Muslim Indonesia Alami Arabisasi

Brisbane, CyberNews. Masyarakat Muslim Indonesia mengalami Arabisasi
ditandai dengan munculnya kelompok-kelompok yang antara lain
menerapkan pemisahan yang ketat dalam pergaulan sosial pria dan wanita.

Hal itu disampaikan staf pengajar UIN Yogyakarta, Alimatul Qibtiyah,
saat mengisi pengajian Perhimpunan Komunitas Muslim Indonesia di
Brisbane (IISB). Alimatul mengatakan, ia memahami pilihan nilai
kelompok-kelompok tersebut selama nilai yang mereka anut itu tidak
dipakai untuk membatasi hak perempuan Muslim dalam akses, partisipasi,
kontrol dan manfaat (APKM).

Mahasiswi program doktor studi-studi Asia Universitas Griffith itu
mengatakan, proses Arabisasi di Indonesia itu sudah terjadi sejak
1980-an ditandai dengan maraknya pemakaian istilah-istilah Arab,
seperti ikhwan, akhwat, dan pemisahan lelaki dan perempuan dalam
aktivitas di kelompok-kelompok tertentu, katanya.

Sebelumnya, dalam ceramahnya di forum pengajian IISB bertajuk "jender
dan Seksualitas dalam Islam", Alimatul mengatakan, pemisahan kaum pria
dan wanita Muslim secara ketat tidak terjadi di zaman Nabi Muhammad
SAW. Pemisahan tersebut mulai terjadi setelah Rasulullah wafat,
khususnya di era kekhalifahan Islam abad pertengahan.

Terkait dengan pandangan Islam tentang jender dan seksualitas, ia
mengatakan, Islam memandang positif seksualitas sebagai rahmat Allah
SWT melalui pernikahan yang sah. Kedudukan lelaki dan perempuan juga
sama dalam perspektif Islam karena yang membedakan manusia itu adalah
tingkat ketaqwaannya, katanya.

Kitab suci Alqur`an, lanjut Alimatul, juga mengupas hal-hal yang
terkait dengan seksualitas, seperti dalam ayat yang menjelaskan bahwa
"istri itu adalah pakaian bagi suami dan suami adalah pakaian dari istri".

"Pakaian itu adalah simbul dari kehangatan ...," katanya.

Hanya saja, isu seksualitas masih dianggap banyak pihak dalam
masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim sebagai hal yang tabu
akibat belenggu pemikiran negatif yang memandang seksualitas terbatas
pada "hanya maslah seks" padahal seksualitas juga terkait dengan
masalah ibadah, seperti taharoh dan haid, katanya.

Dalam kesempatan itu, Akhmad Muzakki, dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya
yang sedang merampungkan studi doktornya di Universitas Queensland
(UQ), mengatakan, fikiran setiap individu Muslim sudah dibangun oleh
budaya lokal dimana mereka hidup padahal Alqur`an sudah sangat
gamblang dalam masalah seksualitas.

Namun, ketika memaknai seks dalam Islam, ada yang memaknainya dengan
konsep "body" (badan) yang antara lain melahirkan konsep "jilbab"
padahal pemahaman tentang seksualitas sepatutnya juga menyentuh
reformasi pemikiran, katanya.

(Ant /CN09)
19/12/2008 21:48 wib – 
Internasional - Aktual




Kirim email ke