuk menangani soal kepapaan ini sangat minim. Atas desakan demikian, 
pemerintah kotapraja yang dari Partai Sosialis segera mencairkan dana darurat 
sejumlah 1,3 juta euros.. LSM-LSM dan para dokter menuntut agar pemecahan 
masalah clochard dan SDF tidak dilakukan secara tambal-sulam [bricolage], tapi 
secara tuntas dan mendasar. Dipecahkan dari akarnya. Dari penyebab mengapa 
terjadi marjinalisasi dalam masyarakat Perancis. Dr. Xavier Emmanuelli, salah 
seorang pendiri Samu Social, mengatakan bahwa "marjinalisasi dan ekslusi dalam 
masyarakat tidak ada kaitannya dengan musim dingin. Kita harus mengerti 
patologi kemiskinan maka harus  dibuat suatu rencana dan dilaksanakan 
mediko-psikho-sosial",  ujar Dr. Xavier ketika ia mengotopsi jenazah seorang 
SDF yang meninggal di Bois de Vincennes, 26 November lalu.
 
Kalian tahu , ketika masih muda remaja, saya pernah lama hidup  dan bekerja di 
Repbulik Rakyat Tiongkok [RRT]]. Lalu setelah saya meninggalkan negeri tersebut 
karena merasa ada suatu kebuntuan teoritis yang saya dapatkan pada teori "basis 
revolusi dunia", dan sektarisme yang tak tertahan, saya beberapa kali kembali 
ke negeri tersebut sebagai peserta konfrensi internasional dan secara 
perorgangan menggunakan sisa-sisa hubungan yang saya miliki.  Waktu berbicara 
di salah sebuah universitas di Kanton, saya ditanya: "Apa pendapatmu tentang 
perkembangan Tiongkok sekarang?". Waktu itu tahun 1991. Saya baru saja datang 
dari Australia. Pertanyaan ini tentu diajukan karena ketika saya turun dari 
kereta-api saya menyaksikan beberapa pemandangan yang mengagetkan dan 
teman-teman Tiongkok saya amengetahuinya. Hal itu adalah sikap kasar 
orang-orang pabean Tiongkok pada para perantau Tionghoa yang ingin melihat 
tanah leluhur dan adanya para pengemis yang menadah
 tangan saat saya akan masuk mobil jemputan dari universitas.  Pemandangan 
begini membuat saya berpikir sungguh-sungguh tanpa cerca kecuali melihat bahwa 
Tiongkok dulu, semasa saya tinggal dan bekerja, bukan Tiongkok sekarang.Lalu di 
depan para pendengar pertanyaan di atas saya jawab: "Tiongkok sedang mencari 
jalan terbaik untuk dirinya, untuk rakyatnya. Mencari bukanlah hal yang gampang 
tapi saya percaya Tiongkok akan  mendapatkan jawabannya karena ia mencari, ia 
bertanya dan punya tekad dengan motif yang benar sekali pun harus melalui 
proses trial and error. Sejarah Tiongkok menunjukkan ia biasa dengan proses 
ini, biasa dengan bertanya dan menjawab". Setelah itu beberapa kali saya 
kembali lagi ke RRT untuk mencari jawab pertanyaan-pertanyaan yang mengusik 
diri saya berdasarkan apa yang pelajari saat belajar di Sorbonne mengenai 
ekonomi pembangunan.  Saya datang tanpa bersangukan prasangka kecuali beberapa 
premis atau hipotesa dan setumpuk
 tandatanya.
 
Sejauh yang saya ketahui, yang masih saja kudapatkan -- mungkin penglihatanku 
keliru -- bahwa tidak terdapat masalah clochard dan SDF mati kedinginan di 
negeri yang berpenduduk satu miliard lebih ini.  Bahwa ada soal kemiskinan: Ya! 
Bahwa tingkat hidup tidak merasa: Benar. Tapi kematian SDF dan cloachard tidak 
pernah kudengar. Sangat jelas bahwa 70 juta penduduk Perancis hanya sebanding 
dengan penduduk satu propinsi di RRT. Karena itu destabillalasi RRT akan 
berdampak dunia. Saya tidak pernah pemerintah RRT yang sering dihujat oleh 
pemerintah Perancis, baik kiri atau pun kanan, sebagai pelanggar HAM, tidak 
pernah ribut dengan soal kematian para gelandangan. Sebabnya bisa macam-macam: 
tidak perduli, bisa juga teratasi, bisa juga ditutup-tutup. Hanya yang saya 
dapatkan waktu melawat ke tempat-tempat terpencil yang paling miskin pun,  soal 
perumahan , betapa pun sederhananya, relatif teratasi sehingga orang-orang 
tidak akan mati kedinginan yang lebih
 garang dari di Perancis. Anjing-anjing di RRT tidak akan berpesta-pora makan 
bangkai orang-orang tak berumah pada musim dingin seperti yang dikisahkan 
laoran-laporan tentang Tiongkok pada masa kekuasaanKuo Min Tang Chang Kaishek. 
 
Dengan perbandingan begini, saya sampai pada pertanyaan ketika melihat 265 
orang clochard dan SDF mati kedinginan di Perancis -- salah satu negeri Eropa 
Barat terpenting: Apa yang salah dengan Perancis sehingga hanya mampu 
menyelesaikan soal ini secara bricolage alias tambal-sulam? Dengan pertanyaan 
ini, saya tidak mempersoalkan apakah Tiongkok itu negeri sosialis, 
pra-èsosialis , kapitalis atau bukan? Saya hanya berpegang pada pendapat Deng 
Xiaoping  [Deng Si Prajurit Tjilik] bahwa ia tidak memperdulikan kucing itu 
hitam atau putih, karena yang terpenting adalah asal kucing itu bisa menangkap 
tikus. Dan tikus itu bernama kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, kepapaan. 
pengangguran.  Agaknya kucing Perancis yang modis, sexy dan wangi parfum sekali 
pun masih belum berhasil menangkap tikus -- tikus yang sering kita lihat 
berseliweran di bawah rel-rel metro.
 
Perancis bangga menyebut dirinya sebagai "Tanahair HAM". Tapi hak hiidup 
manusiawi bagi anak manusia apakah bukan termasuk masalah HAM? Apakah 265 nyawa 
mati kedinginan sebelum musim dingin mencapai puncaknya bukan sebuah lemparan 
tombak berbisa ke ulu hati "Tanahair HAM"? Entahlah. Hanya yang menarik 
perhatian saya adalah bahwa melalui gegernya masyarakat dan pemerintah karena 
kematian 265 SDF dan clochard ini, rasa akemanusiaan rakyat negeri ini cukup 
tinggi. Selama saya berada di Paris, saya tidak pernah melihat ada orang 
melecehkan clochard. Yang terjadi,saya sering melihat orang berjas-berdasi 
ketika pulang kerja duduk berdiskusi dengan para clochard dan SDF, menanyakan 
ini itu kepada mereka. Memberikan buku-buku untuk mereka jual saat ada Pasar 
Kaget, sebagai ujud sloidaritas dan perhatian pada sesama.  Ketika pulang malam 
setelah usai kerja, di kade metro seorang clochard tergeletak, lalu dokter Samu 
Social bergegas datang begitu mendapat telpon
 dari pekerja Jawatan Kereta Api. Tim kesehatan Samu Social yang datang memberi 
pertolongan darurat hanya dalam beberapa menit setelah mendapat pemberitahuan, 
selama 24/24 jam , saya pahami ujud dari suatu rasa kemanusiaan yang tinggi di 
kalangan masyarakat, sebagaimana yang saksikan juga keserantakan masyarakat 
Perancis secara spontan bersolidaritas pada korban Tsunami di Aceh.  Mereka 
sangat marah ketika tahu, dana yang mereka himpun disalahgunakan dan menuntut 
pemerintah Perancis mengembalikan dana yang mereka kumpulkan tapi 
diselewengkan. Sebagai orang Indonesia  pada waktu itu saya merasa turut 
dipermalukan oleh korupsi gila-gilaan memporak-porandakan  negeri kita. 
 
Dari segi rasa kemanusiaan, saya terbayang akan kejadian-kejadian main "hakim 
sendiri"  terhadap pencopet, maling atau sopir yang tak sengaja menabrak orang, 
di tanahair, terbayang bahwa penduduk mati dan dimasakre  dalam jumlah berapa 
pun  tidak menyentuh nurani kita, seakan-akan  nyawa anak negeri dan manusia 
itu tidak punya punya nilai sama sekali. Tuhan pun diikut-sertakan sebagai 
pembunuh. Diajak jadi sektaris dan tukang bom. Apakah yang salah? Di mana letak 
salahnya? Ataukah sudah wajar demikian. 
 
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang muncul di benakku ketika 
membanding-bandingkan apa yang kulihat sepanjang perjalananku meniti busur bumi 
dari benya ke benua sambil membayangkan tanahair yang tak berhenti berseru 
memanggil kembali tiba anaknya? Pertanyaan lain:  Apakah dan bagaimanakah 
sistem manusiawi yang padan dan rasuk untuk negeri kita sehingga negeri bisa 
menjadi salah sebuah tempat geografis supaya kita bisa hidup sebagai anak 
manusia yang manusiawi?
 
Di depan kematian 265 clohard dan SDF di bulan pertama musim dingin dan di 
tengah gigil Paris yang menggigit sungsum belulang, pertanyaan-pertanyaan  di 
atas terasa  lebih menggigit dan menggigilkan jiwa sementara hidup terus 
berlanjut tanpa melirikku. La vie continue sans me regarder! ***
 
 
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008
---------------------------------------------------------
JJ. Kusni


      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke