NB:

Pertama, si penulis artikel Kompas di bawah mestinya menjelaskan dulu 
siapa sebenarnya yang dimaksudnya sebagai "kita" dalam judul 
artikelnya itu. Apa mungkin dia malu ya?

Kedua, kerna si penulis tinggal di pedalaman, di Banda Aceh yang jauh 
dari pusat aktivitas sastra kontemporer Indonesia itu, maka tidak 
tahulah dia tentang Perang Sastra "boemipoetra" vs TUK yang begitu 
ramai dibicarakan terutama dalam dunia kangouw sastra kontemporer 
Indonesia. Inilah mungkin contoh kurang pergaulan alias kuper yang 
anarkis itu, hahaha...

Ketiga tentu saja lagi-lagi tentang kredensial seseorang untuk bisa 
jadi "pengamat" sastra. Apakah kerna pernah membukukan sebuah 
kumpulan cerita pendek maka seseorang itu lantas otomatis mengerti 
sastra dan pendapatnya berharga? Sudah begitu parahnyakah pelecehan 
sastra terjadi di negeri ini, pelecehan yang justru dilakukan oleh 
mereka yang konon anti-pelecehan! Pelecehan sastra Indonesia lebih 
parah kondisinya dibanding pelecehan seksual dan BUKAN rejim diktator 
militer Orde Baru saja yang pernah melakukannya!!! 
=========================

Pembunuhan Sultan dan Sisir George Bush dalam Sastra Kita

Kompas Minggu, 7 Desember 2008 | 01:15 WIB 

LINDA CHRISTANTY

Tahun ini, tepat 10 tahun Ayu Utami menulis Saman, novel yang 
dianggap memberi tafsir baru terhadap tubuh perempuan, seks, dan 
seksualitas dalam sastra kita.

Dalam Saman, untuk pertama kalinya perempuan bebas bicara tentang hal 
terdekat dengan diri mereka dan sekaligus telah lama diceraikan dari 
mereka, yaitu tentang tubuh mereka sendiri. Dan tubuh ibaratkan 
bahasa ibu, bukan sekadar teks. Tetapi, suatu hari negara dan agama 
ikut mengatur penggunaannya.

Orde Baru mengarang cerita tentang sejumlah perempuan merayakan pesta 
di lapangan Halim. Mereka menyayat kemaluan para jenderal dengan 
silet, lalu menari telanjang di atas tubuh-tubuh sekarat itu. Seks 
dan ketelanjangan jadi berbahaya, kotor, kelam, dan subversif bila 
dilakukan perempuan. Itulah pesan moral Orde Baru.

Cerita tersebut bagian dari pembenaran politik untuk memusnahkan 
sekitar tiga juta orang yang dituduh anggota atau simpatisan Partai 
Komunis Indonesia, antara tahun 1965 sampai 1967, di berbagai daerah.

Para ulama juga punya alasan tersendiri. Perempuan baik-baik harus 
membungkus tubuh dengan rapi. Sebab tubuh perempuan bisa menjanjikan 
neraka, menjerumuskan laki-laki ke dalam selingkuh dan niat 
memperkosa. Seks semata-mata saluran prokreasi, bukan komunikasi.

Wacana tubuh dalam Saman seketika jadi tindakan politis. Ia tak 
dituduh subversif oleh pemerintahan Soeharto, tetapi orang-orang yang 
mengatasnamakan agama terus mendesakkan sebuah undang-undang untuk 
memenjarakan tubuh itu kembali.

Namun, lima tahun ini belakangan euforia tentang tubuh menyurut. 
Orang-orang mungkin sadar, setelah bahasa ibu mereka perlu belajar 
bahasa lain untuk mengenal dunia yang lebih luas dan lebih rumit dari 
yang dibayangkan.

Pembaca sastra mulai kritis. Para penulis tak hanya sekadar menulis. 
Mereka harus melakukan eksplorasi bentuk, tema, dan bahasa. Sebab 
musuh terbesar mereka adalah pengulangan, rumus yang mudah diterka, 
dan stagnasi.

Tahun ini, tak ada keriuhan dalam sastra. Tak ada novel penting dan 
menarik dibaca.

Stagnasi

Sepuluh tahun setelah Saman terbit, Ayu Utami meluncurkan Bilangan Fu 
pada Juni lalu. Ia menulis ulang, antara lain kisah Sangkuriang, Nyi 
Ratu Kidul, Tuyul, Dewi Durga, dan Drupadi dalam novel setebal 513 
halaman itu. Tanpa kehadiran tokoh Yuda, Parang Jati, dan Marja, 
novel tersebut akan menjelma kumpulan dongeng dan takhayul Jawa.

Ayu juga menceritakan kembali peristiwa pembunuhan dukun santet atau 
penjarahan toko-toko Tionghoa yang sudah kita ketahui dari koran, 
radio, internet, dan televisi. Upaya si penulis memberi makna lain 
atas dongeng dan peristiwa tadi malah jadi khotbah.

Bilangan Fu bahkan bisa disunting setengahnya dan menjadi novel hantu 
yang menarik dengan memilih kisah Sebul, makhluk berwajah serigala 
dan bertubuh perempuan, sebagai pusat cerita. Kemudian biarkan 
pembaca menemukan sendiri di mana letak spiritualismenya secara 
kritis. Novel ini juga mengandung sejumlah kecerobohan berbahasa, 
semantik maupun sintaksis. Pembentukan kata serapan juga terasa 
janggal, hal kecil yang mengganggu (handphone—handpon).

Cerpen dan puisi

Namun, jangan berkecil hati. Cerita pendek dan puisi terbaik hadir di 
tahun ini. Tak banyak, tetapi penting disimak.

Bacalah cerpen "Pengantar Singkat untuk Pembunuhan Sultan Nurrudin" 
yang ditulis Azhari di Koran Tempo, 12 Oktober 2008. Kejutan, 
tegangan, humor, teka-teki, dan petualangan membuatnya terasa segar

Bagian pertama dibuka dengan adegan di istana. Di situ hadir Si Ujud, 
kepala mata-mata sultan, dan anggota perkumpulan rahasia Kura-Kura 
Berjanggut yang dipimpin perempuan bernama Ainul Mardiyah. Mereka 
diam-diam bersekutu untuk membunuh sultan dengan taktik menjual 
mutiara bertuah.

Dulu Si Ujud anggota armada penangkap perompak. Bertahun-tahun ia 
mengecoh pengejaran perompak Kastilia dengan mencecerkan racikan 
kelapa parut dan cabe yang dibakar, di mana-mana. Di tengah pelarian 
ia bertemu Ainul, perempuan yang direkrut sebagai anggota Kura-Kura 
Berjanggut setelah susah-payah mencari Tuhan, yang memiliki penyakit 
kudis di tubuh. Tuhan Ainul ternyata Si Buduk, salah seorang pemimpin 
tertinggi perkumpulan Kura-Kura Berjanggut.

AS Laksana juga memiliki kemahiran macam ini. Rumus mujarabnya sama: 
memparodikan sejarah dan mengejek kekuasaan secara jenaka. 
Dalam "Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut", 
ia mengisahkan kota yang hancur dibombardir meriam gara-gara semburan 
ludah pribumi hinggap di jidat nakhoda Portugis, Murjangkung. Ludah 
tersebut menjangkau benteng Murjangkung yang jaraknya puluhan 
kilometer berkat ilmu kesaktian si peludah. Cerpen ini dimuat Koran 
Tempo, 27 November 2008.

Bagaimana dengan puisi? Penyair Joko Pinurbo, dalam sebuah 
perbincangan kami, berujar bahwa masa depan puisi kita suram. Penyair 
bagai kehabisan ide kreatif. Pola berulang. Epigonisme masih terjadi.

Namun, simak sajak-sajak Nirwan Dewanto. Ia memberi nyawa, sikap, dan 
gerak pada benda-benda. Subjek liriknya juga bukan perenung, tetapi 
petarung dan kawan yang sinis. Sebut saja sajak "Garam". Subjek lirik 
di situ berterima kasih kepada lautan, tukang jagal, asparaga, juru 
museum, kentang bakar, Prairie du Chien, susu masam, dan peluh lautan 
yang sebagian berkorban untuk keberadaannya sebagai garam dengan nada 
menantang. Sajak ini dimuat Kompas, 2 Maret 2008 dan di antologi 
Jantung Lebah Ratu.

Akhirnya kita sampai pada Afrizal Malna. Dulu saya tak berminat pada 
sajak-sajaknya. Seperti ada lubang gelap di situ. Barangkali 
disengaja. Barangkali akibat kegagalan berbahasa.

Belum lama ini saya membaca buku puisinya, Teman-Temanku dari Atap 
Bahasa.

Ia mengkritik militerisme sebagai dirinya sendiri dalam "Guru dan 
Murid Dilarang Masuk ke Dalam Sekolah yang Terbakar": Aku tak percaya 
pada tanganku sendiri pagi ini telah membakar ratusan sekolah di 
kotaku sendiri, sekolah untuk anak-anakku sendiri….

Sajaknya berbeda dengan sajak-sajak Wiji Thukul, dengan subjek lirik 
yang selalu melawan negara, majikan, atau tentara yang semena-mena.

Coba simak "Chavez untuk Rambut yang Tak Mau Disisir". Subjek 
liriknya menyebut Bush sebagai teman yang ia hadiahi sisir setiap 
ulang tahun. Tetapi, sisir itu selalu patah. Negeri Bush dikatakannya 
tumbuh laksana anak kecil yang takut dengan sisir orang lain, untuk 
menggambarkan paranoia pemerintah Amerika terhadap dunia luar, 
sehingga "untuk membeli rokok ke warung sebelah saja, kau harus 
membawa pistol".

Di bait keempat puisi ini sindiran keras subjek lirik berselubung 
bujukan: Bush, jangan marah. Aku tidak pernah mengatakan bahwa kamu 
adalah setan dengan rambut yang tak mau disisir.

Saya percaya bahwa saya bisa memahami sajak-sajak Afrizal bukan 
karena ia semakin mudah, tetapi karena pengalaman hidup saya kini 
berdekatan dengan sajak-sajak itu.

Meskipun hanya empat nama yang bersinar di tahun ini, kesusastraan 
kita justru mengisyaratkan masa depan yang lebih baik, unik, segar, 
dan bermutu. Mudah-mudahan, kelak tak ada lagi teman yang menulis di 
Facebook tentang kejemuannya terhadap sastra Indonesia dan 
mengumumkan putus hubungan dengannya.

Linda Christanty Menulis kumpulan cerita pendek Kuda Terbang Maria 
Pinto (2004), memimpin sindikasi media Aceh Feature, dan tinggal di 
Banda Aceh


Saut Situmorang

http://sautsitumorang.multiply.com/
http://sautsitumorang.wordpress.com/

CARILAH ILMU SAMPAI KE EROPA,
JANGAN KE AMERIKA UTARA!!!



Kirim email ke