Sekadar Renungan di bulan Dzul Hijah
Assalammu'alaikum wr wb,
Saat-saat ini pada setiap detik dan promil detik adalah kesempatan bermunajat
kepada Allah swt dan merugilah mereka
yang mengabaikan saat-saat ini dengan tidur dan melongo kosong melompong sibuk
melindungi diri dari terik dan
terangnya cahaya Allah swt. Segalanya menjadi benderang dalam hidup yang telah
dijalani apabila kita bersedia jujur
kepada diri sendiri dan jujur kepada ilmu pengetahuan. Di bawah ini saya
sampaikan pandangan pribadi yang sangat intim
agar menjadi bahan analisis dan kritik Islami terhadap diri pribadi saya yang
ummi dan memohon bimbingan.
Merenungi malam-malam menjelang wukuf di 'Arofah terdengar lantang di dada
lafal firman ????? ????? ?????? ????? ???
????? ???? ?...."
"{???? ? ??? ??? ? ????} ???????? ???? ? ?? ???? ?? ???? ??? ????? ?? ??? ?
??? ??? ? ?????? ????????
Yang pendekatan terjemahannya: "..Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
sekalian satu Din, dan telah Aku
cukupkan nikmatKu kepada kamu sekalian, dan telah Aku ridzhoi Islam sebagai Din
bagi kamu sekalian".
Dalam memahami lafal firman di atas telah berlangsung pergumulan ideologi,
politik, ekonomi dan pemikiran dalam
sejarah (tarih) hazanah intelektual manusia semenjak Wahyu tersebut diturunkan
kepada rasulullah Muhammad saw
ketika beliau menyampaikan Da'wah perpisahan pada ritual Haji terahir beliau.
Pada zaman itu di kalangan masyarakat
manusia telah diterima keberadaan berbagai agama dan kepercayaan yang dalam
fraza Qurani disebut sebagai "?? -
dzonn". Secara keseluruhan agama dan kepercayaan menyatakan diri sebagai wahyu,
wangsit, transcendence revelance,
shruti yang berasal dari Pencipta alam semesta. Dan dengan landasan pemikiran
agama dan kepercayaan tersebut
manusia saling bunuh-membunuh, memperebutkan harta kekayaan dan tahta
kekuasaan, memperebutkan hak hidup
sebagai tuan dan yang lain adalah budak yang harus mengabdi kepada para
pemenang ("The winners take it all" kata
goresan sanjak lagu grup ABBA). Agama dan kepercayaan memberikan legimitasi
kosmis kepada individu manusia
menjadi "yang tak terkalahkan".
Sejarah "kemanusiaan" hingga hari ini telah membenarkan keberatan para malaikat
yang difirmankan dalam:
"????? ???????? ?? ???? ??? ??? ?? ???? ? ????? ???? ??? ? ??? ?? ? ???? ?
???? ???? ?? ???? ? ????.."
{?? ??? ? ????? ? ????}
Yang terjemahannya adalah: "..Mereka berkata: 'Mengapa Engkau Hendak
menciptakan kholifatan di Bumi dari
sesuatu yang akan membuat kerusakan pada Bumi dan menumpahkan darah, padahal
kami senantiasa
mensucikanEngkau?' Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang
tidak kamu sekalian ketahui.' "
Namun memang sesungguhnyalah ALLAH subhanahu wa ta'ala Maha Mengetahui atas
segala sesuatu dan zaman
kekinian masyarakat manusia membuktikan semakin akuratnya firman Qurani yang
menunjukkan tujuan diciptakannya
manusia sebagai mahluk hidup. Manusia diciptakan demi dan demi mengabdikan
dirinya kepada Allah swt yang bakal
diangkat dan diberi tugas untuk menjadi wakil Allah swt di Bumi guna
memelihara, menjaga dan mengembangkan segala
sesuatunya yang diciptakan-NYA di Bumi. Kemungkinan terrealisasinya
pengangkatan dan penuugasan sebagai wakil
Allah swt di Bumi sangat bergantung dari kemampuan manusia yang telah diprogram
secara menakjubkan. Program
perkembangan intelegensi manusia itu memiliki arah ganda yang tindih-menindih
dan kontradiktif secara micro quantum
dan merupakan suatu "kesatuan dari segi-segi yang saling bertentangan". Yang
satu arah berkembang meningkatkan
kwalitas kesadaran biologis manusia ke arah kehendak penciptaannya menjadi
wakil Allah swt di Bumi. Arah yang kedua
mendegradasi kesadaran biologis manusia ke arah kesadaran binatang, tumbuhanan
dan benda-benda non-biologis.
Realitas kontroversif ini dapat pula kita simak dari Big-Bang Nucleo Synthesis
pada zaman alam semesta berumur di
sekitar antara penggal waktu 4 per-ratus detik hingga 500 detik yang memberikan
legimitasi bagi pembentukan inti-inti
atom telah memberikan tanda-tanda terbentuknya sistim hal ihwal yang
didefinisikan oleh firman Qurani sebagai:
" { ?? ??? ?? ????? ??? ???? } ?????? ????? ???? ? ?????????? ?? ? " - "Dan
segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-
pasangan supaya kamu mengingat Kebesaran Allah".
Dengan demikian sifat-sifat kontroversi yang mendua dari manusia biologis
adalah merupakan takaran atau qodar
alamiyah. Sehingga menjadi wakil Allah swt di Bumi (mungkin di alam semesta?)
adalah suatu kedudukan kosmis yang
agung dan ideal, rasional dan logis serta dialektis Islami! Agungnya ideal
inilah sesungguhnya makna dari firman Qurani:
"{??? ??? ? ?????? ? ???? } ??? ??????? ?????? ?? ?????? ?????? ?? ???? ?? ????
????? ??? ??? ????"
- "Kamu sekalian adalah ummat yang terbaik yang dihasilkan bagi manusia,
menganjurkan kepada hal-hal yang makruf,
dan mencegah dari hal-hal yang munkar, dan berimanlah kepada Allah."
Lebih lanjut apabila kita teliti dan simak serta kita analisis ayat-ayat Qurani
yang memuat kata "??? - ummah", akan kita
jumpai suatu definisi Bahasa Arab Qurani atau Ushlub Qurani yang memberikan
pagar kokoh kepada kata "??? - ummah"
yang tidak dapat demikian saja kita jadikan dasar bagi sektarianisme teologis.
Dengan demikian maka kelompok manusia
Muslimin menurut Wahyu Qurani dibagi-bagi dalam satuan-satuan masyarakat
Muslimin yang disebut sebagai "??? -
ummah" di mulai dari satuan masyarakat terkecil hingga yang terbesar. Dari
"??? - ummah" - "??? - ummah" Muslimin ini
tersusun tingkatan-tingkatan graduil pemahaman, pengertian dan praktek
pelaksanaan syari'ah Islamiyah. Disebutkan
dalam do'a nabi Ibrahim as agar di antara keturunannya ada "??? - ummah" yang
tunduk patuh kepada Allah swt
(QS.2:128). Dalam QS.3:104 difirmankan bahwa di antara orang-orang yang beriman
ada "??? - ummah" yang menyeru
kepada kebajikan dan ada yang menyeru kepada yang makruf dan di samping itu
sesungguhnya manusia adalah "??? -
ummah" yang satu (QS.2:213). Maka setiap "??? - ummah" diberikan aturan dan
jalan yang terang (QS.5:48) dan setiap
"??? - ummah" mempunyai ajal tertentu serta apabila telah tiba saat ajalnya
maka tiada yang dapat menundanya barang
sedetikpun (QS.7:34). Oleh sebab itu marilah kita berhati-hati dalam
mengatasnamakan diri dan dalam menilai polah laku
masyarakat Muslimin dengan menggunakan kata "??? - ummah". Basis terkecil bagi
sebutan "??? - ummah" tampaknya
pada setiap zaman selalu berubah, demikian pula dengan berkembangnya pengertian
atas semantika kata "??? - ummah".
Di dalam kurun zaman setelah turunnya Wahyu Al-Quranu al-Kariim dan praktek
keseharian yang intim oleh rasulullah
Muhammad saw dalam melaksanakan dan menerjemahkan Wahyu Qurani ke dalam
kehidupan beliau dalam
bermasyarakat telah kita dapatkan diri pribadi kita masing-masing sebagai
pengikut atau ummah rasulullah Muhammad
saw berada jauh menyimpang berputar-putar kembali ke tradisi dan kebiasaan
masyarakat jahiliyah manusia sebelum
turunnya Wahyu Qurani, sekalipun kita telah bersahadah terhadap realitas
keberadaan Allah swt dan terhadap diutus-
NYA Muhammad saw. Tampaknya semakin kita sadari adanya suatu pergeseran nilai
dan ukuran ber-illah di dalam
masyarakat Muslimin yang telah mengakibatkan semakin biasnya pandangan dan
penjelasan-penjelasan terhadap
pemahaman atas keyakinan pribadi kita masing-masing. Realitas obyektif ini
merupakan bekal bagi wukuf kita di 'Arofah
masing-masing pribadi guna memohon petunjuk yang lebih jelas dari yang telah
dijelaskan oleh para penjelas.
'Arofah adalah padang kering kerontang yang membentang, di mana diri pribadi
menjelajahi waktu yang telah berlalu
tanpa meminta izin. Di 'Arofah pula lembaran catatan harian, jam, menit dan
detik kehadiran diri pribadi diteliti serta
dievaluasi tanpa ada perjanjian apapun. Bagi diri pribadi yang lulus saringan
filter sunnah rasulullah Muhammad saw
difasilitasi bermunajat di masjid al-Aqsho di balik tabir benderang yang
transparan. Dan sudah barang tentu {?? ??? ?? ????
? ????} " ????? ????? ? ??? ?? " - "Fu^aad-nya tidak mendustakan apa yang
telah dilihatnya" sehingga thoubat sejati
merupakan gerbang indah yang terbuka lebar, selebar hamparan horizon alam
semesta.
Syair apa yang terbaca? Dendang pantun mana yang terucapkan? Lagu apa yang
membahana di sekujur diri pribadi?
Nikmat apa yang mampu di"rasa" dalam diri pribadi? Dan do'a apa yang sanggup
kita sampaikan kehadirat-NYA?
ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR!
Dan hanya syukur, bersyukur dan bersyukur
ALHAMDULILAHIROBBIL'ALAMIIN! ALHAMDULILAHIROBBIL'ALAMIIN!
ALHAMDULILAHIROBBIL'ALAMIIN!
Wassalam,
A.M
[Non-text portions of this message have been removed]