Posted by: "[gieb]" [email protected] 
Tue Dec 23, 2008 10:42 pm (PST) 
Jakarta, 23 Desember 2008

Jam
11 siang. Perempuan itu datang ke Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin
di TIM Cikini. Sendiri. Sepatu kets warna abu-abu dia pakai menemani
celana panjang hitam, baju biru muda dan vest warna hitam. Tongkat
alumunium menopang kaki kanannya yang terserang Osteoarthritis --
penyakit arthritis yang menyebabkan jaringan tulang rawan di tempurung
kaki menipis sehingga akan terasa nyeri setiap saat. 

Meski
rambut sudah penuh uban, tapi tubuhnya masih tegap. Hanya ingatan saja
yang mulai tergerus usia 72. "Mulai pikun saya," keluhnya sesaat
setelah sempat terbingung-bingung mencari tongkat berjalannya. Itulah
bu Nh. Dini, teman-teman, penulis perempuan generasi 50-an yang
meluangkan waktunya di sela-sela rapat Akademi Jakarta untuk bertemu
dengan Gieb, Mel, Lita, Mia, dan Amang mewakili Goodreads Indonesia.

Begitu
bertemu, bu Nh. Dini langsung mengatakan bahwa RCTI memberitakan hal
yang keliru tentang dirinya. Dia tidak sedang sakit parah. (Buletin
Siang RCTI beberapa hari lalu melakukan liputan tentang kegiatan
melukis bu Nh. Dini). Hari ini ia merasa cukup sehat dan ingin selalu
tetap sehat. Meskipun untuk tetap sehat, biayanya tidak murah. Misalnya
untuk mengobati rasa nyeri di lutut, ia diharuskan mengkonsumsi obat
setiap hari dan rajin tusuk jarum. Tapi karena mahal, obat itu hanya ia
minum 2 kali seminggu. Tusuk jarum di Pak Aciong yang dilakoni rutin
sejak tahun 80-an pun dibayar tidak penuh seperti pasien lain yang
membayar Rp 60.000,-

Kesulitan lain yang harus dia hadapi adalah
rencana kenaikan biaya tinggal di Wisma Lansia. Per awal tahun 2009,
naik Rp 200.000,- tapi Nh. Dini cuma sanggup menaikkan bayarannya yang
paling murah, naik jadi Rp 1.100.000,- per bulan.

Kesulitan
keuangan tampaknya hal yang paling mengganggu pikiran bu Nh. Dini.
Selepas meninggalnya sponsor utama hidupnya Mochtar Lubis dan Yohanna
(teman lamanya) dua tahun lalu, bu Nh. Dini praktis mengandalkan hidup
dari royalti buku. Itupun hanya menerima sekitar Rp 1.000.000,- setiap
bulan. Jelas tidak cukup menutupi biaya hidup bulanan (tempat tinggal,
kesehatan, makanan). Jadi ia mulai menjajakan lukisan gaya cina yang ia
lukis di atas kertas cina. Setelah pena tidak mampu menghidupinya, Nh.
Dini secara berseloroh berkata bahwa kini ia berupaya hidup dari
melukis. Meskipun biaya melukis juga berat, tapi seandainya bisa
menjual seluruh lukisannya tentu hasilnya cukup lumayan untuk menutupi
biaya hidupnya. Secara terus terang, ia berkata baru bisa menjual 3
dari lukisan-lukisannya. Tapi ia masih berharap semua terjual agar bisa
tertepis kekhawatirannya akan masa tua.

"Saya gembira bahwa
ternyata saya tidak sendiri... Masih ada yang peduli pada saya dan
mereka adalah para pembaca," tutur bu Nh. Dini begitu Gieb, Mel, Lita,
Mia, dan Amang masing-masing memperkenalkan diri.

Saat Gieb
membacakan puisi "Perempuan yang menulis itu" karya teman kita Ugit
Rifai, aku saksikan sendiri bu Nh. Dini berupaya keras menahan airmata
haru. "Tolong sampaikan terima kasih saya kepada teman Anda. Puisinya
sungguh bagus!"

Hari beranjak makin siang dan Mia pun memberikan
donasi Rp 2.600.000,- yang begitu luar biasa mampu dikumpulkan dari
teman-teman pembaca dalam waktu teramat singkat. Sisa waktu, digunakan
untuk foto bersama. Kapan lagi kan bisa foto dengan bu Nh. Dini? Ya kan?

*** 

Oya,
satu hal yang aku pikir istimewa untuk diceritakan adalah waktu semalam
aku memeriksa lemari, aku temukan novel pertama Nh. Dini yang kubeli.
Sampulnya hijau, berjudul "Pertemuan Dua Hati".
Buku itu kuambil untuk sengaja kumintakan tanda tangan. Hal yang ajaib
adalah buku itu kubeli tepat di tanggal yang sama dengan waktu aku
bertemu muka dengan bu Nh. Dini. Buku itu kubeli 16 tahun lalu, tanggal
23 Desember 1992.

Salam hangat,
Amang Suramang




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke