Jumat, 12 Desember 2008 00:01 WIB

Menciptakan Generasi Pembaca, Mungkinkah?

Sebagai negara dengan populasi terbanyak keempat di dunia, Indonesia diberkahi 
dengan sumber daya manusia (SDM) yang berlimpah. Tidak seperti sumber daya 
alam, SDM adalah kekayaan negara yang terbarukan sehingga potensinya dapat dan 
harus terus ditingkatkan dari waktu ke waktu. 

Potensi tak berbatas itulah yang kemudian menjadi fokus pengembangan SDM 
Indonesia yang diupayakan melalui pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan 
rakyat. Salah satu lokomotif utama yang menggerakkan gerbong-gerbong peradaban 
dan kemajuan masyarakat adalah membaca. Mampu membaca dan ingin membaca adalah 
dua hal yang berbeda. Dengan tingkat buta huruf yang relatif rendah (18%, BPS, 
2007), berarti 8 dari 10 orang Indonesia melek huruf namun timbul pertanyaan: 
berapa dari mereka yang ingin atau suka membaca? 

Keinginan membaca 

Keinginan membaca menjadi aspek terpenting dalam menciptakan generasi pembaca 
karena keinginan membaca membuat seseorang berbeda dengan mereka yang hanya 
mampu membaca. Budaya membaca hanya bisa lahir dari masyarakat yang memiliki 
keinginan membaca. Menumbuhkan keinginan memerlukan waktu, upaya, dan juga 
komitmen. Kita punya waktu dan kita juga sudah berupaya, tetapi kita belum 
memiliki komitmen bersama untuk menciptakan keinginan membaca di masyarakat 
kita. 

Puluhan juta anak Indonesia telah tumbuh menjadi anak yang tidak suka membaca 
hanya karena kita tidak berniat menciptakan generasi pembaca. Kemampuan membaca 
lebih diperhatikan daripada menumbuhkan keinginan membaca pada anak-anak. 
Banyak dari kita tumbuh dengan pemahaman bahwa membaca adalah suatu 
kegiatan-–bukan suatu kesenangan. Bangsa Indonesia yang kaya dengan khazanah 
literasi etnik haruslah memacu kita membulatkan tekad untuk menciptakan 
generasi pembaca. 

Faktor pembeda 

Sebagai anak yang lahir dari keluarga amat sederhana dan di dusun yang jauh 
dari pusat kota, saya dan jutaan anak lain di Indonesia berbagi pengalaman masa 
kecil yang hampir sama: minim fasilitas pendidikan dan kurang informasi. Akibat 
dari dua hal ini biasanya menyulut pesimisme yang berbuntut pada mandeknya 
kreativitas dan pupusnya impian. 

Saya menganggap diri saya beruntung karena memiliki orang tua yang getol 
membaca. Pemandangan dari kegiatan membaca mereka membuat keinginan membaca 
dalam diri saya tumbuh dan menjadi 'faktor pembeda' dengan anak-anak lain di 
dusun saya. Dengan kebiasaan membaca, saya memiliki impian, saya memiliki 
harapan, dan yang lebih penting lagi: saya memiliki kesempatan. 

Membacakan buku pada anak 

Bagaimana hal sederhana seperti melihat orang tua membaca bisa menumbuhkan 
kebiasaan membaca pada si anak? Dalam banyak kesempatan berbincang dengan para 
kutu buku, saya mendapati fakta bahwa mereka sering membacakan buku pada anak 
mereka. Hal itu mereka lakukan karena si anak menunjukkan minat mereka pada 
buku walaupun awalnya hanya karena meniru ayah ibu mereka. 

Menurut Jim Trelease, penulis buku The Read Aloud Handbook (Penguin Book, 2001) 
berbagai riset telah membuktikan membacakan kepada anak adalah faktor tunggal 
terpenting dalam menciptakan pembaca. Pembaca lahir dari lingkungan keluarga 
yang suka membaca. Orang tua yang membacakan buku pada anaknya sewaktu kecil 
akan membesarkan seorang pembaca yang selalu ingin membaca. 

Semakin dini, semakin baikkah? 

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa semakin dini anak bisa membaca semakin 
baik. Mereka berlomba-lomba mengajarkan anak membaca di usia TK (2-5 tahun) dan 
yang memperparah keadaan adalah bahwa salah satu tes masuk sekolah dasar (SD) 
adalah membaca. Saya tidak tahu siapa yang memulai tren ini, tapi saya yakin 
bahwa membaca bukan masalah kapan anak mulai membaca, melainkan bagaimana anak 
berkeinginan untuk membaca. Sooner is not better. 

Sebagai ilustrasi, Finlandia sebagai negara dengan pembaca terbaik di dunia 
mulai mengajarkan membaca secara formal kepada anak-anak di usia tujuh tahun. 
Ini karena di saat anak ingin diajarkan membaca, dia sudah punya minat untuk 
bisa membaca dan minat ini jarang sekali ada di anak usia balita. Tentunya 
sukses di Finlandia ini juga ditunjang ketersediaan bacaan yang layak dan 
terjangkau. 

Schooltime vs lifetime reader 

Tujuan sekolah seharusnya menciptakan pembaca sepanjang hidup (lifetime 
reader)-–lulusan yang terus membaca dan menambah ilmu mereka sendiri sepanjang 
hidupnya. Namun kenyataannya, sekolah hanya menjadikan anak didiknya pembaca 
masa sekolah (schooltime reader) yang hanya membaca sewaktu di sekolah, sewaktu 
mengerjakan tugas, dan-–lebih buruk lagi--sewaktu disuruh gurunya. Pembaca 
model ini hanya membaca karena harus, bukan karena mau. Keadaan itu juga 
terjadi karena 'kontribusi' dari kebanyakan orang tua yang menyerahkan kegiatan 
membaca kepada guru di sekolah. 

Konsorsium bersama 

Menciptakan masyarakat yang gemar membaca adalah konsorsium kita bersama. 
Keluarga sebagai lingkungan terkecil harus berperan aktif dalam menciptakan 
lingkungan yang kondusif. Jadikan satu ruangan di dalam rumah kita sebagai 
tempat membaca yang nyaman (reading sanctuary). Jadikan membaca sebagai salah 
satu relaksasi keluarga. Pemerintah pusat harus memberikan perhatian lebih di 
antaranya dengan merevisi peraturan-peraturan yang menghambat lajunya 
perkembangan perpustakaan sebagai universitas rakyat. Peraturan Pemerintah No 
90 dalam hal penyediaan buku bagi perpustakaan harus dikaji ulang. Di samping 
faktor lokasi dan kenyamanan, faktor keaktualan buku menjadi daya tarik 
masyarakat untuk mendatangi perpustakaan. DPR juga hendaknya menghasilkan lebih 
banyak lagi legislasi yang mendorong tumbuhnya minat baca di masyarakat. 

Oleh Tantowi Yahya, Duta Baca Indonesia  

http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDk3OTc=


      

Kirim email ke