http://www.sinarharapan.co.id/berita/0812/09/pol03.html
Demokrasi Belum Diabdikan untuk Kesejahteraan Rakyat Surabaya-Ketua Umum PP Muhammadiyah Dien Syamsuddin mengatakan, pencapaian kehidupan demokratis di Indonesia belum diikuti perbaikan kondisi kehidupan masyarakat yang masih bergelut dengan kemiskinan. Agar kepercayaan masyarakat tetap dapat terpelihara, demokrasi harus bisa memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan kesejahteraan sosial. "Aktualisasi peran politik, baik parpol agama maupun pemerintah, masih sangat minim. Politik dan demokrasi belum terlalu besar diabdikan bagi kesejahteraan rakyat. Namun, masih diabdikan bagi kekuasaan, baik untuk merebut maupun untuk mempertahankan kekuasaan," katanya kepada SH usai menghadiri Milad Muhammadiyah ke-99 di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (6/12). Partai politik berbasis agama, kata Dien, memiliki tanggung jawab besar dalam mengusung dan mewujudkan agenda peningkatan kesejahteraan sebab mendasarkan diri pada identitas keagamaan yang sakral. Selain itu, mereka juga harus mampu membuktikan diri dalam menerapkan praktik politk yang beretika di tengah kehampaan moralitas politik saat ini. Menyikapi kerawanan politisasi agama, Dien menerangkan, pengaitan agama dengan politik atau politik dengan agama itu tak terelakkan dan tidak harus selalu dipandang sebagai politisasi, apalagi penyalahgunaan agama karena boleh jadi pengaitan tersebut bersifat substantif, yaitu memaknai politik dari sudut agama dan etika. Namun, harus tetap diingat, ada batas-batas tertentu yang memisahkan kewenangan antara agama dan politik. Hal ini diingatkan Dien agar bisa mencegah politisasi agama yang ber-dampak buruk bagi kehidupan sosial dan keberagamaan di Indonesia. Dien juga mengimbau semua parpol untuk bisa membedakan antara titik tolak perjuangan dengan tujuan politik yang akan dicapai. Artinya, titik tolak perjuangan parpol yang dilandasi pada ideologi tertentu masih bisa diterima, jika pada akhirnya memiliki tujuan politik yang terbuka bagi semua pihak, tanpa diskriminasi. Yang terjadi saat ini, tambahnya, parpol masih berangkat dari ruang yang terbatas sebagai identitas, tapi mengarah pada tujuan yang terbatas pula. ( [Non-text portions of this message have been removed]

