----- Original Message ----- 
From: yudhistira massardi 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, December 11, 2008 9:36 AM
Subject: [mediacare] kolom Lihat Jepang! 1, 2, 3


Lihat Jepang!

Oleh Yudhistira ANM Massardi

I. Revolusi Spiritual

Peringatan dan perayaan 50 tahun hubungan Indonesia-Jepang, mengingatkan betapa 
pentingnya untuk kita membaca kembali jejak dan tonggak fundamental yang 
mendasari semangat kedua bangsa. Itu menjadi momentum bagi sebuah refleksi dan 
introspeksi. Khususnya bagi kita, kegagalan memaknai arti pentingnya Jepang 
sebagai negara-bangsa, akan menyebabkan kita kehilangan proses pembelajaran. 
Terutama karena kini sudah semakin mendesak bagi kita untuk menemukan dan 
menentukan model ideal bagi arah pembangunan dan landasan spiritual bangsa, 
agar kita bisa segera bangkit dan jadi bangsa yang bermartabat. 

Jepang, seperti terbaca pada perjalanan sejarahnya, harus diakui, merupakan 
sebuah negara-bangsa yang “hebat.” Tradisi dan kepercayaan kuno mereka, 
Shintoisme, yang diajarkan sejak masa kekaisaran pertama, Jimmu Tenno (660 
Sebelum Masehi), menegaskan bahwa: Kepulauan Jepang diciptakan oleh para dewa 
sebagai negeri yang suci. Oleh karena itu, bangsa Jepang adalah keturunan suci 
para dewa. Maka, bangsa Jepang adalah bangsa yang “super” di antara 
bangsa-bangsa lain di muka bumi. Itulah spirit purba yang mendarah-daging di 
tubuh bangsa. Dalam kehidupan sehari-hari, Shinto mengajarkan cinta kepada 
alam, kebersihan, keindahan, harmoni.

Spirit itu kemudian diperkaya oleh semangat (Zen) Buddhisme yang masuk dari 
China pada pertengahan abad ke-6 Masehi. Inti ajarannya adalah membimbing 
manusia untuk mencapai tujuan tertinggi: pencerahan jiwa, bebas dari 
penderitaan yang diakibatkan oleh nafsu tamak, amarah dan kebodohan. Melalui 
praktik kontrol pernapasan dalam meditasi, mereka diarahkan untuk waspada dan 
memahami apa pun yang dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari. 

Pengaruh spiritual berikutnya, juga datang dari China, adalah Confucianisme dan 
Taoisme. Secara umum, Confucianisme mengajarkan tentang prinsip-prinsip moral 
dan etika, serta nilai-nilai sosial dan perilaku. Misalnya, penghormatan kepada 
nenek-moyang dan orangtua, pemahaman tentang sejarah, seni sastra, musik, lukis 
dan kaligrafi. Juga tata kemasyarakatan yang harus mengutamakan harmoni, 
hubungan-hubungan hierarkis dalam keluarga dan kehidupan sosial -- dalam 
konteks realitas kosmik. 

Adapun Taoisme mengajarkan tentang realitas fisik dan metafisik. Bahwa kekuatan 
spiritual tidak hanya memberikan dampak secara fisik, melainkan lebih dari itu. 
Bahwa harmoni tidak hanya berlaku dan diperlukan dalam hubungan di antara 
sesama manusia, melainkan juga dalam relasi antara manusia dengan alam dan 
kosmos. Bahwa meditasi dan latihan fisik meneguhkan persatuan psikologis, 
emosional, fisik dan identitas spiritual. Bahwa harmoni internal dan eksternal 
memberikan keuntungan praktis, mulai dari kesejahteraan sosial hingga kesehatan 
dan umur panjang seseorang. 

Shintoisme, Buddhisme, Confucianisme dan Taoisme, itulah elemen-elemen 
spiritual yang akhirnya melahirkan tradisi dan kebudayaan bangsa Jepang. 
Keempat elemen itu, sejak abad ke-10, menjadi darah hidup para samurai -- kaum 
militer yang merupakan kelas sosial baru, di bawah kontrol keluarga bangsawan 
Fujiwara di Kyoto. 

Regim militer kemudian mendirikan markas besar dan pemerintahan sendiri 
(Bakufu) di Kamakura, pada akhir abad ke-12 hingga 1334. Di situlah filsafat 
Zen dipraktikkan sebagai landasan jiwa kaum samurai. Kematian dipandang “lebih 
ringan dari bulu” dan ditempatkan sebagai tujuan tertinggi di Jalan Pedang 
(Hagakure). Doktrin bagi mereka adalah: mengabdi dan membela sang tuan/penguasa 
dengan raga dan jiwa. Kekalahan – dan rasa malu yang ditimbulkannya -- harus 
dibayar dengan bunuh diri dalam upacara yang khidmat (seppuku) atau hara-kiri 
dalam keadaan “darurat.” Doktrin (Bushido) itu terus dilembagakan hingga akhir 
keshogunan wangsa Tokugawa (1603-1868).

Bagi kaum samurai, berlaku asas “trinitas spiritual”: Shinto sebagai pemberi 
warna, Confucianisme/Taoisme mengatur kode etik, dan Zen mengajarkan penajaman 
fokus dan efisiensi dalam situasi perang maupun damai.
Dalam ungkapan lain: Shinto membimbing pembuatan pedang dalam ritual yang 
khidmat, suci, dan berseni. Confucianisme menetapkan kode etik, kapan pedang 
itu boleh dipergunakan. Zen menegaskan: begitu pedang dicabut dari sarungnya, 
pastikan, itu digunakan secara tuntas dan efektif: membunuh musuh.

Itulah jiwa dan budaya bangsa Jepang. Nilai-nilai spiritual itu tidak berhenti 
dalam ritual, atau hanya jadi wacana intelektual, melainkan mengejawantah 
secara aktual dalam kehidupan sehari-hari setiap orang Jepang, apa pun 
profesinya. Itulah energi nasional yang mampu membangkitkan mereka dari 
kehancuran akibat Perang Dunia II, dan menjadikan Jepang baru sebagai salah 
satu negara paling modern dan kuat. Lebih dari itu, seperti dikatakan seorang 
konsultan manajemen Amerika Serikat, bangsa Jepang kini – dengan sopan-santun 
memesona, pelayanan paripurna, dan tubuh khusuk membungkuk penuh hormat kepada 
sesama -- merupakan bangsa yang “extremely civilized.” 

Menjadi bangsa yang paling berbudaya di muka bumi!
Kita sesungguhnya juga memiliki energi spiritual yang hebat dan bisa menjadi 
modal bagi kebangkitan bangsa. Hanya saja, energi itu selama ini masih 
dibiarkan meringkuk di balik selimut. Maka, “Bangkitlah hai orang yang 
berselimut!” 

II. Revolusi Intelektual

Jepang di masa silam adalah negeri yang centang-perenang oleh perang panjang. 
Pertumpahan darah yang tiada henti, berlangsung selama beratus tahun, sejak 
abad ke-11 hingga 1867. Itu, pertama kali dipicu oleh persaingan dan perebutan 
pengaruh dan kekuasaan antara dua klan besar, keluarga Taira dan Minamoto . 
Kemudian, diikuti oleh para bangsawan dan tuan tanah, pendeta, serta para 
petualang. 

Bangsa yang relatif homogen itu pun mengalami perpecahan selama beberapa 
generasi. Semua itu terjadi setelah kekuasaan dan wibawa Kaisar – yang secara 
tradisional dipandang merupakan keturunan Dewi Matahari, Amaterasu Omikami -- 
digerogoti dan dikucilkan hingga menjadi hanya simbol. Penguasa sesungguhnya 
adalah mereka yang memiliki pasukan militer/samurai.

Adalah Oda Nobunaga yang mampu memadamkan pemberontakan dan perang saudara itu, 
dan kemudian menjadi shogun (1573). Ia mencoba mepersatukan seluruh bangsa, 
hingga ia tewas dibunuh pada 1582. Visi persatuannya dilanjutkan oleh shogun 
berikutnya, Toyotomi Hideyoshi (1582-1598). Keinginan Hideyoshi untuk 
mewariskan kekuasaan kepada anaknya, Hideyori, digagalkan oleh salah seorang 
jenderalnya yang ambisius, Tokugawa Ieyasu, yang mengambilalih kekuasaan dengan 
“ongkos” dua perang besar yang paling berdarah: Perang Sekigahara (1600) dan 
Perang Kastil Osaka (1615). 

Tokugawa Ieyasu menobatkan diri sebagai shogun pada 1603, dan memindahkan pusat 
pemerintahannya dari Kyoto ke Edo (Tokyo). Dialah shogun yang paling sukses 
mempersatukan seluruh bangsa, menjaga stabilitas keamanan, dan karena itu bisa 
membangun. Di bawah pemerintahannya, dicapai kemajuan di bidang politik, 
ekonomi, sosial dan seni-budaya yang adiluhung. 

Setelah Ieyasu meninggal pada 1616, pemerintahannya yang stabil dan damai 
dilanjutkan oleh keluarganya. Keshogunan Tokugawa berkuasa dari 1603 hingga 
1867. Adalah Tokugawa terakhir, yang ke-15, Shogun Yoshinobu Tokugawa, yang 
kemudian bersetuju untuk merestorasi kekuasaan Kaisar. Ia menyerahkan 
kedaulatan negara ke tangan Kaisar Meiji. Mungkin ia melihat, setelah 
kedatangan “Black Ships” yang dipimpin Komodor Matthew Perry (1853), zaman 
telah berubah. Sudah waktunya kekuatan pedang digantikan dengan pena: dengan 
ilmu (Barat) yang lebih modern. 

Restorasi/Revolusi Meiji adalah sebuah lompatan “back to the future.” Di satu 
sisi, itu menghidupkan kekuasaan kuno Kaisar – dengan langkah lanjutan 
dikukuhkannya kembali Shinto (berikut kepercayaan terhadap Amaterasu) sebagai 
agama negara, menggantikan Buddhisme yang dianut regim militer/samurai. Di sisi 
lain: mengejar ilmu Barat dengan sehebat-hebatnya. Ribuan kaum terpelajar, 
termasuk para samurai yang sudah menggantikan pedangnya dengan pena, dikirim ke 
Amerika Serikat dan Eropa, untuk mereguk ilmu dan sekaligus membawa buku-buku 
Barat dan menerjemahkannya secara besar-besaran ke dalam bahasa Jepang. 

Dengan kata lain, Restorasi Meiji adalah sebuah langkah strategis menuju 
“Revolusi Industri.” Kemajuan pesat dalam industri militer, akhirnya 
“mengembalikan” kekuasaan ke tangan militer lagi (1905), dan itu lalu mendorong 
para jenderal petualang untuk melibatkan diri dalam Perang Dunia I, dan memicu 
Perang Dunia II: menginvasi Korea, China, sampai Indonesia. 
Akhir dari petualangan militer itu kita sudah tahu: bom atom dijatuhkan di 
Hiroshima dan Nagasaki – sebuah penghancuran yang belum ada preseden dan 
pengulangannya sepanjang sejarah umat manusia. Tetapi, bukan hanya kedua kota 
itu yang meleleh, seluruh Jepang mengalami kehancuran hebat.

Di bawah pendudukan pasukan Sekutu pimpinan Amerika Serikat (1945-1952), dengan 
spirit yang tinggi, bangsa Jepang segera bangkit dari reruntuhan. Hanya enam 
tahun sesudah perang, pada 1951, film Rashomon karya Akira Kurosawa menang di 
Festival Film Venesia sebagai yang terbaik. Kurosawa tidak hanya memberikan 
karya yang indah, melainkan juga mempersembahkan sebuah cara bertutur 
(multiplot) yang orisinal, membuka cakrawala baru bagi sinema dunia, dan 
menjadi legenda. Karya-karya Kurosawa berikutnya memberikan semangat dan 
optimisme bagi kebangkitan bangsa, sambil mengingatkan pentingnya nilai-nilai: 
jujur, tanggungjawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil dan peduli.

Kebangkitan Jepang yang kedua – setelah Reformasi Meiji – yakni pasca-Perang 
Dunia II, dari sisi waktu, sungguh mencengangkan. Sehingga, tak mengherankan 
jika bangsa itu disebut sebagai bangsa “ajaib.” Negeri yang tak memiliki sumber 
daya alam apa pun itu, mampu menggenjot kembali mesin-mesin industrinya. Pada 
awal tahun 50-an, barang-barang produksinya sudah membanjiri pasar dunia: 
radio, tape recorder, arloji, kamera, alat-alat musik, sepeda motor, mobil, 
dsb. 

Pada 1964, mereka sudah mampu menyelenggarakan Olimpiade Tokyo. Pada tahun itu 
juga, mereka menghasilkan kereta api tercepat di dunia (Shinkansen). Pada tahun 
70-an, hanya 25 tahun setelah kehancurannya, GNP Jepang sudah setara dengan GNP 
Inggris Raya ditambah GNP Prancis!

Jepang memang negeri ajaib. Spirit mereka sebagai bangsa unggul – sebagaimana 
diajarkan Shinto -- menjadi energi positif untuk memenangkan setiap tantangan. 
Dengan mental juaranya, Jepang telah menyihir dunia hingga hari ini!

III. Revolusi Emosional

Bangsa Jepang telah dengan gemilang menyelesaikan tiga “revolusi” besar. 
Revolusi pertama, di masa Tokugawa Ieyasu, boleh dikatakan merupakan sebuah 
Revolusi Spiritual, yang mengukuhkan jatidiri dan persatuan seluruh komponen 
bangsa. Revolusi kedua, di era Meiji, adalah sebuah Revolusi Intelektual, yang 
membuka cakrawala pemikiran bahwa tanpa ilmu baru yang telah memajukan Barat, 
mereka akan menjadi bangsa tertinggal. Revolusi ketiga adalah Revolusi 
Emosional, di era pascaperang. Mereka menyadari, betapa posisi sebagai pihak 
yang “kalah (perang)” begitu menyakitkan dan memalukan. Harga diri bangsa dan 
martabat setiap pribadi orang Jepang, sebagai anak-anak dewa, terhinakan secara 
telak. 

Bagi orang Jepang, tak ada tempat bagi yang “kalah” dan tidak ada ruang untuk 
hidup dengan menanggung rasa malu. Sehingga, tidak ada seorang pun yang percaya 
ketika mendengar pengumuman dari Kaisar – menyusul kehancuran Hiroshima dan 
Nagasaki – yang menyatakan bahwa perang telah berakhir, dan Jepang menyerah 
kepada Sekutu. Maka, ribuan orang pun melolong dalam tangis tak percaya, dan 
melakukan “penebusan” dengan jalan hara kiri.

Emosi yang teraduk-aduk itu, pada akhirnya mengobarkan nasionalisme baru, untuk 
melakukan “pembalasan” dengan sebuah kebangkitan: melawan dengan menggunakan 
kekuatan senjata musuh yang mengalahkan mereka: teknologi. 

Seperti diuraikan dengan cermat oleh Ezra F.Vogel dari Universitas Harvard, 
Amerika Serikat (Japan as Number One, 1980), dalam rangka membangun kekuatan di 
“jalur cepat,” bangsa Jepang melanjutkan langkah-langkah Meiji, yakni 
“peniruan” besar-besaran atas semua aspek “unggulan” bangsa-bangsa lain, 
khususnya Amerika. Mulai dari sistem organisasi, administrasi dan birokrasi 
modern – baik untuk tata pemerintahan maupun bisnis -- hingga lembaga-lembaga 
sosial. Tetapi, sebelum menerapkannya, mereka melakukan perbaikan di sana-sini, 
sehingga hasilnya menjadi “lebih indah dari warna aslinya.”

Di bidang olahraga misalnya, adalah mencengangkan bahwa hanya lima tahun 
setelah Reformasi Meiji, pada 1873 mereka memilih bisbol untuk dijadikan 
olahraga nasional. Dan ketika ternyata bahwa itu adalah olahraga utama di 
negeri yang telah mengalahkannya (Amerika), bisbol justru lantas digalakkan di 
mana-mana, dan diajarkan kepada murid-murid sejak di sekolah dasar. Para 
bintang lapangan dan pelatih bisbol terbaik Amerika pun mereka undang sebagai 
penyemangat dan untuk peningkatan kualitas para pemain bisbol Jepang. Maka, 
bangsa penggila bisbol di dunia adalah Amerika dan Jepang. 

Langkah-langkah serupa dilakukan juga untuk olahraga renang. Bahkan, meskipun 
tubuh orang Jepang relatif kecil sehingga mengurangi daya jangkau, dan walaupun 
lahan di Jepang sempit dan mahal, di sekolah-sekolah dasar dan di daerah 
perkotaan dibangun fasilitas kolam renang. 

Tak cuma itu. Olaharga golf pun dikembangkan, dan lapangan-lapangan golf 
dibangun. Bahkan, seperti Amerika, ketika menyadari bahwa sepakbola 
sungguh-sungguh digemari oleh sebagian besar penghuni planet Bumi, 
sekurang-kurangnya dalam sepuluh tahun terakhir ini, Jepang pun mulai membangun 
tim-tim sepakbola. Untuk itu, para seniman komik dan film animasi pun secara 
khusus menciptakan pahlawan sepakbola (pelajar) Jepang yang hebat dan tak 
terkalahkan: Kapten Tsubasa! 

Pendeknya, apa pun yang bisa dilakukan oleh bangsa-bangsa lain, maka bangsa 
Jepang harus bisa melakukannya – dan hasilnya harus lebih baik (meskipun baru 
dalam fiksi seperti “Kapten Tsubasa”). Tetapi, di sisi lain, apa-apa yang 
bangsa lain tidak bisa lakukan – apa pun pertimbangannya – maka bangsa Jepang 
harus bisa melakukannya, atau menyiptakannya, sehingga mereka bisa menjadi 
pemimpin di bidang itu. Misalnya, walkman, video games, industri komik dan film 
(manga/anime/robot), atau kegilaan gaya busana di Harajuku. Dan semua itu 
mereka ekspor ke luar negeri sebagai barang dagangan, atau sebagai infiltrasi 
budaya, termasuk menu sushi dan sashimi.

Jepang, dengan tiras surat kabar mencapai sekitar 15 juta eksemplar per hari, 
dan setiap tahun menerbitkan sekitar 30.000 judul buku, adalah bangsa yang tak 
pernah mau berhenti belajar (iqra). Dengan minat baca yang begitu tinggi, maka 
mereka adalah bangsa yang memiliki berjuta “pintu dunia.” Sehingga, di balik 
segala sikap mereka yang santun dan rendah hati, sesungguhnya apa pun mungkin 
dilakukan oleh mereka. 

Sementara itu, di sini, dengan apatisme yang sungguh merusak semangat nasion, 
kita selalu merasa bahwa apa pun tidak mungkin bisa dilakukan oleh bangsa kita. 
Saya merasa amat sedih ketika salah seorang budayawan senior di sini mengatakan 
kepada saya, bahwa ia sudah lama tidak mau memikirkan bangsanya, karena ia 
melihat bahwa -- dengan kondisi dan moralitas para pemimpin dan pelaku politik 
sekarang ini -- bangsa Indonesia sama sekali tidak punya harapan untuk berubah 
ke arah yang lebih baik. 

Oleh karena itu, sebagai penutup, baiklah dikutipkan di sini dua peribahasa 
Jepang: Furuki o tazunete, atarashiki o shiru (Dengan belajar dari yang lama, 
kita dapatkan hal baru). Issun no mushi nimo gobu no tamashii (Bahkan serangga 
satu inci pun memiliki setengah inci spirit). Padahal, kita bukanlah bangsa 
serangga. Maka, “Bung, ayo Bung!” Gambate…!



 

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke