please for your information watch this link,,i dont believe japanese from god 
!!!
 
Ainu, First People of Japan, The Original & First Japanese
http://.youtube.com/watch?v=endv3PVpXFg





--- Pada Kam, 11/12/08, mediacare <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

Dari: mediacare <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: [ppiindia] Fw: [mediacare] kolom Lihat Jepang! 1, 2, 3
Kepada: "zamanku" <[EMAIL PROTECTED]>, [email protected], 
"RumahKitaBersama" <[EMAIL PROTECTED]>
Tanggal: Kamis, 11 Desember, 2008, 10:38 AM

----- Original Message ----- 
From: yudhistira massardi 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, December 11, 2008 9:36 AM
Subject: [mediacare] kolom Lihat Jepang! 1, 2, 3


Lihat Jepang!

Oleh Yudhistira ANM Massardi

I. Revolusi Spiritual

Peringatan dan perayaan 50 tahun hubungan Indonesia-Jepang, mengingatkan betapa
pentingnya untuk kita membaca kembali jejak dan tonggak fundamental yang
mendasari semangat kedua bangsa. Itu menjadi momentum bagi sebuah refleksi dan
introspeksi. Khususnya bagi kita, kegagalan memaknai arti pentingnya Jepang
sebagai negara-bangsa, akan menyebabkan kita kehilangan proses pembelajaran.
Terutama karena kini sudah semakin mendesak bagi kita untuk menemukan dan
menentukan model ideal bagi arah pembangunan dan landasan spiritual bangsa, agar
kita bisa segera bangkit dan jadi bangsa yang bermartabat. 

Jepang, seperti terbaca pada perjalanan sejarahnya, harus diakui, merupakan
sebuah negara-bangsa yang “hebat.” Tradisi dan kepercayaan kuno mereka,
Shintoisme, yang diajarkan sejak masa kekaisaran pertama, Jimmu Tenno (660
Sebelum Masehi), menegaskan bahwa: Kepulauan Jepang diciptakan oleh para dewa
sebagai negeri yang suci. Oleh karena itu, bangsa Jepang adalah keturunan suci
para dewa. Maka, bangsa Jepang adalah bangsa yang “super” di antara
bangsa-bangsa lain di muka bumi. Itulah spirit purba yang mendarah-daging di
tubuh bangsa. Dalam kehidupan sehari-hari, Shinto mengajarkan cinta kepada alam,
kebersihan, keindahan, harmoni.

Spirit itu kemudian diperkaya oleh semangat (Zen) Buddhisme yang masuk dari
China pada pertengahan abad ke-6 Masehi. Inti ajarannya adalah membimbing
manusia untuk mencapai tujuan tertinggi: pencerahan jiwa, bebas dari penderitaan
yang diakibatkan oleh nafsu tamak, amarah dan kebodohan. Melalui praktik kontrol
pernapasan dalam meditasi, mereka diarahkan untuk waspada dan memahami apa pun
yang dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari. 

Pengaruh spiritual berikutnya, juga datang dari China, adalah Confucianisme dan
Taoisme. Secara umum, Confucianisme mengajarkan tentang prinsip-prinsip moral
dan etika, serta nilai-nilai sosial dan perilaku. Misalnya, penghormatan kepada
nenek-moyang dan orangtua, pemahaman tentang sejarah, seni sastra, musik, lukis
dan kaligrafi. Juga tata kemasyarakatan yang harus mengutamakan harmoni,
hubungan-hubungan hierarkis dalam keluarga dan kehidupan sosial -- dalam konteks
realitas kosmik. 

Adapun Taoisme mengajarkan tentang realitas fisik dan metafisik. Bahwa kekuatan
spiritual tidak hanya memberikan dampak secara fisik, melainkan lebih dari itu.
Bahwa harmoni tidak hanya berlaku dan diperlukan dalam hubungan di antara sesama
manusia, melainkan juga dalam relasi antara manusia dengan alam dan kosmos.
Bahwa meditasi dan latihan fisik meneguhkan persatuan psikologis, emosional,
fisik dan identitas spiritual. Bahwa harmoni internal dan eksternal memberikan
keuntungan praktis, mulai dari kesejahteraan sosial hingga kesehatan dan umur
panjang seseorang. 

Shintoisme, Buddhisme, Confucianisme dan Taoisme, itulah elemen-elemen
spiritual yang akhirnya melahirkan tradisi dan kebudayaan bangsa Jepang. Keempat
elemen itu, sejak abad ke-10, menjadi darah hidup para samurai -- kaum militer
yang merupakan kelas sosial baru, di bawah kontrol keluarga bangsawan Fujiwara
di Kyoto. 

Regim militer kemudian mendirikan markas besar dan pemerintahan sendiri
(Bakufu) di Kamakura, pada akhir abad ke-12 hingga 1334. Di situlah filsafat Zen
dipraktikkan sebagai landasan jiwa kaum samurai. Kematian dipandang “lebih
ringan dari bulu” dan ditempatkan sebagai tujuan tertinggi di Jalan Pedang
(Hagakure). Doktrin bagi mereka adalah: mengabdi dan membela sang tuan/penguasa
dengan raga dan jiwa. Kekalahan – dan rasa malu yang ditimbulkannya -- harus
dibayar dengan bunuh diri dalam upacara yang khidmat (seppuku) atau hara-kiri
dalam keadaan “darurat.” Doktrin (Bushido) itu terus dilembagakan hingga
akhir keshogunan wangsa Tokugawa (1603-1868).

Bagi kaum samurai, berlaku asas “trinitas spiritual”: Shinto sebagai
pemberi warna, Confucianisme/Taoisme mengatur kode etik, dan Zen mengajarkan
penajaman fokus dan efisiensi dalam situasi perang maupun damai.
Dalam ungkapan lain: Shinto membimbing pembuatan pedang dalam ritual yang
khidmat, suci, dan berseni. Confucianisme menetapkan kode etik, kapan pedang itu
boleh dipergunakan. Zen menegaskan: begitu pedang dicabut dari sarungnya,
pastikan, itu digunakan secara tuntas dan efektif: membunuh musuh.

Itulah jiwa dan budaya bangsa Jepang. Nilai-nilai spiritual itu tidak berhenti
dalam ritual, atau hanya jadi wacana intelektual, melainkan mengejawantah secara
aktual dalam kehidupan sehari-hari setiap orang Jepang, apa pun profesinya.
Itulah energi nasional yang mampu membangkitkan mereka dari kehancuran akibat
Perang Dunia II, dan menjadikan Jepang baru sebagai salah satu negara paling
modern dan kuat. Lebih dari itu, seperti dikatakan seorang konsultan manajemen
Amerika Serikat, bangsa Jepang kini – dengan sopan-santun memesona, pelayanan
paripurna, dan tubuh khusuk membungkuk penuh hormat kepada sesama -- merupakan
bangsa yang “extremely civilized.” 

Menjadi bangsa yang paling berbudaya di muka bumi!
Kita sesungguhnya juga memiliki energi spiritual yang hebat dan bisa menjadi
modal bagi kebangkitan bangsa. Hanya saja, energi itu selama ini masih dibiarkan
meringkuk di balik selimut. Maka, “Bangkitlah hai orang yang berselimut!” 

II. Revolusi Intelektual

Jepang di masa silam adalah negeri yang centang-perenang oleh perang panjang.
Pertumpahan darah yang tiada henti, berlangsung selama beratus tahun, sejak abad
ke-11 hingga 1867. Itu, pertama kali dipicu oleh persaingan dan perebutan
pengaruh dan kekuasaan antara dua klan besar, keluarga Taira dan Minamoto .
Kemudian, diikuti oleh para bangsawan dan tuan tanah, pendeta, serta para
petualang. 

Bangsa yang relatif homogen itu pun mengalami perpecahan selama beberapa
generasi. Semua itu terjadi setelah kekuasaan dan wibawa Kaisar – yang secara
tradisional dipandang merupakan keturunan Dewi Matahari, Amaterasu Omikami --
digerogoti dan dikucilkan hingga menjadi hanya simbol. Penguasa sesungguhnya
adalah mereka yang memiliki pasukan militer/samurai.

Adalah Oda Nobunaga yang mampu memadamkan pemberontakan dan perang saudara itu,
dan kemudian menjadi shogun (1573). Ia mencoba mepersatukan seluruh bangsa,
hingga ia tewas dibunuh pada 1582. Visi persatuannya dilanjutkan oleh shogun
berikutnya, Toyotomi Hideyoshi (1582-1598). Keinginan Hideyoshi untuk mewariskan
kekuasaan kepada anaknya, Hideyori, digagalkan oleh salah seorang jenderalnya
yang ambisius, Tokugawa Ieyasu, yang mengambilalih kekuasaan dengan “ongkos”
dua perang besar yang paling berdarah: Perang Sekigahara (1600) dan Perang
Kastil Osaka (1615). 

Tokugawa Ieyasu menobatkan diri sebagai shogun pada 1603, dan memindahkan pusat
pemerintahannya dari Kyoto ke Edo (Tokyo). Dialah shogun yang paling sukses
mempersatukan seluruh bangsa, menjaga stabilitas keamanan, dan karena itu bisa
membangun. Di bawah pemerintahannya, dicapai kemajuan di bidang politik,
ekonomi, sosial dan seni-budaya yang adiluhung. 

Setelah Ieyasu meninggal pada 1616, pemerintahannya yang stabil dan damai
dilanjutkan oleh keluarganya. Keshogunan Tokugawa berkuasa dari 1603 hingga
1867. Adalah Tokugawa terakhir, yang ke-15, Shogun Yoshinobu Tokugawa, yang
kemudian bersetuju untuk merestorasi kekuasaan Kaisar. Ia menyerahkan kedaulatan
negara ke tangan Kaisar Meiji. Mungkin ia melihat, setelah kedatangan “Black
Ships” yang dipimpin Komodor Matthew Perry (1853), zaman telah berubah. Sudah
waktunya kekuatan pedang digantikan dengan pena: dengan ilmu (Barat) yang lebih
modern. 

Restorasi/Revolusi Meiji adalah sebuah lompatan “back to the future.” Di
satu sisi, itu menghidupkan kekuasaan kuno Kaisar – dengan langkah lanjutan
dikukuhkannya kembali Shinto (berikut kepercayaan terhadap Amaterasu) sebagai
agama negara, menggantikan Buddhisme yang dianut regim militer/samurai. Di sisi
lain: mengejar ilmu Barat dengan sehebat-hebatnya. Ribuan kaum terpelajar,
termasuk para samurai yang sudah menggantikan pedangnya dengan pena, dikirim ke
Amerika Serikat dan Eropa, untuk mereguk ilmu dan sekaligus membawa buku-buku
Barat dan menerjemahkannya secara besar-besaran ke dalam bahasa Jepang. 

Dengan kata lain, Restorasi Meiji adalah sebuah langkah strategis menuju
“Revolusi Industri.” Kemajuan pesat dalam industri militer, akhirnya
“mengembalikan” kekuasaan ke tangan militer lagi (1905), dan itu lalu
mendorong para jenderal petualang untuk melibatkan diri dalam Perang Dunia I,
dan memicu Perang Dunia II: menginvasi Korea, China, sampai Indonesia. 
Akhir dari petualangan militer itu kita sudah tahu: bom atom dijatuhkan di
Hiroshima dan Nagasaki – sebuah penghancuran yang belum ada preseden dan
pengulangannya sepanjang sejarah umat manusia. Tetapi, bukan hanya kedua kota
itu yang meleleh, seluruh Jepang mengalami kehancuran hebat.

Di bawah pendudukan pasukan Sekutu pimpinan Amerika Serikat (1945-1952), dengan
spirit yang tinggi, bangsa Jepang segera bangkit dari reruntuhan. Hanya enam
tahun sesudah perang, pada 1951, film Rashomon karya Akira Kurosawa menang di
Festival Film Venesia sebagai yang terbaik. Kurosawa tidak hanya memberikan
karya yang indah, melainkan juga mempersembahkan sebuah cara bertutur
(multiplot) yang orisinal, membuka cakrawala baru bagi sinema dunia, dan menjadi
legenda. Karya-karya Kurosawa berikutnya memberikan semangat dan optimisme bagi
kebangkitan bangsa, sambil mengingatkan pentingnya nilai-nilai: jujur,
tanggungjawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil dan peduli.

Kebangkitan Jepang yang kedua – setelah Reformasi Meiji – yakni
pasca-Perang Dunia II, dari sisi waktu, sungguh mencengangkan. Sehingga, tak
mengherankan jika bangsa itu disebut sebagai bangsa “ajaib.” Negeri yang tak
memiliki sumber daya alam apa pun itu, mampu menggenjot kembali mesin-mesin
industrinya. Pada awal tahun 50-an, barang-barang produksinya sudah membanjiri
pasar dunia: radio, tape recorder, arloji, kamera, alat-alat musik, sepeda
motor, mobil, dsb. 

Pada 1964, mereka sudah mampu menyelenggarakan Olimpiade Tokyo. Pada tahun itu
juga, mereka menghasilkan kereta api tercepat di dunia (Shinkansen). Pada tahun
70-an, hanya 25 tahun setelah kehancurannya, GNP Jepang sudah setara dengan GNP
Inggris Raya ditambah GNP Prancis!

Jepang memang negeri ajaib. Spirit mereka sebagai bangsa unggul – sebagaimana
diajarkan Shinto -- menjadi energi positif untuk memenangkan setiap tantangan.
Dengan mental juaranya, Jepang telah menyihir dunia hingga hari ini!

III. Revolusi Emosional

Bangsa Jepang telah dengan gemilang menyelesaikan tiga “revolusi” besar.
Revolusi pertama, di masa Tokugawa Ieyasu, boleh dikatakan merupakan sebuah
Revolusi Spiritual, yang mengukuhkan jatidiri dan persatuan seluruh komponen
bangsa. Revolusi kedua, di era Meiji, adalah sebuah Revolusi Intelektual, yang
membuka cakrawala pemikiran bahwa tanpa ilmu baru yang telah memajukan Barat,
mereka akan menjadi bangsa tertinggal. Revolusi ketiga adalah Revolusi
Emosional, di era pascaperang. Mereka menyadari, betapa posisi sebagai pihak
yang “kalah (perang)” begitu menyakitkan dan memalukan. Harga diri bangsa
dan martabat setiap pribadi orang Jepang, sebagai anak-anak dewa, terhinakan
secara telak. 

Bagi orang Jepang, tak ada tempat bagi yang “kalah” dan tidak ada ruang
untuk hidup dengan menanggung rasa malu. Sehingga, tidak ada seorang pun yang
percaya ketika mendengar pengumuman dari Kaisar – menyusul kehancuran
Hiroshima dan Nagasaki – yang menyatakan bahwa perang telah berakhir, dan
Jepang menyerah kepada Sekutu. Maka, ribuan orang pun melolong dalam tangis tak
percaya, dan melakukan “penebusan” dengan jalan hara kiri.

Emosi yang teraduk-aduk itu, pada akhirnya mengobarkan nasionalisme baru, untuk
melakukan “pembalasan” dengan sebuah kebangkitan: melawan dengan menggunakan
kekuatan senjata musuh yang mengalahkan mereka: teknologi. 

Seperti diuraikan dengan cermat oleh Ezra F.Vogel dari Universitas Harvard,
Amerika Serikat (Japan as Number One, 1980), dalam rangka membangun kekuatan di
“jalur cepat,” bangsa Jepang melanjutkan langkah-langkah Meiji, yakni
“peniruan” besar-besaran atas semua aspek “unggulan” bangsa-bangsa lain,
khususnya Amerika. Mulai dari sistem organisasi, administrasi dan birokrasi
modern – baik untuk tata pemerintahan maupun bisnis -- hingga lembaga-lembaga
sosial. Tetapi, sebelum menerapkannya, mereka melakukan perbaikan di sana-sini,
sehingga hasilnya menjadi “lebih indah dari warna aslinya.”

Di bidang olahraga misalnya, adalah mencengangkan bahwa hanya lima tahun
setelah Reformasi Meiji, pada 1873 mereka memilih bisbol untuk dijadikan
olahraga nasional. Dan ketika ternyata bahwa itu adalah olahraga utama di negeri
yang telah mengalahkannya (Amerika), bisbol justru lantas digalakkan di
mana-mana, dan diajarkan kepada murid-murid sejak di sekolah dasar. Para bintang
lapangan dan pelatih bisbol terbaik Amerika pun mereka undang sebagai
penyemangat dan untuk peningkatan kualitas para pemain bisbol Jepang. Maka,
bangsa penggila bisbol di dunia adalah Amerika dan Jepang. 

Langkah-langkah serupa dilakukan juga untuk olahraga renang. Bahkan, meskipun
tubuh orang Jepang relatif kecil sehingga mengurangi daya jangkau, dan walaupun
lahan di Jepang sempit dan mahal, di sekolah-sekolah dasar dan di daerah
perkotaan dibangun fasilitas kolam renang. 

Tak cuma itu. Olaharga golf pun dikembangkan, dan lapangan-lapangan golf
dibangun. Bahkan, seperti Amerika, ketika menyadari bahwa sepakbola
sungguh-sungguh digemari oleh sebagian besar penghuni planet Bumi,
sekurang-kurangnya dalam sepuluh tahun terakhir ini, Jepang pun mulai membangun
tim-tim sepakbola. Untuk itu, para seniman komik dan film animasi pun secara
khusus menciptakan pahlawan sepakbola (pelajar) Jepang yang hebat dan tak
terkalahkan: Kapten Tsubasa! 

Pendeknya, apa pun yang bisa dilakukan oleh bangsa-bangsa lain, maka bangsa
Jepang harus bisa melakukannya – dan hasilnya harus lebih baik (meskipun baru
dalam fiksi seperti “Kapten Tsubasa”). Tetapi, di sisi lain, apa-apa yang
bangsa lain tidak bisa lakukan – apa pun pertimbangannya – maka bangsa
Jepang harus bisa melakukannya, atau menyiptakannya, sehingga mereka bisa
menjadi pemimpin di bidang itu. Misalnya, walkman, video games, industri komik
dan film (manga/anime/robot), atau kegilaan gaya busana di Harajuku. Dan semua
itu mereka ekspor ke luar negeri sebagai barang dagangan, atau sebagai
infiltrasi budaya, termasuk menu sushi dan sashimi.

Jepang, dengan tiras surat kabar mencapai sekitar 15 juta eksemplar per hari,
dan setiap tahun menerbitkan sekitar 30.000 judul buku, adalah bangsa yang tak
pernah mau berhenti belajar (iqra). Dengan minat baca yang begitu tinggi, maka
mereka adalah bangsa yang memiliki berjuta “pintu dunia.” Sehingga, di balik
segala sikap mereka yang santun dan rendah hati, sesungguhnya apa pun mungkin
dilakukan oleh mereka. 

Sementara itu, di sini, dengan apatisme yang sungguh merusak semangat nasion,
kita selalu merasa bahwa apa pun tidak mungkin bisa dilakukan oleh bangsa kita.
Saya merasa amat sedih ketika salah seorang budayawan senior di sini mengatakan
kepada saya, bahwa ia sudah lama tidak mau memikirkan bangsanya, karena ia
melihat bahwa -- dengan kondisi dan moralitas para pemimpin dan pelaku politik
sekarang ini -- bangsa Indonesia sama sekali tidak punya harapan untuk berubah
ke arah yang lebih baik. 

Oleh karena itu, sebagai penutup, baiklah dikutipkan di sini dua peribahasa
Jepang: Furuki o tazunete, atarashiki o shiru (Dengan belajar dari yang lama,
kita dapatkan hal baru). Issun no mushi nimo gobu no tamashii (Bahkan serangga
satu inci pun memiliki setengah inci spirit). Padahal, kita bukanlah bangsa
serangga. Maka, “Bung, ayo Bung!” Gambate…!



 

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links






      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke