Jurnal Toddopuli: 
  
  
PARLER DE SOI, PARLER AUX AUTRES?" 
Tema "10 Jam Untuk Sastra Indonesia" di Paris 
7 Desember 2008 
  
  
  
1. 
  
"Parler de soi, parler ux aux autres", membicarakan diri, sekaligus untuk 
berbicara dengan yang lain, merupakan pertanyaan sentral yang diangkat oleh 
acara "Pasar Malam" "10 Jam Untuk Sasgtra Indonesa" pada 07 Desember 2008 lalu 
di Paris.  
  
Memperhatikan tema-tema yang dibahas oleh "Pasar Malam" dalam kegiatan-kegiatan 
sastra Indonesianya sejak Nopember 2004 sampai sekarang, saya sering 
tercengang-cengang oleh kejelian kreatif  mereka memilih pertanyaan yang 
mendalam, lalu memilih para pembicara guna menukik masalah-masalah yang 
diangkat. Sebab saya sadar benar bahwa bertanya  ukanlah sesuatu yang 
sederhana. Pertanyaan tidak lain dari hasil pergulatan memahami kenyataan, 
menganalisanya dan membanding-bandingkannya dengan rupa-rupa peristiwa lain 
yang parelel atau mendekati dalam kurun sejarah negeri.guna mencoba menyerap 
sari umum dari peristiwa agar tidak berhenti pada gejala.  
Pertanyaan-pertanyaanlah kemudian yang berfungsi menemani penanya mencari 
jawab. Barangkali, dalam -dangkalnya pertanyaan turut mempengaruhi kadar 
jawaban yang diburu. Dari segi lain, pertanyaan merupakan ciri tentang adanya 
kegelisahan spiritualitas. Pemikiran yang tak henti mengalir tak obah arus  
sungai
 yang tak pernah jeda mencari muara.  
  
Melalui acara-acara sastra Indonesia "Pasar Malam" yang saya ikuti sejak awal, 
saya mengetahui hubungan sastra segitiga antara Perancis-Belanda dan 
Indonesia.   Kalau hubungan sastra antara Indonesia dan Negeri Belanda, 
kiranya, disebabkan oleh adanya hubungan kolonialisaasi, tidak terlalu rumit 
untuk ditelusuri dan dipahami.  Tapi hubungan sastra antara Perancis dan 
Indonesia, bagi saya, usaha yang   memerlukan jerih -payah dan ketekunan lebih 
-- walau pun benar bahwa negeri yang sekarang  bernama Indonesia, pernah 
menjadi wilayah  Perancis  ketika Negeri Belanda ditakulukkan oleh Perancis 
pada suatu kurun waktu sejarah .  Sastra Perancis menjalarkan pengaruhnya ke 
Indonesia, pertama-tama  melalui bahasa Belanda. Dari bahasa Belandalah  salah 
satu karya utama  romansir Alexandre Dumas,  "Les Trois Mousqetaireso " di 
bahasa-indonesiakan. Demikian juga  "Patjar Merah", roman dengan latarbelakang 
revolusi Perancis.   
  
Dari pihak lain, melalui makalah-makalah yang disampaika dalam acara sastra 
Indonesia "Pasar Malam" baik yang berlangsung di L'Institut Néerlandais, di 
Universitas Sorbonne atau Senat,, saya ditunjukkan bahwa sastrawan-sastrawan 
dan pemikir Perancis, kalau bukan  mendapat imbas dari sastra Nusantara dan 
pemikiran-pemikirannya, bisa diusut ke belakangsejak Diderot dan Victor 
Hugo. Dari acara-acara "Pasar Malam", saya juga mengetahui agak rinci hubungan 
antara Edward du Perron dan André Malraux --salah seorang sastrawan penghuni 
"Pantheon " -- rumah peristirahatan putera-puteri terbik Perancis.   
  
Di bazar buku pada acara "10 Jam Untuk Sastra Indonesia" 07 Desember 2008 lalu, 
saya mendapatkan sebuah buku hasil penelitian George VOISSET, berjudul 
"L'Histoire du Genre Pantoun Malaise , Francophone Universalie" [L'Harmattan, 
Paris, 1997, 358 hlm].   Dalam buku ini, George Voisset dengan contoh-contoh 
kongkreet memperlihatka]n bagaimana sastrawan-satraan Frncophone Eropa Barat 
menulis pantun-pantun dalam bahasa ibu mereka. Penghargaan terhadap pantun juga 
diperlihatkan oleh Jawatan Kereta-Api Perancis [RATP] dengan menempelkan di 
tembok-tembok kade [quai] dan gerbong-gerbong metro, kereta api bawah tanah 
kota Paris, pantun-pantun Melayu. Voisset dalam bukunya  mengatakan bahwa ia 
melihat ada "periode keemasan pantun Melayu" dalam skala global sehingga 
mempunyai tempat di kalangan sastra Perancis, Belgia dan Francophonie. 
  
Taklama setelah acara 07 Desember 2008 "Pasar Malam" selesai,  petang kemarin 
saya mendapat kiriman buku hasil penelitian Xu Younian, mantan pengajar pada 
Institut Bahasa-Bahasa Timur Kanton, berjudul "Kajian Perbandingan Mengenai 
Pantun Melayu Dengan Nyanyian Rakyat Tiongkok" [Maison d'Edition Quaille, Juli 
2008, 279 hlm].  
  
Dalam percakapan santai, ketika melepaskan tamu-tamu "Pasar Malam" yang akan 
kembali ke tempat masing-masing sesuai acara 07 Desember, Johanna Lederer yang 
adalah sarjana sastra Amerika Serikat, mengatakan betapa ia mencintai dan 
mengagumi pantun lebih dari pada haiku Jepang. 
  
Dari perjalanan dunia pantun ini kembali saya melihat yang dibilang oleh Paul 
Ricoeur itu  bahwa "kebudayaan itu majemuk, kemanusiaan itu tunggal". Pantun 
adalah salah satu ugkapan kebudayaan majemuk itu dan ditemukan oleh anak 
manusia di busur bumi sebagai ungkapan diri mereka juga sekalipun berasal dari 
Nusantara yang dilalui hangat matahari katulistiwa. Barangkali pantun datang di 
langit-langit negeri empat musim dengan hangat matahari dari katulistiwa 
Nusantara. Melihat orang-orang menghargai pantun sebagai warisan sastra kita, 
saya menaruhkan dua jari di dahi bertanya Seberapa jauh dan seberapa sadar kita 
menghargai diri sendiri, warisan budaya kita sendiri di tengah keolengan jiwa 
di hadapan globalisasi kapitalis yang juga menghamburkan badai di  di dunia 
budaya, di arena citra -- sebagai sebuah medan laga. "Le bataille de i'image",  
jika meminjam istilah Marc Augé, antroplog Perancis dari L'Ecole  des Hautes 
Etudes en Sciences Sociales,
 Paris --  sebuah lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Perancis dan paling 
produktif dalam menghasilkan karya-karya akademis di Perancis.  
 
Sejauh ini "Pasar Malam" dalam pendekatan kebudayaannya guna menggalang dan 
mengembangkan  persahabatan antara dua negeri dan rakyat, Perancis-Indonesia, 
terkesan pada saya bahwa ia tidak melupakan kedalaman analisa atas 
pertanyaan-pertanyaan yang ia angkat. Analisa-analisa ini ia kembang-teruskan 
melalui organnya Majalah "Le Banian", baik oleh penulis asng atau pun dari 
Indonesia sendiri.  
 
Terus-terang, saya memang banyak belajar dari acara-acara sastra internasional 
"Pasar Malam". Belajar tentang kejelian bertanya, menjawab tanya, lobbie, 
tentang mencari dana, tentang mengorinasi suatu kegiatan sastra secara mandiri 
dan bebas dengan orientasi wacana yang jelas. Dari "Pasar Malam" saya melihat 
kekuatan dan peran ide serta prakarsa. Kekuatan dan peran manusia berwawasan. 
Saya memperkirakan jika usaha-usaha sastra begini diteruskan , bukan tidak 
mungkin "Pasar Malam" memberikan sumbangan berarti bagi "pemasaran" karya 
sastra Indonesia di luar negeri [ dan sudah mencapai hasil-hasil tertentu], 
disamping memberikan sumbangan bagi pengembangan sastra daerah dan kepulauan di 
tanahaair."Pasar Malam" bisa menjadi jembatan pelangi sastra antara tanahair 
dan dunia. Ah, aku memang pemimpi dan kulihat kalian menertawaiku. Dan sambil 
merangkul kalian yang rebutan mencari pangkuannya, ibu kalian mengatakan:"Ayah 
kalian sedang bermimpi. Ayah kalian
 memang seorang pemimpi, hidup dari mimpinya. Tanpa bermimpi ayah kalian anak 
mati dan stres".
 
"Emangnya, dunia kekurangan mimpi. Ayah ingin kalian sebagai anak-anak ayah 
juga jadi para pemimpi realis. Kalian ingat berapa banyak tokoh-tokoh dunia 
hidup dan mati demi mimpinya. Mimpi dan cinta tak terpisahkan dan mereka 
bertaruhkan nyawa memang. Kalau tidak mau demikian, lebih baik kalian jadi 
budak dan pejilat  terbesar, bukan penjilat tangung,  yang menjilat debu-debu 
sepatu tuan budak kalian, bukan sepatu ayah".
 
"Ayah kalian sedang mabok dengan mimpinya", ujar ibu. Dan kudengar kalian 
mengatakan sambil senyum yang membahagiakan aku: "Aku anak ayah".
 
Aku sedang berbicara tentang diri sendiri memang. Je suis en train de parler de 
moi même tapi sekaligus sedang sedang berbicara dengan kalian sebagai "les 
autres". Tema dan tanya yang diangkat oleh "Pasar Malam" pada acaranya "10 Jam 
Untuk Sastra Indonesia".
 
Apakah itu "parler de soi, parler aux autres"? Apakah arti bicara tentang diri 
sekaligus cara bicara kepada yang lain ? Barangkali yang oleh Tzvetan 
Todorov sebagai "otofiksi" sambil mengingatkan "Awas terhadap kebohongan 
sebagai bias" narsistik.
 
 
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008
-----------------------------------------------------
JJ. Kusni
 
 
[Bersambung.....]
 
 
Ketyerangan Foto:
Johanna Lederer makan malam di Koperasi Restoran Indonesia Paris, melepaskan 
Lily Yulianti, sastrawati dari Makassar, yang datang bersama Luna Vidya,  
menjelang kembali ke Tokyo seusai temu sastra 07 Desember 2008 di Paris [Foto 
dan Dok: JJ.. Kusni].  


      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke