Dijamin Meriah, Malam Penganugerahan Hari Minggu (Ahad) malam (14/12) nanti, merupakan malam yang paling digadang-gadang para jawara Lomba Foto dan Karya Tulis YPHL-HOKI 2008. Pasalnya, pada malam itu juga akan diserahkan hadiah bernilai ratusan juta rupiah dalam memperebutkan "The Excellence Award of Achmad Kalla".
Tak kepalang tanggung. Tokoh besar yang menyerahkan langsung meghadiah lomba itu, yakni pebisnis handal yang amat konsen melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. Beliau adalah Achmad "AK" Kalla. Sungguh fantastis, antusiasme peserta Lomba Menulis dan Foto YPHL-HOKI bertajuk "Membangun Kepedulian terhadap Kelestarian Hutan Lestari" yang diprakarsai oleh Yayasan Peduli Hutan "YPHL" dan Harian Online Kabar Indonesia (HOKI) www.kabarindonesia. com sangat tinggi, bahkan di luar prediksi. Buktinya, telah tercatat 803 naskah artikel dan 923 naskah foto peserta lomba dari beragam profesi (dalam dan luar negeri) turut dalam lomba ini. Dijamin meriah. Tepat pada puncak acara bertajuk: "Indonesian Earthfest 2008" itutepatnya pada pukul 18.30 WIB; Minggu, 14 Desember 2008 bertempat di Area Hall Basket Senayan, Jakarta; para jawara Lomba Foto dan Tulis YPHL & HOKI '08 itu akan menerima langsung hadiah lomba dari Achmad "AK" Kalla. Jawara-jawara yang amat beruntung ituadalah para kampiun yang berhasil menyingkirkan ratusan peserta lomba lainnya. Adapun para pemenang pada Lomba Foto YPHL-HOKI 2008 itu adalah: Herry Wiyanto (Juara I) berhak meraih uang tunai Rp 20 juta dan trophy, plus notebook. Karya foto monumentalnya berjudul: "Di Kaki Gunung Merapi". Andi Lubis (Juara II) berhak mendapatkan uang tunai Rp 15 juta serta paket trophy-notebook. Foto jurnalistiknya berjudul: "Memotret Hutan". Younsel Evand Roos (Juara III) berhak memperoleh uang tunai Rp 10 juta dan trophy serta kamera. Karya fotonya bertajuk: "Hutanku Asri". Dan berturut-turut: Indra Manik, Hasrul Kokoh dan Samsul Ulum (Juara Harapan I, II, III) masing-masing berhak atas uang tunai Rp 1 juta. Judul foto-foto mereka yakni: "Desaku Hijau", "Jalan Kehancuran" dan "Senja di Sebuku". Sedangkan sederet kampiun Lomba Karya Tulis YPHL 2008 yakni: Leonard Tiopan Panjaitan dari BNI 46 (Juara I) berhak atas uang tunai Rp 20 juta dan trophy serta notebook. Artikelnya berjudul: "E&G-Docs dan Green Credit - Dua Solusi Perbankan terhadap Masalah Kepedulian Hutan". Didik Ismawanto (Juara II) berhak mendapatkan uang tunai Rp 15 juta dan trophy, plus notebook. Adapun karya tulisnya berjudul: "Hutan Mikro, Hutan di Era Modern". Wahyuana (Juara III) berhak atas uang tunai Rp 10 juta, plus trophy dan kamera. Judul tulisannya adalah: "Gaia, Kosmologi Konservasi Hutan dan Lingkungan". Secara berjajar: Cucuk T, Sutrisno Budiharto dan Sulung Prasetyo S (Juara Harapan I, II, III) masing-masing berhak menyabet Rp 1 juta. Karya-karya tulis mereka berjudul: "Menumbuhkan Pola Pikir, Pola Pandang dan Pola Tindakan yang Green Minded Melalui Program Reforesasi Hutan Indonesia dengan Menggunakan Teknik Electronic Green Mobile Planting", "Antara Nietzsche, Ayat-ayat Alam dan Ayat-ayat Cinta", "Hutan Adat Terbukti Menang". Seperti diketahui bersama, puncak acara "Indonesian Earthfest 2008" yang diselenggarakan oleh Green Music Foundation bersama dengan Yayasan Peduli Hutan Lestari dan Bakrie untuk Negeri, ini bakal dimeriahkan lebih dari 30 band papan atas. Band-band 'The Excelence Award of Achmad Kalla' ini akan menghibur anda, dijamin anda bakal tidak rugi. Band-band terpopuler itu, antara lain Koes Plus, Nidji, NAIF, Rif dan masih banyak lagi. Sementara pada keesokan paginya akan dihelat pemecahan Rekor MURI dengan aksi "Cap Jempol Hijau Peduli Lingkungan". Oleh karena itu jangan lewatkan malam penganugerahan ini. Secara khusus pula, Tim Panitia acara ini mengadokan ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada dewan juri Lomba Foto dan Karya Tulis YPHL-HOKI 2008. Mereka adalah Dr. Ricky Avenzora, Muhammad Subhan, Dr. Mochamad Indrawan serta Samedi, Justina Ayu Utami dan Prof. Dr. Moch Na'im. Selain juga apresiasi sosial juga patut disandangkan pada dewan juri lainnya, yaitu: Arbain Rambey, Darwis Triadi dan Gauri Nasution. Tak luput pula, panitia juga menghaturkan banyak terima kasih kepada ratusan peserta lomba serta sejumlah sponsor yang tak dapat disebutkan di sini yang telah turut berpartisipasi aktif menyukseskan acara super meriah ini. (*) ________________________________ From: sangumang kusni <[email protected]> To: kmnu2000 <[email protected]>; wanita-muslimah <[email protected]>; ppi india <[email protected]> Sent: Saturday, December 13, 2008 10:34:25 AM Subject: [ppiindia] jurnal toddopuli: tema "10 jam untuk sastra indonesia, paris: "parler de soi, parler aux autres?" -- 1 Jurnal Toddopuli: PARLER DE SOI, PARLER AUX AUTRES?" Tema "10 Jam Untuk Sastra Indonesia" di Paris 7 Desember 2008 1. "Parler de soi, parler ux aux autres", membicarakan diri, sekaligus untuk berbicara dengan yang lain, merupakan pertanyaan sentral yang diangkat oleh acara "Pasar Malam" "10 Jam Untuk Sasgtra Indonesa" pada 07 Desember 2008 lalu di Paris. Memperhatikan tema-tema yang dibahas oleh "Pasar Malam" dalam kegiatan-kegiatan sastra Indonesianya sejak Nopember 2004 sampai sekarang, saya sering tercengang-cengang oleh kejelian kreatif mereka memilih pertanyaan yang mendalam, lalu memilih para pembicara guna menukik masalah-masalah yang diangkat. Sebab saya sadar benar bahwa bertanya ukanlah sesuatu yang sederhana. Pertanyaan tidak lain dari hasil pergulatan memahami kenyataan, menganalisanya dan membanding-bandingk annya dengan rupa-rupa peristiwa lain yang parelel atau mendekati dalam kurun sejarah negeri.guna mencoba menyerap sari umum dari peristiwa agar tidak berhenti pada gejala. Pertanyaan-pertanya anlah kemudian yang berfungsi menemani penanya mencari jawab. Barangkali, dalam -dangkalnya pertanyaan turut mempengaruhi kadar jawaban yang diburu. Dari segi lain, pertanyaan merupakan ciri tentang adanya kegelisahan spiritualitas. Pemikiran yang tak henti mengalir tak obah arus sungai yang tak pernah jeda mencari muara. Melalui acara-acara sastra Indonesia "Pasar Malam" yang saya ikuti sejak awal, saya mengetahui hubungan sastra segitiga antara Perancis-Belanda dan Indonesia.. Kalau hubungan sastra antara Indonesia dan Negeri Belanda, kiranya, disebabkan oleh adanya hubungan kolonialisaasi, tidak terlalu rumit untuk ditelusuri dan dipahami. Tapi hubungan sastra antara Perancis dan Indonesia, bagi saya, usaha yang memerlukan jerih -payah dan ketekunan lebih -- walau pun benar bahwa negeri yang sekarang bernama Indonesia, pernah menjadi wilayah Perancis ketika Negeri Belanda ditakulukkan oleh Perancis pada suatu kurun waktu sejarah . Sastra Perancis menjalarkan pengaruhnya ke Indonesia, pertama-tama melalui bahasa Belanda. Dari bahasa Belandalah salah satu karya utama romansir Alexandre Dumas, "Les Trois Mousqetaireso " di bahasa-indonesiakan . Demikian juga "Patjar Merah", roman dengan latarbelakang revolusi Perancis. Dari pihak lain, melalui makalah-makalah yang disampaika dalam acara sastra Indonesia "Pasar Malam" baik yang berlangsung di L'Institut Néerlandais, di Universitas Sorbonne atau Senat,, saya ditunjukkan bahwa sastrawan-sastrawan dan pemikir Perancis, kalau bukan mendapat imbas dari sastra Nusantara dan pemikiran-pemikiran nya, bisa diusut ke belakangsejak Diderot dan Victor Hugo. Dari acara-acara "Pasar Malam", saya juga mengetahui agak rinci hubungan antara Edward du Perron dan André Malraux --salah seorang sastrawan penghuni "Pantheon " -- rumah peristirahatan putera-puteri terbik Perancis. Di bazar buku pada acara "10 Jam Untuk Sastra Indonesia" 07 Desember 2008 lalu, saya mendapatkan sebuah buku hasil penelitian George VOISSET, berjudul "L'Histoire du Genre Pantoun Malaise , Francophone Universalie" [L'Harmattan, Paris, 1997, 358 hlm].. Dalam buku ini, George Voisset dengan contoh-contoh kongkreet memperlihatka] n bagaimana sastrawan-satraan Frncophone Eropa Barat menulis pantun-pantun dalam bahasa ibu mereka. Penghargaan terhadap pantun juga diperlihatkan oleh Jawatan Kereta-Api Perancis [RATP] dengan menempelkan di tembok-tembok kade [quai] dan gerbong-gerbong metro, kereta api bawah tanah kota Paris, pantun-pantun Melayu. Voisset dalam bukunya mengatakan bahwa ia melihat ada "periode keemasan pantun Melayu" dalam skala global sehingga mempunyai tempat di kalangan sastra Perancis, Belgia dan Francophonie. Taklama setelah acara 07 Desember 2008 "Pasar Malam" selesai, petang kemarin saya mendapat kiriman buku hasil penelitian Xu Younian, mantan pengajar pada Institut Bahasa-Bahasa Timur Kanton, berjudul "Kajian Perbandingan Mengenai Pantun Melayu Dengan Nyanyian Rakyat Tiongkok" [Maison d'Edition Quaille, Juli 2008, 279 hlm]. Dalam percakapan santai, ketika melepaskan tamu-tamu "Pasar Malam" yang akan kembali ke tempat masing-masing sesuai acara 07 Desember, Johanna Lederer yang adalah sarjana sastra Amerika Serikat, mengatakan betapa ia mencintai dan mengagumi pantun lebih dari pada haiku Jepang. Dari perjalanan dunia pantun ini kembali saya melihat yang dibilang oleh Paul Ricoeur itu bahwa "kebudayaan itu majemuk, kemanusiaan itu tunggal". Pantun adalah salah satu ugkapan kebudayaan majemuk itu dan ditemukan oleh anak manusia di busur bumi sebagai ungkapan diri mereka juga sekalipun berasal dari Nusantara yang dilalui hangat matahari katulistiwa. Barangkali pantun datang di langit-langit negeri empat musim dengan hangat matahari dari katulistiwa Nusantara. Melihat orang-orang menghargai pantun sebagai warisan sastra kita, saya menaruhkan dua jari di dahi bertanya Seberapa jauh dan seberapa sadar kita menghargai diri sendiri, warisan budaya kita sendiri di tengah keolengan jiwa di hadapan globalisasi kapitalis yang juga menghamburkan badai di di dunia budaya, di arena citra -- sebagai sebuah medan laga. "Le bataille de i'image", jika meminjam istilah Marc Augé, antroplog Perancis dari L'Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris -- sebuah lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Perancis dan paling produktif dalam menghasilkan karya-karya akademis di Perancis. Sejauh ini "Pasar Malam" dalam pendekatan kebudayaannya guna menggalang dan mengembangkan persahabatan antara dua negeri dan rakyat, Perancis-Indonesia, terkesan pada saya bahwa ia tidak melupakan kedalaman analisa atas pertanyaan-pertanya an yang ia angkat. Analisa-analisa ini ia kembang-teruskan melalui organnya Majalah "Le Banian", baik oleh penulis asng atau pun dari Indonesia sendiri. Terus-terang, saya memang banyak belajar dari acara-acara sastra internasional "Pasar Malam". Belajar tentang kejelian bertanya, menjawab tanya, lobbie, tentang mencari dana, tentang mengorinasi suatu kegiatan sastra secara mandiri dan bebas dengan orientasi wacana yang jelas. Dari "Pasar Malam" saya melihat kekuatan dan peran ide serta prakarsa. Kekuatan dan peran manusia berwawasan. Saya memperkirakan jika usaha-usaha sastra begini diteruskan , bukan tidak mungkin "Pasar Malam" memberikan sumbangan berarti bagi "pemasaran" karya sastra Indonesia di luar negeri [ dan sudah mencapai hasil-hasil tertentu], disamping memberikan sumbangan bagi pengembangan sastra daerah dan kepulauan di tanahaair."Pasar Malam" bisa menjadi jembatan pelangi sastra antara tanahair dan dunia. Ah, aku memang pemimpi dan kulihat kalian menertawaiku. Dan sambil merangkul kalian yang rebutan mencari pangkuannya, ibu kalian mengatakan:" Ayah kalian sedang bermimpi. Ayah kalian memang seorang pemimpi, hidup dari mimpinya. Tanpa bermimpi ayah kalian anak mati dan stres". "Emangnya, dunia kekurangan mimpi. Ayah ingin kalian sebagai anak-anak ayah juga jadi para pemimpi realis. Kalian ingat berapa banyak tokoh-tokoh dunia hidup dan mati demi mimpinya. Mimpi dan cinta tak terpisahkan dan mereka bertaruhkan nyawa memang. Kalau tidak mau demikian, lebih baik kalian jadi budak dan pejilat terbesar, bukan penjilat tangung, yang menjilat debu-debu sepatu tuan budak kalian, bukan sepatu ayah". "Ayah kalian sedang mabok dengan mimpinya", ujar ibu. Dan kudengar kalian mengatakan sambil senyum yang membahagiakan aku: "Aku anak ayah". Aku sedang berbicara tentang diri sendiri memang. Je suis en train de parler de moi même tapi sekaligus sedang sedang berbicara dengan kalian sebagai "les autres". Tema dan tanya yang diangkat oleh "Pasar Malam" pada acaranya "10 Jam Untuk Sastra Indonesia". Apakah itu "parler de soi, parler aux autres"? Apakah arti bicara tentang diri sekaligus cara bicara kepada yang lain ? Barangkali yang oleh Tzvetan Todorov sebagai "otofiksi" sambil mengingatkan "Awas terhadap kebohongan sebagai bias" narsistik. Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008 ------------ --------- --------- --------- --------- ----- JJ. Kusni [Bersambung. ....] Ketyerangan Foto: Johanna Lederer makan malam di Koperasi Restoran Indonesia Paris, melepaskan Lily Yulianti, sastrawati dari Makassar, yang datang bersama Luna Vidya, menjelang kembali ke Tokyo seusai temu sastra 07 Desember 2008 di Paris [Foto dan Dok: JJ.. Kusni]. Get your preferred Email name! Now you can @ymail.com and @rocketmail. com http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ sg/ [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [email protected] 5. No-email/web only: [email protected] 6. kembali menerima email: [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

