Jurnal Toddopuli: SITOR SITUMORANG DI "10 JAM UNTUK SASTRA INDONESIA" PARIS 07 DESEMBER 2008 Begitu memasuki ruang temu sastra 07 Desember 2007, aku berhenti sejenak di samping pintu utama, melayangkan pandang ke seluruh ruang untuk melihat situasi dan siapa-siapa yang hadir. Kemudian berjalan lambat-lambat ke depan, menyalami orang-orang yang kukenal dan yang menyapa hangat. Termasuk orang-orang teras dari KBRI Paris yang hadir dalam jumlah besar. Hadirnya pejabat-pejabat dalam kegiatan begini sangat menggembirakan hatiku. Dahulu Dubes Adian Silalahi, Atase Pers Yuli Mumpuni [sekarang Dubes di Aljazair], demikian juga Ny. Lucia Rustam [sekarang Dubes di Bern, Swiss] tak pernah alpa dan aktif memberikan bantuan-bantuan kongkret. Yuli Mumpuni yang begitu bangga dan girang jika ketemu orang-orang se-almamater, ketika aku menjadi pembicara utama di sebuah seminar mengenai masalah konflik etnik, datang sambil membawakan lumpia. Di pojok kota mana pun kegiatan tentang Indonesia berlangsung, Yuli Mumpuni tidak pernah tidak datang. Ia juga sangat memperhatikan pelukis Salim dengan sering mendatangi almarhum di rumahnya. Perhatian dari seorang pejabat KBRI kepada para warga negaranya sangat mengharukan. Yuli melakukannya tanpa kenal lelah. Yang lebih mengesankan dari Yuli Mumpuni bahwa ia menempatkan dirinya tidak sebagai penjabat KBRI tapi sebagai sesama anak bangsa. Setelah menyalami pejabat-pejabat KBRI , aku melanjutkan langkah ke depan sambil melayangkan pandang ke seluruh ruang melihat siapa-siapa yang hadir. "Mas", seorang perempuan muda menyapaku. "Laksmi. Kau baik-baik?" Mantel musim dingin dan tas, kutaruh di samping Laaksmi Pamuntjak, tanda aku akan duduk di samping penulis produktif ini yang karyanya bakal diterbitkan oleh salah sebuah penerbit besar di Paris ini. Sampai di deretan bangku paling depan, aku berjongkok mengambil foto Sitor Situmorang dan istrinya: Barbara Brouwer, setelah menyalami mereka. Dalam acara internasional tentang sastra Indonesia ini, Sitor merupakan salah seorang pengisi utama acara. Acara yang dipandu oleh Anda Djoehana Wiradikarta, seorang pengajar dan peneliti. Kalian tahu, bahwa Sitor Situmorang adalah seorang penyair, penulis cerpen dan esai terkemuka Indonesia dari Angkatan '45, lahir pada tahun 1924 di Tanah Batak, Sumatera Utara. Ketika ia bekerja di Paris, ia menjadi akrab dengan karya-karya sastrawan-sastrawan Perancis, terutama yang beraliran eksistensialisme dan ketika ia kembali ke tanahair, ia memperkenalkan karya-karya mereka melalu penterjemahan. Pada tahu 50an dan 60an pernah juga melakukan pekerjaan sebagai wartawan pada paling sedikit empat harian sambil menjadi pengajar pada Akademi Teater Jakarta. Sitor adalah seorang pengagum besar Soekarno dan pernah menjabat beberapa pos kepemerintahan yang ada kaitannya dengan dunia kesenian. Menjadi orang pertama dari Lembaga Kebudayaan Nasional [LKN] pada tahun 1959. Dituduh sebagai penyokong aktif sayap kiri PNI, oleh rezim Soeharto ia dipenjara dari 1967 sampai dengan 1976. Dari tahun 1982-1990 ia menjadi pengajar di Universitas Leiden, Negeri Belanda, bersama Barbara Brouwer pernah tinggal di Pakistan, Singapura, Paris dan Jakarta. Sekarang tinggal di Belanda. Sitor pernah mendapat Hadiah South East Asian Write Award di Bangkok. Karya-karya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. "Paris la Nuit entre le souvenir et l'oublie" adalah karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh indonesianis Perancis Heni Chambert-Loir [Ed.Jakarta Forum, Jakarta-Paris, 2002]. Dalam temu internasional tentang sastra Indonesia kali ini, Sitor diwawancara oleh Vincent Bardet, seorang politikolog dan filosof Perancis yang pernah menyertai Gerakan 22 Maret 1968 di Kuba. Ketiak mewawancarai Sitor, di depan peserta temu sastra ini,Vincent Bardet antara lain menanyakan pengalamannya sebagai seorang sastrawan eksil. Setelah sejenak berpikir, Sitor menjawab pertanyaan Vincent dengan singkat: "Saya tidak pernah menjadi seorang eksil. Kalau mau disebut sebagai eksil maka masa itu adalah saat saya dipenjarakan oleh rezim Soeharto dari 1967-1976". Vincent kemudian menanyakan hubungan antara cinta dan revolusi. Pertanyaan yang dijawab oleh Sitor dengan pertanyaan: Apakah revolusi harus membunuh cinta? Mengapa revolusi mesti membunuh cinta? Wawancara singkat ini dilanjutkan oleh Sitor dengan membacakan puisi-puisinya berikut: LAGU JEMBATAN KOTA PARIS 36 jembatan di kota ini. Namun belum semuanya kulintasi Dari jembatan Bir Hakeim kulayangkan pandang ke hulu lewat bentangan Seine di bawah dan kapal-kapal pesiar hilir-mudik di arus lewat puncak pepohonan Tuileries dan atap-atap Louvre putih menjulag kubah-kubah Sacré Coeur Di belakangku (ke arah hilir) masih menanti jembatan Mirabeau 36 jembatan kota ini. Belum semuanya kulintasi. Di air sungai di bawah berdesah lagu Apollinaire sepanjang musim-musim kenangan cinta. [1999] EKSIL di makanm Budiman Sudharsoni di pinggiran kota Paris untuk Farida dan Pierre Dialam kata-kata tak terucap kami menjeput tanah kami menghirup air purba negeri kelahiran Kami berkumpul berdatangan dari diaspora Eropa bersatu di tanah dan air kenangan Kesempatan bertemu lagi mengantar seorang teman Kami kuburkan di tanah orang. Merayakan setiaakawan persahabatan kekal karena dan dalam mati-n-a menyatu dengan cinta dan rindu tanahairnya. Nusantara abadi! Frbruari 1999 NEGERI KEMAHIRAN TERKENANG DI BUKIT-BUKIT PROVENCE (Le randonneur) untuk ulangtahun ke-90 pelukis Salim Penyairkah atu pelukis yang mengungkap kearifan jalan setapak dan kesetiannya menuntun kaki pelancong di bukit-bukit negeri dulu? melintasi hutan dan lembah! Lihat! Ia berbelok kini mengitari lereng Sainte Victoire menuju puncaknya di atas awan tempat memandang bebas ke angkasa bertirai langit biru kekal panggilan batin di hati pelukis Cézanne kini sampai di tujuan berhadap-hadapan dalam balutan keabadian Paris, 3 September 1998 HARIANBOHO untuk Ayah dan Ibu 'Ku yakin menemukan jalan selalu kembali padamu, jalan pulang ke lembahlandai di tepi danau sepanjang pantai 'Ku yakin selalu padamu kembali di akhir nanti, saat kembara berakhir, tiba sadar pada musafir. Di ladang dan gerbang negeri-negeri ramah, tapi asing. namun penumpang jua. Karena ketentuan masalalu, tak dapat diulang lahir sekali di pangkuanmu. Ingatan jadi kejyakinan terang Di seberang aku berada kau di telapak terbawa, menanti di tiap langkah batu-batu lembah semula. JALAN BATU KE DANAU Lewat Tarutung dan Siantar ada dua jalan baru menuju danau Aku tahu Lewat Tarutung dan Siantar ada dua jalan batu menuju kau Aku tahu Dari Tarutung dan Siantar ada dua jalan rantau ke pangkuanmu Aku lalu Dari Tarutungdan Siantar ada dua jalan rindu Teringat kau Aku tahu. PULAU SAMOSIR Angin bohorok Bertiup di lereng bukit Membawa kekeringan Membasa kematangan Daerah danau Toba Lagu hidup dan kerja Bangsa pembajak Lemah-lembut kelabu Yang memeri aku lagu "Pulau di tengah danau" Tandus dan setia... *** Pembacaan sajak-sajak ini mengakhiri waktu Sitor mengisi acara temu sastra internasional 07 Desember 2008 "Pnsar Malam", tanpa meninggalkan buah pemikiran-pemikiran berarti lainnya yang baru. Sitor Situmorang pun meninggalkan panggung temu sastra bertopang tongkat hitam indah menahan tekanan usia yang makin menekan dihadapi oleh elan hidupnya yang tak pudar-pudar. Tongkat hital dan jalan tertatih serta sorot mata yang mengingatkan kita pada kata-kata Chairil Anwar: "sekali berati sudah itu mati". Tidakkah acara-acara sastra "Pasar µMalam" juga mencoba memberi "arti" bagi eksistensinya, memaknai persahabatan antara kedua rakyat yang dipisahkan oleh tonggak-tonggak semu tapi nyata bernama bangsa?! *** Perjalanan Kembali,Musim 2008 --------------------------------------------- JJ. Kusni Keterangan Foto: Sitor Situmorang danistri Barbara Brouwer di acara "Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia" ,Paris , 07 Desember 2008 [Foto dan Dok. JJK].
--- On Fri, 12/12/08, sangumang kusni <[email protected]> wrote: From: sangumang kusni <[email protected]> Subject: jurnal toddopuli: sitor situmorang di "10 jam untuk sastra indonesia, paris To: [email protected] Cc: "redaksi panyingkul" <[email protected]> Date: Friday, 12 December, 2008, 12:55 PM Jurnal Toddopuli: SITOR SITUMORANG DI "10 JAM UNTUK SASTRA INDONESIA" PARIS 07 DESEMBER 2008 Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-anakku Begitu memasuki ruang temu sastra 07 Desember 2007, aku berhenti sejenak di samping pintu utama, melayangkan pandang ke seluruh ruang untuk melihat situasi dan siapa-siapa yang hadir. Kemudian berjalan lambat-lambat ke depan, menyalami orang-orang yang kukenal dan yang menyapa hangat. Termasuk orang-orang teras dari KBRI Paris yang hadir dalam jumlah besar. Hadirnya pejabat-pejabat dalam kegiatan begini sangat menggembirakan hatiku. Dahulu Dubes Adian Silalahi, Atase Pers Yuli Mumpuni [sekarang Dubes di Aljazair], demikian juga Ny. Lucia Rustam [sekarang Dubes di Bern, Swiss] tak pernah alpa dan aktif memberikan bantuan-bantuan kongkret. Yuli Mumpuni yang begitu bangga dan girang jika ketemu orang-orang se-almamater, ketika aku menjadi pembicara utama di sebuah seminar mengenai masalah konflik etnik, datang sambil membawakan lumpia. Di pojok kota mana pun kegiatan tentang Indonesia berlangsung, Yuli Mumpuni tidak pernah tidak datang. Ia juga sangat memperhatikan pelukis Salim dengan sering mendatangi almarhum di rumahnya. Perhatian dari seorang pejabat KBRI kepada para warga negaranya sangat mengharukan. Yuli melakukannya tanpa kenal lelah. Yang lebih mengesankan dari Yuli Mumpuni bahwa ia menempatkan dirinya tidak sebagai penjabat KBRI tapi sebagai sesama anak bangsa. Setelah menyalami pejabat-pejabat KBRI , aku melanjutkan langkah ke depan sambil melayangkan pandang ke seluruh ruang melihat siapa-siapa yang hadir. "Mas", seorang perempuan muda menyapaku. "Laksmi. Kau baik-baik?" Mantel musim dingin dan tas, kutaruh di samping Laaksmi Pamuntjak, tanda aku akan duduk di samping penulis produktif ini yang karyanya bakal diterbitkan oleh salah sebuah penerbit besar di Paris ini. Sampai di deretan bangku paling depan, aku berjongkok mengambil foto Sitor Situmorang dan istrinya: Barbara Brouwer, setelah menyalami mereka. Dalam acara internasional tentang sastra Indonesia ini, Sitor merupakan salah seorang pengisi utama acara. Acara yang dipandu oleh Anda Djoehana Wiradikarta, seorang pengajar dan peneliti. Kalian tahu, bahwa Sitor Situmorang adalah seorang penyair, penulis cerpen dan esai terkemuka Indonesia dari Angkatan '45, lahir pada tahun 1924 di Tanah Batak, Sumatera Utara. Ketika ia bekerja di Paris, ia menjadi akrab dengan karya-karya sastrawan-sastrawan Perancis, terutama yang beraliran eksistensialisme dan ketika ia kembali ke tanahair, ia memperkenalkan karya-karya mereka melalu penterjemahan. Pada tahu 50an dan 60an pernah juga melakukan pekerjaan sebagai wartawan pada paling sedikit empat harian sambil menjadi pengajar pada Akademi Teater Jakarta. Sitor adalah seorang pengagum besar Soekarno dan pernah menjabat beberapa pos kepemerintahan yang ada kaitannya dengan dunia kesenian. Menjadi orang pertama dari Lembaga Kebudayaan Nasional [LKN] pada tahun 1959. Dituduh sebagai penyokong aktif sayap kiri PNI, oleh rezim Soeharto ia dipenjara dari 1967 sampai dengan 1976. Dari tahun 1982-1990 ia menjadi pengajar di Universitas Leiden, Negeri Belanda, bersama Barbara Brouwer pernah tinggal di Pakistan, Singapura, Paris dan Jakarta. Sekarang tinggal di Belanda. Sitor pernah mendapat Hadiah South East Asian Write Award di Bangkok. Karya-karya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. "Paris la Nuit entre le souvenir et l'oublie" adalah karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh indonesianis Perancis Heni Chambert-Loir [Ed.Jakarta Forum, Jakarta-Paris, 2002]. Dalam temu internasional tentang sastra Indonesia kali ini, Sitor diwawancara oleh Vincent Bardet, seorang politikolog dan filosof Perancis yang pernah menyertai Gerakan 22 Maret 1968 di Kuba. Ketiak mewawancarai Sitor, di depan peserta temu sastra ini,Vincent Bardet antara lain menanyakan pengalamannya sebagai seorang sastrawan eksil. Setelah sejenak berpikir, Sitor menjawab pertanyaan Vincent dengan singkat: "Saya tidak pernah menjadi seorang eksil. Kalau mau disebut sebagai eksil maka masa itu adalah saat saya dipenjarakan oleh rezim Soeharto dari 1967-1976". Vincent kemudian menanyakan hubungan antara cinta dan revolusi. Pertanyaan yang dijawab oleh Sitor dengan pertanyaan: Apakah revolusi harus membunuh cinta? Mengapa revolusi mesti membunuh cinta? Wawancara singkat ini dilanjutkan oleh Sitor dengan membacakan puisi-puisinya berikut: LAGU JEMBATAN KOTA PARIS 36 jembatan di kota ini. Namun belum semuanya kulintasi Dari jembatan Bir Hakeim kulayangkan pandang ke hulu lewat bentangan Seine di bawah dan kapal-kapal pesiar hilir-mudik di arus lewat puncak pepohonan Tuileries dan atap-atap Louvre putih menjulag kubah-kubah Sacré Coeur Di belakangku (ke arah hilir) masih menanti jembatan Mirabeau 36 jembatan kota ini. Belum semuanya kulintasi. Di air sungai di bawah berdesah lagu Apollinaire sepanjang musim-musim kenangan cinta. [1999] EKSIL di makanm Budiman Sudharsoni di pinggiran kota Paris untuk Farida dan Pierre Dialam kata-kata tak terucap kami menjeput tanah kami menghirup air purba negeri kelahiran Kami berkumpul berdatangan dari diaspora Eropa bersatu di tanah dan air kenangan Kesempatan bertemu lagi mengantar seorang teman Kami kuburkan di tanah orang. Merayakan setiaakawan persahabatan kekal karena dan dalam mati-n-a menyatu dengan cinta dan rindu tanahairnya. Nusantara abadi! Frbruari 1999 NEGERI KEMAHIRAN TERKENANG DI BUKIT-BUKIT PROVENCE (Le randonneur) untuk ulangtahun ke-90 pelukis Salim Penyairkah atu pelukis yang mengungkap kearifan jalan setapak dan kesetiannya menuntun kaki pelancong di bukit-bukit negeri dulu? melintasi hutan dan lembah! Lihat! Ia berbelok kini mengitari lereng Sainte Victoire menuju puncaknya di atas awan tempat memandang bebas ke angkasa bertirai langit biru kekal panggilan batin di hati pelukis Cézanne kini sampai di tujuan berhadap-hadapan dalam balutan keabadian Paris, 3 September 1998 HARIANBOHO untuk Ayah dan Ibu 'Ku yakin menemukan jalan selalu kembali padamu, jalan pulang ke lembahlandai di tepi danau sepanjang pantai 'Ku yakin selalu padamu kembali di akhir nanti, saat kembara berakhir, tiba sadar pada musafir. Di ladang dan gerbang negeri-negeri ramah, tapi asing. namun penumpang jua. Karena ketentuan masalalu, tak dapat diulang lahir sekali di pangkuanmu. Ingatan jadi kejyakinan terang Di seberang aku berada kau di telapak terbawa, menanti di tiap langkah batu-batu lembah semula. JALAN BATU KE DANAU Lewat Tarutung dan Siantar ada dua jalan baru menuju danau Aku tahu Lewat Tarutung dan Siantar ada dua jalan batu menuju kau Aku tahu Dari Tarutung dan Siantar ada dua jalan rantau ke pangkuanmu Aku lalu Dari Tarutungdan Siantar ada dua jalan rindu Teringat kau Aku tahu. PULAU SAMOSIR Angin bohorok Bertiup di lereng bukit Membawa kekeringan Membasa kematangan Daerah danau Toba Lagu hidup dan kerja Bangsa pembajak Lemah-lembut kelabu Yang memeri aku lagu "Pulau di tengah danau" Tandus dan setia... *** Pembacaan sajak-sajak ini mengakhiri waktu Sitor mengisi acara temu sastra internasional 07 Desember 2008 "Pnsar Malam", tanpa meninggalkan buah pemikiran-pemikiran berarti lainnya yang baru. Sitor Situmorang pun meninggalkan panggung temu sastra bertopang tongkat hitam indah menahan tekanan usia yang makin menekan dihadapi oleh elan hidupnya yang tak pudar-pudar. Tongkat hital dan jalan tertatih serta sorot mata yang mengingatkan kita pada kata-kata Chairil Anwar: "sekali berati sudah itu mati". Tidakkah acara-acara sastra "Pasar µMalam" juga mencoba memberi "arti" bagi eksistensinya, memaknai persahabatan antara kedua rakyat yang dipisahkan oleh tonggak-tonggak semu tapi nyata bernama bangsa?! *** Perjalanan Kembali,Musim 2008 --------------------------------------------- JJ. Kusni Keterangan Foto: Sitor Situmorang danistri Barbara Brouwer di acara "Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia" ,Paris , 07 Desember 2008 [Foto dan Dok. JJK]. Importing contacts has never been easier. Bring your friends over to Yahoo! Mail today! Get your preferred Email name! Now you can @ymail.com and @rocketmail.com http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/ [Non-text portions of this message have been removed]

