(dikutip dr milis tetangga)
Date: Sun, 7 Dec 2008 22:49:28 
Subject: Trs: Sandrina Malakiano Fatah Story

 
Dari Facebook-nya Sandrina Malakiano Fatah

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya 
sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa 
– sebagaimana Islam mengajarkan – di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi 
keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak 
pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai 
dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk 
siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya 
siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya 
memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan 
di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, 
setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang 
sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya 
merasa pintu memang sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi. Untuk 
menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya saya memutuskan 
untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi berlangsung. Maka, selama 
enam bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi dengan status yang tetap 
terikat pada institusi Metro TV. 

Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada sinar di 
ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri. Pengunduran diri ini 
adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya buat. Saya amat mencintai 
pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter berita serta kemudian sebagai 
anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini 
sejak di TVRI Denpasar, ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV 
internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya 
kehilangan pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya.

Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang terbaik dan 
bahwa “dunia tak selebar daun Metro TV’, saya bergeming dengan keputusan 
itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan mendapat berkah dari-Nya.

HIKMAH BERJILBAB

Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya 
terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya 
tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV, bagaimana 
mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga Allah 
memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu. Bagaimana mungkin saya bisa 
menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa, menungguinya di luar 
ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang 
ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya mendapat 
kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang 
antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan yang saya asuh di beberapa 
stasiun TV. Metro TV sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak 
untuk menjadi host dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para profesor 
di acara “Ensiklopedi Al Quran� selama Ramadhan tahun lalu, misalnya. Saya 
pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman baru tentang agama dan 
keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam bentuknya yang tak bisa saya 
bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam yang hanif, membebaskan, toleran, 
memanusiakan manusia, mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan 
terhadap kemajemukan, dan melindungi minoritas.

Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan mendalam. 
Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah sebuah 
proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang kesucian. Berjibab adalah 
upaya yang amat personal untuk memilih kenyamanan hidup.

Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu 
mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada akhirnya 
adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan personal orang lain 
untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian seminim yang ia mau atas 
nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar saja jika saya 
menuntut penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa tumbuh di 
mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia juga 
ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku dirinya liberal dalam 
berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro TV, saya 
menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle – seseorang yang 
senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat, mentor, bahkan 
kadang-kadang orang tua – di sebuah lembaga nirlaba. Di sana kami juga 
bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal 
dalam berislam.

Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya 
berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah komentar 
buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk melarang saya 
siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang masih lekat dalam 
ingatan saya adalah, “Kamu tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang 
benar.�

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral dengan 
gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan manusia dan 
penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang dimiliki 
oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak mengerti 
bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian minim untuk 
tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya membolehkan seorang 
perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara? Bagaimana mungkin mereka 
memiliki pikiran bahwa dengan kepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan 
seorang perempuan langsung meredup dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme – mungkin 
dalam bentuknya yang lebih berbahaya – ternyata bisa bersemayam di kepala 
orang-orang yang mengaku liberal.

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke