http://www.antara.co.id/arc/2008/12/27/perundingan-perdagangan-bebas-ri--selandia-baru-dilanjutkan-maret/

*Perundingan Perdagangan Bebas RI - Selandia Baru Dilanjutkan Maret*


Jakarta (ANTARA News) - Perundingan perdagangan bebas (FTA) Indonesia dengan
Selandia Baru diharapkan segera dimulai kembali pada Maret 2009 setelah
penandatanganan FTA ASEAN-Australia-Selandia Baru pada Februari 2009.

"Kita harapkan bisa cepat dimulai kembali negosiasinya setelah
penandatanganan FTA ASEAN-Australia-Selandia Baru. Mudah-mudahan Maret lah,"
kata Dirjen Kerjasama Perdagangan Internasional, Departemen Perdagangan
Gusmardi Bustami di Jakarta, Sabtu.

Gusmardi membantah telah terjadi ketegangan antara dua negara yang
menyebabkan batalnya perundingan tersebut. "Tidak benar ada friksi. Kita
sepakat untuk melanjutkan kesepakatan antara dua menteri perdagangan kita,"
ujarnya.

Menurut dia, pada pertemuan selanjutnya dua negara akan merinci kesepakatan
yang dibuat antara dua menteri tersebut.

Sementara itu, FTA ASEAN-Australia-Selandia Baru yang diluncurkan pada
November 2004 dan selesai pada Desember 2008 akan ditandatangani Februari
2009 pada pertemuan tingkat tinggi ASEAN.

Dalam kesepakatan itu, Indonesia akan menghapus bea masuk untuk 10.397 pos
tarif (93,17 persen dari total pos tarif) mulai 2009-2020. Sebanyak 645
lainnya diturunkan tarifnya dan 117 sisanya dikecualikan.

Sementara Australia menghapus seluruh bea masuk produk impor dari ASEAN
mulai 2009-2015, sebanyak 91,77 persen dari total pos tarifnya diturunkan
selama 2009-2010. Sedangkan Selandia Baru akan menghapus 97,4 persen dari
jumlah pos tarifnya dengan tahapan 80 persen pada 2009 dan 90 persen pada
2012.

Otomotif dan Tekstil

Selama perundingan berlangsung, Australia menargetkan pembukaan pasar produk
otomotif Indonesia sedangkan Selandia Baru menargetkan pembukaan pasar
daging sapi dan produk susu.

Khusus untuk otomotif, Indonesia memberikan perlakuan yang berbeda antara
Australia dengan Jepang. Kesepakatan sektor otomotif dengan Australia
mempertimbangkan perjanjian Indonesia dengan Jepang.

"Sedikit beda karena apa yang diminta oleh Australia seperti passenger car,
kita beri 2020 bukan tahun 2018 seperti dengan Jepang," ujar Gusmardi.

Indonesia meminta dua negara itu mempercepat penghapusan tarif produk
tekstil dan pakaian yang saat ini sekitar 5-17,5 persen dari semula tahun
2012 menjadi 2009-2010 untuk Australia dan Selandia Baru yang sekitar
7,75-19 persen dari jadwal semula 2020 menjadi 2017-2018.

Selain itu, Australia juga memberikan gugus tugas investasi agribisnis untuk
mengkaji dan menyusun program kerja pembangunan kapasitas serta mendorong
investasi bidang pertanian khususnya sektor daging dan produk susu.

Australia juga sepakat membahas permintaan Indonesia untuk mendapatkan
fasilitas kerja untuk sejumlah profesi, pengembangan kapasitas industri
otomotif Indonesia, bantuan sertifikasi produk makanan, serta pelatihan dan
sertifikasi tenaga kerja pengelas pipa minyak dan gas juga bantuan tenaga
pengajar bahasa Inggris bagi sekolah kejuruan industri dan perguruan tinggi
industri.

Selandia baru menawarkan fasilitas pengiriman tenaga kerja liburan (working
holiday scheme) untuk 100 pekerja Indonesia, kesempatan kerja untuk 100 juru
masak, 20 pemotong hewan bersertifikat halal dan 20 tenaga asisten guru
bahasa Indonesia.

Selain itu, juga ditawarkan program peningkatan kapasitas untuk sektor
peternakan sapi pedaging dan produk susu, kerjasama bidang keamanan pangan
dan proses jaminan mutu. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke