Salam, Kebiasaan kaum islam fundamentalis militan yang didanai Timur Tengah hanya mengacau saja. Menimbulkan instabilitas. Nggak ada kontribusinya sama sekali bagi kemajuan Indonesia. Fanatisme demi fanatisme. Bukan demi kemajuan. Tidak mencerahkan. Waton fanatik.
Indonesia bukan antek Timur Tengah. Dulu tidak. Sekarang tidak. Tidak ada untungnya sama sekali jadi kepanjangan "kebudayaan unta", yang bisanya cuma memanjangkan jenggot. Tegakkan NKRI, pertahankan kebhinekaan, perjuangkan HAM universal, dan ideologi Pancasila. Stasiun TV umum yang ideal seharusnya memang tidak memperlihatkan wajah sektarian. Apa yang dilakukan Metro TV sudah benar dan saya dukung! Geli setiap saya lihat Trans TV pagi. Ada "penyelam" yang membaca berita. Saya selalu pindah ke channel lain kalau berita yang disiarkannya nggak bagus. Pemandangan yang tak enak dilihat. Mengganggu sekali. Lebih timur tengah dari timur tengah. Padahal di stasiun Al Jazeera sendiri penyiarnya biasa-biasa saja. Mggak norak seperti di Trans TV pagi! Silakan bikin stasiun yang semua penyiarnya berjilbab. Ber-burqa juga boleh, tinggal pamer "kordeng" saja di depan mata. Kasi namanya yang spesifik; Al Hidayah TV, Al Muslim TV, kek. Silakan bertarung dengan teve umum. Kita lihat mana yang lebih laku dan ditonton orang. Dimas. --- In [email protected], A Nizami <nizam...@...> wrote: > > Kebiasaan kaum liberal yang didanai AS dan Eropa itu > kalau pornografi atau orang mengumbar aurat, dibela2 > HAMnya dan ditampilkan di berbagai TV. > > Tapi kalau ada orang pakai jilbab, langsung dikucilkan > dan ditindas. Kalau pun ada yang muncul, paling subuh > hari ketika acara ceramah agama....:) > > Apa ini tanda berkuasanya Liberal Fundamentalis di > MetroTV? > > --- Satrio Arismunandar <satrioarismunan...@...> > menulis: > > > (dikutip dr milis tetangga) > > Date: Sun, 7 Dec 2008 22:49:28 > > Subject: Trs: Sandrina Malakiano Fatah Story > > > > à> > Dari Facebook-nya Sandrina Malakiano Fatah > > > > Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh > > jadi di belakangnya sesungguhnya menguntit berkah > > yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa > > ââ¬â sebagaimana Islam mengajarkan ââ¬â di > > balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan > > di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan. > > > > Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan > > keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal > > 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai > > dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya > > bekerja, Metro TV. > > > > Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya > > tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. > > Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya > > siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah > > berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, > > mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di > > Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih > > operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya > > berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang > > sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan > > tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah > > ditutup. > > > > Sementara itu, sebagai penyiar utama saya > > mendapatkan gaji yang tinggi. Untuk menghindari > > fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya > > saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama > > proses negosiasi berlangsung. Maka, selama enam > > bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi dengan > > status yang tetap terikat pada institusi Metro TV. > > > > Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan > > tak melihat ada sinar di ujung lorong yang gelap, > > akhirnya saya mengundurkan diri. Pengunduran diri > > ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya > > buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai > > reporter dan presenter berita serta kemudian sebagai > > anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan > > yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar, > > ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV > > internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV > > selama 15 tahun, ketika saya kehilangan pekerjaan > > itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi > > saya. > > > > Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan > > memberi saya yang terbaik dan bahwa ââ¬Å"dunia tak > > selebar daun Metro TVââ¬â¢, saya bergeming dengan > > keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya > > akan mendapat berkah dari-Nya. > > > > HIKMAH BERJILBAB > > > > Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur > > dari Metro TV, ibu saya terkena radang pankreas akut > > dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya tak > > bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di > > Metro TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi > > Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga Allah > > memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu. Bagaimana > > mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di > > ruang rawat inap biasa, menungguinya di luar ruang > > operasi besar serta dua hari di ruang ICU, dan > > kemudian 17 hari di ruang ICCU? > > > > Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena > > berjilbab saya mendapat kesempatan untuk mempelajari > > Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang > > antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan > > yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV > > sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga > > kontrak untuk menjadi host dalam acara pamer cakap > > (talkshow) selama bulan Ramadhan. > > > > Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi > > teman dialog para profesor di acara > > ââ¬Å"Ensiklopedi Al Quranââ¬ï¿½ selama Ramadhan > > tahun lalu, misalnya. Saya pun mendapatkan banyak > > sekali pelajaran dan pemahaman baru tentang agama > > dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam > > bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. > > Saya bertemu Islam yang hanif, membebaskan, toleran, > > memanusiakan manusia, mengagungkan ibu dan kaum > > perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, > > dan melindungi minoritas. > > > > Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah > > berislam secara baik dan mendalam. Tidak sama > > sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah > > sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau > > tentang kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat > > personal untuk memilih kenyamanan hidup. > > > > Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki > > diri tanpa perlu mempublikasikan segenap kebaikan > > itu pada orang lain. Berjilbab pada akhirnya adalah > > sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan > > personal orang lain untuk tidak berjilbab atau > > bahkan untuk berpakaian seminim yang ia mau atas > > nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab > > itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan > > serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan > > jilbab. > > > > Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa > > fundamentalisme bisa tumbuh di mana saja. Ia bisa > > tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia > > juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang > > mengaku dirinya liberal dalam berislam. > > > > Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses > > bernegosiasi dengan Metro TV, saya menemani suami > > untuk bertemu dengan Profesor William Liddle > > ââ¬â seseorang yang senantiasa kami perlakukan > > penuh hormat sebagai sahabat, mentor, bahkan > > kadang-kadang orang tua ââ¬â di sebuah lembaga > > nirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah > > teman, yang dikenali publik sebagai tokoh-tokoh > > liberal dalam berislam. > > > > Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka > > tentang keputusan saya berjilbab. Dengan nada > > sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah > > komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan > > keputusan Metro TV untuk melarang saya siaran karena > > berjilbab. Salah satu komentar mereka yang masih > > lekat dalam ingatan saya adalah, ââ¬Å"Kamu > > tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang > > benar.ââ¬ï¿½ > > > > Saya sungguh terkejut karena sikap mereka > > bertentangan secara diametral dengan gagasan-gagasan > > yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan > > manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang > > di tengah kemajemukan. > > > > Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab > > adalah hak yang dimiliki oleh setiap perempuan yang > > memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak mengerti > > bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan > > berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, > > mereka juga semestinya membolehkan seorang perempuan > > berjilbab untuk memperoleh hak setara? Bagaimana > > mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala > > yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang > > perempuan langsung meredup dan otaknya mengkeret > > mengecil? > > > > Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa > > fundamentalisme ââ¬â mungkin dalam bentuknya > > yang lebih berbahaya ââ¬â ternyata bisa > > bersemayam di kepala orang-orang yang mengaku > > liberal. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been > > removed] > > > > > > > === > Paket Umrah 2009 Mulai Rp 16,9 juta > Informasi selengkapnya ada di: > http://www.media-islam.or.id > > Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS > > Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252 > > Untuk berhenti: UNREG SI kirim ke 3252. hanya dari Telkomsel > Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com > > > ___________________________________________________________________________ > Nama baru untuk Anda! > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. > Cepat sebelum diambil orang lain! > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/ >

