http://www.presidensby.info/ibunegara/index.php/fokus/2008/12/18/468.html
*Pembukaan Pameran Mutumanikam Nusantara* *Ibu Negara: Rebut Pasar Demi Perekonomian Indonesia * Jakarta: Dalam kondisi krisis keuangan global seperti sekarang ini, apakah masih relevan kita membelanjakan uang kita untuk hal-hal yang bersifat sekunder atau bahkan tersier seperti perhiasan? Pertanyaan tersebut dilontarkan *Ibu Ani Bambang Yudhoyono* saat membuka pameran Mutumanikam Nusantara di Hall A, Jakarta Convention Centre, Kamis (18/12) pagi. "Presiden SBY di berbagai kesempatan sering menganjurkan kepada mereka-mereka yang mempunyai kemampuan lebih dal hal keuangan untuk tetap membelanjakan uangnya. Tentu saja di dalam negeri, bukan di luar negeri. Dengan demikian perekonomian nasional kita tidak berhenti," jelas Ibu Ani. Hampir semua wanita di dunia menyukai perhiasan. Sebagian pria pun ada juga yang menyukainya," lanjutnya. Sejak jaman nenek moyang kita dulu, para wanita juga sudah menyukai perhiasan sebagai perlengkapan upacara adat atau sebagai simbol status. "Bahkan ada juga yang menggunakan perhiasan sebagai simbol kecantikannya," Ibu Ani menerangkan. "Saat ini di Indonesia kurang lebih 50 persen penduduknya adalah wanita. Mereka inilah sesungguhnya pasar yang nyata bagi perhiasan dan Mutumanikam Indonesia," ujar Ibu Ani. "Oleh karena itu mari gunakan kesempatan yang ada untuk merebut pasar yang ada demi perekonomian nasional kita. Tentu saja dengan semboyan cintailah produk dalam negeri. Mencintai saja tidak cukup, hal ini harus dibarengi dengan tindakan nyata yaitu membeli dan menggunakannya," Ibu Ani menegaskan. Hadir dalam acara tersebut antara lain, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto, Taty Aburizal Bakrie, Okke Hatta Rajasa dan Anita Rusdi. (osa) -------- http://www.presidensby.info/ibunegara/index.php/fokus/2008/12/18/467.html Dibuka, Pameran Mutumanikam Nusantara Jakarta: Ibu Ani Bambang Yudhoyono membuka pameran Mutumanikam Nusantara Indonesia di Hall A Jakarta Convention Centre, Kamis (18/12) pagi. Pameran yang digelar untuk ketiga kalinya ini mengambil tema Lestarikan Zamrud Khatulistiwa, Seni Budaya Indonesia dan Pacu Kreatifitas Ketua Pengurus Mutumanikam Nusantara Indonesia 2008, Herawatie Wirajuda melaporkan, penyelenggaraan pameran ini menandai dua tahun usia Mutumanikam Nusantara yang hingga saat ini telah melaksanakan berbagai kegiatan secara efektif terutama pemasaran produk perajin sehingga Mutumanikam Nusantara sidah cukup dikenal masyarakat baik di dalam maupun di luar negeri. "Pelaksanaan berbagai kegiatan tersebut senantiasa mengacu pada visi, misi, dan tujuan pendirian Mutumanikam Nusantara yaitu menciptakan lapangan kerja bagi para perajin untuk membantu program pemerintah dalam pengentasan kemiskinan, serta mengembangkan industri Mutumanikam Nusantara Indonesia agar dapat bersaing di pasar internasional," kata Herawatie. Dalam kesempatan tersebut, Ibu Ani dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla menyaksikan penyerahan kalung oleh para perajin Bali kepada Mutumanikam Nusantara Indonesia. Kalung tersebut murni dibuat dari bahan-bahan dari Indonesia. Mutiaranya berasal dari Bali, batunya diambil dari Pacitan, dan intan yang mengelilingi batu berasal dari Kalimantan. Kalung ini nantinya akan dilelang. Ibu Ani sangat bersyukur dengan apa yang telah dilakukan Mutumanikam Nusantara selama dua tahun yang sudah memperlihatkan hasil nyata tersebut. "Sebuah pameran yang dinanti-nanti banyak orang, baik dari dalam maupun dari mancanegara yang memamerkan dan memasarkan hasil kerajinan Mutumanikam," ujar Ibu Ani. Di akhir sambutannya, selain membuka secara resmi pameran Mutumanikam Nusantara, Ibu Ani juga menandatangani sampul perdana majalah Mutumanikam Nusantara. Pagelaran tari dan fashion show dari perancang busana Ivan Gunawan menutup acara pembukaan pameran. Selanjutnya Ibu Ani dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla meninjau pameran yang diikuti lebih dari 130 perajin dari seluruh Indonesia. Hadir dalam acara tersebut antara lain, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto, Taty Aburizal Bakrie, Okke Hatta Rajasa dan Anita Rusdi. (osa) [Non-text portions of this message have been removed]

